Mencontoh Suporter Jepang Soal Jaga Kebersihan
berita
Humaniora
Sumber Foto : Law-Justice.co (gie/watyutink.com) 23 June 2018 10:00
Viral di jagad dunia maya tanah air, suporter Jepang melakukan operasi “semut” alias bersih-bersih usai negaranya menaklukkan Kolombia dalam perhelatan Piala Dunia 2018 Rusia. Tindakan suporter Samurai Biru mendapat pujian dari sejumlah kalangan. Bahkan suporter Sinegal pun mengikuti tindakann bersih-bersih stadion usai tim kesayangannya menaklukkan Polandia. Sangat kontras dengan yang terjadi di tanah air, usai pertandingan sepak bola, sering sampah dibiarkan berserakan dan menumpuk.

Negeri Matahari Terbit memang sering melakukan bersih-bersih sampah usai menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga dalam kegiatan-kegiatan olahraga. Ini kali kedua suporter Samurai Biru disoroti karena membersihkan stadion pada ajang Piala Dunia. Sebelumnya pada Piala Dunia 2014 Brasil, suporter Jepang juga melakukan bersih-bersih stadion usai tim kesayangannya ditaklukkan Pantai Gading, dan ditahan imbang Yunani.

Sementara itu, kesadaran di sebagian masyarakat Indonesia untuk menjaga kebersihan dianggap masih kurang. Sejak Taman Kanak-kanak kata-kata mutiara seperti: “an-nazhaafatu minal iimaan” yang artinya kebersihan sebagian dari iman; dan “bersih pangkal sehat”, ditulis serta dikumandangkan untuk mengajak kita menjaga kebersihan. Tapi, kenyataannya, ajakan itu sekadar semboyan, nihil praktik. 

Faktanya, kesadaran untuk menjaga kebersihan belum ada pada masyarakat kita. Lihat saja, sampah masih berserakan di ruang-ruang publik seperti tempat wisata dan taman kota. Bukan hanya sampah yang berserakan, kadang bau pesing juga tercium di ruang publik yang menandakan masih ada warga yang buang air kecil sembarangan. Apakah budaya malas (termasuk dalam menjaga kebersihan) telah mendarah daging dalam masyarakat kita? bisakah budaya malas itu dirubah?

Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, Pasal 29 Ayat 1.e., menyebutkan bahwa setiap orang dilarang membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan.  Sejumlah Peraturan Daerah (Perda) telah diterbitkan, salah satu contohnya Perda DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Pengolahan Sampah. Perda tersebut memberikan sanksi denda sebesar Rp100 ribu bagi pembuang sampah di jalan atau trotoar; dan Rp500 ribu bagi mereka yang membuang sampah ke kali.  

Meski demikian, masih saja ada warga yang membuang sampah sembarangan. Terkadang aparat yang melihat sampah dibuang sembarangan pun seolah mengabaikan. Apakah aparat penegak hukum dan fasilitas untuk mengawasi (CCTV) kurang memadai? Apakah fasilitas untuk menjaga kebersihan seperti tempat sampah dan toilet umum tak tersedia di ruang-ruang publik?

Belajar dari suporter Jepang, sekali pun tak berada di negaranya, semangat menjaga kebersihan tetap dipraktikkan. Masyarakat kita memiliki kebiasan meniru budaya dari luar, termaksud budaya-budaya Jepang. Contohya: gaya berpakaian ala anime dan musik-musik Jepang. Bisakah tindakan menjaga kebersihan yang dilakukan suporter Jepang menginspirasi suporter sepak bola Indonesia dan warga Indonesia pada umumnya? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Masalah menjaga kebersihan di Indonesia menurut saya ada 3 hal penting. Antara lain: pertama, kesadaran setiap orang bahwa kebersihan itu penting sekali. Kedua, kesadaran bersama bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah kepentingan bersama. Dan ketiga, kewajiban pemerintah untuk membuat management sampah, baik yang bisa didaur ulang, maupun yang harus dihancurkan yang efektif dan efisien. 

Membangun aturan serta kontrol yang tegas mengenai kebersihan. Kesadaran diri mengenai kebersihan didasari pada pendidikan dan kemauan untuk hidup bersih. Kalau tidak bersih, kita bisa kena penyakit yang akhirnya hidup menderita. 

Kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan dimana kita berada bersih. Sering kali di tempat kita tinggal dan tempat kita hidup ada saja orang yang tidak peduli dengan kebersihan. Mungkin karena budaya yang berbeda, pendidikan berbeda, tingkat hidup berbeda, pola pikir berbeda, mental berbeda, strata sosial berbeda, menyebabkan melihat tingkat kebersihan menjadi berbeda. Orang-orang seperti ini memang tidak peduli saja sama orang lain apalagi disuruh sama-sama bersih tidak mau. Sudah tidak mau tidak mau tahu lagi.  

Di luar negeri kalau ada salju menutupi jalan utama rumah padahal itu trotoar umum dan kita tidak bersihkan bisa kena hukuman denda cukup mahal. Setiap penghuni rumah harus bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan rumahnya.
 
Di tingkat yang lebih tinggi pun di negeri kita, pejabat hanya bisa bicara tanpa melakukan tindakan yang tegas. Kita ambil Ibu Kota kita Jakarta. Jakarta tidak punya sistim pembuangan sampah yang baik dan benar. Jakarta tidak punya Burner Furnace atau mesin pembakaran untuk sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang. Seoul Korea punya 3. Di Jakarta katanya menghasilkan 60.000 ton sampah setiap hari. Semua hanya dibuang begitu saja di Bantar Gebang. 

Kira-kira dalam setahun saja Bantar Gebang jadi kaya apa ya? Ya, gunung sampah. Terus pemerintah Jakarta seolah olah tutup mata saja dengan gunung sampah yang semakin menumpuk. Sementara baik Gubernur maupun Menteri Lingkungan Hidup tidak berkomentar. 

Sampah yang menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, pemerintah kita tidak punya sistem yang baik. Banyak tulisan "Jangan buang sampah sembarangan" tapi masyarakat tidak disediakan tempat sampah yang memadai. Terus, ya dibuanglah sembarangan termasuk di kali dan sungai. Pemda saja buang sampah sembarangan di Bantar Gebang. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktivis 98, Pengusaha Muda

Sebuah bangsa besar adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat atas dirinya sendiri. Konsep ini pernah di cetuskan oleh Founding Father Indonesia Bung Karno dengan konsepnya Trisakti.  Berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. 

Konsep Trisakti ini hanya mampu dijalankan dengan mengetahui inti sari ilmu pengetahuan moderen dan mengerti sejarah kebudayaan Indonesia. Dua syarat ini mutlak menjadi syarat majunya sebuah bangsa.

Dengan pemikiran itu bangsa merdeka dan berdaulat  akan dapat menyusun kekuatan dan pembangunan bangsa sekaligus membangun character bulding nya.

Konsep Trisakti dapat membuat Indonesia mampu bergaul di kancah international dengan pernuh harga diri dan menghormati kedaulatan masing-masing. Selain itu Indonesia diyakini dapat merencanakan dan menyusun pola kerja sama ekonomi dengan negara-negara industri besar dengan percaya diri dan saling menguntungkan. 

Tentang membangun karakter rakyat Indonesia bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, bangsa Indonesia yang belum bangun dari keterpurukan  setelah era reformasi 1998. Hal ini membuat bangsa Indonesia sudah terbiasa sebagai bangsa kuli di antara bangsa-bangsa lainnya.

Kerusakan yang terjadi dari peristiwa reformasi yang keblinger telah merusak seluruh tatanan baik kerusakan material, mental, serta moral. Memperbaiki kerusakan mental dan moral menjadi hal yang lebih  sukar daripada memperbaiki kerusakan material yang ada di bumi nusantara ini.

"Revolusi Mental " yang pernah diusulkan oleh Jokowi adalah ide menarik apabila dapat dijalankan dengan sebaik baiknya. Gagasan yang sama juga pernah diusung oleh aktivis mahasiswa FKSMJ pada periode tahun 2004, yaitu Potong Satu Generasi.

Gagasan Potong Satu Generasi adalah gagagasan yang ingin memperbaiki tatanan berbangsa dan bermasyarakat dengan menganti struktur berfikir yang salah dengan tatanan yang seharusnya. Gagasan yang dipelopori kaum muda harus menjadi pendorong terhadap perubahan mendasar.

Hilangnya budaya gotong royong, toleransi, musyawarah mufakat, guyup, antri, menghargai orang lain menjadi pekerjaan rumah bangsa ini.

Kalau pertanyaan kita tidak mampu atau sudah susah, ternyata tidak juga, sering kita mendengar banyak orang Indonesia yang mengunjungi Singapore atau Jepang akirnya bisa mengikuti kebisaan disana seperti antri, tidak merokok atau meludah sembarangan, mejaga kebersihan. Artinya perlu peranan banyak pihak mengenai merubah kepribadian bangsa ini. 

Mungkin budaya Jepang sudah bisa mengindokrinasi masyarakatnya di manapun untuk menjaga kebersihan maka menjadi pemandangan yang biasa apabila suporter Jepang membersihkan sampah setelah pertandingan Piala Dunia di Rusia. Begitu pula Bangsa Singapura yang berhasil menanamkan nilai nilai kedisiplinan dalam masyarakatnya. Atau kita mau belajar dengan Bangsa India yang sedang mengembangkan budaya Bolywood nya atau Bangsa Korea dengan K-POP.

Kalau bangsa lain sedang berusaha mempromosikan budaya khasnya, bagaimana dengan nilai-nilai budaya khas bangsa Indonesia? Sudah sepatutnya tetap dijaga dan dapat dikembangkan sebagai suatu ciri khas atau pembeda oleh bangsa lain. Nilai-nilai budaya bangsa Indonesia ini seharusnya nilai-nilai budaya yang dapat menjadikan bangsa Indonesia sebagaimana bangsa Indonesia itu selayaknya dan dikenal oleh bangsa lain. Indonesia Waras. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Manager, Climate Reality Indonesia

Lima puluh tahun yang lalu Garrett Hardin, seorang ahli biologi evolusi dari Amerika Serikat, memaparkan teorinya tentang Tragedy of the Commons atau Tragedi Kepemilikan Bersama.
 
Intinya adalah, situasi ketika sekelompok orang memiliki akses ke sumber daya bersama, yang kadang-kadang gratis. Masing-masing kemudian bertindak untuk kepentingan mereka sendiri, berusaha memperoleh manfaat sebesar-besarnya sampai sumber daya tersebut habis atau tidak ada lagi faedah yang dapat diperoleh. 
 
Dampak Tragedy of the Commons terjadi di mana-mana di seluruh dunia, seperti pembalakan liar, polusi udara, pemanfaatan air tanah berlebihan, kemacetan di jalan raya dan sampah yang berserakan.
 
Seseorang mempunyai pilihan untuk membuang sampah sembarangan, atau mencari tempat sampah. Melempar sampah seenaknya tidak perlu usaha maupun biaya besar sehingga menjadi pilihan yang mudah. Lain halnya jika pelaku dikenakan denda besar atau bahkan dipenjara. 
 
Mengapa masalah lingkungan dan kebiasaan menyampah terus berlangsung? Ada tiga hal yang dapat diterapkan agar kegiatan buruk ini dapat dihentikan.
 
Pertama, adalah karakter manusia untuk harus terus menerus diingatkan dalam melakukan hal baik terutama untuk kepentingan bersama. Kedua, kegiatan dan solusi untuk sebuah permasalahan harus dibuat mudah. Ketiga, sifat manusia itu egosentris, sehingga untuk melaksanakan sesuatu harus dipaksa dengan hukum dan peraturan.

Disamping Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,  di Indonesia juga ada Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Selain itu juga tersedia situs web Sistem Informasi Penanganan Sampah Nasional. 
 
Selain perlunya penegakan hukum dan sosialisasi intensif, tren dalam menyikapi masalah lingkungan masa kini adalah melibatkan non-state actors, atau aktor non-negara. Mereka mewakili dunia usaha, kota, wilayah dan entitas sub nasional lainnya, masyarakat sipil, masyarakat adat, perempuan, pemuda, dan perguruan tinggi. Kelompok ini  dapat bertindak sebagai entitas individual atau dalam kemitraan dengan pemangku kepentingan lainnya.
 
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berpendapat bahwa permasalahan sampah bisa teratasi dengan perubahan perilaku individu, termasuk mengubah kebiasan agar tidak membuang sampah sembarangan, mulai memilah sampah dimulai dari sampah rumah tangga, dan menegur siapa saja yang membuang sampah sembarangan.
 
Kiprah indah para suporter Jepang bersih-bersih di Mordovia Arena, Kota Saransk, yang disaksikan ratusan juta penonton pertandingan Piala Dunia, adalah manifestasi dari perasaan mottainai.
 
Bangsa Jepang menjiwai mottainai yang secara harfiah berarti “sungguh sia-sia”  namun bermakna lebih dalam, yaitu menghormati sumber daya di sekitar, tidak membuang-buang yang ada, dan menggunakannya dengan rasa syukur. Konsep ini terkait erat dengan 4 R untuk pelestarian lingkungan, yaitu reduce, reuse, recycle, respect (mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, menghormati).
 
Spirit mottainai, yang telah menjadi bagian dari budaya Jepang sejak lama, kemudian dipopulerkan oleh media Jepang dan media internasional, juga melalui sastra anak-anak dan bahasan di dunia akademis. 
 
Dalam paparannya tentang Tragedy of the Commons, lima puluh tahun yang lalu, Garrett Hardin yakin bahwa pendidikan dapat melawan kecenderungan alamiah manusia untuk melakukan hal yang salah. Namun karena rangkaian generasi silih berganti, maka dasar pengetahuan harus terus menerus dimutakhirkan, termasuk bagaimana mengakhiri kebiasaan menyampah. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Sepakbola

Ulah atau tindakan suporter erat kaitannya dengan kultur dan budaya dari mana suporter berasal. Jepang bisa seperti itu karena tradisi dan kebiasaan mereka yang rapi dan bersih. Fakta dari kebiasaan itu menular hingga ke attitude para pemain di lapangan. 

Sedangkan suporter kita, masih jauh dari fenomena tersebut. Hal ini kerena memang sebagian kebiasaan masyarakatnya, tidak jauh dari fakta fakta kebiasaan tidak bisa menjaga kebersihan dan kerapihan.

Di sisi lain, himbauan yang dilakukan panitia pertandingan selama ini, masih fokus pada keamanan. Belum mengarah pada himbauan kepada para suporter untuk menjaga kebersihan stadion dan sekitarnya.

Sangat mungkin tindakan menjaga kebersihan yang dilakukan suporter Jepang menginspirasi suporter kita. Tapi itu tergantung juga pada inisiatif masing masing kelompok. Setahu saya, sudah ada beberarapa suporter yang menjaga kebersihan. Salah satu contohnya, suporter Kesebelasan Bali United. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Orang Jepang mungkin kaget ketika mengetahui bahwa video berisi para suporter Samurai Biru  bersih-bersih di stadion sepak bola Rusia menjadi viral. Maklumlah, bagi mereka hal seperti itu sudah sangat biasa dalam kehidupan sehari hari. Ini karena kebersihan dalam kultur Jepang adalah cermin disiplin pribadi dan tanggung jawab sosial yang harus ditunjukkan oleh siapa saja.

Maka jangan heran bila Jepang dikenal sebagai salah satu negara paling bersih di dunia. Demikian tingginya arti kebersihan bagi orang Jepang, kelas sosial tak menjadi halangan bagi siapapun menenteng sendiri kantung sampah di tempat umum untuk dibuang ke tempat semestinya. Soal jarak tak menjadi soal,  dan tak akan ada orang bercanda "sudah jadi kok masih menenteng sampah."

Semua itu  terjadi karena menjaga kebersihan sudah diajarkan sejak dini. Anak-anak sekolah dasar misalnya, diwajibkan membersihkan lorong sekolah dan kelas sebelum waktu belajar dimulai. Sekolah sekolah elite swasta tak terkecuali dalam hal ini.

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan Indonesia dimana anak sekolah dididik menjadi bos. Mereka tak perlu ikut membersihkan ruang kelas karena sudah ada petugas kebersihan yang melakukannya. Tugas mereka cuma belajar dan bermain. Bahkan tak sedikit yang berangkat dan pulang diantar pakai mobil pribadi.

Para pendidik di Indonesia tampaknya harus belajar dari Jepang dimana tanggungjawab pada kebersihan juga merupakan bagian penting dari pembangunan semangat team work, bukan one man show. Hal ini dilandasi oleh kesadaran bahwa Jepang berhasil menjadi aalah satu negara termaju di dunia karena rakyatnya memiliki semangat team work sangat tinggi.

Kesetiaan kepada team, yang dalam kultur Jawa digambarkan 'mangan ora mangan poko e kumpul (makan atau tidak makan yang penting tetap berkumpul), juga masih mengakar kuat di Jepang.  Inilah mengapa, untuk ukuran negara maju, perpindahan karyawan dari satu perusahaan ke perusahaan lain tergolong sangat rendah.

Sebaliknya,  di Indonesia karyawan yang dikirim ke luar negeri untuk belajar atau meningkatkan ketrampilan, bahkan sebelum pulang ke tanah air,  banyak yang tak segan untuk melamar ke perusahaan lain. Harapannya agar dapat gaji dan posisi lebih tinggi. Runyamnya, hal awmacam ini juga dialami oleh berbagai perguruan tinggi.

Dengan demikian,  apa yang dilakukan oleh para pendukung Samurai Biru di Rusia bisa dijadikan pijakan penting bagi Indonesia untuk membangun disiplin pribadi dan semangat team work yang kuat.  Sayangnya, orang Indonesia tampaknya lebih tertarik pada urusan akherat dan politik. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Tata Kota

Secara sosiologis, prilaku orang diatur oleh tiga faktor. Pertama, struktur yang berbicara tentang aturan, kebijakan, pedoman, ketentuan menyangkut kebersihan dan pengolahan sampah. Terkait hal itu, sudah berapa perda yang dibuat, ada atau tidak aturan yang mengatur itu? Nah, kalau aturannya sudah ada, ternyata sampah masih berserakan, ini akan menimbulkan pertanyaan.

Apakah program atau kegiatan yang menunjang aturan tersebut ada? Sebagai contoh, ada aturan jangan membuang sampah sembarangan, tapi tempat sampahnya ada atau tidak? Selanjutnya, apakah pelayanan pengolahan sampah sudah terbentuk? bagaimana dengan pendidikan dan pelatihan pengolahan sampah menjadi barang ekonomi?

Jadi, kalau ribuan aturan dan ratusan kebijakan, tidak membangun sebuah budaya baru, itu berarti ada yang yidak maksimal. Ada yang tidak nyambung antara penyusunan aturan kebijakan dengan program-program yang dilakukan oleh pemerintah atau kegiatan-kegiatan masyarakat.

Selanjutnya, sampah atau kebersihan itu bukan persoalan aturan atau kebijakan, tapi soal keyakinan, budaya dan nilai. Agama mengatakan “kebersihan sebagian dari iman”, kalau masih belum ada kesadaran menjaga kebersihan, jangan-jangan keimanan, budaya dan nilai tidak terbangun dan tidak menjadi panduan. Seseorang membuang sembarangan karena orang lain melakukan hal itu. Suatu kesalahan menjadi suatu yang benar jika dilakukan berulang-ulang dan dilakukan semua orang.

Jadi ketika orang membuang sampah atau puntung rokok sembarangan kemudian tidak dihukum/tidak diapa-apain, itu bukan sebuah kesalahan, tapi sebuah pembenaran. Kebiasan buruk yang dilakukan semua orang secara berulang, dianggap sebagai sebuah hal yang benar. Kalau ada orang yang buang sampah pada tempatnya atau membersihakn sampah, itu orang dianggap aneh.

Selanjutnya bagaimana sampai menjaga kebersihan itu bisa menjadi budaya? Itu yang dinamakan struktur membangun kultur. Contoh yang paling berhasil adalah PT KAI. Lihat stasiun sekarang bersih, taka da lagi orang yang merokok sembarangan di kereta. Caranya cukup sederhana, kereta dibuat ber-AC. Kereta ber-AC itu memiliki nilai, kemudian masyarakat bersepakat siapa yang merokok di kereta kita gebukin. Sama halnya dengan sampah, buat saja tulisan “Monyet saja buang sampah pada tempatnya, masa kamu buang sampah sembarangan”. Dengan demikian ada unsur edukasi, menyinggung tapi tak membuat orang tersingung.

Singapur berhasil menerapkan struktur membangun kultur. Orang Indonesia yang pergi ke Singapur, pasti diperiksa, karena takut bawa rokok. Rokok tidak baik bagi kesehatan dan bisa menyebabkan kematian. Orang Indonesia banyak mati satu, masih ada jutaan, sedangkan Singapur, mati satu, belum tentu ada lagi. Warga yang sedikit membuat Singapur tegas pada tiap turis yang buang sampah sembarngan. Dideda dengan sangat tinggi, dengan pengawasan ketat di tiap sudut negeri.

Lalu, kalau kita mau menerakan budaya bersih, diperlukan percontohan. Dimulai dari sekolah, rumah dan perkantor. Sebagai contoh jika kita ke RS, ada zona larangan merokok, pasti kita tidak akan merokok, karena akan ditegur oleh petugas. Di ruang publik orang masih berani merokok sekalipun ada perda, karena sanksinya rendah. Petugas masih takut mendapatkan perlawan dari mereka yang tak suka ikut aturan.

Orang jepang itu sudah ikutin aturan sejak kecil, dan nilai-nilai itu ditanamkan di dalam dirinya. Jadi, kalau nilai itu sudah diajarkan, ditanamkan, bukan disosialisaikan. Dan dia sudah terinternal dalam dirinya, dia akan tetap menjaga kebersihan. Sementara di kita itu, saya pernah menemukan di satu stasiun, ada ibu2, penampilannya rapih, gagah. Trus tiba-tiba dia minum, minuman ringan, kemudian dia buang botolnya sembarangan, saya bilang, bu ini kan harus dibuang sampah pada tempatnya, dijaga kebersihannya. Dia bialng, nanti juga ada yang nyapu pak, kok bapa repot-repot amat. Ini kan suka-suka saya pak.

Harus diberlakukan aturan yang ketat dengan sanksi yang tegas. Jangan sampai yang memberikan sanksi, justru malah sangsi. Dibuat tulisan jika buang sampah di kota kami, denda Rp1 juta, dan ditindak kalau mereka buang sampah sembarngan. Fasilitas tempat sampah juga harus disediakan, untuk mengapresiasi mereka yang mau ikut aturan. Jangan sampai mereka mau buang sampah, tapi sulit menemukan tempat sampah. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

M. Rizal Taufikurahman, Dr.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-2)             Perlu Revisi Undang-Undang dan Peningkatan SDM Perikanan di Daerah             Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter             Perkuat Industri Karet, Furnitur, Elektronik Hadapi Resesi             Skala Krisis Mendatang Lebih Besar dari 1998