Menangisi Kematian Qlapa, Menangisi Kekalahan Marketplace Lokal
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 March 2019 17:30
Watyutink.com - Di tengah gegap-gempita pemberitaan soal startup kita berstatus unicorn, sebuah kabar sedih menghampiri: ada startup lokal gulung tikar. Qlapa mengibarkan bendera putih awal Maret ini. Lho, tidak kenal apa itu Qlapa? Berarti memang ada yang salah dengan kita. 

Qlapa adalah marketplace lokal yang khusus menjual produk kerajinan lokal. Niat pendiri startup ini mulia, ingin mengembangkan produk perajin lokal di tengah gemuruh rimba e-commerce yang dikuasai produk impor. Mereka juga ingin mengangkat perajin yang kesulitan memasarkan produk pada kaum yang melek teknologi. 

Namun, niat baik saja tak cukup. Melalui akun media sosialnya, @qlapa mengumumkan pengunduran diri setelah empat tahun berkreasi. Dalam perjalanannya, Qlapa telah dapat respon positif. Ia dianugerahi gelar "Hidden Gem" oleh Google Play. Majalah Forbes Asia juga menganugerahinya startup dengan pertumbuhan menjanjikan. Qlapa juga sebetulnya sudah menggaet investor dari India (Aavishkaar Frontier Funds) dan media Kapan Lagi Networks. Namun petualangan bisnis mereka berhenti juga. Alasannya klasik, pengelolanya mengakui tak bisa membuat Qlapa bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan.            

Ketika sebuah usaha tidak berjalan sesuai model bisnis yang sudah dibuat, pilihannya selalu ada dua: tetap melanjutkan bisnis atau menutupnya. Melanjutkan bisnis ada konsekuensinya. Pemodal harus rela bakar uang dengan asumsi di masa depan akan ada keuntungan. Hal ini yang masih dilakukan startup sebesar Gojek. Strategi bakar uang dengan membanjiri penggunanya lewat beragam promo tarif murah terus dilakukan. Namun, untungnya Gojek sudah berkocek tebal. Bakar uang tak masalah. 

Nampaknya tidak demikian dengan Qlapa. Mengkhususkan diri pada produk kerajinan lokal memang sungguh mulia. Namun, pasarnya mungkin masih sempit. Marketplace yang menjual produk lebih beragam semacam Tokopedia atau Bukalapak juga tak menutup diri pada produk kerajinan lokal. Selain itu, Tokopedia dan Bukalapak juga didukung pemodalan investor kakap dunia dan investasi TI yang besar. Di belantara internet, nama mereka selalu muncul paling atas di mesin pencarian. Nama Qlapa terbenam. Maka, yang jadi tanya, apa startup spesilisasi produk kerajinan lokal adalah langkah bisnis yang salah sejak awal? 

Jika jawabannya iya. Berarti yang salah model bisnisnya. Mengangkat derajat perajin lokal tak hanya bisa dilakukan lewat membangun startup yang mengkhususkan diri pada hal tersebut. Tokopedia atau Bukalapak bisa melakukannya. Masalahnya memang, di dua platform itu produk lokal harus bersaing dengan pelapak lain yang menjual produk impor yang harganya bisa lebih murah. Jika demikian masalahnya, mampukah perajin lokal kita bersaing di pasar yang amat kompetitif itu?  

Di sini peran pemerintah diperlukan. Startup macam Qlapa yang beridealisne tinggi sepatutnya tak boleh kita biarkan mati. Pemerintah seharusnya dari jauh hari memberi support pada startup macam begini. Tidak usah memberi modal, namun mempertemukan mereka dengan investor kakap untuk bisa bersaing dengan marketplace yang sudah besar. Pemerintah tampaknya hanya bangga ada startup lokal berstatus unicorn, namun apa upaya yang sudah dilakukan pemerintah mengangkat startup idealis yang masih berdarah-darah? 

Kebanyakan orang Indonesia hanya kenal Tokopedia, Bukalapak, JDid, Shopee, Zalora, dll tapi tak kenal Qlapa. Apa ini artinya kita turut berkontribusi pada penutupannya?        

Apa pendapat Anda? Watyutink? 
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi

Dari ditutupnya Qlapa ini ada beberapa catatan. Pertama, tentu, karena persaingan yang gila-gilaan dari marketplace. Tokopedia, Bukalapak, Shopee dll mereka punya dana yang luar biasa, sehingga mereka punya berbagai cara untuk promosi, seperti memberi diskon hingga promo gratis ongkir (ongkos kirim). Kedua, saya yakin, barang-barang di Qlapa dijual juga di marketplace yang lain. Karena Qlapa tentu tak punya hak eksklusifitas atau lock-in deal dengan para pengrajin ini. 

Jadi, dari sisi Qlapa, mereka rugi dua kali. Pertama, di satu sisi dia dihajar para pemain besar. Kedua, meski mereka melakukan pembinaan pada para perajin, bukan berarti mereka bisa menjamin barang tak dijual di marketplace lain. Lalu, mereka juga harus bersaing dengan toko fisik milik si perajin.

Jika ada yang berinvestasi besar, mereka harus siap berpromosi besar-besaran juga seperti marketplace yang ada. Namun, kelemahan Qlapa, mereka hanya menyediakan sebagian barang saja. Misalnya, di Bukalapak dan Tokopedia kan semua barang ada. Namun, jika Qlapa berpromosi besar-besaran, dia juga rugi karena barang mereka hanya kerajinan lokal.

Akhirnya, semua itu menggiring pada pilihan keputusan pendirinya. Dilihat dari volume penjualan, aktivitas, mungkin sudah kelihatan buat pendirinya mereka tidak akan mampu bersaing dengan marketplace startup besar. Jadi, apa yang harus dilakukan? 

Bisa jadi memang, prediksi saya, model bisnis marketplace hanya ada dua kemungkinan, menjadi yang terbesar atau meski kecil tapi mengkhususkan pada barang spesifik yang hanya dijual di tempat tertentu. Misal, barang peralatan olahraga, ada e-commerce khusus yang khusus menjual barang tersebut. Namun, untuk survive buat mereka, perlu ada penjualan yang volumenya besar. Pilihan lain adalah menjadi pemilik produk yang menjual barang sendiri. 

Tidak ada tempat untuk marketplace yang berada di tengah. Walau muncul dengan visi dan idealisme yang bagus, bila secara hitung-hitungan bisnis tak masuk ya nggak akan jalan. Seperti Qlapa ini pada akhirnya. Daripada diteruskan tapi nggak jalan secara bisnis, mending ditutup dari sekarang. Ini juga buat startup
lain, bila secara bisnis nanti akan mati pelan-pelan, lebih baik dimatikan segera.     

Contoh lain, startup biro travel. Bukalapak dan Tokopedia juga sudah ikutan jual tiket, namun Traveloka atau Tiket.com tetap punya keunggulan karena secara brand mereka sudah lebih unggul untuk bidang tersebut.   

Untuk perajinnya, bila sudah punya nama, orang akan tetap cari barangnya. Selama ini mereka pasti harus berjualan juga di marketplace besar macam Tokopedia juga, tak harus hanya berjualan di Qlapa. 

Pemerintah bisa saja memberi bantuan pada startup ini. Namun, pada akhirnya tetap mekanisme pasar yang paling menentukan keberlangsungan hidupnya. Tidak mungkin juga pemerintah terus-terusan membantu. Nantinya malah jadi proteksionisme atau subsidi lagi. Yang harus pemerintah sebaiknya perhatikan justru para perajin lokalnya. Mereka harus tetap bisa berproduksi dan dibantu untuk tetap berjualan di marketplace mana saja. Terutama jika produknya unik. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Bertahannya sebuah bisnis digital saat ini sangat tergantung dengan valuasi ekonomi yang dihasilkan oleh sebuah digital platform. Contohlah Go-Jek yang sudah mempunyai valuasi ekonomi mencapai lebih dari 1 miliar USD (bahkan kabarnya sudah mendekati 10 miliar USD). 

Sama halnya dengan Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka, yang sama-sama merintis usaha digital dari dalam negeri. Nilai valuasi tersebut sangat dipengaruhi oleh penilaian investor. Gojek sudah membuka penggalangan modal beberapa kali dan berhasil meraup investasi miliaran USD. 

Investor melihat suatu platform bisnis digital ini akan mempunyai masa depan cerah dari jumlah pemakai dan penilaian dari pemakai terhadap aplikasi tersebut. Semakin banyak pemakai dan penilaian dari pemakai ini semakin besar, maka investasi juga akan semakin besar. Demikian juga sebaliknya. 

Maka dari itu, kasus bangkrutnya digital marketplace, Qlapa, patut ditelaah lebih lanjut sebab musababnya dari dua sisi tersebut.

Alasan utamanya adalah jumlah penginstal Qlapa lebih sedikit dibandingkan dengan marketplace lainnya seperti Tokopedia, Bukalapak, bahkan OLX. Sangat masuk akal jika penginstal aplikasi Qlapa lebih sedikit karena barang yang dijual jauh lebih spesifik daripada marketplace lainnya. 

Qlapa sendiri terkenal dengan produk kerajinan tangan asli dalam negeri. Sebuah pangsa pasar yang menurut saya sangat spesifik dengan permintaan yang akan sangat rendah. Selain jarang peminatnya, barang kerajinan sendiri biasanya cenderung lebih mahal karena proses produksi yang lebih banyak mengandalkan faktor tenaga kerja (padat karya). 

Sedangkan produk-produk pabrikan dari luar negeri jauh lebih murah dengan spesifikasi kegunaan yang lebih lengkap. 

Hal ini membuat investor jarang melihat kemampuan Qlapa ini untuk bersaing dengan marketplace lainnya di masa mendatang.

Bisnis ini juga masih mengandalkan promo-promo baik promo diskon barang ataupun pengiriman untuk terus bertahan. Pembeli di marketplace rata-rata adalah pembeli yang rasional yang mempertimbangkan harga dari suatu barang. Jika ada promo yang menguntungkan bagi pembeli maka pembeli akan membeli di marketplace tersebut. Cara bertahannya pasti dengan menarik investor sebanyak-banyaknya untuk menutupi kerugian yang ditimbulkan dari persaingan promo tersebut. Dengan kemampuan finansial yang cekak, Qlapa nampaknya tidak mampu bersaing dalam hal promo.

Bangkrutnya Qlapa ini bisa menjadi titik awal pemerintah dalam melihat pola bisnis marketplace di Indonesia. Bisnis marketplace merupakan bisnis yang mengincar konsumen yang rasional dengan harga. 

Konsumen akan memilih barang dengan biaya pengeluarannya paling kecil. Coba lihat saja, jika ada promo pasti konsumen akan berpindah ke marketplace satu ke marketplace lainnya. Istilah kasarnya “tidak ada tempat untuk barang mahal meskipun itu unik”. Produk kerajinan tangan pasti susah menembus pangsa pasar barang-barang yang lebih murah tersebut karena konsumennya rasional dengan harga.

Perlu dorongan dari pemerintah bagi marketplace yang beroperasi di Indonesia untuk lebih mengangkat produk dalam negeri terutama produk UMKM (termasuk kerajinan lokal). Hal ini seiring dengan membanjirnya produk impor di pasar ecommerce dan marketplace kita. 

Data dari Kemenko Perekonomian menyebutkan lebih dari 90 persen produk yang diperjualbelikan di pasar digital kita merupakan produk dari luar. Artinya pasar produk dalam negeri kurang dari 10 persen. 

Dorong UMKM dan pengrajin kerajinan lokal untuk lebih efisien dalam berproduksi tanpa harus mengorbankan tenaga kerja dan kekhasan dari produknya. Efisiensi bisa dalam proses produksi maupun distribusi barang. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional