MRT Tiba, Siapkah Kita dengan Budaya Transportasi Baru?
berita
Humaniora

Sumber Foto: leongszehian.com  (gie/Watyutink.com)

03 April 2018 10:00
Tahun depan, wajah Jakarta dipastikan berubah. Seperti kota metropolitan dunia lainnya, Jakarta punya angkutan massal kereta Mass Rapid Transport (MRT) yang membelah pusat kota. Rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) dijadwalkan tiba akhir Maret 2018. Presiden Joko Widodo mewartakan MRT dipastikan beroperasi pada Maret 2019. 

Sistem MRT akan menggunakan sistem teknologi terbaru yakni Communications-based train control (CBTC). Simpelnya dengan sistem persinyalan ini, pergerakan kereta akan dimonitor dan dikontrol secara terpusat oleh petugas operasional dari Operation Control Center (OCC) sehingga jarak antar kereta (headway) dapat terkontrol dengan mudah. Dengan demikian, Sistem ini menawarkan budaya ketepatan waktu. Tentunya ketepatan waktu ini menuntut adanya budaya antri penumpang MRTJ. Siapkah kita? 

Misalnya soal waktu. Konsep waktu pergerakan MRT di stasiun akan bergerak direncanakan tiap 5 menit pada jam sibuk, kereta MRT akan melaju tanpa ada penundaan/ alasan apapun. Kepastian waktu sangat dinanti-nanti mengingat banyak penumpang transportasi publik sejauh ini mengeluhkan jadwal pemberi harapan palsu alias pe ha pe.

Nah, pergerakan waktu yang ditawarkan MRTJ berdampak juga ke budaya antri teratur. Sayangnya, budaya antri Indonesia masih buruk karena sebagian besar masyarakat cenderung tidak sabar dan tidak mau menunggu. Dengan waktu secepat ini, siapkah masyarakat Indonesia untuk teratur keluar dan masuk kereta secara teratur dengan atau tanpa ada arahan petugas? Kalaupun ada petugas, strategi apa yang efisien yang dilakukan untuk menjaga keteraturan penumpang?

Lalu juga budaya partisipasi publik dalam perawatan sarana dan fasilitas MRT Jakarta. Tentu kita tidak lupa dengan peristiwa perusakan kursi tribun penonton di Stadiun Gelora Bung Karno yang baru direhabilitasi dengan biaya lebih dari Rp800 milyar. Biaya konstruksi MRT Jakarta diperkirakan mencapai Rp16 triliun, membentang sepanjang 16 km dari Lebak Bulus sampai Bunderan HI dengan 7 Stasiun Elevated dan 6 Stasiun Underground. Siapkah kita untuk merawat fasilitas yang terbilang mewah untuk transportasi publik? 

Kemudian pengawasan. Pengawasan terhadap penumpang transportasi publik memang menjadi dilema. Pengawasan yang sangat keras terhadap penumpang akan membuat penumpang tidak nyaman. Sebaliknya, pengawasan yang minim juga akan membuat penumpang tidak nyaman sehingga kontrol terhadap aset transportasi publik akan tidak optimal. Bagaimana sebenarnya sistem pengawasan efektif yang harus dilakukan terhadap penumpang MRTJ sehingga memuaskan penumpang MRT dan juga tidak menyulitkan pihak MRTJ untuk mengontrol mobilitas penumpang dan aset MRTJ?

Terakhir terkait kondisi bila kereta mengalami gangguan yang mengakibatkan mogok. Tidak dipungkiri, transportasi publik yang mogok pada jalurnya berdampak pada kereta selanjutnya tidak bergerak. Penumpang tak berdaya. Nah, apa kabar jika MRT yang bergerak di bawah tanah mogok? Apakah yang diitawarkan pihak MRT terutama menyangkut keselamatan penumpang? Bisakah mereka bernafas di bawah tanah? Atau, adakah sinyal telepon untuk update story Instagram?

Siapkah masyarakat Indonesia dengan budaya teknologi transportasi
publik terbaru? Lalu bagaimana tawaran MRT menghadapi transisi budaya
yang telah ada di Indonesia ke teknologi terbaru?

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(win)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Project Management for Signalling, Telco and IT at MRT Jakarta

Sistem teknologi yang digunakan MRT Jakarta (MRTJ) sebenarnya sudah banyak digunakan di belahan dunia lain, kita akan menggunakan sistem persinyalan (railways signalling system) yang terkoneksi ke pengaturan perjalanan kereta bahkan juga terkoneksi ke sistem pengereman/ akselerasinya seluruh kereta yang beroperasi. Jadi kereta MRTJ pada kondisi normal nge-rem dan nge-gas nya dikendalikan oleh sistem persinyalan. 

Teknologi signaling system yang akan digunakan di MRTJ yaitu CBTC, sehingga masinis/ driver yang ada di kereta pada saat sistim persinyalan otomatis ini berfungsi dengan normal maka tugas driver ini cuma tutup pintu kereta aja, selebihnya diatur oleh sistem signaling ini. 

Platform Sliding Door ( PSD) juga akan terpasang di seluruh stasiun ini juga terkoneksi dengan Signalling System, jadi buka tutupnya PSD dan pergerakan kereta ini diatur dan mengandalkan Signaling System. Ini yang jelas berbeda dengan system di KRL Jabodetabek yang ada saat ini.

Sistem informasi ke penumpang juga akan tersedia (Passenger Information Display System) dan informasinya terkoneksi dengan Signalling System, sehingga informasi yang disampaikan di PIDS ini  akan sangat akurat berdasarkan hal ter-update yang terjadi di lapangan. 

Penumpang harus cepat dan teratur dalam pergerakannya karena gerak kereta juga cepat. Tidak perlu khawatir akan hal ini karena kereta akan berangkat apabila penumpang sudah benar-benar keluar dan masuk ke kereta dengan aman dan semua pintu pastikan tertutup sempurna. Jadi headway 5 menit ini memang berdampak pada harus cepatnya pergerakan penumpang di stasiun dan masuk-keluar kereta. Strateginya adalah kita menyediakan batas antrian, dan pengaturan flow penumpang di stasiun, anjuran bagi penumpang untuk mematuhi flow penumpang saat naik dan turun kereta sangat penting untuk dipatuhi, campaign ini sudah mulai ke masyarakat pengguna KRL Jabodetabek dengan membiasakan memberi prioritas pada penumpang yang turun terlebih dahulu. 

Transisi budaya harus melalui campaign yang kuat untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa melanggar itu memalukan bahkan diekstrimkan dengan istilah kampungan dan harus dipermalukan secara sosial. Itu yang dulu juga dilakukan di KCJ pada awal penerapan ticketing system yakni memaksa orang untuk memvonis secara publik atas pelanggar, ini tidak bisa oleh operatornya, tetapi harus ditumbuhkan oleh masyarakat pengguna, sehingga efeknya akan lebih kuat sebagai kesadaran sosial, bukan paksaan.

Dalam transisi budaya terkait budaya antri, MRTJ menerapkan sistem ticketing yang ketat dan memaksa seluruh pengguna melalui gate saat akan memasuki area stasiun. Antri naik turun kereta ini harus dibudayakan dengan campaign, kesadaran masyarakat bisa dipaksakan dengan sistem tetapi tidak sepenuhnya dapat di-cover oleh sistem.

Salah satu upaya kita adalah dengan terus melakukan sosialisasi untuk mendahulukan penumpang turun, dan membiasakan penumpang menunggu di
depan pintu Platform Sliding Door dengan tertib sesuai jalur antrian. 

Harapan saya masyarakat ikut menjaga kebersihan di stasiun, di area stasiun dan di dalam kereta selama perjalanan, menggunakan fasilitas umum yang disediakan dengan tertib, tidak mengotori dan tidak merusaknya.MRTJ juga akan mengoperasikan CCTV di seluruh titik area stasiun dengan tujuan agar sedini mungkin kita dapat melihat perilaku pengguna/ penumpang dan menindak dengan bukti apabila ada pelanggaran/ pengrusakan.

Kereta MRTJ dilengkapi pintu emergency di kabin masinis, mengarah langsung ke depan kereta, ini standar internasional untuk kereta yang akan beroperasi di tunnel, sehingga saat emergency apabila kereta tidak dapat berhenti di stasiun, penumpang dapat keluar dengan tertib melalui pintu emergency ini dan melanjutkan berjalan ke stasiun teraman terdekat dengan kawalan/arahan petugas. Track kita pun di-design untuk aman dilalui penumpang dengan penerangan yang cukup dan aman untuk orang berjalan. Harapan kita penumpang dapat dengan tertib mengikuti prosedur ini, seluruh emergency procedure akan sosialisasikan dengan jelas. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Transport Associate at Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia,Content Contributor @transportforjakarta  

MRT Jakarta akan menggunakan teknologi Communications-Based Train
Control
(CBTC), sebuah persinyalan dan sistem safety pengontrolan kereta. Sistem ini memaksimalkan kerapatan kedatangan kereta nantinya. Secara tidak langsung, keuntungannya bisa mempersingkat waktu tunggu dan juga bisa meminimalkan lamanya gangguan yang terjadi pada kereta di perlintasan karena sistem ini bisa diketahui secara akurat di mana posisi kereta. 

Jika dibandingkan dengan transportasi publik yang ada sekarang jelas berbeda dengan MRT, contohnya Kereta Rel Listrik (KRL). Pergerakan sistem lokasi KRL sejauh ini hanya diketahui berada di antara stasiun apa dan ke stasiun apa.

Maximum headway yang ditawarkan MRT tentu akan menguntungkan penumpang. Jadi nantinya maksimal seseorang menunggu kereta yang akan datang setidaknya tidak lebih dari lima menit. Menurut saya memang seharusnya suatu kereta perkotaan memiliki headway lima menit. Kereta di Singapura bisa 2-3 menit. Jadi sistem waktu yang ditawarkan MRT kalau memang konsisten 5 menit sangat bagus dibandingkan dengan Malaysia. Headway MRT malaysia pada umumnya 7-9 menit. Tentu yang menjadi perhatian saya semoga ini bisa konsisten.

Budaya desak-desakan tidak bisa dilabelkan berdasarkan negara yang ada. Itu semua tergantung keadaan. Di Jepang yang diagungkan soal ketepatan waktu, kenyataannya juga berdesak-desakan kok saat jam sibuk. Menurut saya, setidaknya kita sudah bisa menjadi saksi revolusi budaya bertransportasi publik yang telah dicontohkan KRL Jabodetabek. Saat ini budaya antri kita mulai membaik karena tidak terlalu berdesak-desakkan. Walaupun kita belum sesempurna apa yang kita lihat di Singapura, setidaknya perubahan budaya menjadi lebih baik itu bukanlah hal yang tak mungkin.

Sekali lagi MRT bukanlah hal yang baru. Kebaruannya hanyalah transportasi publik ini di bawah tanah. Saya yakin masyarakat Indonesia bisa menyesuaikan budayanya, terbukti dari masyarakat kita yang secara perlahan sudah bisa menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi pada KRL Jabodetabek. 

Di KRL tak semua gerbong ada pengawasan. Berdasarkan analisis pantauan
kita, di Tansjakarta contohnya koridor 1 saat jam sibuk sore hari, sebagian besar masyarakat juga mulai tertib mengantri untuk masuk halte.

Persoalan transportasi kenyataannya banyak. Tanda tanya besar saya adalah bagaimana masyarakat termasuk pemerintah konsisten menghargai orang-orang yang bertransportasi publik? Saya ambil contohnya adalah jalur Transjakarta. Budaya melanggar jalur khusus bus termasuk budaya tak menghargai orang yang bertransportasi publik. Begitu juga budaya yang menurut saya masih setengah-setengah dilaksanakan oleh pemerintah dalam memberi hukuman kepada pelanggar yang masuk jalur khusus bus Transjakarta.

Berkaitan dengan pengguna transportasi publik menurut saya sudah menuju ke hal yang positif. Transportasi publik yang manusiawi kini mulai ada di Indonesia semenjak revolusi dari PT KCI dan diikuti dengan pembaharuan bus Transjakarta.

Harapan saya semoga MRT menjadi bagian dari keluarga perusahaan transportasi publik di ibukota yang berkedudukan sama dengan perusahaan transportasi publik terdahulu. Saya berharap MRT tetap menjaga nilai positifnya dalam mengkampanyekan indahnya bertransportasi publik. Less gimmick, but wider influence. (win)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Civil Engineer Universitas Indonesia, Pemerhati Isu Tranportasi Publik

Saya adalah salah satu commuter yang terkadang (dalam titik tertentu malah “selalu”) ragu untuk menggunakan tranportasi apa yang sebaiknya yang saya gunakan untuk menunjang aktivitas keseharian saya. Saat ini saya bekerja di bilangan Jakarta Pusat yang syukurnya untuk menuju kantor saya tinggal memilih salah satu dari  sekian banyak opsi transportasi yang saya punya. Keraguan ini muncul tentu setelah mempertimbangkan banyak aspek.
 
Hal yang menjadi prioritas saya (dan mungkin juga bagi pembaca) untuk memilih transportasi publik tentunya adalah kenyamanan dan keselamatan. Ini menjadi penting karena prinsipnya adalah kita menyerahkan nyawa kita ke sistem transportasi yang akan kita gunakan.

Bagaimana transportasi publik menjamin kita sampai di tujuan dengan nyaman dan aman tentu menjadi tantangan bagi penyedia layanan. Bagaimana tidak, mereka harus memastikan setidak-tidaknya akses naik dan turun halte dan stasiun yang jelas dan nyaman, bus atau kereta yang tidak ugal-ugalan, tidak ada copet, peta jalur yang jelas dan informatif, pramudi yang humanis, hingga skema emergency yang informatif bila sewaktu-waktu diperlukan. Tentu saya berharap MRT Jakarta sudah mempertimbangkan ini, bila perlu menjadikan kenyamanan dan keselamatan ini menjadi kode etik perusahaan.

Selanjutnya adalah soal tarif. Harap dimengerti saya bukanlah generasi milenial yang seenak jidat menunjuk salah satu barang di mall terkenal, lantas barang tersebut menjadi milik saya. Tarif ini menjadi prioritas selanjutnya sehubungan dengan persentasi alokasi bulanan yang harus saya keluarkan untuk mobilitas keseharian saya. Saya akan berpikir untuk beralih ke transportasi pribadi jika besar ongkos/ tarif transportasi publik lebih mahal dari biaya bensin untuk mobilitas keseharian saya. Pertimbangan tarif ini menjadikan saya selalu ragu
untuk memilih model transportasi apa yang sebaiknya saya gunakan.

Untuk itu saya memohon, tarif MRT Jakarta janganlah mahal-mahal. Jangan tambah keraguan saya. 

Bicara tentang pengawasan dalam sistem transpostasi publik. Menurut saya, tidak bisa dipungkiri saat ini sistem transportasi publik kita mutlak sangat membutuhkan ini, anda-anda sekalian tentu sudah tidak asing dengan pencopetan, pencopetan, dan masih banyak lagi di bus/ kereta. Untuk itu, dalam keadaan tertentu sistem pengawasan harus sangat keras dan ketat terutama menyangkut kenyamanan dan keselamatan penumpang. Namun juga dituntut humanis untuk memberikan rasa perikemanusian terhadap penumpang. 

Pada akhirnya, kita sebagai penumpang harus bisa memahami kendala yang
dihadapi para penyedia transportasi publik. Kita mungkin tidak akan pernah peduli bagaimana usaha penyedia transportasi publik memastikan kita aman dan selamat sampai tujuan, bagaimana mereka bersabar menghadapi kelakuan kita commuter yang sangat beragam terutama penumpang yang meresahkan, dll. 

Untuk itu, kita sebagai commuter harus bisa saling membantu. Kita harus mematuhi aturan main yang dilakukan oleh penyedia layanan. Misalnya antri saat masuk stasiun, saat tap in tap out gate, saat masuk dan keluar kereta, antri di tangga dan escalator dengan memberikan sebelah kanan untuk penumpang yang buru-buru. Selain itu, kita harus bisa menahan diri untuk tidak menghasilkan karya seni yang tidak diperlukan di sepanjang koridor transportasi publik, MRT misalnya. Karena sebaik-sebaiknya karya seni tersebut adalah sesuatu yang akan mengganggu pemandangan khalayak umum. Hal ini tentu adalah kebiasaan yang wajib kita budayakan. Untuk itu, sistem transportasi
publik kita akan maju dan bermartabat. (win) 
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas             Ironi yang Tak Pantas Dibiarkan Berulang             Pemerintah Harus Tunjukan Penggunaan Utang  Secara Produktif             Strategi Menjawab Permasalahan Industri Pertanian di Indonesia             Kelaparan Tidak Mengherankan, karena Garis Kemiskinan Terlalu Kecil.