Larangan Lagu Barat di Jawa Barat oleh KPID Efektif?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 March 2019 15:30
Belum lama ini Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat, mengeluarkan suatu kebijakan untuk membatasi siaran beberapa lagu barat melalui surat edaran. Lagu-lagu tersebut dibatasi lantaran dianggap bermuatan unsur seks di dalam liriknya, yang disebut dapat memberikan dampak negatif bagi anak-anak yang mendengarkannya.

Sejumlah lagu yang siarannya dibatasi berjumlah 17 lagu. Diantaranya lagu berjudul Dusk Till Dawn (Zayn Malik), Love Me Harder (Ariana Grande), Plot Twist (Marc E. Bassy), Shape of You (Ed Sheeran), Versace On The Floor (Bruno Mars), Till it Hurts (Yellow Claw), Bad Things (Camila Cabello ft Machine), Your Song (Rita Ora), Wild Thoughts (DJ Khaled ft Rihanna), dan sebagainya.

Lagu-lagu tersebut hanya dapat disiarkan pada waktu dewasa, yakni mulai dari pukul 22.00 sampai pukul 03.00 WIB. Kebijakan tersebut hanya berlaku bagi lembaga penyiaran, seperti radio misalnya. Pertanyaannya, apakah cara KPID membatasi lagu barat bermuatan sensual efektif untuk menghilangkan dampak buruknya pada anak-anak?

Padahal banyak aplikasi musik di smartphone yang membuat anak-anak dapat dengan mudah mengakses lagu-lagu tersebut, seperti spotify, joox, youtube, dan lain sebagainya. Terlebih kebijakan pembatasan lagu sensual tak berlaku bagi situs atau aplikasi smartphone. 

Karena seperti yang kita ketahui, remaja atau anak-anak yang usianya saat ini masih di bawah umur, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ponsel mereka ketimbang mendengarkan radio atau siaran TV daerah yang berpotensi menyiarkan lagu-lagu sensual. 

Tak hanya itu, kebijakan tersebut juga menuai pro dan kontra, khususnya bagi mereka yang bekerja di radio. Bahkan penyanyi top dunia sekaligus pelantun lagu "Just The Way You Are', Bruno Mars, juga ikut menyindir kebijakan itu dalam cuitannya di akun Twitter miliknya. Tidakkah kebijakan pembatasan lagu barat oleh KPID dapat mematikan radio yang biasa menerima request 17 lagu yang dibatasi dari para pendengarnya?

Pasalnya, banyak orangtua yang telah membekali putra putri mereka dengan ponsel pintar sejak dini. Sehingga bukan masalah bagi anak-anak untuk mendengarkan lagu yang mereka suka dan bermuatan seksual melalui aplikasi atau situs musik lainnya. Lantas, seberapa besar pengaruh musik bermuatan unsur seks terhadap perilaku anak?

Pada dasarnya, kebijakan mengenai larangan atau pembatasan lagu-lagu yang bermuatan seksual dalam lembaga penyiaran tidak hanya dikeluarkan oleh KPID Jawa Barat. Di beberapa negara lainnya seperti Malaysia dan Singapura juga pernah melakukan larangan atau pencekalan terhadap lagu yang dianggap kelewat batas dalam memaparkan unsur seks di dalam liriknya. 

Jika demikian, apakah kebijakan yang dikeluarkan KPID dengan tujuan agar anak-anak tidak terkontaminasi budaya barat yang bebas, sudah benar? Atau malah justru sebaliknya, tidak berguna? Lalu, seperti apa cara yang efektif untuk melawan peredaran musik yang dianggap memiliki muatan tak pantas dan tak mendidik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Kebijakan KPID untuk melakukan pembatasan atas beberapa lagu barat yang mengandung lirik yang bersifat “seksual” atau “dewasa” pada dasarnya harus diapresiasi sebagai peran lembaga pemerintah yang positif demi kebaikan generasi muda Indonesia. 

Sebagaimana sebelumnya pernah juga memberikan informasi tentang permainan-permainan yang tidak layak anak karena mengandung kekerasan dan unsur seksualitas. Namun perlu ditelaah lebih jauh, bahwa pembatasan game dan lagu tidak serta merta akan memberikan hasil efektif terhadap tujuan utama membendung perilaku cepat dewasa anak Indonesia.

Fenomena cepat dewasa tidak semata-mata berkaitan dengan lirik lagu, melainkan karena masalah pubertas dini. Saat ini masalah pubertas dini kerap diabaikan, dan para penanggung jawab atas keselamatan anak, justru lebih fokus membendung faktor sekunder lain yang tidak akan memberikan dampak apapun selama faktor penyebab utama tidak diatasi. 

Masalah pubertas dini remaja Indonesia mendorong mereka menjadi lebih cepat matang dan lebih cepat tertarik kepada hal-hal yang mengandung unsur seksualitas. Berbagai faktor pemicu antara lain asupan nutrisi, pola hidup, pergaulan, ekonomi, minimnya pendidikan reproduksi, serta paparan tayangan televisi dan media. 

Dengan demikian, sekedar membatasi beberapa lagu dengan lirik sensitif saja, menurut saya tidak cukup untuk mengatasi masalah yang dikhawatirkan KPID. Sekadar mengendalikan lagu barat, namun membiarkan pubertas dini, merupakan tindakan yang tidak efektif. Karena tayangan-tayangan penuh cinta asmara serta lagu-lagu Indonesia yang dewasa masih terus tersiarkan. Artinya, kebijakan itu tidak memecahkan persoalan secara tuntas.

Cara efektif untuk melawan peredaran musik yang mengandung muatan dewasa juga dipengaruhi oleh bagaimana orang tua dan orang dewasa mampu mengontrol anak untuk memilih musik yang “ramah” pada anak, yang kontennya berisi lirik-lirik sederhana, bersifat positif dan senada dengan anak-anak. Lirik lagu dibuat agar mudah dihafal dan sesuai dengan karakter serta dunia anak. 

Masalah lain muncul ketika tidak tersedia lagu anak yang benar-benar indah dan enak didengar. Lagu-lagu barat yang nada iramanya benar-benar bagus, bisa saja tetap dinyanyikan dengan mengganti liriknya agar sesuai dengan anak. 

Oleh karena itu, industri musik kreatif juga sudah seharusnya mulai “concern” kembali terhadap perkembangan lagu-lagu anak indonesia, tidak hanya terfokus kepada lagu-lagu barat yang dianggap hits serta memiliki nilai jual yang tinggi. Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba memproduksi lagu anak, namun mengalami kesulitan dalam memasarkannya. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat musik, mantan wartawan Rolling Stone Indonesia, manager band Seringai

Kebijakan itu memang wewenang dari KPID dalam rangka mengawasi konten siaran radio, saya menghargai hal tersebut. Hanya saja dengan perkembangan teknologi digital saat ini upaya sensor lagu tersebut terkesan mubazir. Karena seiring perkembangan jaman musik apapun dapat diakses dengan sangat mudah.

Walaupun siaran lagu barat yang bermuatan sensitif dibatasi, para penggemar musik masih dapat mengakses 17 lagu tersebut melalui YouTube atau music streaming service lainnya, seperti Spotify dan Apple Music.

Sehingga kebijakan yang dibuat oleh KPID tersebut tidak efektif. Karena seperti saya bilang di atas tadi, lagu-lagu yang disensor tersebut bisa diakses dengan mudahnya di berbagai platform digital.

Sementara terkait dengan pertanyaan apakah kebijakan itu akan mematikan radio atau tidak, rasanya tidak akan sejauh itu dampaknya bagi radio. Karena untuk radio sendiri sudah ada mekanisme bagi lagu-lagu yang berkategori “dewasa” di lirik-liriknya. Yaitu dengan memutarkan lagu yang versi “clean” alias sudah diedit dan terbebas dari lirik-lirik vulgar tadi. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nailul Huda

Peneliti INDEF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Soal Subsidi MRT: Negara Jangan Pikir Profit, Tapi Benefit             Perjelas Kewenangan Berbasis Wilayah             Indonesia Masih Menarik Sebagai Negara Tujuan Investasi             Subsidi MRT Bukan untuk Orang Kaya             Pemerintah Harus Hitung Risiko Utang BUMN             Pembentukan Holding BUMN Harus Selektif             BUMN Jangan Terjerumus Jadi Alat Kepentingan Penguasa             MoU KPU-PPATK Jangan Sekadar Aksesoris             MoU KPU-PPATK Jangan Hanya Formalitas             Pemerintah Harus Promosikan Tempat Wisata Terlebih Dahulu