Menanti Diaspora Indonesia Mudik
berita
Humaniora
Sumber Foto : www.medco.id (gie/watyutink.com) 29 April 2018 13:00
Anak muda itu sedang menikmati masa jayanya sebagai seorang ahli aerodinamika. Kemampuannya merakit dan mendesain pesawat terbang membuatnya hidup nyaman di Jerman. Bahkan pimpinan negeri bangsa arya itu menawarkan status kewarganegaraan kepadanya. Tapi dia menolak karena begitu besar cintanya kepada bangsa dan negara Indonesia. Itulah kisah kesuksesan BJ Habibe di tanah seberang.

Hingga pada 1974, Presiden Soeharto memintanya pulang ke Indonesia untuk mengembangkan industri pesawat terbang. Habibie pun menanggalkan posisinya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di Messerschmitt-Bolkow-Blohn Hamburg. Dia pun pulang ke tanah air dan sejak saat itu menjadi tokoh penting di balik industri pesawat terbang dalam negeri.

Kesuksesan Habibie ternyata menginspirasi banyak anak muda Indonesia untuk berkarier di luar negeri. Tak sedikit dari mereka yang kini telah mendunia dengan bidang dan keahlian masing-masing. Rini Sugianto, misalnya. Seorang animator yang sudah menggarap berbagai judul film Hollywood, seperti The Adventure of Tintin, The Hobbit: An Unexpected Journey, dan The Desolation of Smaug. Wanita kelahiran Lampung, 3 Januari 1980, ini juga ikut menggarap film “The Avengers”, “Iron Man 3”, dan “Hunger Games: Catching Fire”. Namun sayangnya belum ada tanda-tanda Rini bakal pulang dan berkarier di Indonesia.

Ada juga Chris Lesmana, seorang desainer yang kini bekerja Volks Wagen, merek mobil ternama asal Jerman. Salah satu karya Chris adalah mobil VW Beattle Up.  Sudah 20 tahun Chris berkarier di Jerman dan belum tampak akan pulang kampung. Mengapa mereka belum ingin kembali? Bagaimana dengan orang Indonesia lain yang berkarier di luar negeri? Adakah keinginan mereka untuk pulang kampung?

Menurut Glorya Tay, International Candidate Manager Robert Walters, sebuah perusahaan head hunter global, banyak diaspora Indonesia yang ingin pulang kampung. Keluarga menjadi alasan terbesar. Glorya menyebut ada pula yang beralasan ingin membangun negeri sendiri.

Namun ada banyak kendala yang membuat para diaspora itu ragu untuk pulang kampung. Gaji yang bakal turun hingga 50 persen, karier yang bisa jadi justru menurun, hingga perbedaan kultur dan budaya kerja seringkali menjadi alasan mereka menunda keinginan untuk kembali ke Indonesia.

Padahal kemampuan yang dimiliki pada diaspora itu sangat bermanfaat bagi kemajuan Indonesia. Banyak diaspora yang sukses di luar negeri menempati posisi manajerial, seperti project leader dan tenaga profesional dengan keahlian yang spesifik. Di sisi lain, data dari Boston Consulting Group menyatakan bahwa dalam satu dekade ke depan, Indonesia akan kekurangan tenaga profesional sebanyak 55 persen. Kekurangan itu pasti dapat diisi jika diaspora Indonesia di berbagai negara pulang kampung.

Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan bahwa keahlian mereka sangat dibutuhkan untuk membangun ekonomi nasional. Pada diaspora tersebut bisa ditempatkan sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi terbaik.

Tapi apakah pada diaspora itu mau hanya jadi dosen? Seberapa besar sih gaji dosen di Indonesia? Dapatkah menarik mereka pulang? Apakah ada industri yang menjamin karier mereka bakal tetap moncer? Itu dari sisi pendapatan dan keahlian saja. Ada sisi lain yang membuat mereka tetap berat untuk pulang meski rasa cinta ngeri besar, yakni masih mengguritanya kultur kolusi dan nepotisme yang menyebabkan meritrokrasi di dunia profesional masih belum optimal.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(jim)

 

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Mantan Jurnalis, Dosen

Peran diaspora bagi Indonesia sangat penting. Mereka bisa menjadi agen untuk memperkenalkan dan menyampaikan beragam informasi tentang Indonesia kepada dunia. Beragam profesi yang digeluti pada diaspora, seperti akademisi, tenaga profesional, seniman, maupun olah raga diyakini mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Potensi besar yang dimiliki para diaspora sejatinya sangat berguna jika digunakan untuk pembangunan di dalam negeri. Pemerintah telah berusaha untuk memanggil mereka pulang dan berkarir di Indonesia. Namun seringkali mereka ragu untuk pulang dengan beragam alasan. Banyak dari mereka yang sudah menikah dengan warga negara asing dan tidak bisa meninggalkan keluarga mereka. Selain itu banyak dari mereka yang sudah terikat kontrak dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Tentu mereka tidak bisa memutus kontrak begitu saja.  

Dari sekian banyak alasan, yang sering dikemukakan adalah gaji. Sudah mahfum para diaspora mendapat gaji yang cukup besar selama bekerja di luar negeri. Jika mereka pulang ke Indonesia kemungkinan besar gaji mereka akan turun secara signifikan.

Pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti sudah menyiapkan cara untuk mengatasi hal itu. Khusus untuk bidang riset, para diaspora dengan keahliannya akan ditempatkan sebagai kepala peneliti. Sehingga hasil penelitian mereka bisa dibaca oleh berbagai pihak dan langsung diaplikasikan.

Bagi para diaspora yang sudah ‘berumur’ umumnya menyambut baik tawaran pemerintah itu. Bisa jadi mereka merasa sudah cukup lama di luar negeri dan ingin hidup tenang di kampung halaman. Tapi tidak dengan diaspora berusia muda yang masih menginginkan tantangan  dan membangun karir yang lebih tinggi. Jika sudah mencapai karir yang diinginkan maka sangat dimungkinkan para diaspora itu akan pulang kampung ke Indonesia.

Kepulangan mereka selain untuk membantu pembangunan dalam negeri, juga berfungsi untuk memancing para profresional dan tenaga ahli di Indonesia untuk berkarya lebih baik. Artinya jika para profesional dan tenaga ahli di Indonesia ingin mendapat penghasilan setara dengan para diaspora maka ikuti pula etos kerja dan prestasi mereka.  (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir