Mengangankan Waterway Eropa di Indonesia
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 25 October 2018 17:00
Di Indonesia, angkutan sungai dan danau, hanya digunakan sebagai transportasi alternatif bagi mereka yang tinggal di wilayah terisolasi. Minimnya atau bahkan tidak adanya fasilitas atau transportasi umum darat, membuat mereka harus menggunakan angkutan sungai sebagai alat penyeberangan antar wilayah. Peran angkutan sungai sendiri di Indonesia tak dimanfaatkan dengan baik, bahkan nyaris luput dari perhatian pemerintah.

Berbeda dengan pemanfaatan angkutan sungai di sejumlah negara lain. Seperti kota Venesia di Eropa misalnya. Kota yang disebut sebagai kota air itu, benar-benar memanfaatkan angkutan sungai atau gondola sebagai sarana transportasi, yang juga menarik para wisatawan untuk melihat keindahan kota dari atas sungai. Artinya, angkutan sungai memiliki peran yang penting di kota yang memiliki sungai atau kanal yang eksotis tersebut. Bisakah angkutan sungai kita temukan suatu hari nanti di kota-kota besar, seperti Jakarta?

Lain lagi dengan pemanfaatan angkutan sungai di kota Bangkok. Dikenal sebagai Venesia di Asia karena kanalnya, Bangkok memiliki transportasi unik yang selalu menjadi pilihan utama masyarakat untuk menghindari kemacetan kota, yakni Canal Taxi. Selain itu, waktu tempuh yang dibutuhkan lebih cepat dibanding dengan menggunakan transportasi darat. Mengapa Jakarta yang memiliki tingkat kemacetan yang sangat tinggi tak bisa memanfaatkan angkutan sungai untuk dijadikan transportasi publik?

Atau jika kita pergi ke Brisbane, Ibu Kota negara bagian Queensland Australia, kita bisa menggunakan angkutan sungai modern, yang disebut City Cat, untuk pergi ke sejumlah titik penting di kota tersebut. Tak hanya itu, kita juga dapat melihat rumah-rumah mewah di tepi sungai, karena di Brisbane, hunian di tepi sungai merupakan tempat yang mahal dan mewah. Hanya orang kaya yang bisa tinggal di sana. Bahkan sungai dijadikan sebagai halaman depan sekaligus lahan parkir boat pribadi mereka. Sementara di Indonesia, tepi sungai justru dihuni oleh masyarakat menengah ke bawah. Miris bukan?

Padahal Batavia atau Jakarta pada masa pada masa kolonial Belanda, pernah memiliki transportasi air yang dijadikan sebagai jalur perdagangan yang strategis. Namun saat ini hilang begitu saja ditelan zaman. Transportasi air atau waterway di Jakarta sempat dihidupkan pada era kepemimpinan Sutiyoso dan Jokowi, namun hanya beroperasi sesaat dan pupus di tengah jalan.

Pemerintah hanya sibuk dengan MRT, LRT, Transjakarta, dan berbagai pembangunan jalan untuk mengurangi kemacetan, tanpa memikirkan untuk menghidupkan kembali transportasi air yang ramah lingkungan. Mengapa waterway tak pernah menjadi prioritas? Bukankah pemanfaatan angkutan sungai dapat menambah nilai bagi para wisatawan?

Selain tidak diproritaskan, angkutan sungai yang sudah ada di Indonesia, dan menjadi transportasi penting bagi sebagian masyarakat Indonesia, juga tak diperhatikan pemerintah. Seperti di Kalimantan misalnya, angkutan sungai merupakan moda transportasi yang sangat penting bagi penduduk sana. Angkutan itu dibuat secara mandiri dan dikelola perorangan oleh masyarakat. Namun tak memenuhi syarat keselamatan. Lantas, mengapa ini luput dari perhatian pemerintah? Bukankah seharusnya ada sosialisasi dan regulasi terhadap angkutan sungai?

Padahal Indonesia sebagai Negara Bahari yang memiliki panjang sungai sekitar 23.255 km panjang sungai dari 214 sungai yang dapat dilayari, seharusnya dapat memanfaatkan angkutan sungai dengan baik sebagai transportasi sekaligus sebagai daya tarik wisatawan. Tapi mengapa potensi sungai sebagai sarana transportasi di Indonesia belum menjadi perhatian yang serius?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat transportasi

Angkutan perairan seperti angkutan sungai masih kurang mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Angkutan sungai seperti halnya angkutan darat, ada yang melayani mobilitas warga di perkotaan. Ada pula yang melayani aktivitas antar wilayah.

Di Jakarta, sungai seharusnya bisa berfungsi sebagai angkutan wisata bila ditata dengan baik di sepanjang alirannya. Kawasan kumuh harus dihilangkan dengan penataan yang lebih humanis. Apabila debit air bisa dijaga ketinggiannya, maka transportasi air dapat dimanfaatkan untuk alternatif pelengkap transportasi darat.

Di era Gubernur Sutiyoso, sebenarnya sudah mulai dicanangkan transportasi sungai sebagai alternatif bagi public untuk mengurangi kemacetan di jalan raya. Namun kebijakan ini tidak berlanjut di era Gubernur Fauzi Bowo.

Berbeda dengan kondisi Di Shanghai, dari pagi hingga sore, aliran Sungai Huang Po yang membelah pusat kota digunakan untuk aktivitas lalu lintas transportasi kapal barang. Karena di tepi sungai terdapat pelabuhan internasional.

Sedangkan pada malam hari berganti dengan aktivitas kapal wisata dengan sinar lampu berkilauan warna warni yang bersliweran di sepanjang sungai itu. Di tambah lagi dengan kilauan cahaya lampu warna warnai dari gedung-gedung tinggi yang berdiri di sepanjang aliran Sungai Huang Po.

Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia dapat menirunya. Namun hingga kini tak dirancang dengan baik. Bahkan Kalimantan yang memiliki sejarah kehidupan di sepanjang sungai saja mulai meredup. Sejak terbangunnya jalan darat yang menghubungkan ibukota kabupaten di seluruh Kalimantan, yang mengakibatkan adanya peralihan mobilitas warga.

Kapal-kapal yang biasanya mengangkut orang dan barang melalui Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Mahakam, Sungai Barito dan beberapa sungai lainnya sudah berangsur berkurang. Demikian pula beberapa aliran sungai di dalam Kota Banjarmasin sudah menyempit dan menghilang.

Padahal potensi aliran sungai di Kalimantan bisa dialihkan menjadi angkutan wisata sungai dan tetap dapat difungsikan sebagai transportasi barang untuk melayani warga yang berada di tepian sungai itu. Tidak mungkin semua wilayah tepian sungai dapat terlayani akses jalan darat dalam waktu yang cepat.

Dampaknya sekarang muncul angkutan penyeberangan sungai yang dikelola masyarakat untuk memenuhi kebutuhan warga seberang. Karena modernisasi sarana kapal dan dermaga sungai sangat diperlukan untuk mengikuti dan memenuhi kebutuhan saat ini. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Transportasi

Di Sumatera dan Kalimantan transportasi air memang masih dimaanfaatkan oleh masyarakat. Namun untuk di Pulau Jawa, transportasi air sepertinya belum pernah berada di masa-masa kejayaan. Artinya, transportasi di Pulau Jawa memang belum dimanfaatkan dengan baik. Bahkan sejak jaman Belanda, transportasi air itu belum pernah dijadikan sebagai transportasi utama.

Karena pada saat kolonialisme Belanda, sungai hanya digunakan untuk pelayaran perahu-perahu nelayan saja, dan hanya berlaku di sungai Ciliwung. Sementara di beberapa daerah lainnya di Pulau Jawa, transportasi air belum digunakan untuk kegiatan ekonomi. Sehingga, kanal-kanal yang dibuat Belanda pada saat itu hanya digunakan untuk perahu-perahu nelayan yang akan mendarat atau berlabuh ke laut untuk mencari ikan. 

Meski demikian, transportasi air ini seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah, untuk membantu meringankan kemacetan di kota-kota besar, seperti Jakarta. Hal itu dapat terealisasi apabila Pemprov DKI benar-benar serius untuk menghidupkan kembali transportasi air. Serius dalam artian tak hanya menyediakan sarana kapalnya atau perahu, tetapi juga harus menyediakan terminalnya.

Terminal tersebut juga harus disediakan dengan adanya integrasi dengan moda yang lain. Kalau hanya disediakan kapalnya saja, maka transportasi air itu tak akan laku. Tapi kalau terminal kapal itu berdekatan dengan beberapa jalur transportasi lainnya, seperti halte bus, atau stasiun, pasti akan laku. Terlebih jika terminal angkutan sungai itu dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, entah itu wisata, atau pusat-pusat perbelanjaan lain.

Sehingga, transportasi sungai tersebut harus dibuat dengan konsep yang serius. Karena apabila hanya disediakan dermaga kecil, tanpa berintegrasi dengan moda lain, pasti tak akan berjalan sesuai rencana dan tidak akan laku.

Sementara terkait angkutan sungai yang ada di beberapa daerah seperti Kalimantan, yang belum memenuhi persyaratan keamanan, harus lebih diperhatikan oleh pemerintah. Pada dasarnya regulasi terkait angkutan sungai ada, hanya saja implementasinya masih sangat kurang. Di sinilah seharusnya pemerintah melakukan kontrol terhadap angkutan sungai yang ada di sejumlah daerah. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei