Komentar Hanung Bramantyo dan `Reza-Lagi Effect`
berita
Humaniora

Poster film "Benyamin Biang Kerok". Dok. Falcon Pictures

11 November 2017 13:00
Masak Hanung Bramantyo, sutradara laris itu, bilang begini: "Susah menjadi aktor itu. Apalagi aktor pria ya. Kalau perempuan kan ya sudahlah, ibarat kata asal lo cantik aja. Udahlah itu menjadi syarat." Lebih lanjut ia juga bilang: "Tapi aktor, laki-laki, itu syaratnya banyak banget, enggak cuma sebatas harus ganteng, tapi harus bisa memainkan banyak."

Komentar bernada seksis itu kontan mendapat tanggapan dari sejumlah aktris. Hannah Al Rashid merasa kecewa. "Dissapointing to say the least," katanya di Twitter. Bintang Pengabdi Setan Tara Basro mengunggah cuplikan omongan Hanung sambil bilang, "Seriously?" Sineas Dimas Djayadiningrat, "Temen sih temen, tapi sepertinya saya tidak setuju dengan statement beliau."

BACA JUGA: Bias Gender Di Film Horor Kita

Hanung kemudian meminta maaf sambil mengklarifikasi ucapannya tak serius. Ia berkomentar demikian dalam konteks ketika ditanya kenapa selalu bekerja dengan Reza Rahadian dan kenapa tidak cari bibit baru.      

Yang menarik ditelisik sebetulnya bukan semata komentar seksis Hanung. Namun bagaimana komentar tersebut muncul dan keberadaan Reza di tengahnya. Ada apa dengan Reza? 

Ucapan Hanung muncul akhir pekan lalu usai jumpa pers peluncuran film yang akan dibuatnya, Benyamin Biang Kerok. Yang didapuk menjadi Benyamin di film remake itu Reza Rahadian. Nah, ketika diumumkan nama Reza komentar yang segera muncul: "Dia lagi... dia lagi..." 

BACA JUGA: Pengkhianatan G30S/PKI, Antara Nobar Dan Remake

Komentar yang wajar karena selama ini Reza telah membintangi sejumlah biopic berperan jadi tokoh nyata, mulai dari Habibie, Tjokroaminoto hingga Kartono, kakak Kartini. "Reza-lagi Effect" juga lahir lantaran kesan yang muncul kebanyakan film Indonesia melulu dibintanginya. Fenomena ini persis kita rasakan ketika nama Tora Sudiro dan Lukman Sardi tenar-tenarnya sedekade lalu.

Dalam setahun, Reza paling banyak membintangi lima sampai enam film. Tahun ini sudah 80-an film liris. Tahun sebelumnya rilis 130-an film. Lalu kenapa muncul anggapan "dia lagi-dia lagi"? Apakah karena ia main film yang dapat banyak sorotan media, box office serta memenangkan penghargaan? Lalu, bukankah sorotan media, perolehan box office serta penghargaan tersebut lahir karena filmnya dibintangi Reza?          

BACA JUGA: Ketika Ustaz Keok Oleh Hantu Di Pengabdi Setan    

Komentar seksis Hanung jelas salah. Faktanya, ada juga aktris yang mumpuni aktingnya. Rasanya belum ada yang bisa menyamai kualitas Christine Hakim, bahkan Reza sekalipun. Namun dari sini kita juga bisa bertanya, adakah aktris masa kini yang telah menyamai kualitas Christine Hakim? Dian Sastro? Tara Basro? Acha Septriasa? Atau Hannah Al Rashid?   

Sepanjang kariernya sejak 2007, Reza telah main 43 film dan mengoleksi empat piala Citra. "Reza-lagi Effect" tak lahir serta merta. Ada proses panjang dan kerja keras yang ia lakoni. Pertanyaan sesungguhnya adalah: kenapa Reza bisa, namun aktor dan aktris lain tak memunculkan efek "dia lagi-dia lagi"?

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sutradara film

Dalam artikel berjudul  “Hanung Bramantyo: Saya Sampai Hari Ini Masih Mencari Bibit Baru” di Kompas.com, telah dikutip pernyataan saya “Susah menjadi aktor itu apalagi aktor pria ya. Kalau perempuan ya sudahlah, ibarat kata asal lo cantik aja. Udah lah, itu menjadi syarat.”. Kutipan tersebut telah membingkai diri saya seolah-olah saya merendahkan dan melecehkan profesi aktris perempuan Indonesia sebagai figur yang hanya mengekspos tubuh semata tanpa menggali sisi intelektualitasnya.

Terus terang, saya menyayangkan pihak Kompas.com hanya mengutip pernyataan saya tersebut tanpa menyertakan konteks peristiwa yang terjadi sehingga membuat kalimat saya menjadi bias tujuan. Konteks pernyataan saya diawali dengan sebuah pertanyaan kenapa saya masih saja bekerjasama dengan aktor Reza Rahadian dalam film Benyamin Biang Kerok produksi Falcon Pictures? Tidak adakah bibit baru aktor Indonesia? 

Saya menjawabnya, ada banyak bibit aktor maupun aktris baru yang berbakat di Indonesia, tapi sangat sedikit yang diterima oleh penonton pecinta film Nasional sehingga menjadikan populer sebagaimana Reza Rahadian. Seolah-olah banyak sekali syarat seorang aktor Pria untuk bisa come up di industri film Indonesia dibandingkan perempuan yang hampir tiap 2-3 tahun selalu muncul wajah baru.

Kalimat saya “Ibarat kata, asal lo cantik doang” dalam interview tersebut tidak dalam tujuan “menggampangkan”, atau bahkan dengan sengaja memposisikan perempuan semata-mata figur yang sekedar menjual tubuh saja. Kalimat tersebut mestinya tidak perlu diungkapkan dalam tujuan apapun karena ada pernyataan saya yang lain yang konteks dan esensinya sama dengan judul artikel di atas. 

Saya mengatakan dalam film Benyamin Biang Kerok yang akan rilis Maret 2018 bertepatan dengan ulang tahun Benyamin Sueb tersebut juga mengorbitkan aktris baru sebagai penjelmaan baru sosok Ida Royani yang selalu mendampingi Benyamin di film-filmnya. Memang saya belum mengungkapkan siapa aktris tersebut dalam konferensi pers Sabtu, 4 November 2017, dengan tujuan membuat penasaran pemirsa. Tapi upaya saya dalam mencari bibit baru aktor dan aktris baru di industri film Indonesia sudah saya nyatakan dalam konferensi pers. 

Saya juga menyatakan bahwa ada skema bagaimana mengorbitkan bintang baru agar muncul di permukaan, yaitu dengan menyandingkan bintang tersebut dengan aktor/aktris populer. Pada awal kemunculan Reza Rahadian di Industri film juga disandingkan dengan Revalina S Temat di film Perempuan Berkalung Sorban dan Bunga Citra Lestari di film Habibie dan Ainun. Sayangnya, pernyataan saya tersebut tidak dikutip secara lengkap yang menyebabkan tujuan kalimat menjadi bias.

Oleh karena itu saya ingin melakukan klarifikasi dan permohonan maaf atas kutipan pernyataan saya tersebut. Saya menyesalkan pernyataan tersebut bisa keluar dalam bingkai atau tujuan apapun. Saya sangat memahami bahwa profesi aktor maupun aktris tidak semata-mata menyoal tubuh. Saya justru menentang siapapun yang berupaya mengeksploitasi tubuh perempuan dalam tujuan apapun. Sikap saya tersebut saya tunjukkan dalam film-film saya Perempuan Berkalung Sorban, Tanda Tanya, Hijab, Rudy Habibie, dan terakhir film Kartini

Bahkan di film saya yang memposisikan laki-laki sebagai tokoh utama seperti Soekarno, Sang Pencerah, Rudy Habibie, saya selalu menyelipkan sosok perempuan dengan karakter independen dan setara.

Mohon maaf sebesarnya dan setulusnya saya sampaikan kepada para perempuan, Ibu, istri, dan para sahabat perempuan atas pernyataan saya yang terucap dan terkutip. Semoga ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Salam.

Catatan redaksi: Pernyataan Hanung Bramantyo ini semula dimuat di akun Facebook-nya. Dimuat kembali di sini setelah meminta izin dari yang bersangkutan. 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sutradara Film

Kalau ada orang menjadi intelektual karena otaknya, Reza Rahadian itu tubuhnya yang intelektual. Dia memiliki kemampuan adaptasi karakter sangat cepat, lalu melakukan peniruan model-model sangat cepat. 

Dia punya kelebihan mengadaptasi karakter dan meniru model lewat bahasa tubuhnya sangat cepat. Jadi dia memiliki kefasihan untuk mengadaptasi bahasa tubuh tokoh yang diperankannya. 

Di film Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015) yang saya sutradarai Reza berhasil memenuhi tantangan saya, menghidupkan karakter Tjokro sesuai masa itu (filmnya bersetting awal abad 20--red). Dia gampang diarahkan.

Kenapa muncul kesan "Reza lagi-Reza lagi", karena pilihan-pilhan aktor dengan kemampuan adaptasi yang cepat pada tokoh kan tidak gampang. Sementara (pembuatan atau syuting) film membutuhkan kecepatan dan kebintangan (pemain). 

Pada aktris perempuan pilihannya lebih banyak. Aktor lelaki pilihannya sedikit. Yang kualitas aktingnya seperti Reza banyak di generasinya. Tapi ya itu tadi, di pemain film perempuan pilihannya banyak, sedangkan pemain film laki-laki sedikit pilihan. Jadi timbul kesan dia lagi-dia lagi. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Produser film, Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI)

Kita tidak punya terlalu banyak aktor-aktor besar. Apalagi yang laki-laki. Mereka lebih sedikit lagi dari yang perempuan. Mungkin itu yang memberikan kesan dia lagi-dia lagi. Dan kebetulan mungkin film-film Reza film-film yang box office. Padahal film Indonesia setahun rilis hampir seratus, tapi yang benar-benar mendapat porsi box office bisa dibilang 10 persenan, dan kemungkinan sebagian dari jumlah itu diperankan aktor yang "dia lagi-dia lagi." Padahal bila didata, film yang dibintanginya (dalam setahun) dibanding seratus film yang rilis berapa. 

Saya bekerjasama dengan Reza Rahadian di film dokumenter Banda the Dark Forgotten Trail (2017). Sutradaranya, Jay Subiyakto, merasa film dokumenter ini butuh narator yang bisa mengaktingkan suara. Jadi bukan sekadar membacakan narasi tapi juga harus meletakkan dirinya dalam narasi tersebut. Pilihan dari sutradara kebetulan jatuh pada Reza. 

Dan dia delivered. Untuk Banda kami punya dua narator. Untuk versi bahasa Inggris dinarasikan Ario Bayu, sedang untuk bahasa Indonesia (yang edar di bioskop sini) oleh Reza Rahadian. Dua orang itu kami pilih karena kemampuan mereka. 

Di film Banda kami sangat puas (dengan hasil kerja Reza). Tanggapan penonton juga positif. Semua merasa senang, bahkan ada yang bilang begini tentang Banda sebagai film sejarah, "Wah, enak juga ya kalau pelajaran sejarah gurunya Reza Rahadian." 

Untuk komentar Hanung Bramantyo kemarin, pertama, saya mau bilang Hanung sudah mengkonfirmasi isi wawancaranya. Jadi saya tak mau memberi komen tentang itu karena saya sendiri paham kadang-kadang interview dan penulisan (berita) kerap tak sama. 

Industri film Indonesia unik dibandingkan industri film di belahan dunia lainnya. Bukan hanya dilihat dari aktor, tapi juga produsernya, produser perempuan Indonesia banyak sekali. Bahkan ada beberapa wartawan dari luar negeri, salah satunya dari Inggris yang mewawancarai saya dan menanyakan hal tersebut. 

Saya rasa, dari segi kesetaraan gender di industri perfilman Indonesia sudah cukup. Saya tak bilang sudah cukup adil atau tidak. Namun saya sendiri tak merasakan ada perbedaan gender di industri film Indonesia. (ade)           
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktor Film

Menjadi aktor tidak gampang. Yang saya sebut "aktor" adalah orang yang berakting. Saya tak membedakan gender. Saya nggak terlau suka ada istilah "aktor" (buat laki-laki) dan "aktris" (buat perempuan). Menurut saya, perempuan dan lelaki sama-sama aktor. 

Nggak banyak aktor yang bisa men-deliver apa yang diinginkan penulis skenario maupun sutradara. Menjadi aktor seperti itu, selain dia mampu mengontrol tubuhnya, intelektualnya jauh di atas rata-rata. 

Saya membedakan aktor dengan bintang film. Bintang film hanya mengandalkan cantik dan tampan atau di zaman sekarang: follower-nya (di media sosial) banyak. Dalam semalam orang seperti bisa kita orbitkan jadi bintang film. Tapi untuk jadi aktor tak semudah itu. Aktor perlu latihan dan sebagainya. 

Kami di antara sesama aktor sering bercanda begini, "Reza (Rahadian) tuh ya, disuruh jadi bangku juga bisa." Itu bukan ledekan, tapi pujian. Begitu hebatnya dia hingga bisa jadi apa saja. Namun, menurut saya, Reza juga punya keterbatasan. Misalnya, mungkin dia takkan bisa jadi aktor laga seperti Iko Uwais atau Joe Taslim. Karena para aktor laga itu melatih olah tubuh mereka bukan dalam hitungan bulan. Untuk jadi seperti itu butuh latihan belasan tahun. 

Tugas aktor, pertama, harus mampu menangkap apa yang dimaui skenario dan sutradara. Kedua, meyakinkan penonton untuk percaya pada tokoh yang diperankan. Aktor yang jadi pembunuh sadis, benar-benar memperlihatkan karakter tersebut. Nah, untuk mewujudkan itu nggak mudah. Hanya ada beberapa orang (yang berhasil). 

Untuk men-deliver pekerjaannya, aktor harus punya mind, body and soul (pikiran, tubuh dan jiwa--red). Tiga hal itu harus mendorong penampilannya. Yang paling penting unsur "soul." Misal kita lihat Reza Rahadian jadi Habibie dan sekarang ia jadi Benyamin. Kita tahu secara postur fisik dia tak mirip. Begitu juga dulu kita lihat Nicholas Saputra jadi Soe Ho Gie (di film Gie, 2005). Secara postur dan wajah juga tak mirip. Namun di film itu Nico dapat Piala Citra. Artinya, di situ "soul" mengalahkan "body." Si aktor telah sukses menampilkan aura yang bikin kita percaya, "Oke, deh, ini Habibie" atau "Oke, deh, ini Soe Hok Gie." 

Itu yang menurut saya tak semua pemain film bisa lakukan. Di zaman sekarang hanya ada beberapa orang. Ada Reza, lalu Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana. Dan yang punya potensi jadi aktor di masa datang menurut saya, Adipati Dolken. 

Di dekade lalu kita lihat ada Alex Komang, El Manik, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, atau lebih dulu lagi ada Soekarno M Noor, Rachmat Hidayat, WD Mochtar. Kalau kita lihat di zaman mereka banyak pemain film, tapi kenapa yang kita ingat sedikit. Karena ketika dia mendapatkan peran, dia mampu men-deliver (peran) itu. Mungkin ada beberapa yang perannya stereotipe (langganan), misalnya Soekarno M Noor atau Farouk Afero yang selalu jadi orang jahat. Menurut saya itu muncul karena kemalasan produser atau sutradara. Mereka tak memberi tantangan baru. 

Saya merasa Reza beruntung. Karena ia diberi peran berbeda-beda dari Habibe, Tjokroaminoto, dan sekarang Benyamin. Nggak banyak orang bisa (men-deliver) itu. Akhirnya, sutradara dan produser menganggap kalau yang main Reza, berarti peran yang sulit (dimainkan). Mereka berpikir daripada berisiko, kasih saja (peran itu) ke Reza. Pasti aman. Jadi kalau muncul anggapan "Reza lagi-reza lagi" itu nggak obyektif. kalau ia mainnya jelek siapa juga yang mau memakainya? Reza lagi-reza lagi itu karena Reza mampu-Reza mampu. 

Menyoal omongan Hanung yang memancing kontroversi kemarin, yang ia maksud bukan aktor, tapi bintang film. Untuk bintang film semua orang tentu ingin yang segar di mata. Cantik, ganteng, dan kini pertimbangan lain: follower-nya banyak. 

Faktor yang juga penting: kesempatan. Ada cerita soal Christine Hakim (di awal kariernya). Produser tak mau memakai dia. Tapi Teguh Karya berjuang mempertahankannya. Dan kita lihat sekarang. Andai waktu itu Teguh Karya menyerah pada produser, kita takkan mengenal Christine seperti sekarang. 

Dalam konteks ini peran paling menantang umumnya ada di jenis film biopik. Tapi kita lihat lagi, ada berapa film biopik perempuan? Nggak banyak. Balik lagi ke soal kesempatan. Berapa banyak kesempatan yang kita kasih pada aktor perempuan. Jika dikasih kesempatan, tinggal mereka menunjukkan kesungguhan akting, bukan bermodal nama (populer) dan look (tampang). (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Produser Film

Kalau melihat track record Reza Rahadian, dia selalu bisa membawakan peran yang diminta padanya, termasuk nanti jadi Benyamin S. Bahkan ada olok-olok kan, Reza main jadi pohon tetap bagus (aktingnya). 

Jadi kalau ada anggapan Reza lagi-Reza lagi karena kita tak punya banyak pilihan aktor yang bisa bertransformasi sebaik Reza. Misalnya saya ingin memfilmkan pahlawan sepakbola asal Makassar Ramang, aktor pertama yang ada di kepala saya (untuk memerankannya) pasti Reza. Karena ia pasti mainnya benar, walau secara fisik tidak mirip. Tapi kami sebagai produser merasa aman dan nyaman dengan performance yang bakal dia kasih.

Reza tak sekadar berakting. Dia telah berproses "menjadi". Aktor yang lebih baik levelnya sudah pada tahap "menjadi." Misal, kita tahu Habibie aslinya (berpostur) pendek. Tapi di film Habibe Ainun (2012) Reza is Habibie. Secara fisik tak mirip, tapi secara gerak-gerik dan emosional kita diyakinkan bahwa Reza itu Habibie. 

Reza telah berada di posisi peran-peran yang menantang dirinya. Itu bisa diartikan mengubah rasa underestimate orang menjadi percaya bahwa ia bisa jadi apapun, bahkan pohon atau batu sekalipun. 

Anggapan Reza lagi-Reza lagi karena kehadirannya di film selalu dibicarakan. Itu bagian juga dari kepandaiannya memilih peran. Dia takkan main di film yang menurutnya ia takkan stunning (menonjol, paling menarik perhatian--red) di situ. Bahkan di film My Stupid Boss yang ringan pun ia bisa stunning. Baik lagi, kita tidak punya banyak pilihan aktor seperti dia. Jadi, jika saya punya film berbujet di atas Rp5 miliar, memakai aktor semahal Reza worth it.

Karena 90 persen film di-drive oleh akting. Akting pemain-pemain film di depan layar yang bikin orang believe dengan ceritanya. Investasi terbesar film selain di skenario ada di aktor. kalau Reza dihargai tinggi memang worth it banget. Sebagai aktor ia profesional dan menunjukkan integritasnya yang tinggi sebagai aktor.

Di aktor perempuan atau aktris pilihannya lebih banyak, sebenarnya. Hanya saja di karakter-karakter untuk dimainkan mereka di perfilman kita kurang bervariasi. Karakter yang kuat dan susah (dimainkan) masih jarang. 

Kalu soal kenapa di sisi aktor perempuan belum ada yang selevel Christine Hakim, misalnya, faktor penyebab lainnya juga banyak. Kita tahu perempuan punya khittah-nya sendiri. Misal kalau dia menikah, dia menjadi ibu rumah tangga. Mungkin buat sebagian aktris yang sudah
menikah, karier bukan tujuan utama lagi. Itu mungkin yang menyebabkan
kita tak punya banyak pilihan juga mencari aktris yang setara dengan
Reza. 

Saya menilai Reza itu stabil. Ada beberapa nama yang sering muncul lalu  menghilang, atau punya pekerjaan sambilan lain. Reza nggak. Dia total di akting. Kita hanya melihatnya satu dua kali di iklan, mostly kita melihatnya sebagai aktor. Karena fokus dan stabil itu orang selalu melihat hasil kerjanya. Buat saya pertanyannya bukan, "Kenapa dia lagi-dia lagi?" tapi "Kenapa nggak dia?" (ade)     

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol