Meributkan Hari Valentine, Buat Apa?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 13 February 2019 12:00
Watyutink.com - Jakarta, Indonesia, Ahad, 10 Februari 2019. Sebuah kelompok hijaber yang menamakan dirinya Gerakan Menutup Aurat (Gemar) menggelar kegiatan di arena Car Free Day (CFD). Selain menghimbau perempuan menutup aurat, mereka juga mengaitkan aksi kemarin untuk menolak perayaan Valentine. Dikutip CNNIndonesia.com, seorang peserta aksi mengatakan, mereka ingin di bulan yang identik dengan Valentine, perempuan agar menjalankan syariat Islam, dengan menutup aurat dan tak merayakan Valentine. 

Arab Saudi, pertengahan Februari tahun lalu. Tersiar kabar, Arab Saudi, negeri yang menerapkan syariat Islam dengan kaku, membolehkan warganya merayakan hari Valentine. Seorang ulama Arab Saudi, Sheik Ahmad Al-Ghamdi, mantan kepala polisi syariah Mekkah, dikutip mengatakan Hari Valentina tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pernyataan itu tentu saja mengejutkan, mengingat selama ini Arab Saudi menganut paham Islam garis keras.

Dua fakta di atas menarik ditelisik dan dicari tahu jawabnya. Kenapa masih ada yang mendeklarasikan anti perayaan Valentine di Indonesia, sementara di Arab Saudi ada ulamanya bilang tak mengapa merayakan Valentine sambil bilang itu tak bertentangan dengan Islam? Kenapa ada yang melarang-larang di Indonesia tapi setahun lalu di Saudi sana justru mulai diterima secara terbuka? 

Pertanyaan besar yang harus dijawab dahulu sebetulnya, ada apa dengan Indonesia? Lalu, ada apa pula dengan Arab Saudi zaman now? 

Well, sebetulnya, kita tak bisa bilang aksi yang dilakukan kelompok hijaber bernama Gemar tersebut mewakili seluruh komunitas muslim di Indonesia. Namun, seperti halnya isu orang Islam boleh/tidak boleh mengucap selamat Natal, boleh/tak boleh merayakan Valentine jadi isu tahunan juga. Saban jelang Hari Valentine yang jatuh 14 Februari ada kelompok yang bersuara menentang. Suara yang menentang juga terasa nyaring di media sosial. 

Kalau hendak ditarik ke sisi makro, para peneliti sosial memang telah menengarai ada kecenderungan konservatisme di kalangan umat Islam Indonesia. Apakah sikap konservatif ini antara lain diwujudkan lewat boikot perayaan Valentine? 

Jika kita kian terseret pada konservatisme, kenapa Arab Saudi kian membuka diri? Itu juga pertanyaan yang penting dijawab. Selain ada ulamanya yang telah membolehkan perayaan Valentine, hal yang dilarang atau ditabukan di Arab Saudi sedikit demi sedikit direvisi. Misalnya, perempuan Arab kini boleh menyetir serta bioskop dibolehkan beroperasi. Perubahan sikap terbuka Arab Saudi pada pola hidup yang sebelumnya dilarang sebagai bentuk tafsir mereka atas hukum Islam berkait erat dengan visi 2030 negeri itu. Putra mahkota Pangeran Mohammad bin Salman mencanangkan, negerinya jadi negeri modern yang siap berlaga di pentas global di tahun tersebut. 

Artinya pula, kelenturan sikap Arab pada pola hidup modern bermuara ke ekonomi. Pada satu titik, segelintir ulama Arab mungkin paham Valentine bukan perayaan agama, tapi sebuah selebrasi sekuler. Yang diuntungkan oleh perayaan yang muasalnya dirayakan kaum pagan ini justru kaum kapitalis: produsen coklat, toko bunga, pengusaha bioskop dan produser film roman, pemilik kafe dan restoran. Maka, kalau menentang Hari Valentine sebagai sikap anti-kapitalis mungkin lebih masuk akal. Eh, tapi, bukankah anti-kapitalis itu bahasanya kaum Marxist?   

Apa pendapat Anda? Watyutink?    

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia

Saat ini orang sedang gemar mengolah perbedaan di antara umat Islam atau bangsa Indonesia. Perbedaannya kecil, dan sebenarnya wujud dari kemajemukan kita. Ada yang merayakan Valentine ada yang tidak. Ada yang mengucapkan selamt Natal, ada yang tidak. Sebenarnya bhinneka tunggal ika seperti itu. Namun, beberapa tahun terakhir ini memang perbedaan itu gemar diolah. 

Masyarakat kita gamang di penyikapan yang tidak disikapi dengan jelas, mendukung atau tidak. Akhirnya itu jadi sensitif ketika diolah jadi isu yang basisnya adalah kebencian. Yang lantang menentang perayaan Valentine kita tahu kelompok minoritas. Tapi dengan sarana yang disediakan media sosial jadi tersebar dengan cepat seolah masif. Hal ini tantangan baru juga bagi penyebaran budaya, penerimaannya maupun penolakannya. Media sosial bisa mengaburkan hal-hal yang sifatnya faktual di lapangan. Yang sedikit terkesan banyak, dan sebaliknya, yang banyak terkesan sedikit. 

Umat Islam kita, yang mayoritas Sunni, sebetulnya tak terlalu peduli Valentine dirayakan atau  tidak. Bahkan, untuk di beberapa daerah, peringatan Assyura yang merupakan tradisi kaum Syiah, dirayakan masyarakat penganut Sunni di sini. Menjadi perayaan budaya masyarakat lokal. Sedangkan Valentine fenomena anak-anak kota, tapi mungkin akibat globalisasi dan media sosial orang desa juga sudah ikut-ikutan. Tapi, sampai 1990-an, Valentine perayaan yang sifatnya sangat kota. Selain Valentine ada Halloween yang datang dari Barat. 

Orang kita hanya memanfaatkan momen Valentine saja, karena temanya bagus tentang kasih sayang, dan toh semua agama dan kebudayaan mengajarkan itu. Jadi, ketika ada satu bentuk perayaan untuk memperingati itu dan dikemas menarik, ya sudah digunakan saja. Tapi saya dengar ada mahasiswa IPB yang bilang coklat sumber kemaksiatan. Itu kan jadi mengada-ada. Itu wujud generasi sekarang gamang menghadapi perbedaan-perbedaan budaya yang berkembang di masyarakat.    

Seharusnya, kalaupun ingin menentang Valentine, yang lahir adalah kritik yang lebih mendasar untuk dipilih dan lebih masuk akal. Misalnya mengkritik perayaan itu sebagai produk kapitalisme, mengkampanyekan sifat konsumtif, perayaan glamour yang berlebihan. Jika kritiknya seperti itu mungkin kita akan lebih menerima, karena lebih masuk akal, terkait ekonomi dan politik saat ini. Misalnya, saat ini kita sedang susah dan banyak bencana, maka sebaiknya tak merayakan Valentine.

Tapi memang bila pendekatan itu dilakukan jadinya tak populer. Beda bila dibelokkan jadi isu agama, isu moralitas yang kaitannya dengan baik-benar versi agama. Isu agama memang selalu lebih populer daripada isu ekonomi atau yang sifatnya kemanusiaan. Karena di situ bicara surga-neraka.

Sementara itu, bila dibenturkan dengan Arab Saudi. Di sana sekularisasi berjalan merayap satu dekade terakhir dan mencapai puncaknya dua tahun belakangan. Dan di sana penyebabnya karena ada perubahan politik. Arab Saudi dikuasai pangeran muda yang berpengaruh pada kehidupan sosial-politik saat ini. Dia juga melihat peluang yang baik dari kebudayaan asing. 

Di sana jelas ada motif ekonomi. Yang paling awal dia membolehkan wanita bawa mobil sendiri, lalu membuka gedung bioskop. Saya tahun lalu ke Arab Saudi, di sana mulai banyak taman hiburan dengan fasilitas permainan air watercanon dan semacamnya. Taman semacam itu menjamur di beberapa daerah wisata di Arab Saudi. Mereka mulai membuka pada budaya luar yang berguna membangun pariwisata mereka, serta membangun relasi dengan negara sahabat mereka. 

Di sana isu agama sudah agak minggir. Mereka kini lebih realistis menghadapi isu ekonomi-politik pasca-boom minyak. Saat ini mereka menghadapi ketakutan tak bisa selamanya bergantung pada minyak. Berkurangnya sumber daya alam adalah keniscayaan, maka sudah harus dicari penggantinya dengan sumber keuntungan yang lain. Pariwisata lantas dianggap sebagai salah satu sumber pemasukan negara yang bagus. Keterbukaan Arab Saudi saat ini adalah ancang-ancang untuk men-support politik-ekonomi mereka dengan cara (sumber) yang lain. Yang selama ini bersandar ke SDA, khususnya minyak, pada potensi (sumber pendapatan) yang lain. 

Sedangkan segelintir orang kita justru kebalikannya. Kita yang biasa hidup enak, glamour setengah mati, namun belakangan contohnya para beberapa selebritasnya, menjadi representasi orang yang berhijrah. Pengin berislam, yang Islam-nya diambil dari sumber aslinya. Namun, jadinya seperti romantisme kejayaan masa lalu. Yang di sisi lain juga, tak mau meninggalkan kenikmatan saat ini.  

Ada tren berhijab sesuai syariat yang akhirnya justru melahirkan indsutri sendiri dan jadi ranah kapitalisme baru. Analoginya, ingin keluar dari mulut macan (gaya hidup kapitalistik Barat) tapi malah masuk mulut buaya (kapitalisme baru). Akhirnya tetap tidak merdeka, karena tetap disetir kebudayaan yang lain.

Buat saya segelintir orang ini mengalami kemunduran. Saya tidak melihatnya bentuk kemunduran bangsa kita secara keseluruhan. Di luar orang-orang ini kita sedang bergerak maju, kok. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Dosen Pasca Sarjana UNUSIA, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara

Bila melihat fenomena ada yang kampanye anti perayaan Valentine aat ini tengah terjadi arus balik sikap keberagamaan kita. Arus balik ini lahir dari sikap rendah diri dan pendangkalan dalam beragama. Pendangkalan berarti agama hanya dilihat bungkus dan kulit luarnya saja, sehingga beda bungkus dikira beda agama. Diartikan beda akidah.  

Orang yang menolak Valentine itu sebetulnya sudah "mengagamakan budaya". Agama mereka anggap budaya. Valentine kan soal tradisi. Nah, kalau yang bikin tradisi awalnya umat lain ya bisa dicomot bila kita berpikir lebih dalam. Isinya kita ganti, tradisinya dipakai. Seperti strategi yang dilakukan Wali Songo. Mereka justru orang yang berpikiran dalam dan jauh. Mereka melakukan apa yang disebut dengan strategi kebudayaan. 

Pertunjukan wayang atau tradisi selamatan kan sudah ada sebelum Islam hadir. Awalnya sudah dilakukan orang di luar Islam. Tapi karena itu perbuatan baik ya tinggal diisi (hal-hal islami), jangan dirusak, dilawan atau dihancurkan. 

Jika berpikir dangkal, hal-hal yang sifatnya profan dianggap sakral, karena sumbernya dari umat lain dianggap ajaran agama lain. Selain itu ini menunjukkan gejala rendah diri. Karena nggak punya kemampuan kreatif, tidak memiliki kualitas yang memadai, tak mau bersaing secara obyektif akhirnya dia bersembunyi di gua. Gua itu bernama "akidah". Ketika menghadapi kenyataan yang beragam itu dia sembunyi di situ, menjadikannya tameng atau benteng. Dia bukan maju untuk bertempur ke depan dengan menciptakan kreativitas, melahirkan kualitas diri yang tinggi, menunjukkan keunggulan Islam melalui akhlak karimah dan mulia. 

Tapi orang yang rendah diri tak bisa begitu. Orang yang rendah diri bisanya marah-marah, menyalahkan orang lain dan tak mau introspeksi. Beda dengan ulama dulu. Mereka pede (percaya diri). Mereka berpandangan, "Budaya atau tradisi apapun serta dari mana datangnya, asal bisa kita pakai, kita yakin bisa menaklukkannya." Mereka bisa mengendalikan budaya luar. Misalnya, wayang yang dari tradisi Hindu-Buddha mereka pakai, tradisi selamatan yang hidup di masyarakat lokal mereka juga pakai.          

Sekarang kita sedikit-sedikit menyalahkan orang, melarang-larang dan menghancurkan. Tidak berani berperang menciptakan tradisi kultural yang baik dan produk pemikiran yang berkualitas serta menarik. Itu berbahaya bagi Islam. 

Kalau ingin perangi misalnya Valentine mendekatkan orang pada budaya kapitalistik dan konsumtif, nggak apa-apa. Karena yang diperangi ruhnya. Jangan perangi Valentine-nya. Maulid atau Lebaran juga bisa diprotes budaya konsumtifnya, tapi kan acara Maulid-nya atau Lebaran-nya tak dihancurkan.

Kita jadi mundur begini sementara Arab Saudi maju perlahan-lahan karena kita mengalami shock culture, keterkejutan budaya. Kita mencoba menghadapi arus modernisme, materialisme bukan dengan membuka diri dan bertarung melawan itu semua dengan menciptakan kreasi-kreasi budaya tanding baru, tapi malah menciptakan tembok. Makanya saya bilang ini fenomena rendah diri. 

Orang Arab saja belajar dari kita bagaimana menghadapi gempuran budaya luar, bagaimana menjadikan budaya sebagai resources (sumber daya) kapital yang bisa dialihkan jadi kapital (menguntungkan). Orang Arab Saudi kini mencoba realistis. Nggak bisa tekanan budaya luar ini dihadapi dengan tembok. Kita bagus menghadapi budaya luar sejak abad ke-15 menerima budaya dari Persia, India  dan lain-lain.     

Mereka yang menolak Valentine, yang ikut arus balik ini, mengadopsi pikiran Arab ala Wahabi tapi di saat bersamaan meninggalkan warisan-warisan dari ulama Nusantara terdahulu. Saat kini Arab justru mulai terbuka, mengikuti Islam ala Nusantara, mereka kehilangan pegangan. Maka mereka ini harus disadarkan. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Diskursus mengenai valentine di negeri kita Indonesia tampaknya akan tetap terus berlangsung dari tahun ke tahun. Bahkan pembicaraan mengenai valentine bisa jadi semakin ramai, karena semakin sering kita membicarakan valentine day, maka semakin popular dan bertambah ramai pula orang membicarakan dan mengulasnya. Apalagi kalau ada pihak-pihak yang melakukan aksi penolakan seperti apa yang terjadi saat ini. Sebagaimana ditulis oleh Ade Irwansyah di laman Watyutink.com, Jakarta, Indonesia, Ahad, 10 Februari 2019. Sebuah kelompok hijaber yang menamakan dirinya Gerakan Menutup Aurat (Gemar) menggelar kegiatan di arena Car Free Day (CFD). Selain menghimbau perempuan menutup aurat, mereka juga mengaitkan aksi kemarin untuk menolak perayaan Valentine. Dikutip CNNIndonesia.com, seorang peserta aksi mengatakan, mereka ingin di bulan yang identik dengan Valentine, perempuan agar menjalankan syariat Islam, dengan menutup aurat dan tak merayakan Valentine. 

Ya, ujung-ujungnya aksi-aksi penolakan semacam ini menjadi konsumsi media dan berlanjut menjadi pemberitaan dan bahan diskusi yang ditinjau dari berbagai sudut pandang sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang, baik pro maupun kontra atau juga di kalangan orang-orang yang menggunakan kacamata netral. Perbincangan semakin kencang dan tegang, atau meruncing apabila  perbedaan pandangan tidak bisa dinormalkan. Apalagi sampai pada hal-hal yang sensitive dan saling tidak ada yang mengalah karena alasan-alasan tertentu, hingga pada pertentangan yang makin tajam. Jadi, berbahaya bukan?

Tentu saja berbahaya, karena bisa berujung lebih jauh. Oleh sebab itu, agar persoalan Valentine day tidak menjadi biang konflik ke depan. Kita memang harus lebih bijak menyikapi hal ini. Lalu, bila kita melihat fenomena dan realitas yang ada, pertanyaan kita adalah berapa banyak orang Indonesia yang merayakan hari valentine day, dari kalangan mana? Apakah semua kalangan dan atau hanya kalangan muda atau kalangan tua saja? Lalu, apa dampak buruk yang telah terjadi dan apakah perayaan yang tidak secara nasional berlaku tersebut telah mengubah aqidah orang muda masyarakat Muslim? Ya, tentu banyak pertanyaan yang bisa kita buat. Namun, semua pertanyaan tersebut juga harusnya dapat menggali apakah esensi dari perayaan Valentine day itu bagi bangsa Indonesia?

Penolakan masyarakat Muslim terhadap perayaan Valentine day yang dilakukan secara tidak resmi tersebut sebenarnya adalah manifestasi dari kekhawatiran dan ketakutan terhadap pengaruh buruk dari perayaan yang sebenarnya memang bukan budaya asli bangsa Indonesia, bukan perayaan suatu agama, namun sebuah selebrasi dari kalangan tertentu yang juga tidak akan diadopsi oleh semua orang. Buktinya, momentum Valentine day sudah berlangsung, namun gema perayaan tersebut juga tidak terasa. Mengapa demikian? Bisa saja karena banyak orang yang semakin sadar bahwa valentine day itu bukan ajaran perayaan agama yang wajib dirayakan dan bukan pula budaya bangsa yang harus dilestarikan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Sebagai bangsa yang memiliki budaya sendiri, menghargai dan melestarikan budaya sendiri lebih baik dari pada mengadopsi budaya asing yang menjadi sumber pertentangan dalam kehidupan berbangsa. Di sinilah perlunya kemampuan literasi anak negeri. Semua elemen bangsa perlu meningkatkan kemampuan atau daya membaca, memamah semua informasi dengan cermat dan cerdas serta berakhlak. Bila pendidikan agama, pendidikan akhlak sudah diajarkan dengan baik dan damai di rumah, setiap keluarga akan terhindar dari rasa khawatir dengan perayaan valentine day, harusnya menyiapkan saja penyangga akhlak yang dimulai di rumah, karena rumah adalah awal dari segalanya. Keluarga yang cerdas, akan selalu cerdas menghadapi persoalan. Paling tidak aka nada pertanyaan yang selalu ditanyakan dalam hal ini, yakni “apa Esensinya Valentine Bagi Kita? “

Nah, sebagai muslim, kita memang wajib menjalankan perintah “ Amar Makruf, Nahi Mungkar” yang harus kita fahami secara holistic. Selain itu hal yang perlu kita junjung tinggi adalah “Lakum Diinukum waliyadin”. Dengan demikian, kita akan bisa melihat esensi, baik buruknya mengadopsi tradisi valentine day yang lebih baik, dicermati secara cerdas dan damai. Jadi. Galilah esensinya. Paling tidak, diambil sekadar pengetahuan, yang kemudian bila perlu dikaji lebih dalam untuk dilanjutkan atau ditinggalkan, demi kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman dan damai.

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan