Menimbang Cuti Bersama dan Kebanyakan Hari Libur
berita
Humaniora
Sumber Foto : eagle.mn (gie/watyutink.com) 22 April 2018 16:00
Pemerintah telah memutuskan menambah jumlah hari libur lebaran 2018. Setelah sebelumnya diputuskan cuti bersama lebaran selama tujuh hari, pemerintah menambah menjadi sembilan hari. Jika ditotal maka pada 2018 para pekerja mendapat jatah 24 hari libur yang  terdiri dari 16 hari libur nasional dan 8 hari cuti bersama. Hal ini menempatkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah hari libur terbanyak kedua di dunia. Indonesia hanya kalah dari Sri Langka yang mempunyai 25 hari libur dalam satu tahun.

Keputusan ini tentu menjadi kabar gembira bagi para pekerja, baik PNS maupun pekerja swasta. Waktu bersantai di rumah jadi bertambah. Namun perlu disadari bertambahnya cuti bersama berakibat berkurangnya cuti tahunan. Karyawan ‘dipaksa’ untuk cuti meskipun ada beberapa karyawan yang tidak merayakan lebaran. Bolehkan mereka tetap masuk kerja sehingga jatah cuti tahunannya tidak terpotong?

Bagi kalangan pengusaha penambahan cuti bersama tentu bukan kabar gembira. Sudah lama para pengusaha mengeluhkan banyaknya hari libur di Indonesia. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Suryadi Sasmita pernah mengatakan tanpa penambahan cuti bersama, hari libur di Indonesia sudah banyak. Ia mengkhawatirkan  jika ditambah lagi akan banyak potensi pendapatan yang hilang.

Belum lagi jika dikaitkan dengan uang lembur yang harus dibayarkan kepada pakerja yang harus masuk di hari libur. Artinya semakin banyak hari libur akan semakin membebani perusahaan. Kondisi ini pun dianggap kurang mendukung iklim investasi di Indonesia. Hal ini semakin diperparah dengan produktivitas pekerja yang masih rendah. Semakin bertambahnya hari libur dikhawatirkan membuat produktivitas menjadi semakin rendah.

Namun tidak semua pengusaha keberatan dengan penambahan hari libur. Pengusaha pariwisata tentu sangat gembira dengan hal ini. Pasalnya bertambahnya hari libur akan mendorong masyarakat untuk berwisata dan mengunjungi obyek wisata. Hal ini tentu dapat menggairahkan dunia pariwisata Indonesia.  

Saat cuti bersama dilaksanakan perekonomian di sentra industri mungkin melambat. Namun di daerah-daerah wisata bisa jadi berputar lebih kencang. Kedatangan para pemudik dari Jakarta atau kota besar lainnya tentu membawa dampak positif bagi perekonomian daerah, meskipun hanya sepekan.

Jadi libur diperpanjang akan menguntungkan atau justru merugikan?

 Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR

Sebetulnya penambahan masa cuti bersama lebaran 2018 lebih banyak berpengaruh kepada para pegawai negeri sipil (PNS). Mungkin, negara melihat banyak PNS yang mangkir kerja setelah masa libur lebaran. Jadi daripada banyak yang mangkir lebih baik dibuat saja aturan yang memperpanjang masa cuti bersama lebaran.

Bagi para buruh atau pekerja swasta aturan itu tidak terlalu berpengaruh, karena penambahan cuti bersama lebaran akan mengurangi jatah cuti tahunan. Jadi sebenarnya impas dan tidak ada yang diuntungkan atau dirugikan. Kalau dikatakan menggembirakan, pasti gembira, karena waktu untuk pulang kampung jadi lebih panjang.

Terkait dengan adanya pekerja yang sebetulnya tidak ikut merayakan lebaran, tapi seolah ‘dipaksa’ libur maka hal itu adalah konsekuensi dari sebuah aturan. Saat sebuah kebijakan dibuat pasti ada pihak yang diuntungkan dan di sisi lain ada yang dirugikan.

Tapi secara umum kebijakan ini boleh dikatakan menggembirakan. Sebab pada kenyataanya hanya sedikit para buruh yang bisa merasakan cuti tahunan. Berbagai alasan sering dikemukakan oleh pengusaha agar buruh tidak bisa mendapatkan hak cuti tahunannya, seperti produktivitas, target produksi, penjualan, dan sebagainya.

Hal-hal tersebut sejatinya adalah pelanggaran terhadap undang-undang perhuruhan. Sebab dalam undang-undang sudah jelas diatur tentang jatah cuti tahunan bagi pekerja. Namun peraturan itu kan hanya ibarat menara gading. Hanya bagus di aturannya tapi tidak dalam pelaksanaanya. Laporan dari anggota saya banyak menyebutkan tentang sulitnya mereka mendapatkan hak cuti tahunannya.

Pemerintah bukannya tidak tahu adanya pelanggaran ini, tapi tidak peduli. Hal ini sudah berlangsung lama, sejak saya jadi aktivis buruh di era Soeharto sampai era kepemimpinan Jokowi. Pemerintah selalu cepat dalam menanggapi keluhan pengusaha tapi lambat dalam menegakkan kepentingan buruh.(ysf) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Bagi dunia industri bertambahnya cuti bersama memang berpengaruh terhadap kegiatan produksi khususnya industri pengolahan. Produksi barang akan terjadi pengurangan dibandingkan dengan hari-hari biasa. Jikapun dipaksakan ada pekerja yang bekerja pada hari libur, maka dampaknya akan terasa di ongkos produksi untuk membayar biaya pekerja yang bekerja di hari libur. Pasti tidak akan efisien bagi perusahaan. Namun pertanyaannya apakah akan menggangu produktivitas tenaga kerja? Itu kita perlu lihat lebih detail.

Sebenarnya jumlah hari libur rata-rata di Indonesia masih relatif lebih rendah dari negara-negara lainnya di Asia. Sebagai contoh, data tahun 2015, India mempunyai 21 hari libur Nasional, Tiongkok bahkan lebih banyak. Sedangkan di negara-negara tetangga kita seperti Malaysia dan Thailand juga lebih banyak daripada hari libur nasional di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk jatah cuti dimana Indonesia masih tergolong sedikit jika dibandingkan dengan negara lainnya. Di Indonesia jatah cuti rata-rata hanya 12 hari.

Apakah produktivitas negara-negara tersebut mempunyai produktivitas lebih dari Indonesia? Malaysia, Thailand dan Singapura mempunyai produktivitas lebih tinggi dari Indonesia. Bahkan Jepang mempunyai produktivitas empat  kali dari Indonesia. Negara-negara tersebut, kecuali Singapura, mempunyai rata-rata hari libur lebih besar daripada Indonesia. Jadi produktivitas ternyata tidak ditentukan oleh lama libur.

Para investor pun tidak melihat banyaknya hari libur dalam satu negara menjadi alasan untuk tidak berinvestasi. Jika yang dipermasalahkan adalah perizinan yang akan tertunda pasti tidak akan jadi masalah utama, karena investor melihat hal lain yang lebih utama misal pasar domestik, infrastruktur, dan lain-lainnya.

Di sisi lain, hari libur yang banyak justru akan menguntungkan pemerataan perekonomian di mana waktu masyarakat untuk membelanjakan pendapatannya semakin panjang pula. Akan ada pergeseran belanja dari Jakarta ke daerah-daerah lain. Nah, ini akan menggerakkan kegiatan ekonomi di daerah, walaupun hanya sesaat.

Selain itu sektor pariwisata juga akan mendapatkan keuntungan lebih. Kunjungan masyarakat ke berbagai daerah akan mendorong kenaikan konsumsi pariwisata pada libur lebaran tahun ini. Momentum yang tepat bagi pemerintah di daerah wisata untuk memperbaiki kualitas pariwisata dan sarana prasarana penunjang pariwisata. Serta dapat mengenalkan pariwisata di daerahnya secara lebih luas. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF