Khasiat Kuliner Ekstrem, Mitos Atau Fakta?
berita
Humaniora

Sumber Foto: sebandung.com

17 October 2017 13:30
Penulis
Pernahkah anda menyantap sate ular kobra? Sebagian masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi kuliner ekstrem yang berasal dari daging binatang tak lazim, seperti ular kobra, piton, penyu, biawak, trenggiling, buaya, landak, monyet, dan lainnya. Lihat saja di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara, segala jenis daging binatang liar diperdagangkan, mulai ular piton sampai tikus hutan. Nah, mengapa masyarakat berani mengonsumsi binatang liar itu? Benarkah tradisi kuliner ekstrem ini dipengaruhi oleh budaya lokal? Adakah dampak lingkungannya?

Padahal ada daging merah yang layak konsumsi dan memenuhi standar gizi yang seimbang, di antaranya daging ayam, ikan, sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi (bagi nonmuslim). Namun, sebagian orang justru nekat menyantap kuliner yang menyeramkan.

Orang-orang masih percaya mitos, menyantap kuliner ekstrem akan menyembuhkan berbagai jenis penyakit, meningkatkan gairah seksual, hingga membuat otak manusia menjadi semakin cerdas. Di Jakarta saja, bertebaran warung-warung yang menjual sup penyu, sate ular kobra, dan menu seram lainnya.

Faktanya, para penggemar kuliner ekstrim kebanyakan adalah kaum lelaki, selain untuk menguji adrenalin, sekaligus merasakan sensasi baru dalam kuliner. Meskipun perempuan ada juga yang coba-coba, tetapi biasanya takut atau merasa geli membayangkan makan sate ular kobra.

Benarkah dengan mengonsumsi kuliner ekstrem dari daging binatang liar berbagai penyakit dapat disembuhkan? Atau hanya sekadar mitos kuliner ekstrem banyak khasiatnya? Seberapa besar kandungan gizinya? Sebaliknya, adakah bahayanya (racunnya)? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Chief of The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ)

Saya menghormati local food dan local wisdom, ya tergantung spesies binatang apa yang dimakan. Kalau bukan binatang yang dilindungi UU, ya tidak ada persoalan. Tidak boleh menjustifikasi orang yang memakan ular piton itu sebagai penjahat. Tradisi kuliner ekstrem itu sudah ada di masyarakat kita sejak lama, seperti masyarakat Dayak dan lainnya.

Saya belum membaca penelitian, belum tahu ada atau tidak data terkait menurunnya populasi ular piton, misalnya, dan beberapa binatang liar lainnya. Bicara soal lingkungan ini tidak bisa berasumsi. Kadang spesies binatang yang ketika dimakan justru terjaga kelangsungan hidupnya, ada domestifikasi. Berbeda dengan yang diperdagangkan, seperti ikan kerapu justru mengurangi populasinya karena jumlah yang ditangkap sangat besar.

Seberapa masif binatang liar yang dikonsumsi sehingga mengancam keseimbangan lingkungan? Belum ada penelitian tentang itu. Berbeda dengan binatang yang dilindungi seperti ikan hiu, paus, pari manta, orang utan, dan lainnya. Itu pun yang dilindungi UU hanya spesies tertentu-- artinya tidak semua hiu boleh dikonsumsi. Hanya spesies hiu yang tidak dilindungi UU itu boleh dikonsumsi.

Begitu juga monyet, spesiesnya banyak. Kalau monyet yang tidak dilindungi UU, tidak ada persoalan dimakan. Bahkan ada yang memakannya mentah-mentah, biasanya kuliner monyet dijual di restoran Tionghoa. Kalau binatang seperti buaya atau ular kobra, setahu saya ada penangkarannya. Tapi kalau makan trenggiling dan penyu itu jadi masalah, karena itu binatang yang dilindungi. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Pangan itu ada yang konvensional dan nonkonvensional. Kuliner ekstrem dari binatang liar sebenarnya memiliki kandungan gizi yang tinggi, sekitar 18-20 persen kandungan proteinnya. Setara dengan protein daging binatang ternak. Selain itu juga ada manfaat kesehatannya seperti kelelawar.

Penelitian terkait binatang kelelawar sudah ada di IPB dan saya yang menguji penelitian mahasiswa itu. Hasil risetnya terdapat kandungan protein dan khasiatnya bagi kesehatan, terutama asma. Di Gunung Kidul, Yogyakarta, masyarakat juga terbiasa mengonsumsi belalang. Di Sulawesi Utara, masyarakat makan daging tikus hutan, itu juga sumber protein dil uar binatang ternak.

Masyarakat adat di Indonesia sangat memahami binatang liar yang beracun atau tidak. Mereka memiliki kearifan lokal sendiri. Bahkan sangat paham bagaimana menghilangkan racun pada binatang liar. Persoalannya justru bagi penganut muslim, bila memakan daging binatang liar bisa tergolong haram atau halal.

Selain itu, masyarakat Indonesia masih kental memercayai mitos makan kuliner ekstrem banyak khasiat kesehatannya. Semisal, memakan sup otak monyet dapat meningkatkan kecerdasan otak manusia. Mitos itu bisa benar, bila dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Tapi mitos itu juga bisa salah, bila tidak dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Sejak umur 5 tahun manusia sudah tampak kecerdasannya tanpa memakan otak monyet. Saya belum tahu ada penelitian tentang monyet atau tidak. Jadi tidak benar, semua binatang liar itu ada khasiatnya bagi kesehatan. (fai)

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) , Penerima Ramon Magsaysay Award 2017

Kuliner ekstrem itu sudah menjadi tradisi di masyarakat adat. Pada dasarnya segala ciptaan Tuhan yang bisa dimakan, ya dikonsumsi oleh masyarakat adat. Mulai ular, tikus hutan, dan lain-lainnya. Itu kebiasaan masyarakat yang turun menurun. 

Hidup masyarakat adat itu seperti penelitian, pertama, mereka mencoba dulu makan daging binatang liar-- buat sakit perut atau tidak. Itu untuk membedakan beracun atau tidak. Cara mereka alamiah saja, bagaimana menjamin keberlangsungan hidup.

Kedua, baru mereka mencari penawar racunnya, baru diolah jadi makanan. Soal ilmu kesehatan, masyarakat adat belajar secara alamiah-- indigenous knowledge-nya luar biasa. Kebutuhan dan ketersediaan pangan harus nyambung, mereka mengolah makanan yang ada di sekitarnya. Ngapain harus mencari sumber makanan yang susah.

Di masyarakat adat tidak ada mitos seperti yang berkembang di kota, seperti memakan ular meningkatkan gairah seksual. Bagi masyarakat adat sustainability atau keberlangsungan hidup lebih penting. Bagaimana orang adat life support system, peduli dengan lingkungannya. Orang kota yang membawa kebiasaan orang adat justru mengembangkan mitos aneh-aneh pada makanan ekstrem.

Saya tidak setuju dengan masyarakat adat dilarang makan ketam (kepiting kelapa) yang langka itu. Populasi memang terancam punah di dunia. Tapi kondisi di Maluku kan berbeda, disana populasinya terjaga. Ketam disana banyak jalan-jalan di halaman rumah. Bukan seenaknya dilarang, gak bisa dunia melihat tradisi lokal ini secara sempit.

Secara kultural dan ilmiah kan sudah dibatasi dan tetap sustainable. Bagi masyarakat adat, protein hewani itu sudah tersedia di sekitarnya. Ini bukan tidak lazim, tapi keunikan lokal. Jadi jangan ada pelarangan atau pemaksaan nilai, ada persoalan multikultural disini. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF