Marlina, Antara Koboi Sate dan Perempuan Jagoan
berita
Humaniora

Foto dok. Cinesurya

26 November 2017 11:00
"Habis nonton apa?"

"Marlina. Kayak (film) Quentin Tarantino gitu."

Percakapan itu tercuri dengar dari dua orang di muka bioskop di sebuah mal di Jakarta Selatan. Yang dibicarakan: Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak film anyar karya Mouly Surya. 

Bagi orang kebanyakan nama Tarantino segera disebut sebagai acuan. Sosok Marlina yang diperankan Marsha Timothy patut disandingkan dengan cewek jagoan rekaan Tarantino di Kill Bill. Tapi mengacu ke Tarantino tak tepat. Tarantino memang bikin film bergenre western atau koboi lewat Django Unchained (2012) dan The Hateful Eight (2015). Tapi ia sendiri mengacu ke film-film spaghetti western bikinan Sergio Leone. 

Maka, yang lebih tepat, Marlina adalah spaghetti western rasa Indonesia. Bila spaghetti western flm koboi rasa Italia, kritikus Variety Maggie Lee menyebut Marlina "satay western" alias koboi sate, koboi rasa Nusantara. Maggie mungkin tak tahu, jauh sebelum Mouly bikin Marlina, koboi Indonesia dipelopori Nya Abbas Akub pada 1970-an lewat Bing Slamet Koboi Cengeng (1974).

Memang, rasa Koboi Cengeng beda dengan Marlina. Koboi Cengeng parodi koboi John Wayne, sedang Marlina berkiblat ke semangat revisionisme terhadap genre ini sebagaimana spaghetti western. Di Marlina kita bertemu lanskap Sumba, Nusa Tenggara Timur yang diolah Mouly bak wilayah western, sebuah tempat di antah berantah yang nyaris tak tersentuh hukum dan peradaban. Marlina janda yang belum lama ditinggal anak lelaki dan lalu suaminya.   

Syahdan, Marlina didatangi Markus (Egi Fedly) dan gerombolannya yang mengambil seluruh ternak miliknya dan akan menggaulinya. Marlina lalu meracuni empat orang anggota gerombolan dan memenggal kepala Markus yang menyetubuhinya. Esoknya, ia menenteng kepala Markus hendak ke kantor polisi. Di lain pihak, dua anggota gerombolan yang lolos dari maut mengejarnya. 

Yang tampak jelas di film ini keberpihakan Mouly pada perempuan. Di Marlina, perempuan menentukan nasibnya sendiri. Mereka keluar dari masalah tanpa bantuan negara. Polisi lebih sibuk main pingpong dan terkendala hambatan birokratis. Demikiankah wajah perempuan di Sumba khususnya dan negeri ini umumnya? 

Menarik juga ditelisik, film ini mendapat kehormatan lolos seleksi sesi Directors’ Fortnight (Quinzaine des réalisateurs) di Festival Cannes 2017. Nampak betul memang Marlina seperti didesain jadi "festival darling": mengawinkan kekhasan (baca: eksotisme) lokal dengan bahasa universal (baca: Barat/genre western). Yang jadi tanya lalu, apakah konstruksi ini dirancang khusus agar bisa dinikmati (baca: make believe) juri festival film luar negeri, namun di saat bersamaan mengesampingkan kenyataan sebenarnya di masyarakat? Jika filmnya didesain memikat penonton luar negeri, di mana kemudian posisi penonton Indonesia di mata sineasnya? 

Lewat Marlina telah lahir sub-genre baru: koboi sate. Namun, seberapa dekat kisah koboi sate dengan kehidupan penonton Indonesia? Apakah jenis film ini akan diikuti sineas lain, sebagaimana Koboi Cengeng melahirkan film-film sejenis? Atau, ini akan berhenti jadi sebuah eksplorasi sineas kita yang sulit ditiru dan diulang?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penulis buku

Modal saya sewaktu nonton Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak itu "perasaan". Ini agak berabe memang. Subyektif sekali. Tapi, sepenangkapanku, pembikin Marlina ini seperti turis yang menemukan eksotisme Sumba terus heboh membagikan di Instagram. Hasilnya, filmnya tanpa pendalaman yang baik. Mungkin iya ada adegan khas Sumba: buang air di alam terbuka, susah nunggu angkutan, dan sebagainya. Tapi rasanya belum menggali jeroan Sumba. Guyonan tentang kehamilan di bus itu lucu sih, tapi apa itu khas Sumba?

Buat saya, karena turistis, gambar-gambar indah itu jadi hambar. Babak satu, menurutku, bisa dipindah ke mana saja. Babak dua latar Sumba cukup mendukung (walaupun di Jogja nunggu angkot ya nggak separah itu). Babak tiga, nggak khas Sumba, khas Indonesia. 

Di film Marlina eksotisme lokal tampil di permukaan, lantas ditempeli bahasa universal tadi. Mestinya, kelokalan itu juga menjiwai ceritanya. Jadi, penonton diajak blusukan ke jeroan setempat. Justru kalau lokalitasnya kuat, orang akan bisa bilang: ini khas Sumba, tapi ternyata problem dan nilai-nilainya universal.

Yang terjadi di Marlina: Sumbanya baru sekadar latar, ceritanya universal. Malah kurang menggigit jadinya. Istilah koboi sate okelah untuk asyik-asyik, tapi kalau dibilang sub-genre baru ya enggaklah. Nanti kayak puisi esei. Memangnya sinema Indonesia itu pulau tersendiri, terpisah dari perfilman dunia?

Problem di Marlina lebih condong untuk penonton sini. Memang, kalau mau bikin film lagi, ya serius lah ngangkat lokalitasnya, jangan cuma kenes tempelan. Saya sih ikut senang kalau orang Barat/luar jadi melirik Infonesia karena Marlina. Tapi ya jangan puas di situ, seolah ini pencapaian level baru yang susah ditandingi. 

Menurut saya, film Indonesia yang kuat lokalitasnya: Negeri di Bawah Kabut (2011, sutr. Shalahuddin Siregar). Lokal banget, unik, tapi malah lalu jadi universal. Filmnya membawa kita ke dunia lain, tapi sekaligus mempertemukan kita dengan manusia yang sepergumulan dengan kita. Kita bisa relate, berempati dengan pergumulan mereka. Tadinya saya pikir Marlina akan mengubah pikiran saya. Setelah nonton Marlina, Turah tetap film Indonesia terbaik tahun ini pilihan saya. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan film

Terus terang, sewaktu menonton trailer dan kemudian film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini, saya justru terus dibayang-bayangi oleh film No Country for Old Men garapan Joel dan Ethan Coen. Sebab, baik Marlina maupun No Country sama-sama menyuguhkan cerita dan karakter tokoh dengan diselipi humor-humor kering, bahkan satu-dua kali terlihat cenderung absurd. Tokoh Marlina yang menenteng kepala pria pemerkosanya untuk dibawa ke kantor polisi pun mengingatkan saya pada Llewelyn Moss (Josh Brolin) dalam No Country for Old Men

Llewelyn dikisahkan mengambil koper berisi uang dua juta dolar dan dengan cuek meninggalkan seseorang yang sekarat di tengah padang pasir. Tapi, ia kemudian kembali lagi pada malam hari untuk membawakannya air minum. Buat saya, seperti halnya Llewelyn, tokoh Marlina dan juga Novi dalam film feature ketiga Mouly 
Surya ini tengah memperlihatkan pergulatan antara kehendak menjadi manusia yang ideal, etika, masyarakat yang cuek, dan hukum yang absen. 

Di sinilah letak kecanggihan Mouly. Dia menaruh pergulatan itu dalam tanah Sumba yang dibuat dengan rasa western dan jauh dari mana-mana. Rumah Marlina berada di tengah dataran yang indah dan tak punya tetangga. Negara (yang hanya diwakili polisi) pun tak berdaya hadapi alur birokrasinya sendiri dan kondisi geografis yang cantik namun juga ganas. Mereka jadi lebih banyak habiskan waktu main tenis meja. Semasa Orde Baru, kita tahu olahraga memang kerap dijadikan simbol nasionalisme oleh aparat pemerintah. Namun, oleh Mouly, olahraga dijadikan mainan semata yang lebih utama bagi aparat ketimbang menerima laporan pelanggaran hukum dari warganya. Mouly memang tengah mengolok-olok peran aparat, dan upaya olok-olok ini saya kira dapat mewakili rasa kekecewaan kita terhadap perilaku aparat di dunia nyata.

Ditaruhnya pergulatan Marlina dengan segala rintangan sosial dan hukum ini ke dalam kecantikan alam Sumba (yang direkam secara menawan oleh kamera Yunus Pasolang) menjadi semacam paradoks. Dan bukankah paradoks seperti ini sekarang jamak kita temui dalam berbagai bagian kehidupan di masyarakat, bahkan kadang dengan rupa yang berbeda? Lihatlah, misal, warga Papua yang sudah puluhan tahun hidup merana, meskipun tanahnya kaya akan emas. Atau, lihat bagaimana mudahnya masyarakat kelas menengah kita yang (katanya) terpelajar namun mudah dihasut hoaks. Maka, lewat tutur bahasa visualnya ini, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak tidak “menjual” eksotisme dunia Timur, bukan pula jadi bersifat turistik, tapi menyatu dengan cerita dan karakternya.

Yang paling kentara, tentu saja film ini kental dengan semangat feminisme. Mouly Surya memang seorang feminis, yang sudah terlihat dari dua film Mouly sebelumnya (Fiksi. dan Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta). Dalam Marlina, ia menyuarakan feminisme itu dengan lebih lantang, bukan hanya lewat tokoh Marlina, tapi juga Novi. Tokoh yang dimainkan Dea Panendra ini mengingatkan saya pada Margaret Gunderson dalam Fargo yang juga disutradarai Coen bersaudara. Novi dan Margaret ini sama-sama tengah hamil tua dan pada akhirnya menumpas pria yang jahat. Bedanya, Novi kemudian melahirkan si jabang bayi dengan dibantu Marlina di dalam rumah tanpa dihadiri satu pun laki-laki yang bernyawa. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung