Ketika Ustaz Keok oleh Hantu di Pengabdi Setan
berita
Humaniora

Dok. Rapi Films

14 October 2017 15:00
PERINGATAN: Artikel ini mengandung bocoran cerita film Pengabdi Setan. 

Joko Anwar datang lagi. Ia tergolong sineas yang tak saban tahun merilis film. Tapi tengoklah saat ia bikin film, karyanya jadi pembicaraan khalayak. Tak terkecuali karya teranyarnya, Pengabdi Setan. 

Film ini buat ulang karya Sisworo Gautama yang rilis 1980. Film aslinya telah berstatus cult, dicerca saat edar sebagai karya kacangan namun bertahun-tahun kemudian dianggap keren. Ditonton berulang-ulang dan dipuja. Bersama film laga macam Jaka Sembung dan horor Suzzana, Pengabdi Setan punya pengagum berat yang mendewakannya. Joko salah satu dari golongan hipster ini. 

Seperti Quentin Tarantino yang menggali film-film picisan yang tak dihiraukan orang lalu meramunya jadi karya seni yang dipuji kritikus. Begitu pula Pengabdi Setan kita dudukkan. Joko tampak asyik bermain-main dengan konvensi film horor lokal. 

Di permukaan ia seperti hanya meminjam plot aslinya: seorang ibu meninggal lalu arwahnya menghantui keluarganya. Di versi anyar, Joko mengubah susunan cerita jadi kekinian agar tetap klik dengan kids zaman now. Ya, mereka yang akrab dengan horor Hollywood ala Paranormal Activity hingga The Conjuring.

Tengok misalnya soal si bungsu Ian yang dikatakan anak setan. Yang nonton The Omen hingga Paranormal Activity akrab dengan cerita demonic begini. Setting jadul yang dipilih Joko juga bukan hal baru. James Wan di The Conjuring telah lebih dulu mempraktikkannya. Yang bikin Pengabdi Setan istimewa ya itu tadi, konvensi horor lokal yang didekonstruksi Joko. Walau jadi chaos struktur dan nilai. 

Paling nyata, Joko menggambarkan seorang ustaz kalah oleh hantu. Ini memutarbalikkan kebiasan film horor kita masa Orde Baru: hantu selalu kalah oleh ustaz, kyai, atau pemuka agama lain. Di film aslinya sendiri setan-setan binasa setelah mendengar ayat-ayat suci. Menariknya, hal ini tak mengundang kontroversi di khalayak ramai--kalau tak boleh disebut luput dari perhatian. Pengabdi Setan versi Joko Anwar malah telah ditonton lebih dari dua juta orang dan diganjar belasan nominasi FFI, termasuk film terbaik. 

Ini pertanda apa? Masyarakat kita tak lagi peka pada hal-hal religius? Jangan-jangan, bagi generasi milenial dan Gen Z tak penting lagi ustaznya kalah atau menang, yang penting mereka ketakutan. Atau apa ustaz, kyai, atau pemuka agama tak lagi dianggap mampu mengusir setan lantaran perilaku segelintir di antara mereka tak cocok dengan sebutan yang disandang? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan Film Senior

[Opini ini mengandung spoiler atau bocoran cerita Pengabdi Setan.] 

Film Pengabdi Setan digarap dengan baik. Sebagai film horor, film ini boleh dipuji sebagai salah satu film horor terbaik Indonesia untuk golongan anak generasi muda sekarang. Pada tahun 1980 pun waktu film aslinya rilis meledak. Saya dulu yang mengatur press screening untuk wartawan zaman dulu. Waktu itupun diakui sebagai film horor Indonesia paling menyeramkan. 

Yang menggembirakan dari jumlah penonton film Pengabdi Setan ini, film Indonesia akan meledak kalau digarap dengan baik. Film Pengabdi Setan adalah film ketujuh di tahun ini yang meraih lebih dari sejuta penonton. Tahun lalu ada 10 film Indonesia meraih lebih dari sejuta penonton. Tahun ini saya perkirakan setidaknya bakal ada sepuluh atau bahkan lebih yang ditonton sejuta orang. Kemungkinan Pengabdi Setan bakal mencapai tiga juta penonton seminggu lagi. Maka, film ini akan melewati Danur (2017) sebagai film horor Indonesia terlaris sepanjang masa yang jumlah penontonnya 2,7 juta. 

Ada dua film horor yang sangat bagus jumlah penontonnya, Danur dan Pengabdi Setan. Ini juga jadi pertanda ternyata yang digemari di Indonesia bukan cuma komedi macam Warkop DKI Reborn atau drama religi seperti Ayat-ayat Cinta. Ternyata film horor pun bisa menduduki tempat teratas box office

Waktu booming film horor Dewi Persik jumlah penontonnya tak sebanyak sekarang. Paling banter satu jutaan. Dulu Jelangkung pun yang fenomenal tak sebanyak sekarang penontonnya, hanya 1,1 juta kalau tak salah. Lalu ada Kuntilanak yang dimainkan Julie Estelle, tapi itupun trilogi, jadi terdiri dari tiga film. 

Kelebihan Pengabdi Setan karena tua dan muda menonton. Sedangkan Danur kebanyakan penontonnya anak muda saja. Mungkin ibu-ibu yang dulu sangat ketakutan nonton film aslinya, terutama dulu mereka takut dengan tokoh yang dimainkan Simon Cader. Di versi 2017 itu peran itu dimainkan Dimas Aditya, yang jadi teman dekat tokoh yang diperani Tara Basro.       

Nah, kalau soal pemuka agama atau ustaz mati di film ini, sebelum ke situ saya ingin sampaikan dulu: ini film yang belum selesai. Ceritanya masih berlanjut. Jadi masih akan ada sekuelnya, dan direncanakan jadi trilogi. Di film ini justru menimbulkan banyak pertanyaan: Apakah si ustaz yang dmainkan Arswendi ini benar-benar ustaz? Sebab, ada yang menyebutkan ia "lemah iman", misalnya ketika Tara Basro diteror hantu, ia malah bersembunyi. Atau, kenapa ia memilih tidur di rumah tetangganya? Juga, jangan-jangan yang membunuhnya bukan hantu? Artinya, ia masih tokoh yang misterius.

Yang jadi pertanyaan sebetulnya, yang membunuh si ustaz ini siapa? Karena di filmnya tak diperlihatkan jelas. Hanya tahu-tahu ia berdarah dan lalu mati. Atau jangan-jangan, orang-orang berbaju hitam yang mengelilingi rumah saat adegan itu bukan hantu, tapi manusia, para anggota sekte pengabdi setan, untuk menjemput Ian. Mungkin saja di antara rombongan itu ada Fachri Albar, tapi kita tak dikasih lihat.

Kenapa setan dulu selalu kalah oleh pemuka agama? Untuk melawan setan siapa lagi kalau bukan kyai atau ustaz, atau kalau di film Barat, misalnya The Exorcist lawannya pastur. Di Indonesia ustaz atau kyai itu digambarkan sebagai tokoh super, yang cukup membacakan ayat kursi, setan kalah. Soal tokoh agama yang kalah telah banyak contohnya. Di banyak sinetron religi itu sudah banyak digambarkan, apalagi bila dicampur komedi.
    
Banyak juga pertanyaan lain yang belum selesai di film ini. Misal, ke mana hilangnya tokoh Ian, anak bungsu itu? Siapa pasangan suami istri yang bertetangga dengan mereka di kota, yang si suami diperani Fachri Albar? Apa artinya "panen"? Atau arti "biji saga merah"? Ini mungkin baru terjawab di sekuelnya yang rencananya rilis 2018 dengan setting tokohnya telah remaja. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan senior, pakar hukum media

Di film-film horor zaman Orde Baru hantu selalu kalah oleh pemuka agama seperti kyai atau ustaz. Tidak ada peraturan atau pemaksaan dari rezim atau konvensi film-maker waktu itu. Yang ada, itu sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama bahwa setan, iblis, dan sebagainya memang ada dan mereka selalu mengganggu manusia. Tetapi dalam ajaran agama, dalam hal ini Islam, mengajarkan mereka bisa dikalahkan bila kita memiliki ketakwaan dan keimanan yang kuat atau kita memahami firman TUhan. Dan kepercayaan ini dianut sebagian besar masyarakat Indonesia. 

Nilai-nilai agama kan rujukan paling tinggi bagi manusia. Karena itu hal ini selalu sensitif. Apalagi penganut Islam di negeri kita mayoritas, sineas tak berani melanggar nilai-nilai ini. Oleh karena itu, betapapun menyeramkan dan kejam si setan, pada akhirnya kalah (oleh pemuka agama). Bahkan, kadang film Indonesia zaman dulu aneh juga, di akhir film setannya menasihati manusia. Sineas dulu nggak ada yang berani bikin pemuka agama, kyai, atau ustaz dikalahkan oleh setan. 

Yang terjadi di Pengabdi Setan versi baru ini kemudian bisa ditafsirkan, ternyata ajaran Islam tak sesuai (benar). Buktinya, (pemuka agama) kalah oleh setan (di film ini). 

Ada beberapa hal soal penggambaran ustaz kalah di Pengabdi Setan tak menimbulkan kontroversi. Pertama, barangkali, dari segi estetika, sinematografi, atau unsur filmis lainnya Pengabdi Setan lumayan bagus. Kalau nggak begitu, nggak mungkin bisa masuk nominasi FFI. Orang menikmati film ini karena filmnya digarap dengan baik. Yang kedua, karena ini film horor, orang mungkin nggak sempat berpikir ada adegan seperti (ustaz kalah oleh hantu) itu. Sudah terpana duluan oleh suguhan filmnya. 

Yang ketiga, dalam praktik keagamaan kita telah mulai ada pergeseran sedikit, orang acuh tak acuh pada hal itu. Namun saya tak tahu persisnya, sebab ini perlu riset. Tapi faktanya sendiri Joko Anwar berani mengambil risiko dengan menampilkan adegan (ustaz mati) itu.  Bagi saya, (adegan film) ini jiplakan film Barat. Di Barat, pendeta bisa kalah. Yang kayak begini ia telan mentah-mentah. Padahal, itu dua budaya yang sangat berbeda. Saya pikir kalau belakangan orang banyak sadar ada adegan itu, mungkin bakal muncul juga protes (ke film Pengabdi Setan). 

Yang keempat, sekarang tokoh-tokoh atau organisasi keagamaan mungkin belum nonton. Kalau sudah nonton, mungkin kejadiannya lain.  

Sebagi kritikus film, saya tak mempersoalkannya. Saya hanya menunjukkan ada adegan (ustaz) itu. Setuju atau tidak setuju itu persoalan lain. Sebagai pengamat saya menunjukkan bahwa hal itu hampir tak pernah ada di film horor Indonesia sebelumnya. 

Bila ia (Joko Anwar) bilang yang membunuh bukan setan, tapi kesan penonton begitu. Persepsi penonton kyai atau ustaz kalah oleh setan. Yang artinya, ajaran agama tidak mempan lagi melawan setan. Kan bahaya kalau ditafsirkan begitu. Sebagian besar dari kita memandang agama lewat pemimpin agamanya. Mayoritas menganut "apa kata kyai." Nah, ternyata ustaz atau kyai-nya kalah oleh setan. 

Bisa saja sutradara membela diri atau apapun bahwa ia ketika membuat film tak bermaksud mengatakan ulama-nya dibunuh oleh setan. Tetapi persepsi yang ditangkap penonton lain. Film, sebagai sebuah karya, ketika ia diputar untuk publik maka film itu jadi milik publik, bebas dinilai oleh publik. Bisa saja penilaian publik berbeda dengan apa yang dimaksud dengan sutradara. Nah, di film ini, mayoritas penonton menafsirkan ustaz itu mati karena setan.

Kalau fenomena (ustaz kalah oleh setan) ini lepas (tak dianggap kontroversi) kemungkinan film-film horor lain menggambarkan hal yang sama nanti. Apalagi kalau mereka berpikir, ternyata kalau kyainya mati oleh setan, filmnya laku. Bahwa yang membuatnya laku sebenarnya bukan itu, tapi sah saja bila ada yang berpikir ini laku karena ustaz atau kyainya mati. 

Menurut saya, andai adegan itu diganti, itu tidak mengurangi minat orang nonton filmnya. Kalau satu dua kali nggak apa-apa, tapi kalau banyak lama-lama masyarakat bisa mengalami disorientasi: ini yang benar yang mana? Sebab film bisa dipakai sebagai social engineering. Jika hal macam ini terus terjadi bisa tidak menguntungkan untuk proses berkeyakinan dalam masyarakat. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Film

Saya melihat film atas apa yang saya lihat di layar. Teori-teori itu (tentang ustaz-nya tidak mati oleh setan) belum terbukti kalau itu tak diceritakan di filmnya, misalnya di film sekuelnya. Sementara ini kan belum ada sekuelnya. Dan di Pengabdi Setan karya Joko Anwar ini si ustaz ini memang mati, entah apapun penjelasannya. Ya sih, kita tak tahu dia dibunuh hantu atau bukan. Bisa saja ia dibunuh orang-orang berbaju hitam yang mengepung rumah itu. Orang-orang berbaju hitam itu mungkin juga manusia, bukan setan. Sama seperti tokoh Darmina di film aslinya. 

Tapi kita juga bisa berteori lain. Misal, ada teori yang bilang hantu tidak bisa membunuh. Itu kan hanya sebuah teori yang kita yakini. Namun, film kan punya kenyataan dan logikanya sendiri.  

Joko berani dengan menggambarkan pemuka agama mati di Pengabdi Setan. Mungkin ini salah satu kritik Joko bahwa nggak selamanya agama jadi jawaban. Dan mungkin inti filmnya bukan soal agama melawan anti-agama, bila mau dikatakan pengabdi setan sebagai anti-agama. Misalnya keluarga di film ini tadinya digambarkan tak pernah sholat, tapi ketika mereka sholat pun tetap diganggu setan. Artinya, sholat nggak sholat tak menjamin keselamatan mereka.

Kenapa lalu nggak jadi kontroversi ada pemuka agama mati di film ini? Nah, kebetulan mungkin karena penontonnya nggak mau ambil pusing. Itu saja. 

Kalau ada yang ramai-ramai protes, itu terjadi karena ada yang mau ambil pusing saja, mau mencurahkan waktu mengurusi soal itu. Tapi saya rasa ada yang tak setuju dengan penggambaran (ustaz mati) di film ini. Saya pernah menemukan sebuah pendapat begitu. Alasan orang itu, di film ini kyainya tak digambarkan berakhlak buruk. Kalau kyainya digambarkan berakhlak buruk, tidak melaksanakan perintah agama, dan pada akhirnya ia mati, itu boleh. Tapi di film ini ia orang baik. 

Yang jelas menarik bahwa film ini tak memicu kontroversi. Bagi penonton, yang penting film ini sukses bikin mereka jerit-jeritan, ketawa ngakak. Karena memang seru filmnya. 

Secara kualitas pun ini bisa disandingkan dengan The Conjuring. Dari segi production value berhasil. Filmnya kelihatan mahal. Akting pemainnya bagus. Ini akan jadi barometer film horor Indonesia, seperti The Raid jadi barometer film action Indonesia. Dan rasanya sulit dilampaui. Menurut saya, melihat 20 tahun ke belakang, inilah film horor yang paling berhasil. Artsy-nya dapat. Dramanya dapat. Setelah ini bakal banyak produser film yang membuat ulang film horor jadul. Saya dengar Bayi Ajaib mau dibuat ulang. Tapi, bila dibuat ulang tak sebagus yang dibuat Joko Anwar ya, nggak bagus juga. 

Nggak usah jauh-jauh contohnya. Jailangkung (2017) yang dibuat ulang sutradara aslinya sendiri, Rizal Mantovani dan Jose Purnomo, lihat kualitasnya. Dibanding Pengabdi Setan-nya Joko jauh banget. Kalau diskor, Jailangkung dapat nilai 3, Pengabdi Setan dapat 8. Padahal Jailangkung bujetnya lebih mahal ketimbang Pengabdi Setan. Saya dengar (Jailangkung) di atas Rp 10 miliar. Tapi hasilnya mengecewakan banget. Opening title-nya saja bikin yang lihat geli.

Kuncinya, penggarapannya harus serius. Misal, kalau film action nggak dibuat seserius The Raid akhirnya bak-bik-buk-nya kelihatan cupu. Menurut saya core (inti) Pengabdi Setan ini drama. Kalau dibuat pemilahan kategori, Pengabdi Setan sepatutnya disebut pertama "drama" baru "/horor." Bukan horor duluan yang di depan. (ade)           

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir