Menghargai Keputusan Rina Nose Lepas Jilbab
berita
Humaniora

Sumber Foto: Youtube

21 November 2017 19:00
Prinsip dasarnya dahulu, setiap orang berhak meyakini menutup aurat dengan berhijab atau jilbab adalah perintah agama yang ia anut. Akan tetapi, ketika seseorang melepas jilbabnya keputusan itu sepatutnya juga dihargai. Agama adalah urusan pribadi makhluk dengan Pencipta-Nya. Risiko dosa ditanggung sendiri. 

Namun rupanya kenyataan sehari-hari terkadang tak seperti itu. Simak kisah artis bernama Rina Nose yang belum lama ini melepas jilbab yang semula ia kenakan. Saat muncul di sebuah acara TV yang dipandunya tanpa menutup kepalanya dengan jilbab, segunung pertanyaan dan tuduhan datang. 

BACA JUGA: Kenapa Kita Tak Kagum Konstruksi Kecantikan Lokal?

Netizen dan media menduga alasannya lepas jilbab: mulai dari efek depresi karena kisah cinta yang tak kunjung berakhir bahagia (ia pernah menikah, tak lama kemudian cerai, pacaran serius dengan artis Brunei tapi putus) hingga yang paling ekstrem ia dituding telah pindah keyakinan. 

Sejujurnya, di Indonesia kiwari, lebih mudah pakai jilbab ketimbang tidak berjilbab. Beda dengan tahun 1980-an hingga 1990-an saat jilbab jadi pertanda ekstrim kanan dan simbol perlawanan aktivis dakwah. Kini jilbab banyak ragamnya. Mau yang sesuai syar'i ada. Yang sesuai fashion pun banyak. 

Dahulu, selebritas berpikir panjang bila ingin berjilbab. Takut kehilangan job, alasan mereka. Kini bejibun artis berjilbab. Di bulan Ramadan, yang sehari-hari tak berjilbab, di TV menutup rapat auratnya. Maka kemudian, ketika figur publik melepas jilbab, sejatinya itu keputusan yang berisiko besar. 

BACA JUGA: Ketika Pengemudi Ojek Online Perempuan Di-`Cancel` Penumpang Lelaki

Tengok Rina misalnya, ia tak lagi nongol di acara stasiun TV yang dipandunya. Apakah ia dipecat gara-gara lepas jilbab?

Entah. Yang jelas, berjilbab sesungguhnya tak sekadar menutup aurat mengikuti perintah agama. Saat berjilbab, yang ditutup bukan hanya fisik. Perilaku pun harus mencerminkan jilbab yang disandang. Itu sebabnya berjilbab tak gampang. 

Melepasnya pun lebih tidak gampang. Pasti ada proses pergumulan dalam batin yang besar hingga seseorang melepas jilbab. Belum lagi harus menghadapi sikap keluarga dan lingkungan dekat. Bagi seleb yang harus dihadapi lebih banyak: fans, hater, media. 

BACA JUGA: Adilkah Vonis Bagi Pelaku Gladiator Anak?

Yang patut jadi pertanyaan di sini bukan kenapa Rina lepas jilbab, melainkan kalau ia melepas jilbabnya, memangnya kenapa?  Sebelum Rina ada Marshanda dan Trie Utami. Ceritanya pun sama, mengundang pro dan kontra. Lantas pula, apa stasiun TV harus ikut arus mengucilkan si artis yang lepas jilbab?

Ketika kelihatan beragama di depan publik dianggap lebih populer, salahkah bila ada yang menentang arus? Kapan kita bisa memisahkan urusan publik dengan pribadi menyangkut pilihan menjalankan perintah agama? Bagaimana meyakinkan publik kalau berjilbab/tidak adalah urusan pribadi?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komnas Perempuan

Masyarakat kita melihat simbol-simbol, misalnya jilbab, dianggap kesalehan seseorang. Padahal jilbab atau tidak berjilbab, perilaku tidak bekerja dalam konteks simbol. Untuk artis, tambahan lagi dia punya penggemar. Mereka, misalnya, tentu menyayangkan idolanya yang semula berjilbab, kini tak berjilbab lagi. 

Sebetulnya, berjilbab atau tidak berjilbab itu adalah hak asasi dia. Persoalan berjilbab adalah urusan personal.  Bukan urusan negara ataupun masyarakat. Maka, tidak boleh juga stasiun TV atau media memberhentikannya karena alasan tak pakai jilbab lagi. Kok, kesannya media atau stasiun TV jadi dikuasai kelompok tertentu,atau media itu (seperti menuruti) kemauan orang yang merasa kecewa pada si artis. Media tidak boleh mengambil keputusan berdasar komentar atau protes orang. 

Saat ini pendidikan dan pengetahuan masyarakat kita belum baik. Mestinya yang menjadi ukuran bukan simbol atau kesalehan seseorang. Apalagi Indonesia negeri yang menjunjung keberagaman tradisi, budaya, dan ragam ekspresi. 

