LGBT dan Interseks, Bom Waktu yang Abai Disadari
berita
Humaniora

Sumber Foto: Galena

05 October 2017 07:00
Penulis
Pelaku LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Interseks) seringkali merasakan diskriminasi. Di Aceh, dua gay mendapat hukuman cambuk 85 kali-- setelah diduga melakukan hubungan seksual. Aceh jadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memberlakukan hukum Syariat Islam dan menolak LGBTI. Diskriminasi juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Citra pelaku LGBT lekat dengan prostitusi dan seks bebas. Tapi banyak juga kaum LGBTI berprestasi di bidangnya. Dede Oetomo, Doktor Sosiologi lulusan Cornell University dan penerima Felipa de Souza Award. Ada pula Mami Vinolia, seorang transgender cum aktivis kemanusiaan yang merawat penderita HIV/AIDS di pantinya, di Yogyakarta.

Sebagian besar masyarakat Indonesia kontra dengan LGBTI dan menjadikan pasal satu Pancasila sebagai penguat logika: Ketuhanan Yang Maha Esa. Firman semua agama pun melarang hubungan seksual sesama jenis.

Tetapi, Pancasila butir ke-2 menyebut Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Artinya, semua warga negara memiliki hak yang sama dan dilindungi secara hukum.

Melaksanakan butir pertama Pancasila adalah harga mati. Tetapi bullying tetap terjadi dan dialami kaum LGBTI kendati berdasarkan butir kedua Pancasila, negara wajib merangkul semua golongan tanpa membedakan dalam hal apapun. Bagaimana pemerintah harus menyikapi LGBT agar antarbutir dasar negara tidak terkesan kontradiktif?

Masalah lainnya, banyak anak-anak Indonesia yang lahir dengan kelainan genetik di organ vital, namanya interseks. Itu adalah variasi karakteristik kelamin (termasuk kromosom, gonad, dan alat kelamin) yang membuat bayi tidak dapat diidentifikasikan sebagai laki-laki atau perempuan.

Interseks dalam bahasa medis adalah pengacuan serangkaian kondisi seorang manusia yang memiliki seks genetik (kromosom) dan fenotipik seks (alat kelamin) tidak cocok, berbeda dari standar definisi umum laki-laki atau perempuan. 

Catatan Intersex Society of North America, rasio kasus interseks 1:100, dari 100 bayi yang lahir, ada satu peluang terjadi interseks. Orang yang mengalami interseks tak selalu ditemukan saat baru dilahirkan, ada juga yang tersadar saat masuk masa pubertas. Di Amerika, bayi-bayi interseks dioperasi sejak lahir dan orangtua menentukan jenis kelaminnya. Seorang dokter Amerika yang lahir interseks mengalami derita karena 20 kali operasi kelamin. Ketika dewasa dia menjadi dokter pertama yang melakukan riset interseks di dunia.

Di Tegal, Jawa Tengah, tiga anak dalam satu keluarga mengalami interseks, hingga trauma mengalami bullying, dan berhenti sekolah. Tahun 2004, Antara menyebut ada 700 kasus interseksual di Indonesia. Angkanya tentu meningkat di tahun 2017. 

Dengan potensi peningkatan interseks di Indonesia, sepertinya pemerintah bakal abai merumuskan beleid soal ini mengingat banyak sektor yang masih karut marut dan dianggap prioritas untuk diselesaikan. Masa depan anak bangsa yang interseks bakal suram karena rawan bullying atas nama keyakinan dan norma sosial, padahal yang mereka alami adalah pemberian sang Pencipta.

Bagaimana menurut Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengacara, Pendiri Organisasi Omahtani, Anggota Kehormatan Arus Pelangi, Peraih Yap Thiam Hien Award

Di KUHP warisan kolonial, ada pasal yang memidanakan ”Perbuatan cabul anak di bawah umur”. Nggak usah main seks, memegang alat kelamin saja nggak boleh. Pasal itu berlaku untuk lelaki sesama jenis (LBGT) maupun yang heterogen. Itu sama sekali tidak diskriminatif. Nah, ditambah lagi dalam UU Anak, melakukan seks dengan anak di bawah umur 18 tahun jelas dilarang dan diancam bui. Jadi secara regulasi negara tidak mendiskriminasi pelaku LGBT, justru menjadi pihak yang mengatur hukum agar tidak ada promosi dan tidak memberi peluang perilaku LGBT kian bebas.

Kalau negara tidak mengatur, bagaimana jika keluarga kita menjadi LGBT? Saya nggak mau dong. Selama ini, menurut saya, tidak ada tekanan. Baru akhir-akhir ini LGBT jadi komoditas politik setelah Pilpres 2014. Kemudian muncul radikalisme agama yang sangat puritan. Agama apapun melarang LGBT. Tapi kan tidak perlu dibesar-besarkan, artinya tidak menjadi sebuah sikap antipati.

Peran NGO sangat penting. Di satu sisi NGO bagus karena mengadvokasi saat ada diskriminasi terhadap LGBT. Tapi NGO juga memicu masalah semakin runcing ketika melontarkan ide melegalkan perkawinan sesama jenis. Itu loncatan terlalu tinggi dan butuh waktu panjang. Kalau saya nggak sudi.

Di tengah situasi ini, kita bicara persamaan hak pada Pasal 2 Pancasila. Ya nggak mungkin, sebab bagaimanapun ada Pasal 1; Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi sebetulnya, sepanjang tidak terjadi diskriminasi dalam arti tidak memaksakan hukum, aturan yang melarang LGBT boleh-boleh saja.

Tugas negara salah satunya masuk ruang privat dan nggak ada persoalan kalau kemudian ada batasan. Jika tidak ada pembatasan, lalu ada promosi bahwa LGBT bukan sesuatu yang salah, apa jadinya generasi penerus kita ke depan?

Selama ini saya tidak merasa didiskriminasi, sebab dalam seksual saya tidak melakukannnya di ruang publik. Jadi nggak usah dilebih-lebihkan. NGO-nya saja yang sudah keterlaluan, tiba-tiba sangat maju sekali berpikirnya. Seolah-olah hidup ini bebas merdeka dan negara nggak boleh masuk di kehidupan privat. Kalau negara tidak boleh masuk, gimana pembagian hartanya, pembagian hak waris anak kalau tidak dilindungi oleh hukum.

Apalagi, munculnya isu LGBT selalu bersamaan berkaitan terjadinya kasus pedofilia dan kemudian dibesar-besarkan. Misalnya kemudian diungkap lagi transaksi seksual sesama jenis melalui internet.

Menurut saya, gerakan NGO mengadvokasi pelaku LGBT yang mengalami diskriminasi bagus. Apalagi banyak pelaku LGBT yang tidak pernah bermasalah, malah berprestasi, seperti DR Dede Oetomo. Tapi yang saya tidak suka, impian NGO terlalu tinggi. Sangat tidak taktis kalau menuntut persamaan hak hukum sampai melegalkan perkawinan sesama jenis. Tipikalnya jadi galak banget. Karakteristik lokal indonesia ini beda dengan negara lain. Lebih baik menjelaskan bahwa tidak semua pelaku LGBT ngaco, LGBT bukan sesuatu yang menakutkan, tidak menggigit, tidak menularkan rabies. Itu lebih penting, jangan tuntutannya yang bukan-bukan.

Banyak orang menghormati karena saya melakukan advokasi reforma agraria di Omahtani. Kampanye seperti bahaya HIV/AIDS itu lebih penting. Sebab banyak orang permisif terhadap prostitusi waria. Saya tidak setuju teman-teman pelaku dan NGO malah mempromosikan LGBT. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dokter Psikiater

Interseks harus ditangani integratif oleh bagian Urologi, Kebidanan, Andrologi, Psikiater. Mereka akan menjalani terapi hormon. Urologi dan Bedah Plastik bekerjasama dalam operasi bedah kelamin. Dokter Kebidanan meng-USG apakah ada tanda-tanda ovarium. Psikiatri akan mendampingi.

Di Eropa, rasio operasi kelamin dari laki ke perempuan per tahunnya 1:20. Kalau perempuan ke laki-laki 1:100ribu. Nah, di Indonesia tidak tercatat detil. Dari media yang saya baca tercatat ada 40 kasus.

Masalahnya, kenapa interseks di bully? Karena kita tidak mengerti etiologi (studi tentang asal muasal). Manusia lahir dengan gen pembawa yang diketahui dari pemeriksaan kromosom. Laki-laki berarti XY dan perempuan berarti XX.

Lalu, selama masa kehamilan dan saat lahir terjadi stres berat-- hormon kortisol-nya meningkat, sehingga mempengaruhi perkembangan gonad.

Gonad menghasilkan hormon, itu mempengaruhi. Kita lihat banyak herediter, penyakit genetik. Ada XXY, kalau kromosom itu berarti mempengaruhi perkembangan genetalia-nya juga. Itu ngomong gen. Sekarang soal hormon. Itu dipengaruhi banyak hal, bisa makanan/lingkungannya.

Contoh, Perempuan hormon estrogen, laki-laki androgen. Ada kelainan pada anak perempuan mengalami kerusakan hormon estrogen, malah kebanjiran hormon androgen. Karena saat diperiksa kromosomnya XX, lalu harus jadi perempuan. Nggak bisa begitu. Gender bukan hanya gen. Identitas gender itu gen ditambah lingkungan dia bertumbuh, termasuk hormon, cara didik orangtua,  mengalami trauma/tidak, interaksi genetik, dan lingkungan.

Anak laki-laki semasa perkembangannya dipengaruhi hormon androgen, ada kelainan dimana lutenizing hormon menghasilkan hormon estrogen-- jadi lebih feminim dan muncul seks sekundernya kayak perempuan.

Membahas interseks kompleks sebab bukan cuma genetik. Ada yang bilang idiopatik, belum tahu penyebabnya. Tujuan kita seharusnya menerapi mereka, sebab untuk mengubah gender ada syaratnya dan tidak boleh berekses gangguan jiwa, Mengubah identitas seksual itu harus ada dasarnya. Kita lakukan pendampingan. Secara genetik begini, secara hormonal seperti ini.

Kalau dari lahir, cuma bisa lihat dari seks sekunder, ada penisnya/nggak, bisa periksa kromosom. Disini jarang dan mahal, sedikit yang melakukan. Kalau di luar negeri dari lahir sudah diperiksa.

Interseks tak otomatis dipengaruhi seks sekunder. Kita tak bisa bilang, “Lahir berpenis berarti laki-laki." Interseks itu identitas seksual-- jadi merasa laki-laki/perempuan. Perubahan gender tak bisa dilakukan saat kecil, belum bisa memutuskan. Saat dewasa harus didampingi Psikiater dan Andrologi, Urologi, Kebidanan untuk memastikan kromosom, hormon bagus/tidak, secara psikologis ada gangguan/tidak.

Di Eropa, pada awal operasi besar-besaran terhadap transgender atau interseks, kerap terjadi setelah ganti kelamin malah minta di-euthanasia (suntik mati). Mereka tidak melewati fase pendampingan. Ada fase inisial sebelum seseorang mengubah jenis kelaminnya, harus melewati beberapa tahap pendampingan psikologis, memastikan ada/tidak gangguan identitas seksual.

Bayi bisa/tidak diidentifikasi interseks, lihat perkembangan si bayi, orangtua lihat anaknya laki-laki. Nah, anaknya akan bermain sama anak-anak yang satu gender. Anak-anak interseks, pemilihan permainannya berlawanan.

Kenapa interseks baru diketahui saat remaja, sebab di usia itu hormonal muncul. Bila perempuan pada saat remaja muncul janggut, jakun, seharusnya orangtua tahu dari kecil anaknya interseks.

Ada juga hermaprodit, itu genital ambigu, dia punya penis yang kecil atau klitoris yang membesar.  Kasus itu yang sering terjadi. Pasien merasa malu atau masih percaya kena kutukan, itu yang menghalangi mereka mendatangi dokter. Akhirnya tidak tahu bahwa itu interseks. Zaman dulu belum ada penelitian soal interseks sehingga mereka dikucilkan. Saya pernah satu kali mendampingi pasien interseks. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dokter, Feminist, Mahasiswa S3

Banyak kasus undocumented karena stigma. Seringkali yang utama masalah kromosom. Jadi kromosom seks seharusnya laki-laki XY tapi genotipnya yang keluar perempuan-- sehingga punya klitoris sangat besar. Padahal sebenarnya klitoris itu adalah penis. Seringkali begitu. Lebih jarang sebaliknya. Misalnya, dia seharusnya perempuan (XX) tapi klitorisnya sangat besar, seperti tadi itu lebih jarang. Dia itu laki-laki, tapi dia genotipnya perempuan.

Seseorang berkelamin ganda sebenarnya secara kromosonal dia laki-laki, tapi genotipnya perempuan karena reseptornya tidak responsif. Ada yang muncul ketika remaja, sebab waktu kecil belum berperan hormon laki-lakinya. Ketika remaja produksi hormon lelakinya lebih banyak dan lebih membesar—sehingga kelihatan vaginanya abnormal.

Kesehatan orangtua bisa diturunkan, biasanya ada mutasi reseptor dan lainnya. Sehingga tidak responsif terhadap produksi hormon laki-lakinya, atau bisa jadi hormonnya tidak diproduksi dengan cukup banyak. Kalau dulu, prosedurnya di perempuan-kan.

Sedangkan saat ini, jikalau meragukan identitas seksual, pemeriksaan kromosom tidak sesulit dulu. Begitu bayi lahir dan meragukan, maka bisa dicek dia perempuan atau laki-laki secara kromosonal. Kalau perlu diterapi hormonal. Keputusan operasi diambil belakangan. Itu harus responsif intervensi non bedah dulu. Begitu protapnya. Karena protap berubah seiring perubahan zaman. Kalau dulu kan karena pemetaan kromosom itu susah dan yang memutuskan keluarga.

Gender bisa dibentuk oleh orangtua. Konflik pada dirinya, kalau balik ke naturalnya lagi, terjadi konflik pada diri sendiri. Tidak inline dengan gender itu sejak awal. Kalau di Indonesia, dokter  sendiri masih jarang yang terbuka membicarakan interseks. Saat saya praktek di Radiologi RS Dr. Soetomo, Surabaya, dan mendapat pasien interseks, hal ini dibahas. Tapi kalau tidak ada kasus itu, ya tidak dibahas secara khusus.

Setelah tahu masalah kromosom genetika baru kita belajar, meski kasusnya banyak tapi jarang ketemu, satu dibanding sekian. Saya pelajari dari jurnal, jadi secara teori. Untung-untungan dapat kasus aneh. Nah, saya selalu dapat kasus aneh.

Banyak dokter jumpai kasus aneh, tapi diam dan gak mau berpikir. Kalau saya ketemu kasus aneh, ya saya buka referensi. Banyak yang tidak peduli, sebenarnya kan kasus genetika itu seperti mengocok dadu, tak ada orang yang perfect. Pasti ada melesetnya. Itu yang tidak disosialisasikan.

Prinsipnya, masalah interseks masih kurang dikenali, bahkan di kalangan medis pun tidak semua dokter tahu dan tak semua dokter menerima secara terbuka. Apalagi bidan dan perawat. Belum ada rumah sakit yang benar-benar konsen pada persoalan itu sebab dianggap tidak menghasilkan uang. Kalau interseks diketahui dari kecil lebih mudah penanganannya. Namun seringkali baru ketahuan saat dewasa. Kalau secara genotip dia perempuan dan secara fenotip (penampilan) dia laki-laki, setelah menstruasi baru kelihatan. Itu seolah kencing darah, padahal menstruasi.

Masalah pun terjadi jika orangtua tidak support aaknya yang interseks. Di banyak kasus, justru keluarga miskin lebih nrimo dan tidak menstigma anaknya. Interseks ini tidak masuk dalam kategori transgender, sehingga pengalaman psikologisnya gak sama. Di bagian Andrologi ketemu kasus itu tidak setiap hari, kadang cuma satu orang.

Dokter memandang LGBT aja dah ekstrem banget, tak banyak juga yang terbuka wawasannya. Dulu di RS. Dr. Soetomo ada ahli Andrologi dan dia memang konsen, sehingga dokter mendapat informasi dari dokter itu.

Dosen saya dulu memang khusus Andrologi. Di Indonesia, dokter jenis ini minoritas dan mereka harus benar-benar fokus dan pekerjaannya sangat detail. Bagian lainnya Urologi, tapi juga gak semuanya tahu. Benar-benar spesialis dan melakukan terapi hormonal ya bagian Andrologi.

Tidak ada kebijakan di Departemen Kesehatan RI terkait interseks, sehingga jangan-jangan BPJS juga tidak mengcover operasi kelamin. Karena kebijakan negara yang besar-besar aja belum beres. Pasti prevalensi angka kasus interseks akan meningkat dan banyak bayi-bayi terlahir baru. (fai)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dokter Psikiater

Kali ini saya akan berbagi pengalaman. Saya pernah mendampingi pasien interseks satu kali. Dia interseks sejak kecil, perempuan cantik dan rambutnya panjang. Tapi setelah remaja, mulai suaranya berat dan muncul kumis.

Dia dan orangtuanya datang, lalu periksa kromosom. Dia itu XX (perempuan), tidak ada sindrom apapun-- setelah diperiksa dan hormonnya tinggi.

Masalah dia, saat remaja muncul genital sekunder. Dia memiliki jakun dan suaranya berat. Saat diperiksa USG, dia memiliki ovarium. Tapi dia yakin laki-laki. Berpikir pun seperti laki-laki. Dari kecil hormonnya sudah ada. Akibatnya dia mengalami pergulatan batin. Dia ingin sekali mengubah kelamin, orangtuanya justru bilang, "Aduh nggak boleh, itu dosa".

Dia bingung. Secara fisik dia laki, tapi tidak punya penis. Saat ingin kencing, dia bingung mau masuk ke toilet laki-laki atau perempuan? Pergi ke toilet perempuan salah, karena dia berkumis dan tidak memiliki buah dada. Akhirnya, dia masuk ke toilet laki-laki dengan perasaan gerah. Sering terjadi dia terpaksa menahan kencing dan tidak mau minum air sebelum keluar rumah agar tidak ke toilet.

Sejak saya jadi dokter, baru ketemu kasus interseks ini. Dia remaja yang cerdas. Dia akan searching di internet mencari dokter yang tepat. Kalau dia menemukan nama dokter di internet, dia akan mengirim email kepada dokter di luar negeri. Dia akan konsultasikan sakitnya apa dan mengapa dia mengalami interseks. 

Sebelum dilakukan tindakan, saya mendampingi selama setahun. Dia sudah cek semua, mulai dari terapi hormon hingga menentukan di operasi atau tidak.

Dia sering bertanya tentang apa yang terjadi pada dirinya.
Tiga tahun dia membaca jurnal internasional soal terapi interseks. Dia rajin belajar dan banyak membaca. Dia sangat pintar. Saat mengalami depresi, dia justru akan terus-menerus bertanya. (fai)

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!