Menelisik Motif Teror Bakar Kendaraan di Semarang
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 09 February 2019 16:30
Watyutink.com - Warga Semarang dan daerah sekitarnya tengah resah. Sebulanan terakhir terjadi aksi bakar mobil dan motor milik warga. Sudah 17 kali aksi terjadi tanpa seorang tersangkapun berhasil ditangkap. Aksi bakar kendaraan ini diduga dilakukan kelompok profesional.

Pertanyaan utama yang segera terbit, apa motif dari aksi bakar mobil dan motor itu? Apakah terkait politik elektoral jelang pilpres yang kian panas?

Dua pertanyaan itu penting dijawab karena modus operandi aksi teror di sana mengundang banyak tanya dan kecurigaan. 

Berdasar analisis polisi dan pemberitaan media, aksi bakar kendaraan di Semarang dan sekitarnya terjadi di daerah perbatasan, yakni kecamatan Ngaliyan, Tugu, Pedurungan dan Banyumanik. Lokasi yang diincar adalah kawasan pemukiman yang memiliki akses keluar-masuk longgar serta dekat jalan utama atau jalan raya. Aksi tak pernah terjadi di pemukiman elite atau realestat. 

Lokasi kejadian dan korbannya juga acak. Seluruh korban tak punya latar belakang politik alias warga biasa. Mereka rata-rata dari kelas ekonomi menengah dengan profesi beragam. Ada yang pengacara, penjual bakso, dan pegawai Universitas Negeri Semarang. 

Dari olah TKP dan keterangan saksi, ciri pelaku berboncengan motor matik, mengenakan jaket dan helm. Dalam aksinya pelaku membasahi kain dengan bensin dalam botol atau kantong plastik berisi minyak. Benda itu dilempar setelah api disulut. Rata-rata aksi rawan terjadi antara pukul 22.00-24.00 dan pukul 03.00-05.00. 

Berbagai fakta di atas menunjukkan motivasi aksi untuk meneror. Aksi juga dilakukan profesional. Sasaran mereka bukan materi, tapi untuk membuat resah.   Kenapa masyarakat harus dibuat resah? Siapa yang diuntungkan dan dirugikan bila masyarakat di Semarang resah?

Walau pihak berwenang mengatakan tak ada indikasi aksi bakar mobil terkait politik pilpres, kemungkinan tersebut tak bisa dikesampingkan begitu saja. Jawa Tengah, dengan Semarang sebagai ibukotanya, salah satu lumbung suara kubu petahana (baca: PDIP dan Presiden Jokowi). Gubernur Jawa Tengah kini diduduki kader PDIP. 

Maka kita berhak bertanya, apa aksi bakar mobil dan motor ini untuk mendiskreditkan pemerintah pusat dan daerah? Ini satu cara menggembosi suara petahana? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Jurnalis Senior

Aksi pembakaran kendaraan yang beruntun di Jawa Tengah adalah aksi kejahatan baru yang merupakan aksi teror yang menakutkan masyarakat. Sayangnya jajaran kepolisian belum bisa bekerja cepat untuk mengungkap kasus ini, sehingga modus dan pelaku maupun jaringannya belum terungkap . 

Akibatnya, aksi teror model baru ini tidak hanya membuat warga Jateng resah tapi keresahan juga melanda wilayah lain. Untuk itu jajaran Polda Jateng perlu bekerja keras untuk menangkap pelakunya. Selain itu Polda harus mencari tahu, apakah aksi teror pembakaran kendaraan yang beruntun ini ada kaitan dengan politik. 

Sebab jika dilihat dari modusnya, aksi pembakaran mobil yang beruntun ini bukan dilakukan pelaku kejahatan biasa dan bukan pula dilakukan kelompok teroris. Dari aksi yang terlihat, pelaku tidak bekerja sendiri. Artinya ada kelompok lain di belakang para pelaku yang sepertinya sengaja ingin memancing keresahan, kericuhan dan kekacauan di wilayah Jateng. 

Sebab bagaimana pun Jateng adalah wilayah paling panas menjelang pilpres 2019. Hal ini dikarenakan Jateng adalah lumbung suara Jokowi, sementara kubu Prabowo membangun sejumlah posko pemenangan di sana. Jadi bukan mustahil ada kelompok tertentu yg memancing di air keruh untuk membenturkan kedua kubu. 

Aksi pun pembakaran kendaraan yang beruntun tersebut bisa jadi sebagai bagian provokasi untuk memancing di air keruh. Untuk itu Polda perlu bekerja cepat agar masyarakat tidak terprovokasi dan situasi menjelang pilpres di Jateng tetap terkendali. Polda jangan takut siapa pun yang terlibat harus ditangkap dan disapu bersih hingga ke jaringannya. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kriminolog

Kita harus mengkaji lebih jauh apa aksi bakar kendaraan di Semarang dan sekitarnya berkaitan dengan politik atau tidak. Karena kejadian bakar mobil sangat jarang terjadi sebelumnya, lalu tiba-tiba ada (kejadian) dan berkali-kali. Di Semarang, sebetulnya, pencurian kendaraan bermotor sudah sangat meresahkan. Termasuk rawan. Namun kali ini modusnya berubah, hanya melakukan pembakaran. Jadi kelihatan sekali, motifnya teror. 

Namun saya tak mau buru-buru mengaitkan aksi teror di sana dengan motif politik atau ekonomi, karena itu harus dibuktikan dulu. Tapi dari faktanya saja, kejadian ini tak pernah terjadi sebelumnya dan kini terjadi berkali-kali. Pertama, jelas sekali, motifnya untuk meneror. 

Yang kedua, yang ingin saya soroti, solusi kasus ini tak bisa dengan pencegahan yang situasional. Sebab, pelaku melakukan tidak sembarang. Pasti dia melakukan penjajakan, melihat (calon) korban, situasinya apakah ada (ramai) orang atau tidak. Pelaku pasti sudah mengamati, lokasi korban/target kurang dijaga.

Tujuan teror adalah untuk membuat rasa takut bahwa kejahatan sedang mengepung. Nah, ini yang harus dicari untuk mengetahui motif sebenarnya. Aksi ini sangat merusak, apalagi korbannya juga dirugikan secara ekonomi karena harta benda yang rusak cukup besar.

Yang bisa kita analisis untuk sementara, jika aksi teror bakar mobil ini dilakukan individual risikonya terlalu besar. Mungkin ini terorganisasi. Maka tidak tertutup kemungkinan ada motif politik atau ingin mendiskreditkan aparat berwenang dan pemerintah. Namun, kita harus buktikan dahulu ia memang terorganisasi atau aksi individual. Untuk masuk ke penjelasan motif, harus dibuktikan dahulu dengan cara polisi harus segera menangkap pelakunya. 

Agar juga tidak semakin banyak pertanyaan di masyarakat. Apalagi ini tahun politik, orang bisa mengaitkannya ke situ. Jadi, menurut saya, dengan menawarkan solusi untuk menggiatkan siskamling kemungkinan tak efektif. Sebab, siskamling di masyarakat sudah ada sejak dulu. Satu-satunya cara polisi harus menangkap pelakunya. Rekaman CCTV-nya kan sudah ada. Itu bisa dijadikan petunjuk. (ade)        

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Tidak Ada yang Bisa Jamin Data Kita Aman             Unicorn Indonesia Perlu Diregulasi             Bijak Memahami Perubahan Zaman             Strategi Mall dan Departement Store dalam Menghadapi Toko On line             Sinergi Belanja Online dengan Ritel Konvensional             Investor Tertarik Imbal Hasil, Bukan Proyek             Evolusi Akan Terjadi meski Tidak Dalam Waktu Dekat             Demokrasi Liberal Tak Otentik             Tak Perlu Berharap pada Elite Politik             PSSI di Persimpangan Jalan, Butuh Sosok Berintegritas dan Profesional