Makin Gaptek Generasi Tua, Semakin Pornografi Merancu Generasi Milenial
berita
Humaniora

Ilustrasi : Muid /Watyutink.com Sumber Foto : yubelium.com & hellosehat

17 October 2017 08:00
Benarkah banyak remaja usia 12-17 tahun melakukan seks bebas tanpa mengetahui dampak negatifnya? Sejumlah psikolog konon mensinyalir bahwa rasa ingin tahu dan penasaran yang tak terkendali, semakin menjerat anak ke dalam pornografi dan pornoaksi. Dampak ikutan akibat belum siap hamil ialah aborsi.

Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2016 mengungkap, dari 4.500 remaja di 12 kota, 97 persen mengaku pernah melihat pornografi. Penelitian End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes (Ecpat) malah menemukan Indonesia jadi negara terbesar kedua pengakses konten pornografi di dunia maya.

Beberapa situs porno menayang berbagai video persetubuhan remaja. Kok semudah itu diakses dan diunduh remaja? Sekuat apa peran pornografi memicu seks bebas para remaja? Bagaimana tindakan Polri terhadap cyber crime itu?

Efek merusak pornografi konon sama luar biasa dengan narkoba. Keduanya mencipta kecanduan bahkan merusak kondisi otak. Mirip orang gegar otak akibat terbentur kepalanya karena kecelakaan.

Penyalahgunaan narkoba, seperti juga seks bebas, mengancam kesejahteraan generasi muda Indonesia. Survei BNN tahun 2016 di 18 provinsi Indonesia menemukan 1,9 persen pelajar/mahasiswa menjadi penyalahguna narkoba. Berarti dua dari seratus pelajar dan mahasiswa positif mengkonsumsi narkoba.

Dalam konteks kenakalan remaja, baik itu seks bebas maupun penyalahgunaan narkoba, sejumlah kalangan mengingatkan, jangan hanya menyalahkan petugas negara dan aparat penegak hukum. Lho? Sekuat apa komunikasi anak dengan orang tua sebagai faktor penentu pencegah kenakalan remaja? Sungguhkah begitu? Padahal meski remaja dalam keluarga baik-baik saja, namun begitu ke luar rumah kok malah rusak? Percuma anak dibentengi dari konten pornografi, jika petugas tidak bertindak tegas atas cyber crime.

Pada era digital dan keterbukaan ini, pola hubungan orang tua dengan anak konon wajib diubah. Seperti  apa pola hubungan yang ideal dalam era yang mengagungkan pemenuhan hak asasi, termasuk hak anak untuk hidup sesuai perspektif mereka? Kemajuan teknologi membuat generasi tua kian gaptek dan tidak nyambung dengan perikehidupan generasi milenial. Apa kita harus mengharamkan internet dan dunia maya yang telah merenggut hak asuh anak dari orangtuanya?   

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ast)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Managing Director Indonesia Sehat Amira, Ketua Gerakan Hidup Sehat (GHS)

Kami menaruh perhatian khusus terhadap tumbuh kembang anak dengan mengajak orang tua untuk aktif berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh anak sesuai dengan porsi yang dibutuhkan. Jangan sampai nanti anak dengan rasa ingin tahunya yang besar mengambil informasi dari media internet.

Salah satu informasi yang penting diberi tahukan kepada anak adalah seputar pendidikan seks atau kesehatan reproduksi sesuai dengan usia anak. Akan berbahaya jika anak mencari informasi tersebut melalui media internet. Bisa jadi anak justru terjebak ke dalam bahaya pornografi. Di dalam otak manusia, khususnya bagian tengah depan, ada yang namanya Pre Frontal Cortex (PFC). Ini yang membedakan manusia dengan hewan. PFC adalah bagian sangat istimewa dan menjadi pusat kendali karena berfungsi sebagai pusat pengembangan dan pengambilan keputusan.

Kecanduan dan khayalan akibat pornografi mengakibatkan produksi hormon dupamim yang berlebihan. Jika dupamim merendam PFC, akibatnya seseorang kehilangan kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal (baik atau buruknya sesuatu). PFC bisa rusak fungsinya akibat dupamim yang diproduksi secara berlebihan. Menurut Donald Hilton Jr (seorang dokter ahli bedah otak), otak yang rusak akibat pornografi jika difoto dengan Magnetic Resonance Image (MRI) hasilnya akan sama dengan kerusakan otak akibat kecelakaan. Ia juga mengatakan jika kerusakan otak akibat narkotika hanya terjadi di tiga bagian, akibat pornografi kerusakan terjadi di lima bagian otak.

Tetapi kerusakan PFC pada anak masih bisa diobati, direkonstruksi ulang. Ini karena otak anak masih mengalami pembentukan. Untuk kembali memperbaiki PFC pada otak anak, perlu menanamkan hal-hal yang baik. Ditanamkan akhlak dan perilaku yang baik. Orang tua memiliki peranan penting dalam menghentikan kecanduan akibat narkolema (narkoba lewat mata) yaitu pornografi, yang bahayanya sama dengan kecanduan narkoba.

Kecanduan pornografi membuat anak bisa terjerumus ke dalam seks bebas. Ini bisa berdampak kehamilan yang tidak diinginkan/di luar nikah. Jalan pintasnya adalah aborsi. Di Indonesia dalam setahun terjadi dua juta kasus aborsi, dan sebagian besar dilakukan oleh remaja dengan cara yang sangat membahayakan keselamatan nyawa mereka. Sudah ada hukum yang mengatur pelaku aborsi dan orang yang ikut serta (mengantarkan, menunjukan tempat, dan memaksa melakukan aborsi), yaitu KUHP Pasal 346 dan 347.

Untuk mencegah anak-aak kita terjerumus ke dalam bahaya narkoba, narkolema (pornografi), pornoaksi dan aborsi tanpa rekomendasi medis, sebagai orang tua kita perlu berperan aktif. Bukan hanya aktif mengawal anak-anak kandung kita atau kerabat kita saja, tetapi anak-anak yang ada di sekeliling kita. Kita bukan hanya menjadi orang tua biologis dari anak-anak kandung kita, tetapi kita juga perlu menjadi orang tua sosial bagi anak-anak di sekitar lingkungan kita. Bergandeng tangan mengawal generasi muda yang menjadi harapan masa depan bangsa. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)

Kemarin heboh berita tentang tingginya angka perceraian di Bekasi, yang dikaitkan dengan penggunaan media sosial. Namun saya menilai ada alasan lain yang menjadi penyebab tingginya angka perceraian, yaitu komunikasi pasangan suami istri. Seringkali suami atau istri yang menjadi pejabat karir lupa akan posisinya. Seharusnya saat suami-istri kembali ke rumah, ia melakukan tugasnya sebagai ayah dan suami juga sebagai istri dan ibu. Namun faktanya yang terjadi justru sebaliknya, suami-istri sering kali memilih membawa jabatan tingginya ke dalam rumah.

Gaya komunikasi juga mempengaruhi dalam mendidik anak. Ada tiga jenis gaya/pola komunikasi di dalam keluarga, antara lain; otoriter, permisif, dan demokratis. Otoriter ini yang biasa dilakukan oleh orang tua yang mempunyai jabatan tinggi di luar dan membawanya ke dalam rumah, sehingga apa yang diperintahkan wajib diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Permisif yaitu orang tua membiarkan apa saja yang sudah terjadi di dalam keluarga. Demokratis pola komunikasi yang melibatkan seluruh anggota keluarga dalam menerapkan atau memutuskan sesuatu yang kemudian diikuti/dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga.

Menurut saya, pola komunikasi yang baik antara orang tua dan anak adalah egaliter. Orang tua menepatkan diri sebagai sahabat dari anaknya. Sehingga anak tidak menutup serta membatasi diri orang tua. Dengan demikian posisi orang tua akan dekat dengan anak dan mengerti permasalahan yang dihadapi anak serta bisa membimbing anak dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pola komunikasi ini dipengaruhi beberapa faktor, yaitu; tingkat pendidikan orang tua, kepercayaan/budaya yang dianut orang tua, dan pekerjaan orang tua.

Dalam pola komunikasi, orang tua juga harus memberikan informasi yang dibutuhkan oleh anak dengan memperhatikan perkembangan zaman dan psikologi anak. Kita harus ingat, sekarang ini adalah era digital. Jika kita tidak memberikan informasi yang dibutuhkan anak sesuai dengan kapasitasnya, anak akan mencarinya dari sumber lain (internet, teman, dan orang yang tidak dikenal). Rasa ingin tahu anak yang sangat tinggi dapat menjerumuskan anak ke jalan yang salah, jika kita sebagai orang tua tidak memberikan informasi yang dibutuhkan.

Tumbuh kembang anak itu tergantung peran orang tua, bisakah kita menjadi teman yang baik bagi anak kita? Jika bisa berperan sebagat sahabat anak, ruang untuk anak terjerumus ke dalam hal-hak negatif (narkoba dan pornografi/pornoaksi) akan semakin sempit. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Indonesia terkenal dengan istilah fatherless country atau negara tanpa ayah. Ini bukan hanya sekadar istilah. Urusan mendidik dan megawal anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu. Ibu identik dengan pekerjaan yang hanya berputar-putar di rumah, kalau di Jawa istilahnya dapur, sumur, kasur. Sedangkan ayah bertugas untuk memasok kebutuhan rumah tangga secara finansial.

Padahal seharusnya dalam mendidik anak itu harus berimbang, melibatkan ayah dan ibu. Memang yang mengandung dan memberikan air susu ibu (asi)  adalah ibu, tetapi ayah juga mempunyai tanggung jawab untuk ikut serta dalam mendukung dan memberikan support kepada ibu dalam menyusui anak. Ini yang disebut dengan istilah ayah asi. Ayah memberikan support, membuat ibu merasa nyaman dan bahagia, serta memberikan saran agar ibu mengkonsumsi makanan-makanan yang bergisi. Sehingga nantinya asi yang dihasilkan berkualitas untuk tumbuh kembang anak.

Jelang masa puberitas, kalau anak melakukan kesalahan, nilai jelek, dan hal-hal negatif ibu selalu disalahkan. Ini dikarenakan tugas mengawal dan mendidik anak dilimpahkan semua kepada ibu, ayah tidak berperan dalam hal itu. Atau terkadang tugas untuk mendidik anak seluruhnya diserahkan kepada sekolah. Ini harus diakhiri. Ibu dan ayah harus sama-sama berperan mendidik dan mengawal anak dalam masa puberitas.

Pada masa ini anak sudah harus diberikan pengenalan mengenai organ-organ reproduksi yang ada pada diri mereka. Untuk anak laki-laki seharusnya pengenalan akan organ reproduksi diperkenalkan oleh ayah. Ayah harus memberikan waktu khusus untuk anak laki-lakinya jelang akil balig. Di sinilah ayah harus memberikan pengertian kepada anak mengenai pendidikan seks dan bahwa dalam bergaul dengan lawan jenis dia sudah harus mulai berhati-hati.

Peran ibu memberikan pengenalan mengenai organ-organ reproduksi yang ada pada anak perempuannya, dan harus berhati-hati dalam bergaul dengan lawan jenisnya. Ini penting dilakukan, terutama setelah anak mengalami menstruasi. Anak laki-laki perlu diberikan pengertian bahwa ia bisa menghamili, dan perempuan juga perlu diberikan pengertian dia bisa dihamili setelah mengalami fase akil balig.

Di tiap rukun warga (RW) kita mengenal ada tim pemantau jentik nyamuk (jumantik). Dibentuk oleh pemerintah, bekerja dengan sukarela dan mendapat dukungan uang akomodasi. Untuk memantau nyamuk saja kita semua mau terlibat, apalagi dalam memantau anak-anak kita. Pemerintah juga perlu mendukung tim pemantau anak agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.

Penekanan kepada akhlak dan moral yang baik serta nilai-nilai agama harus dilakukan orang tua. Terutama dalam memberikan pengertian kepada anak mengenai kapan waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seks, yaitu setelah resmi menikah. Orang tua harus menekankan betul sakralnya pernikahan.

Selain itu orang tua harus paham pergaulan dan bahasa yang digunakan oleh anak-anak dalam pergaulan. Buku bacaan anak remaja juga perlu diawasi, karena beberapa mengandung unsur-unsur pornografi dan menjerumuskan anak dengan saran-saran yang tida seharusnya diterima oleh anak remaja. Orang tua juga harus paham betul bahasa yang digunakan anaknya dalam berkomunikasi dengan lawan jenis atau teman sebayanya. Banyak ruang/celah sempit yang digunakan anak untuk melakukan kegiatan yang tidak seharusnya dilakukan (seks bebas). Kembali lagi saya katakan, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk membentuk tim-tim pemantau anak di masyarakat. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN)

Generasi muda Indonesia adalah bonus demografi yang harus dikelola dengan baik. Supaya nantinya bukan justru malah menjadi beban. Penyalah gunaan narkoba bukan satu-satunya faktor yang melemahkan produktifitas dan daya saing generasi muda kita. Oleh sebab itu seluruh pihak diperlukan peranannya untuk melindungi generasi muda kita.

Untuk itu terkait supply reduction atau pengurangan suplai narkoba ke Indonesia diperlukan sinergi antara BNN, Polri, TNI, Bea Cukai, Imigrasi, Kejaksaan, Pengadilan, Kemenkumham (Lapas), dan lembaga-lembaga terkait. Dari lembaga-lambaga diwajibkan untuk menjujung tinggi integritas dan komitmen dalam menyelengarakan penegakan hukum. Tidak mudah diintervensi oleh bandar dan jaringan sindikat narkoba yang memberikan suap, sebagaimana yang selama ini telah banyak terjadi.

Suplai ada karena adanya demand. Dalam kaitannya dengan demand reduction atau pengurangan permintaan, harus ada kepedulian yang kuat disertai dengan tindakan nyata. Kedua hal ini diperlukan untuk melakukan pencegahan yang hasil akhirnya (outcome)nya itu kongkrit. Sehingga mampu menurunkan atau paling tidak menekan laju permintaan dari pelaku penyalahgunaan narkoba.

Pesan kepada masyarakat saat ini juga lakukanlah edukasi terhadap diri sendiri. Ini bisa dilakukan melalui berbagai sarana yang sangat mudah, yaitu media sosial dan internet. Berusahalah untuk memahami penyalahgunaan narkoba, terutama yang terkait dengan daya rusak dan hancur akibat mengkonsumsi narkoba. Setelah paham akan hal itu, diharapkan timbul imunitas dari masyarakat. Nantinya masyarakat bisa menolak iming-iming dan godaan keuntungan dari bisnis narkoba, serta serangan suplai dari jaringan sindikat narkoba.

Ini cara memutus rantai peredaran narkoba, serta melindungi generasi muda kita dari bahaya penyalahgunaan narkoba. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

Revolusi Akhlak Kiai Juned

25 November 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF