Memangnya Bila Prabowo Menang Khilafah dan Syariat Islam Bakal Ditegakkan?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 09 April 2019 14:30
Watyutink.com - Bila Anda seorang bule dari Eropa yang tengah berwisata di Jakarta dan ingin menikmati udara segar kota di hari Minggu pagi, apa yang ada di benak Anda menyaksikan ribuan orang berduyun-duyun berpakaian serba putih, yang pria kebanyakan pakai peci sedang yang wanita berjilbab, sambil sesekali meneriakkan takbir, berkumpul di stadion terbesar di pusat kota? 

Anda mungkin berpikir, "Apa saya berwisata ke negara yang salah? Apa saya sedang berada di Timur Tengah dan bukannya di Asia Tenggara yang katanya Islam moderat?"

Mungkin sekali pertanyaan-pertanyaan di atas muncul. Minggu (7/4/2019) kemarin ratusan ribu orang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno menghadiri kampanye akbar capres Prabowo Subianto. Yang datang mayoritas dari kalangan umat Islam. Acara dimulai dengan shalat Subuh berjamaah dan massa meluber sampai luar stadion. Menyaksikan ribuan orang Islam berkumpul bersama, bagi orang luar boleh jadi bakal terbit pertanyaan: Apa Indonesia tengah menuju menjadi sebuah negara Islam? 

Apa yang kita lihat hari Minggu kemarin berbeda dengan yang kita lihat saat Debat Capres 31 Maret silam. Saat itu, Prabowo curhat kerap dituduh bakal mendukung khilafah, termasuk oleh pendukung Jokowi. padahal, Prabowo mengatakan, ia berasal dari keluarga dengan agama berbeda-beda. Ayahnya Muslim, sedang ibunya Nasrani, dan sejak 18 tahun ia telah mempertaruhkan nyawa untuk Pancasila (dengan masuk ABRI). Kita juga tahu adik Prabowo, Hasjim Djojohadikusumo menganut Nasrani seperti ibunya. 

Memang mengherankan kenapa kelompok Islam garis keras lebih sreg bersama Prabowo ketimbang Jokowi yang menggandeng ulama (KH Ma'ruf Amin) sebagai wakilnya. Telah tersiar kabar sejak lama keislaman Prabowo tak jelas. Itu sebabnya saban Jumat pasti muncul tagar "#Prabowojumatandimana". Namun, hal itu tak menyurutkan niat kelompok Islam berhaluan konservatif mendukungnya. Terbukti, hasil Ijtima Ulama mengesampingkan soal keislaman Prabowo dan menyebutnya sebagai capres pilihan umat Islam.     

Sejumlah ilmuwan politik sudah berteori, kelompok Islam akan menggunakan sarana-sarana demokrasi, seperti pemilu, dan ketika memenangkannya mereka akan melaksanakan agenda-agenda anti-demokrasi mereka seperti mendirikan negara teokrasi atau menerapkan hukum syariat. Apa kita sedang menyaksikan sebuah upaya ke arah sana saat ini? Apakah kelompok Islam garis keras di belakang Prabowo bisa menggolkan agenda politik mereka bila jagoannya menang?

Masalahnya adalah, memangnya Prabowo bakal tunduk dengan pengusungnya dari kelompok Islam garis keras? Mengingat latar belakang keluarga serta rekam jejaknya selama ini, sulit dibayangkan ia akan mendukung pendirian khilafah. 

Di sini sebetulnya pemilih sepatutnya bersikap cerdas. Dua kandidat yang bersaing di pilpes 2019 tak sejengkal pun punya niatan ingin mengganti falsafah negara Pancasila jadi khilafah. Tidak ada yang bakal mempraktekkan hukum rajam atau potong tangan bila salah satu capres terpilih. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila sebagai dasar negara sudah harga mati. Jangan-jangan soal khilafah dan syariat Islam ini hanya isu politik untuk dipertentangkan dengan Pancasila. 

Ingat juga, ketika masyarakat sipil bertengkar terus soal khilafah versus Pancasila sampai negara kesatuan terancam pecah, bukan tak mungkin hal ini bakal mengundang militer masuk ke gelanggang politik, mengambil kendali kekuasaan karena sipil dianggap tak becus mengurus negara. Bila itu terjadi trauma pemerintahan militeristik ala Orde Baru bakal terulang. Hal itu lebih berbahaya.   

Jadi, sebetulnya, jangan terlalu berharap bila menang Prabowo akan menerapkan hukum syariat Islam di bumi Nusantara. Dan jangan terlalu ketakutan juga bila Jokowi kalah maka kebhinekaan kita tak dihargai lagi. Baik Prabowo dan Jokowi sama-sama Pancasilais. Yang terlalu berharap dan terlalu ketakutan justru nanti yang bakal kecewa. Bukankah demikian?

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Mungkinkah kelompok Islam-politik di kalangan elite dan akar rumput memilih Prabowo karena merasa bisa "mengendalikan" Prabowo? Apa benar, ya, para elite politik kelompok Islam yang berkoalisi dengan Prabowo itu secara serius menganggap Prabowo itu pemimpin umat Islam, diproyeksi bakal jadi panglima tertinggi umat Islam di Indonesia?

Ada video Rizieq Shihab yang dengan jernih (nggak setel kencang seperti biasa di panggung) bilang bahwa apabila 2019 Prabowo menang dan DPR dikuasai 60 persen atau lebih bagus lagi 2/3 dari kelompok koalisi Islam untuk Prabowo, maka syariah Islam seperti potong tangan bagi pencuri (dan rajam bagi pezina & LGBT) akan bisa diterapkan. Saya tahu, bagi sebagian warga muslim, prospek "syariah" dalam bentuk demikian sebagai hukum positif di Indonesia adalah sebuah harapan, sebuah kewajiban, sebuah --katakanlah--keuntungan bagi umat Islam di Indonesia.

Menurut saya, dari sisi Prabowo-nya rasanya nggak mungkin bakal menerapkan syariat Islam atau akan mendirikan khilafah. Saya justru prihatin masyarakat menaruh harapan sekali pada Prabowo akan menerapkan syariat Islam.  

Saya sangat tak percaya Prabowo jika menang akan membawa maslahat besar bagi umat Islam. Pada 1980-an, ada pameo, yang antara lain dipopularkan di kalangan harakah/gerakan Islam (biasa disebut juga Tarbiyah) untuk mencegah umat Islam berpartisipasi dalam Pemilu (yang biasanya sudah jelas hasilnya, sebelum dimulai --nggak semenegangkan kayak sekarang) oleh Ust. Rahmat Abdullah (alm.): umat Islam itu diperlakukan kayak tukang dorong mobil --begitu mobilnya jalan, yang dorong ya ditinggal, nggak diajak masuk mobil.

Yang ingin saya sampaikan, memangnya Prabowo nggak berpikir apa konsekuensinya bila akan menerapkan hukum rajam bagi penzina dan kaum homoseksual, dan hukum syariat lainnya di Indonesia. Tuntutan itu mungkin ada, tapi mungkin akan ada konsesi-konsesi dari dia (Prabowo) dalam rangka untuk menyenangkan mereka. Di Indonesia tidak semudah dibayangkan oleh Rizieq Shihab. Tapi mungkin akan ada hukum positif tertentu yang akan digolkan untuk memenuhi agenda mereka (kaum Islam garis keras pendukungnya).

Saya percaya, kelompok Islam yang gemar memusuhi sesama maupun orang/kelompok lain adalah (1) tidak Islami, dan (2) merugikan Islam dan umat Islam. Dan saya cemas, jika Prabowo menang, umat Islam akan kena kibul lagi, tertipu lagi, nyungsep lagi.

Dan jika memang demikian, bayangkan saja: jika terpilih jadi presiden, Prabowo punya kemungkinan jadi presiden dua periode. Bayangkan bahwa sampai 2029, Indonesia akan dipimpin Prabowo. Anda mengaminkan bayangan ini? Selamat, Anda telah terbukti mengimani pilihan Anda.

Saya sendiri merasa bahwa selama Jokowi jadi presiden, banyak maslahat terjadi pada umat Islam Indonesia. Banyak kekurangan pada pemerintahan Jokowi, tapi kebebasan berekspresi di bidang agama terjamin. Jika sekarang tak ada hukum rajam bagi kaum LGBT, saya yakin Prabowo juga tak akan menggolkan hukum rajam bagi kaum LGBT. Tapi jika ada kelompok Islam kepingin menagih janji Prabowo untuk menerapkan syariah Islam (apa pernah dia menjanjikan bakal menerapkan syariah Islam jika menang?), saya duga kalian gak akan tahan juga dengan cara Prabowo menangani kritik-kritik warga terhadap dirinya nanti.

Sementara, saat ini saya merasa aman dan tenteram melihat cara Jokowi membangun hubungan dengan umat Islam saat ini. Kebanyakan gangguan terhadap ekspresi keagamaan saya maupun banyak orang bukan datang dari Jokowi, tapi dari kelompok dan ormas Islam sendiri. Saya memilih yang pasti-pasti saja, daripada berspekulasi. 

Saya juga yakin Indonesia tidak akan seperti Mesir yang militernya mengambil alih kekuasaan dari kelompok Islam, atau juga Irak dan Syria yang porak poranda oleh ISIS. Ada laut yang membentang di negara kita. Itu akan menyulitkan secara logistik. Ancamannya tetap ada, tapi akan susah sekali terwujud (secara menasional). (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF