Memaknai Ulang `The Power of Emak-emak`
berita
Humaniora

Sumber Foto : wattpad.com

08 October 2017 17:00
Jika ada satu meme yang terasa abadi di era digital lantaran topiknya muncul terus, meme itu adalah "The Power of Emak-emak." Biasanya meme ini berisi foto seorang ibu mengendarai motor sambil melanggar lalu lintas: beri lampu sign kanan, tapi belok ke kiri, berkendara tak pakai helm, masuk tol, hingga jalanan yang belum kering dicor diterabas. 

Istilah "The Power of Emak-emak" juga kerap dipakai pada wanita paruh baya atau mereka yang akrab disebut ibu-ibu yang mencak-mencak, kadang disertai memukul, pihak yang punya otoritas atau berwenang seperti polisi dan semacamnya. Umumnya, si ibu bersalah melanggar lalu lintas, namun ia lebih marah ketimbang yang memberinya peringatan.   

Yang terjadi kemudian ibu-ibu atau emak-emak, lebih umum lagi, perempuan jadi bahan tertawaan. Masalahnya, elokkah kita menertawai mereka? Bayangkan bila perempuan yang jadi bahan meme itu ibu Anda, masihkah Anda tega menertawakannya? Atau, Anda rela ibu yang melahirkan kita jadi bahan tertawaan di dunia maya? 

Memang faktanya di foto-foto yang dijadikan meme terdapat pelanggaran lalu lintas atau perlawanan pada otoritas berwenang. Tapi hanya mengedepankan fakta ini saja dan menjadikannya bahan bercandaan membuat kita menafikan hal lain. 

Marah-marah pada polisi jelas perbuatan salah. Tapi hal tersebut juga bisa dimaknai begini: perempuan tak gentar pada pihak yang memiliki otoritas. Mereka bisa jadi oposan yang efektif. Sejarah menunjukkan, ibu-ibu mampu menggerakkan protes pada penguasa. Di Argentina pada 1977 lahir gerakan protes yang dinamai Las Madres de Plaza de Mayo (Ibu-ibu Plaza de Mayo), para ibu turun ke jalan berdemo menuntut anak-anak mereka yang dihilangkan paksa rezim berkuasa dikembalikan. Di Indonesia, pada awal 1998, di puncak krisis moneter, Suara Ibu Peduli muncul menjajakan susu murah sebagai protes pada harga-harga yang melambung tinggi. Contoh lain, pada zaman perang kemerdekaan, ibu-ibu menyiapkan dapur umum yang punya fungsi vital mendukung para pria bertempur di garis depan. 

Bila begitu adanya meme "The Power of Emak-emak" perlu kita maknai ulang. Bukankah di balik foto ibu-ibu paruh baya di meme "The Power of Emak-emak" tersebut justru terdapat pesan-pesan pemberdayaan perempuan? Misalnya, ibu yang memberi sign ke kanan tapi ke belok kiri mungkin adalah ibu yang bekerja, ia membantu suami mencari nafkah, atau menggantikan peran suami sebagai tulang punggung keluarga. Bisa jadi juga ibu yang naik motor tak pakai helm sedang terburu-buru menjemput anaknya ke sekolah. Artinya, ia perempuan mandiri. 

Namun di lain pihak, kita juga tak boleh menutup mata ada pelanggaran kedisiplinan oleh emak-emak. Lantas, sejauh mana kita bisa mentoleransi pelanggaran hukum oleh emak-emak? Yang juga penting, sudahkah pemerintah, khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menyadari keberadaan The Power of Emak-emak dan memanfaatkan potensi mereka? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi

Yang jadi bahan tertawaan di dunia maya bukan hanya ibu-ibu. Tapi itu jadi salah satunya. Sebutan "The Power of Emak-emak" adalah semacam bentuk stereotip. Selain ibu-ibu, yang jadi korban stereotip juga adalah, misalnya jomblo, Oom-oom, cabe-cabean, mahmud (mamah muda), atau yang lain-lain. Stereotip itu menampilkan karakter, kebiasaan, atau tampilan seseorang. Makin populer sebuah stereotip karena makin banyak pula yang terekspos. Artinya, orang pernah punya pengalaman melihat atau kenal dengan perilaku emek-emak ini. Makanya muncul komen begini: "Oh, iya ya, kemarin saya juga lihat yang begitu."  

Nah, emak-emak macam ini umumnya punya karakter sok tahu, annoying, cerewet tapi galak. Meme-nya biasanya muncul dalam bentuk emak-emak yang naik motor beri sign ke kiri, tapi belok kanan. 

Stereotyping ini juga muncul di luar negeri, walaupun bentuknya tak persis sama. Misalnya, di luar negeri ada istilah "soccer mom", ibu-ibu yang mengantar anaknya latihan sepakbola.   
    
Fenomena "The Power of Emak-emak" ini bisa dilihat dari dua sisi. Yang namanya stereotyping itu menyederhanakan atau men-simplifikasikan dan menyamaratakan. Padahal mungkin nggak semua juga enak-emak seperti yang mucul di meme.  Jadi, di satu sisi, kalau kita ingin sangat politically correct seharusnya (meme "The Power of Emak-emak" ini) nggak benar. Di sisi lain, kita bisa anggap meme ini bercandaan, sebuah bentuk humor yang nggak perlu ditanggapi terlalu serius. Dan hal-hal yang nggak terlalu serius punya tempatnya sendiri di internet. 

Artinya, meme ini bisa dipandang untuk merendahkan atau untuk mengkomunikasikan hal-hal yang positif juga bisa. Misalnya, "The Power of Emak-emak" berarti ibu yang mengurus anak dan suami, mengurus rumah, juga harus kerja. Meme stereotyping bisa digunakan untuk positif ataupun negatif. 

Menyangkut pelanggaran lalu lintas, sebetulnya setiap pelanggaran harus dapat sanksi. Tapi meme "The Power of Emak-emak" ini sebetulnya sebuah ejekan yang menyamaratakan sebuah karakter atau identitas dengan memberi cap bahwa semua kelompok tersebut seperti digambarkan di meme-meme. Namun, menurut saya, pelanggaran hukum harus ditindak. Peraturan harus ditegakkan. Hanya mereka ini tak perlu ditanggapi dengan emosional. 

Sayangnya, "The Power Of Emak-emak" ini sampai sekarang masih dianggap bercandaan saja. Belum dipakai sebagai bagian dari menyebarkan konten positif. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior, Pengamat Budaya

Begini, pandangan saya soal ini sangat spekulatif. Jadi, kalau sebelumnya saya tidak bilang spekulatif, saya bisa dicaci maki oleh emak-emak. Di media sosial, setiap kali melihat wanita yang berulah konyol disebut "The Power of Emak-emak". Hal itu muncul karena memang ini dijumpai sehari-hari oleh banyak orang, terutama dalam berperilaku lalu lintas. Umumnya, pengendara perempuan lebih ngawur dari pengendara laki-laki. 

Yang ada di benak orang kan kira-kira demikian. Dan berdasar pengalaman saya pribadi, karena saya juga menyetir, saya harus lebih atensif kepada ibu-ibu yang menyetir ketimbang yang cowok. Kalau di depan saya ada mobil, lalu saya lihat nyetirnya ngaco, dalam hati saya bertaruh pada diri sendiri, "Itu pasti yang nyetir cewek." Dan ternyata benar. Tapi memang tidak dengan serta merta semua wanita seperti demikian (ketika berkendara).  

Menurut dugaan saya, fenomena ini semacam pukulan balik dari sistem patriarkal selama ini. Selama ini kehidupan sosial sebagian besar masyarakat, Indonesia dan masyarakat Timur terutama, sistem sosialnya sangat patriarkis. Dalam masyarakat macam begini, ruang publik, ruang formal, ruang bernegara dan politik untuk lelaki. Sedangkan untuk cewek ruang domestik di rumah. Dalam sistem patriarkis ini seluruh peraturan seolah-olah ditujukan untuk lelaki. Cewek tidak, karena domain mereka domestik. Makanya setiap peraturan di ruang publik, dari simbol-simbol sederhananya saja, meski digambarkan manusia tapi wujudnya lelaki. MIsal di rambu-rambu lalu lintas selalu gambar cowok, bukan cewek. 

Lalu pelan-pelan perempuan yang tadinya berada di ranah domestik, mulai keluar rumah. Dia mulai dominan di ruang publik, terlebih-lebih di era konsumsi ditandai dengan kemunculan mal-mal. Mal dibangun sebagian besar untuk mengakomodasi kepentingan perempuan, karena perempuan dipercaya paling banyak punya waktu luang. Lelakinya 'kan bekerja. Nah, perempuan yang tidak banyak lagi urusannya di rumah, karena umumnya di kota besar urusan rumah tangga sudah diselesaikan asisten rumah tangga, jadi punya banyak waktu luang jalan-jalan ke mal. Indikasi bahwa mal menargetkan perempuan jelas sekali. Lihat, di mal manapun di seluruh dunia bagian depannya yang dijajakan adalah kosmetik. Tidak ada mal yang begitu masuk, yang dijual pakaian lelaki. Artinya, tanpa disadari orang masuklah perempuan ke ruang publik. 

Nah, begitu perempuan masuk ke ruang publik yang tadinya ruang publik itu semua law and order-nya ditujukan bagi laki-laki, mereka masih terbiasa dengan ruang domestiknya. Kebiasaan lamanya terbawa. Biasanya di rumah perempuan menjadi penguasa dan tidak ada peraturan seperti di ruang publik. Dari proses ke ruang publik itu kebiasan-kebiasaan di ruang domestik terbawa. Mereka tak mengenal peraturan, dan dominan. Sehingga itulah yang tampak. Terutama dalam berlalu lintas. Mereka menyetir sign ke kiri, beloknya ke kanan. Ini memperlihatkan mereka tak terbudayakan dalam ruang publik yang punya aturan. 

"The Power of Emak-emak" adalah perempuan-perempuan yang tiba-tiba mendominasi ruang publik, yang meresahkan orang-orang. Tapi saya tak bisa mengeneralisir semua perempuan begitu. Ini seloroh yang barangkali datang dari kenyataan sehari-hari yang ditemui banyak orang. Yang pasti, dengan masuknya perempuan ke ruang publik, mereka diperhitungkan sebagai entitas sosial yang luar biasa dalam soal konsumsi, politik, dan lain-lain. Menengok 1998 dengan gerakan Suara Ibu Peduli, andaikata waktu itu hanya mahasiswa saja yang bergerak, tanpa dibarengi ibu-ibu, mungkin Soeharto lebih lama jatuhnya. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional