Mengingkari Aksi Terorisme Gejala Apa?
berita
Humaniora
Image credit: Indiatvnews.com 17 May 2018 14:00
Ada beberapa reaksi yang kerap muncul setiap terjadi aksi terorisme seperti teror bom Surabaya. Pertama, tentu saja, ekspresi bela sungkawa pada korban sambil mengutuk aksi itu. Kedua, rasa empati sekaligus marah yang kemudian diekspresikan lewat ungkapan "Kami tidak takut". Itu sebabnya, saat Mako Brimob rusuh tagar yang trending antara lain "#KamiDukungPolisi", sedang saat aksi teror bom Surabaya trending tagar "#Surabayaorawedi" (Surabaya tidak takut). 

Namun, ada reaksi ketiga yang juga muncul: bersikap denial alias mengingkari teror yang nyata terjadi sebagai peristiwa faktual. Reaksi terakhir itu memprihatinkan dan perlu kita perbincangkan.

Sikap mengingkari ini biasanya diikuti pikiran konspiratif, seakan sebuah peristiwa terjadi karena grand design aktor intelektual besar yang hidup dalam bayang-bayang. Hal itu diekspresikan lewat ungkapan kecurigaan teror bom adalah hasil rekayasa elite politik untuk kepentingan tertentu. Frasa yang sering dipakai "pengalihan isu" dari peristiwa politik yang tengah hangat. 

Dalam kasus kerusuhan di Mako Brimob muncul tuduhan polisi sendiri yang merancang kerusuhan. Sedangkan tragedi bom di Surabaya dituding ajang cari panggung elit di tahun politik. Ada pula yang berteori teror bom di-design agar revisi UU Anti Terorisme segera disahkan. Masalahnya, sahihkah semua teori-teori konspiratif tersebut? Apa yang menuduh punya dasar argumen yang kuat?

Yang juga patut dipertanyakan, kenapa ada sebagian orang yang mengedepankan sikap denial (ingkar) dan berpikir konspiratif? Hal itu menunjukkan gejala apa? Apa mereka begitu tak percaya pada elite penguasa? Atau, pengingkaran ini berakar dari keengganan mengakui kenyataan?

Misalnya begini, pelaku teror faktanya muslim yang teradikalisasi hingga berperilaku ekstrim. Namun orang yang bersikap denial tak menerima kenyataan itu. Baginya, tak mungkin seorang muslim berbuat keji begitu. Bila demikian adanya ada persoalan lebih serius yang wajib dicermati. 

Hal itu ibarat seseorang dikatakan mengidap kanker, tapi ogah mengakuinya. Ia mengingkarinya dengan bilang kena guna-guna, misalnya. Maka alih-alih berobat ke dokter, ia pergi ke dukun. Alih-alih sembuh, kanker malah kian menggerogoti tubuhnya. Begitu pula dengan sikap mengingkari terorisme ini. Bukankah sepatutnya yang harus dilakukan adalah mengakui adanya penyakit radikalisasi agama? 

Dengan mengakui keberadaan sebuah penyakit, dokter bisa melakukan proses penyembuhan. Sebaliknya, bila penyakit tak diakui bagaimana hendak diobati? Bukankah begitu?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Setiap kali terjadi aksi terorisme, ada sejumlah umat Islam yang mencoba menyangkal keterlibatan kelompok Islam garis keras dalam aksi tersebut. Tentu, kita harus menunggu penyelidikan polisi selesai untuk mengetahui dengan pasti siapa pelakunya. Tapi, dari sejumlah indikasi kerap kali kita sudah bisa menduga dari kelompok mana pelakunya. Apalagi jika aksi tersebut adalah aksi bom bunuh diri seperti yang terjadi di Surabaya. Hampir mustahil aksi bom bunuh diri dilakukan oleh person atau kelompok yang tidak memiliki ideologi kuat. Tidak mungkin orang suruhan atau para oportunis yang ingin mengalihkan isu. Bukankah oportunis takut mati?

Denial atau penyangkalan ini adalah reaksi alami. Sama seperti saat seorang polisi memberitahu seorang ibu bahwa anaknya terlibat narkoba. “Ah masak? Anak saya orang baik-baik loh. Dia selalu santun dan berprestasi di sekolahnya.” Saat dikatakan bahwa bukti menunjukkan bahwa dia menyimpan narkoba, akan dijawab lagi oleh ibu itu, “Mungkin punya temannya. Dia anak lugu, Pak. Mungkin nggak tahu kalau itu narkoba.” Saat dikatakan bahwa dalam urinenya ada narkoba, akan datang bantahan lagi dari ibu itu, “Pasti dia dijerumuskan oleh teman-temannya. Pasti ada yang sengaja membuat anak saya rusak.”

Reaksi itu muncul bukan karena ibu itu tidak percaya polisi, tapi TIDAK INGIN PERCAYA bahwa anaknya terlibat narkoba. Denial seperti ini tidak akan membantu anaknya. Proses rehabilitasi tidak akan terjadi. Tidak akan ada introspeksi kenapa anaknya melakukan itu. Tidak ada usaha untuk memperbaiki diri (mungkin saja depresi anak itu disebabkan oleh perilaku orangtua). 

Kita juga demikian dalam kasus terorisme. Denial hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk introspeksi, mungkin banyak cara memahami agama yang salah. Kita kehilangan kesempatan untuk merehabilitasi para pengikut radikal, bahkan kita cenderung membiarkan mereka. Kita takut, diri kita sebenarnya juga punya benih-benih radikal. 

Mengakui ada masalah dalam diri kita itu menyakitkan, tapi itu adalah cara terbaik untuk maju dan memperbaiki umat. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Budaya

Sebagian besar dari denial atau penyangkalan atas aksi terorisme adalah coping mechanism (mekanisme pertahanan diri). Dalam psikologi ada beberapa tipe mekanisme pertahanan. Salah satunya denial, menyangkal sesuatu sedang terjadi. Bentuknya disangkal, ditepis, kejadian tersebut terjadi. Dianggap nggak ada. Nah, tapi ada peristiwa yang betulan terjadi. Supaya dibikin nggak ada maka dibuat cerita macam-macam. 

Itu salah satu cara untuk melindungi diri. Mekanisme pertahanan ini lahir karena perasaan terserang, merasa tidak nyaman, merasa tidak enak, merasa sakit, terancam dan lain-lain. Penyangkalan adalah cara paling lazim dan paling efektif.  

Cara yang lain adalah disasosiasi atau melepaskan diri dari peristiwa itu. Bentuknya seperti "Saya tak begitu," atau "Saya bukan bagian dari itu." Pada disasosiasi kejadiannya tak disangka, tapi itu bukan bagian dari dirinya. 

Yang patut dicermati, ada jenis reaksi yang lain, yakni reaksi yang format atau bentuknya sama, berurutan dan terukur. Itu bukan coping mechanism. Bukan reaksi psikologis, tapi reaksi politis. Jadi, pesannya sudah dirancang. Kalau sudah kompak (reaksinya) berarti kan sudah dirancang. Dan yang bereaksi itu tak berarti harus satu gang dengan pelaku teror, tapi karena orang-orang ini ada dalam sebuah struktur gerakan. Yang namanya gerakan itu bisa berbentuk partai. Mereka punya kader dan struktur. 

Mereka ini dengan efektif dan efesien menyebarkan pesan dengan cepat. Ada perintah dari pimpinannya. Misal, sebuah peristiwa terjadi, kita harus bereaksi. Beri frame. Orang-orang ini punya tujuan jelas, 2019 ganti presiden. Orang yang bereaksi politik itu buru-buru ambil momen untuk beri frame.    

Semua respon ini memperburuk keadaan. Penyangkalan itu--entah reaksi psikologis atau reaksi politis yang spontan--memperburuk keadaan, karena aksi teror masih terjadi dan berkembang jadi konflik horizontal. Oleh karena itu saya ingin bereaksi keras juga pada orang-orang yang reaksinya langsung framing penyelamatan diri ini. Saya ingin bilang, "Jangan buru-buru mengamankan posisi (sendiri), dong." Saat ini kehidupan bersama kita tengah terancam. Ibarat kata, ada pagebluk (wabah) reaksi orang kampung biasanya bikin kegiatan bersama untuk mengamankan. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF