Murid Bully Guru, Hukuman Apa yang Pantas?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 11 February 2019 16:00
Publik kembali dikejutkan dengan adanya kasus kekerasan di dalam dunia pendidikan. Namun kali ini, bukan anak atau siswa yang mendapatkan perlakuan tak baik dari gurunya di lingkungan sekolah, melainkan guru yang mendapatkan perlakuan tak pantas dari siswanya. Kasus tersebut mencuat setelah video yang memperlihatkan murid sedang membully gurunya beredar viral.

Peristiwa itu terjadi di wilayah Gresik, Jawa Timur. Dalam video yang beredar terlihat seorang murid berseragam pramuka dan mengenakan topi, merokok di dalam kelas. Saat gurunya menghampiri, siswa tersebut terlihat menantang gurunya untuk berkelahi, meskipun tak ada perlawanan apapun dari guru yang bersangkutan. Sedangkan siswa lainnya ikut tertawa dan merekam kejadian itu, seolah-olah hal itu lucu.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Kendal, dimana dalam video yang viral memperlihatkan setidaknya ada lima orang murid yang sedang melakukan perundungan terhadap gurunya. Kejadian itu berawal ketika para murid sedang saling melempar kertas, dan salah satunya mengenai guru yang pada saat itu tengah mengajar.

Bahkan diawal tahun 2018, dunia pendidikan dihebohkan dengan tewasnya seorang guru honorer setelah dianiaya oleh muridnya sendiri. Penganiayaan itu terjadi ketika pelaku merasa tidak terima setelah ditegur oleh korban karena tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Miris memang melihat kenyataan guru tak lagi dihormati dan dihargai oleh muridnya. Pertanyaannya, apa penyebab tak adanya lagi batasan antara murid dan guru?

Selama ini kedekatan antara murid dan guru kerap disalahgunakan. Berawal dari candaan dan berujung pada kekerasaan. Meski tak ada kekerasan secara langsung, bully yang dilakukan oleh murid ke guru bukanlah perbuatan yang sepatutnya dilakukan dan merupakan perilaku yang sangat tidak sopan.

Guru yang mendapatkan perlakuan tak pantas dari siswanya juga tak dapat melakukan perlawanan, karena anak-anak dilindungi oleh Undang-Undang Perlindungan Anak. Sementara jika guru hanya diam, maka kasus serupa akan kembali terulang. Lantas, hukuman seperti apa yang pantas diberikan kepada siswa yang melakukan perundungan terhadap gurunya agar memiliki efek jera?

Tidak menutup kemungkinan kasus tersebut terjadi di beberapa sekolah lainnya. Hal itu karena hubungan antara guru dan murid sudah tak lagi seperti dulu. Lalu, siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut? Bagaimana seharusnya pihak sekolah dan orangtua dalam mengambil sikap?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Terkait viralnya video tersebut, KPAI menyampaikan keprihatinan atas sikap dan perilaku siswa yang mencerminkan ketidaksantunan dan tidak semestinya seorang siswa bersikap demikian pada gurunya, apalagi sang guru tampaknya hanya menegur, bukan berteriak membentak apalagi memukul. Teguran sang guru pasti ada alasannya, sebagai pendidik, mungkin sang guru ingin menegur dalam rangka mendisiplinkan siswa yang bersangkutan. 

Kedua, kemungkinan ada dua faktor yang menyebabkan kejadian murid melakukan kekerasan terhadap guru di salah satu SMP di Gresik tersebut, yaitu faktor pertama disebabkan karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun sekolah. Biasanya sikap anak seperti itu, ada pengaruh kuat dari pola asuh di rumah. 

Atau bisa juga karena siswa sudah kecanduan game online yang mengandung unsur kekerasan misalnya, sehingga anak tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dengan di dunia nyata. Terkait faktor pertama ini, tentu saja dibutuhkan assessment psikologis terhadap ananda untuk mencari faktor penyebab yang bersangkutan berperilaku agresif seperti dalam video tersebut. 

Faktor kedua, bisa saja berasal dari gurunya, seperti rendahnya kompetensi paedagogik guru, terutama dalam penguasaan di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan dan menantang kreativitas serta minat siswa. 

Manajemen penguasaan kelas di antaranya adalah bagaimana guru dapat mengatasi kelasnya dengan karakter siswa yang bermacam-macam. Kemampuan manajemen penguasaan kelas juga perlu di latih dan hal ini merupakan tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Ketiga, KPAI mengapresiasi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik yang segera melakukan pendalaman kasus dengan memanggil pihak-pihak terkait, terutama sekolah dan para orangtua siswa. KPAI berharap ada evaluasi dan pembenahan ke depannya, tidak fokus menghukum pihak yang dianggap salah, namun mengedepankan pembinaan, baik terhadap siswa maupun sekolahnya. Anak tentunya wajib belajar dari kesalahannya, namun anak juga harus diberi kesempatan memperbaiki diri. 

Keempat, apabila diperlukan, KPAI akan melakukan pengawasan langsung ke Gresik. Namun, sebelumnya KPAI akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan kabupaten Gresik terkait hasil pertemuan hari ini dan juga langkah tindaklanjut kasus ini. 

Tak hanya itu, KPAI juga akan berkoordinasi segera dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) serta P2TP2A kabupaten Gresik untuk melakukan pendampingan dan rehabilitasi psikologis terhadap guru maupun siswa. Rehabilitasi terhadap siswa penting dilakukan agar siswa dapat belajar dari kesalahan, dan mau memperbaiki diri. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti PUSPOL Indonesia, Alumni S-2 Ketahanan Nasional UI, Wakil Sekretaris Jenderal Forun Serikat Guru Indonesia (FSGI)

Kasus murid yang melakukan perundungan terhadap gurunya memang bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya kasus serupa juga pernah terjadi di wilayah Kendal. Terlepas dari itu, pemerintah sebenarnya telah memiliki program nasional, yakni Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Namun adanya kasus tersebut mengindikasi bahwa program PPK tidak berjalan dengan baik.

Padahal program PPK tersebut telah diberlakukan di seluruh sekolah di Indonesia sejak tahun 2016, bahkan dijadikan sebagai program reguler. Program tersebut seharusnya dilakukan dengan mengimplementasikan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia dan dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan, ke dalam proses pembelajaran di sekolah, oleh siswa, guru, dan orangtua.

Kedua, hal ini menjadi catatan kritis bagi pendidikan nasional, karena bisa saja apabila kita melihat lebih dalam pada proses belajar selama ini, sekolah hanya berorientasi pada angka. Sehingga sentuhan pengajaran tentang nilai moral dan sebagainya, kurang diberikan pihak sekolah kepada muridnya. 

Ketiga, Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan itu tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan tanggungjawab orangtua, dimana keluarga juga harus memberikan pendidikan informal. Artinya, ketika seorang siswa dapat berbuat seperti itu, mencerminkan bagaimana interaksi dia di rumah dan di lingkungan masyarakat.

Dalam kasus semacam ini pasti ada konsekuensi yang harus diterima oleh siswa yang berlaku tak pantas kepada gurunya. Namun, kita harus kembali kepada aturan yang berlaku di sekolah tersebut. Berkaitan dengan bagaimana aturan yang diketahui oleh orangtua, siswa, dan guru, dan apa saja konsekuensinya bagi yang melanggar.

Hukuman dengan mengeluarkan siswa dari sekolah menurut saya bukanlah hal yang bagus, terlebih jika siswa tersebut akan menghadapi ujian nasional. Oleh sebab itu  konsekuensi yang diberikan harus rasional. Selain itu, pemerintah juga perlu mengapresiasi guru yang ada dalam video tersebut. Karena beliau tidak berusaha melakukan perlawanan dan paham bagaimana kompentensi guru. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Kemarin, 10 Februari 2019 masyarakat kita yang memiliki akses terhadap media sosial, seperti facebook, twitter, Youtube serta media lainnya, dihebohkan oleh beredarnya sebuah video tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang siswa SMP terhadap gurunya. Seorang siswa yang melakukan bully terhadap guru dengan cara-cara yang sesungguhnya membakar emosi setiap orang yang menonton, atau menyaksikan adegan yang dilakukan sang siswa. 

Betapa tidak, seorang siswa yang masih bersekolah di sekolah SMP tersebut, tanpa ada rasa takut, melakukan hal yang sungguh di luar batas. Selain ia menarik baju, mengacung-acungkan tangan untuk memukul, juga dengan tanpa adab merokok di ruang kelas. Pantas saja, kalau banyak orang, baik orang tua, maupun guru, bahkan para siswa yang menyaksikan adegan itu, merasa dan mengeluarkan kata-kata yang bermacam-macam dalam nada yang prihatin dan emosi. Apalagi para guru yang profesi mereka seakan diinjak-injak oleh seorang anak yang masih ingusan itu, pasti rasa marah dan ungkapan marah itu meluncur lewat ucapan dan kata. Buktinya, di media social, kita melihat banyak sekali orang yang mengutuk dan menyesali kejadian itu. Banyak yang berharap agar anak yang seperti itu layak dihukum berat. Bahkan bukan mustahil kita berusaha mencari hukuman apa yang pantas terhadap anak tersebut. Ya, begitu geramnya kita.

Sangking geramnya, banyak pula yang menyesali dan mengadili HAM. Ada yang berkata, ini gara-gara HAM. Ya, karena selama ini ketika guru melakukan sedikit saja tindak kekerasan terhadap anak, akan berhadapan dengan masalah HAM dan ancaman UUPA. Jadi, masalahnya semakin panjang, bukan? Maka, tidak heran kalau banyak orang yang prihatin, mengulas di media social, menjadi berita di media massa, membuat kasus itu menjadi viral di media social dan media massa. Pokoknya, semua berharap agar anak tersebut dihukum dengan hukuman setimpal dan kita pun bertanya, hukuman apa yang pantas?

Mungkin menghukum siswa yang demikian nakal dan tidak pantas ini, adalah sebuah tindakan bijak. Namun, akan lebih bijak lagi, sebelum kita mencari format hukuman yang pantas, kita melihat beberapa hal, misalnya latar belakang kehidupan siswa dan orang tua, lingkungan tempat tinggal, kondisi anak kekinian, serta bila perlu melihat   lembaga pendidikannya yang ia tempuh serta hal lain yang tekait masa depan anak.

Nah, apabila kita sudah mengidentifikasi, mereview tentang semua itu, baru kemudian kita menentukan apakah akan memberikan hukuman yang pantas, atau ada cara lain, maupun kita balik, bukan memberikan hukuman, tetapi memberikan tindakan pembinaan, agar ia tidak melakukan hal serupa dan bila mungkin menjadikan dia sosok yang baik yang kita sebut sebagai duta anti kekerasan di lembaga pendidikan. 

Cara yang terbaik untuk menyikapi kasus ini adalah dengan merangkul dan memberikan tindakan pembinaan terhadap anak yang dianggap bermasalah ini. Hal ini penting agar tidak terjadi labelisasi atau stigmanisasi terhadap dirinya yang kelak membuat ia semakin menjadi-jadi. Oleh sebab itu, dengan merangkul dan membinanya, ia pun akan berubah. Apalagi ketika ia berubah lalu diberikan reward dalam bentuk penglibatan dirinya untuk berada di garda depan sebagai duta siswa yang melakukan kegiatan nonviolence di sekolah.

Kiranya, seringnya terjadi kasus-kasus kekerasan terhadap guru di lembaga pendidikan kita selama ini, disebabkan oleh banyak faktor. Harus kita fahami pula, bahwa ini zaman sudah berubah, nilai-nilai yang dahulu kita anut juga ikut berubah. Rasa hormat, saling menghargai, kasih sayang yang dahulu menjadi dasar dalam diri, kini sudah pupus. Akhlak, bukan lagi panglima. Semua perubahan ini karena kita orang dewasa dan oleh sebab itu, apa yang terjadi pada anak-anak yang tidak patuh tersebut, juga bersumber dari model yang mereka ikuti, yakni orang tua, guru dan masyarakat. Maka dalam kasus ini, bila kita ingin mencari siapa yang salah, maka semua kesalahan itu pada umumnya bersumber dari orang tua di rumah, bisa pula dari guru di sekolah dan juga dri masyarakat.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar hal semacam ini tidak terjadi lagi? Kuncinya adalah pada kemauan kita untuk merekat kembali sinergi tri pusat pendidikan. Bangunlah, akhlak generasi bangsa lewat ketiga jalur pendidikan yang selama ini kita anut, berbasis keluarga, bersinergi dengan sekolah dan masyarakat. Bangun kembali sistem kontrol pada ketiga ranah pendidikan tersebut. Insya Allah, akan terbangun generasi yang berakhlak di semua pusat pendidikan tersebut. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Anang Zubaidy, SH., MH

Kepala Pusat Studi Hukum FH UII

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

FOLLOW US

KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha             Tunggu, Mas             Yang Tak Siap Menang Cuma Elit Politik, Rakyat Tenang Saja             Ikhtiar Berat Tegakan Integritas Pemilu             Kedaulatan Rakyat Dibayang-bayangi Money Politics             Tiap Orang Punya Peran Awasi Pemilu             Jangan Lecehkan Kedaulatan Rakyat             Selesaikan Dulu Sengkarut Harga Tiket Pesawat