Yang lepas jilbab bukan cuma Rina Nose. Dulu juga, misalnya Rieke Diah Pitaloka berjilbab tapi sekarang lepas. Itu pilihan dia. Mungkin itu terkait kenyamanannya. Barangkali dulu ada tekanan-tekanan sehingga dia menggunakan simbol muslimah tersebut.   

Kenapa perempuan seolah tak punya kemerdekaan pada tubuhnya sendiri? Di dalam budaya kita perempuan berada di posisi kedua di tengah masyarakat. Sub-ordinasi pada tubuh perempuan masih terjadi di mana-mana. Dalam konteks pandangan agama juga gampang sekali mengatur tubuh perempuan. Ini lalu telah jadi konteks politik. Dilihat dari sejarahnya, misalnya, kenapa perempuan di Timur Tengah diharuskan berjilbab, itu terkait masyarakatnya. Indonesia kan beda. Orang Islam di Indonesia zaman dulu, di masa pergerakan, misalonya, kan tidak berjilbab. Mereka hanya menggunakan kerudung panjang. 

Yang lucu begini, masyarakat Mesir dulu wanitanya menutup rapat aurat. Lalu mereka belajar dari masyarakat Indonesia, mayoritas Islam tapi demokratis, dalam soal busana perempuannya tak harus menutup tubuhnya dari ujung bawah sampai atas. Mereka lalu mulai menyadari, perempuan bisa jadi pemimpin dalam ruang-ruang politik dan publik. Tapi sekarang (perempuan) Indonesia malah (seperti) harus membungkus tubuhnya.       

Kenapa hal ini terjadi? Karena ada pandangan keyakinan agama kelompok-kelompok konservatif baru yang kemudian menggunakan politisasi simbol agama. Pandangan mereka antara lain perempuan harus ditutup auratnya.Padahal bagi orang-orang yang paham teks agama, hal ini bisa didialogkan.

Misalnya saya. Meskipun saya menggunakan jilbab, saya bisa katakan; Jika tak sesuai pilihan hati jangan lakukan (berjilbab). Saya berjilbab karena ini kebiasaan saya, budaya saya. Saya hidup di tradisi pesantren yang memang budayanya menutup aurat. Kalau di rumah saya lepas jilbab, hanya di rumah saja saya pakai. 

Paham konservatisme dan fundamentalisme sekarang makin meluas, dan dampaknya paling dirasakan perempuan dan anak-anak. Mereka ini kaum yang paling mudah dijadikan alat politik. (ade)             
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sejarawan, pemerhati isu perempuan, kordinator dan peneliti di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Indonesia  

Melawan arus itu tak gampang. Kebetulan saya pernah berada di posisi orang yang melawan arus, melawan norma yang berlaku, merasa dikucilkan. Awalnya ibu selalu paksa saya pakai jilbab. Dan saya tak suka (pakai jilbab). Dari kecil saya dididik untuk pakai, diajarai tentang surga dan neraka, dibilang akan memalukan keluarga bila tak berjilbab. Bahkan saat SMP, baju-baju pendek saya dibuang ibu. Waktu kelas 2 SMA, rambut saya dipotong paksa biar saya malu dan pakai jilbab.  

Akhirnya saya sampai minta bantuan psikolog. Saya stres atas hubungan saya dengan ibu. Ibu memaksa sekali saya pakai jilbab. Orang lain punya pilihan pakai atau tidak. Saya tak punya pilihan itu. Saya tak bisa melawan orangtua, di satu sisi saya tak bisa jadi diri sendiri. Waktu saya lepas jilbab terjadi guncangan besar di keluarga. Ibu sampai datang ke kosan, menangis, bertanya apa saya telah pindah agama. 

Saya tak serta merta melepas jilbab. Dalam prosesnya saya mencari tahu tentang jilbab. Mencari legitimisi apakah yang akan saya lakukan benar atau tidak. Saya belajar islamologi, teologi, belajar soal masyarakat Islam, mencari tahu bagaimana sebenarnya posisi jilbab dalam sejarah Islam dan masyarakat Indonesia. Berkat pencarian itu saya malah menghasilkan beberapa paper (makalah) yang sudah diterbitkan. Saya tak mau melepas jilab hanya karena keinginan pribadi, tanpa tahu konteks sejarah di masyarakat kita. 

Saya tahu kalau jilbab adalah bagian dari kobtrol terhadap tubuh perempuan. Saya punya data (argumen) yang cukup bila ada yang bilang "jilbab hukumnya wajib." Saya bilang, (jilbab) itu bukan kewajiban. Masalahnya, memang orang-orang terdekat, termasuk orangtua saya, tak menerima argumen itu. Mereka menerima jilbab sebagai taken for granted. Saya nggak mau seperti itu. Saya melakukan rasionalisasi  terhadap apa yang saya pilih. Saya nggak sembarangan melepas jilbab.  

Saya jadi bahan pembicaraan di kampus karena nggak pakai jilbab lagi. Penerimaannya lebih sulit.Banyak yang syok. Teman-teman maupun dosen banyak yang tanya, apakah saya dekat dengan orang-orang (Islam) liberal? Apakah saya sudah diracuni pandangan mereka? Padahal nggak. Saya yang terlebih dahulu punya pikiran untuk nggak berjilbab. Saya sudah tahu sejarah tentang jilbab. Kedua, saya menyimpulkan jilbab bukan suatu kewajiban, dan ketiga, saya mulai keluar ke publik. 

Begitu lepas jilbab, saya merasa jadi diri yang baru. Dan ini yang saya suka. Dulu, setiap kali lihat kaca saya seperti tak melihat diri saya. Saya merasa tak mengenal orang di kaca ini. Waktu kuliah, sebelum lepas jilbab, nilai-nilai saya B dan C. Begitu lepas jilbab saya berani ambil lintas jurusan. Tadinya saya kuliah di jurusan Sejarah Universitas Indonesia, setelah lepas jilbab nilai saya naik melonjak, dapat A. IPK saya jadi di atas 3,5 dan boleh ambil lintas jurusan. Saya lalu ambil jurusan sosiologi. Ternyata saya dapat nilai A juga.            

Tubuh perempuan memang jadi milik publik. Di masyarakat Asia Tenggara, perempuan tak punya hak atas tubuhnya. Tubuhnya milik publik, bukan milik sendiri. Apa yang ingin perempuan pakai ditentukan publik. 

Sikap memperlakukan perempuan adalah cara mudah untuk melihat ideologi, tren atau moral yang bagaimana yang tengah berlaku di suatu negara. Di masa Soeharto, misalnya, yang berlaku Jawanisasi. Sekarang apa tema utamanya? Bisa jadi konservatisme. Lihat saja bagaimana tubuh perempuan diatur. Sasaran pertama pengendalian sosial selalu tubuh perempuan. Karena memang kiat menganut sistem patriarki. Dan ini sudah berlangsung lamaaaaaaa... sekali. Untuk mengubahnya kita harus me-reset ulang peradaban kita.         

Dari studi yang saya lakukan tahun 2017 tren berjilbab sekarang diarahkan oleh korporasi dan tren fashion. Jadi, ke depannya akan banyak perempuan yang lepas jilbab. Karena mereka pakai jilbab semata ikutan tren. Sebagai tren fashion saja. Sebagai fashion mereka berpikiran, "So what kalau gue lepas jilbab?" (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis buku

Isu bahwa perempuan tidak memiliki kemerdekaan atas tubuhnya sendiri bukan hanya dialami perempuan Indonesia, tapi juga perempuan di berbagai penjuru dunia lainnya. Isu tubuh di sini tidak hanya tentang persoalan pakaian, tapi juga tentang definisi kecantikan (contoh: kulit harus putih, ukuran tubuh tertentu yang diidealkan) juga reproduksi (misalnya hak untuk menolak kehamilan yang tak diinginkan, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi terbaik, hak-hak terkait memakai/tidak memakai alat kontrasepsi). 

Kalau ditanya kenapa? Sama dong, itu pertanyaan saya juga. Tapi kecenderungan kekuasaan adalah ingin melanggengkan diri, tidak ingin terusik. Jadi pasti ada sejumlah pihak yang merasa berkepentingan dengan tubuh perempuan baik langsung maupun tidak langsung. Pihak-pihak ini adalah yang mendapatkan keuntungan terbesar dari status quo.
 
TV adalah media yang investasinya sangat besar, sehingga popularitas sangat penting. Populer artinya mendapat dukungan banyak orang. TV umumnya hanya ingin bermain aman dan mengikuti arus.

Kapan kita bisa memisahkan urusan publik dengan pribadi menyangkut pilihan menjalankan perintah agama? Jika masyarakatnya sudah lebih maju dari sisi intelektual, kultural dan spiritual maka kecenderungannya juga bisa lebih bisa menghormati ranah pribadi.  
 
Namun, di Indonesia masih susah meyakinkan publik kalau berjilbab/tidak adalah urusan pribadi. Terlebih saat ini karena bagi Muslim ada seruan Amar Makruf Nahi Munkar. Berjilbab masuk di dalam ranah ini, sesuatu yang bahkan menjadi ukuran keimanan bagi banyak orang. Tapi kembali lagi, begitu tingkat kedewasaan masyarakat meningkat, maka orang juga akan lebih menghargai privasi orang lain.

Melepas jilbab memang salah satu perdebatan paling keras di dunia islam, apakah itu wajib atau tidak. Jadi sepertinya bukan karena konservatime baru yang tengah menggejala. Itu hanya membuatnya menjadi tampak, karena ada internet.
 
Dalam setiap perubahan poltik dan sosial, tubuh perempuan selalu menjadi objek pertama yang diatur, misal, ketentuan memakai burqa di Afghanistan masa Taliban atau kewajiban berjilbab di Iran pasca revolusi Islam. Kecenderungan seperti ini memang selalu terjadi, setiap ada wilayah yang dianjurkan menerapkan syariah , yang pertama diperintahkan adalah menertibkan pakaian perempuan. Sebab ada pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung akan terganggu jika perempuan tidak berada di dalam kendali mereka sepenuhnya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF