Membaca Motif Pidato Game of Thrones Jokowi, Upaya Gaet Milenial? 
berita
Humaniora
16 October 2018 17:00
"Winter is coming." Begitu kata Presiden Jokowi saat berpidato di acara tahunan IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali pekan kemarin. Kalimat itu tak sekadar berarti "musim dingin akan tiba" tapi juga kerap disebut dalam serial Game of Thrones.

Tidak hanya menyebut kalimat itu, Jokowi juga menganalogikan sutiasi dunia kiwari seperti serial yang tayang di HBO itu. Katanya, perang dagang antara AS dan China tak ubahnya Great Houses yang saling bersaing memperebutkan singgasana Iron Thrones, tahta tertinggi di Seven Kingdom, negeri khayal di  Westeros. 

Untuk jadi yang paling berkuasa, Great Houses saling bersaing, berseteru, bersekutu dan berkhianat. Mengacu ke Game of Thrones, yang tak mereka sadari, ancaman sesungguhnya bukan di antara mereka tapi para White Walker, zombie es yang tinggal di utara Westeros. Selama ini, Seven Kingdom dilindungi tembok besar The Wall. Saat The Wall runtuh, seluruh Seven Kingdom terancam musnah. Jokowi mengatakan, perang dagang akan menimbulkan ancaman sesungguhnya: seluruh dunia akan terseret pada resesi ekonomi yang akan memicu krisis global. 

Pidato tersebut mendapat standing ovation para hadirin di Bali. Presiden Bank Dunia Kim Yong-jim mengatakan, sebaiknya hadirin pulang karena tak mungkin menyamai pidato Jokowi. Direktur IMF Christine Lagarde mengatakan, Jokowi mampu menggambarkan kondisi ekonomi global dengan tepat. 

Merujuk pada Game of Thrones, serial TV paling populer saat ini  yang dipirsa di 180 negara, rupanya pas. Hm, kita jadi bertanya, apa reaksi yang sama akan didapat bila yang dirujuk cerita Ramayana, Mahabharata, Bharata Yudha atau cerita panji? Bukankah perang dagang AS-China juga bisa dirujuk ke perang Bharata Yudha, misalnya?

Apa yang dilakukan Jokowi jadi bukti budaya pop--film, musik, acara TV--mampu dengan lugas menjelaskan situasi dunia nyata. Tapi mengapa yang dirujuk budaya pop luar negeri? Apa budaya pop lokal tak sanggup melakukan itu? Bukankah seharusnya tokoh atau cerita fiktif lokal patut dikenalakn di panggung internasional?

Di sini sebetulnya, secara tak langsung Jokowi mengakui dominasi budaya pop asing. Apa hendak dikata, di zaman kapitalisme mutakhir, budaya pop dikuasai segelintir negara: Amerika dengan Hollywood-nya; India dengan Bollywood; Korea lewat K-pop dan K-drama; Jepang lewat animenya. Mengutip Game of Thrones menimbulkan curiga, Jokowi telah kena virus westernisasi. Benarkah demikian?  

Reaksi kagum pada pidato Game of Thrones Jokowi tak berhenti di acara IMF-World Bank. Pidato tersebut juga disambut pendukung Jokowi dari kalangan milenial. Mereka seolah dapat alasan tambahan atas pilihan politiknya. Di pikiran mereka mungkin hinggap pikiran begini: Presiden gue ternyata gaul juga. Presiden gue suka juga serial favorit gue. Mereka seolah alpa, pidato presiden disusun tim penulis. Maka kita wajib bertanya, apa pidato tersebut bagian dari kampanye merebut hati milenial? 

Survei CSIS tahun 2017 hanya 2,3 persen generasi milenial tertarik politik. Sementara jumlah mereka 40 persen dari total pemilih setara 80 juta jiwa. Masalahnya, apa pidato Game of Thrones cukup memikat suara milenial? Dan yang lebih penting: mana yang esensial, pidato merujuk serial TV favorit milenial atau menyediakan rumah yang terjangkau dan lapangan kerja bagi milenial? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Staf pengajar jurusan Film Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Yogyakarta, pendiri komunitas film Montase

Apakah pidato mengutip serial Game of Thrones  oleh Presiden Jokowi di forum IMF-World Bank, upaya menggaet kaum milineal? 

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin pula menyertakan pidato Jokowi yang lainnya, menyoal perekonomian dagang dunia yang menuju perang  tanpa batas (Infinity War) dalam Forum Ekonomi Dunia tentang ASEAN bulan lalu. 

Jokowi mengatakan bahwa ia bersama rekan sesama Avengers lainnya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagian populasi dunia. Bersama pidato Game of Thrones yang baru lalu, Jokowi kembali menggunakan analogi sederhana menggunakan dua seri franchise populer tersebut. 

Saya bukan orang yang kompeten bicara soal politik dan tidak mencoba untuk membenarkan atau menyalahkan pertanyaan di atas. Saya kebetulan tahu banyak tentang film, dan saya tahu persis jika medium ini adalah salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan pesan secara global. Kebetulan pula, medium ini amat dekat dengan generasi milineal. Apa yang disampaikan Jokowi, juga tidak lepas dari esensi plot dalam film-film tersebut. Dan memang, inti pesan dari film-film tersebut adalah tentang kedamaian. 

Saya tak sepandapat dengan anggapan kita harus mutlak belajar dari tradisi dan budaya kita sendiri untuk membuat bangsa kita lebih maju dan beradab. Mengagungkan tradisi, kearifan lokal, serta nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa ini adalah tugas dan kewajiban kita semua, namun bukan lantas kita menolak tradisi dan budaya lainnya yang juga bisa membuat kita lebih baik. 

Dunia dari masa ke masa selalu berubah, masalah yang dihadapi seribu tahun lalu berbeda dengan kini, walau esensi masalahnya bisa jadi sama. Kita bisa belajar dari mana pun asalkan itu bisa membuat kita menjadi lebih baik. 

Budaya populer macam film adalah satu dari sekian banyak medium yang mampu menyisipkan pesan kebaikan secara global karena ratusan juta orang di muka bumi ini menonton film dan lebih dari separuhnya adalah generasi milineal.  

Kembali ke pertanyaan di atas, jawabnya mengapa tidak.  Tidak perlu kita melihat film ini diproduksi oleh siapa dan bangsa mana. Apapun yang mengajarkan dan menyampaikan pesan kebaikan kita gunakan saja. Tidak ada yang salah, dan mungkin hanya masalah beda sudut pandang saja. 

Mungkin kita butuh superhero untuk mendamaikan semua, ataukah memang, superhero pun tak akan bisa menyelesaikan masalah global kita saat ini? Kejahatan akan selalu muncul dan kebaikan akan selalu ada, itu kata-kata yang bisa saya simpulkan dari banyak nonton film. Jika kelak, terbukti cara ini efektif untuk menggaet generasi milineal untuk sebuah kemenangan politik. Saya hanya punya komentar, cerdas dan brilian sekali. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen jurusan film Universitas Bina Nusantara

Menggaet pemilih milenial penting buat kubu Jokowi. Sebab, kubu sana, Prabowo-Sandi milenial banget kesannya. Kubu sana selalu mengejek pilihan Jokowi meminang Ma'ruf Amin jadi cawapres. Tapi dalam konteks pidato Game of Thrones sebenarnya ditujukan buat masyarakat internasional. Istilahnya, Jokowi berbahasa dengan "bahasa kaum". Jadi, ia perlu referensi yang nge-pop tapi global. Dan akhirnya kena dua-duanya, tuh: masyarakat internasional dan milenial.

Pidato menyebut referensi budaya pop ini bukan kali pertama. Sebelumnya, di forum ASEAN ia mengutip film Marvel Infinity War. Tahun 2016 yang dikutip ucapan dari film Terminator, "Hasta la visata, baby" dan "I'll be back." Semua diucapkan di forum internasional. Dan kaum milenial tak dituju secara langsung. Jadi itu hanya imbas.Namun begini, Jokowi itu di positioning-nya pertama sebagai anak (penggemar musik) metal. Ia ngepop. Itu yang membuatnya unik. Maka, yang penting (dicari tahu) siapa (penulis pidato) ghost writer-nya, karena ia tahu referensi budaya pop.  

Dari kajian budaya pop pidato itu penting karena sudah banyak yang bilang atau melakukan kajian, film atau cerita fiksi bisa merepresentasikan atau menjelaskan problematika dan keruwetan di dunia nyata. Dari karya fiksi kita berefleksi atau mengambil pelajaran. 

Sebetulnya, yang dilakukan Jokowi ini bukan hal baru. Presiden Soeharto juga pernah melakukannya. Pada 1998 ketika melakukan pidato laporan pertanggung-jawaban di MPR/DPR ia mengutip judul film dan lagu "Badai Pasti Berlalu" yang merujuk krisis ekonomi waktu itu segera berlalu. Semua orang langsung paham dengan apa yang dirujuk. 

Sebab kita juga (memiliki) bermain-main dengan referensi budaya juga. Istilahnya, saya menyebutnya film kain perca. Ada film Warkop Reborn (yang mengangkat lagi Warkop DKI) lalu nanti ada Bernafas dalam Kubur (yang mengangkat cerita sundel bolong Suzzanna), lalu nanti ada film Ateng-Iskak baru. Itu semua cerita daur ulang, menjual momen-momen legendaris film lama. 

Jadi, Jokowi bermain di level itu. Bermain dengan referensi budaya pop yang dimiliki orang banyak. Suatu konvensi umum yang mudah dipahami. Ia ingin membumikan istilah ilmiah atau istilah politik dalam bahasa nge-pop.

Kenapa tidak pakai referensi lokal, seperti perang Bharata Yudha, misalnya? Di satu sisi ia bicara di forum internasional. Maka, ia menggunakan referensi budaya pop yang dikenal. Ketika mengutip Thanos, orang langsung kenal. Begitu sebut Game of Thrones orang langsung tahu.

Memang sih, Sujiwo Tejo mengkritik, seharusnya sebut referensi wayang, dong. Tapi ketika kutip cerita wayang agak riskan juga. Pertama, nggak semua orang  (di dunia internasional) paham dengan referensi itu. Kedua, meskipun paham, orang berpotensi salah persepsi. Wayang kan aslinya dari India. Sebagaimana
tidak ada orang yang murni pribumi asli Indonesia, tidak ada juga budaya asli yang berasal dari Indonesia.

Masalahnya kita tak punya identitas kultural yang jadi penanda sebuah negeri dalam konteks tokoh fiksi budaya pop yang dipahami semua orang secara internasional. Misal, saat pembukaan Olimpiade London, Ratu Inggris disandingkan dengan James Bond. Atau di penutupan Olimpiade Rio, PM Jepang Shinzo Abe berkostum Super Mario, tokoh fiktif game perusahaan Jepang Nintendo. Sedangkan Jokowi saat naik motor gede di pembukaan Asian Games kemarin merujuk ke film Mission Impossible dari Hollywood yang dibintangi Tom Cruise. (Tokoh fiktif) Indonesia-nya mana? Nggak ada.  

Artinya kita krisis ikon (tokoh fiktif) yang mengglobal. Mungkin itu juga kenapa Jokowi tak sebut referensi budaya pop Indonesia di pidato-pidato internasionalnya. Mau sebut Wiro Sableng belum tentu "bunyi". (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi