Ketika Pengemudi Ojek Online Perempuan Di-`Cancel` Penumpang Lelaki
berita
Humaniora

Sumber Foto: kaskus.com

09 November 2017 10:00
Penulis
Namanya Dessy Herawati. Sejak beberapa bulan silam, ia mengikuti jejak suami jadi pengemudi ojek online Gojek. "Daripada di rumah saja, yang ada nge-gosip melulu," katanya pada awak Watyutink yang menggunakan jasanya belum lama ini. 

Namun tak gampang bagi perempuan jadi pengemudi ojek online. Penghasilannya tak sebanyak suaminya. Bukan lantaran ia malas mengambil order. Justru banyak orderannya yang dibatalkan sepihak oleh penumpang laki-laki begitu tahu yang mengemudikan motor perempuan. "Sering banget (yang cancel)," ujarnya. Kali lain, bilapun bersedia, penumpang lelaki yang mengambil alih kemudi. Dessy justru duduk sebagai penumpang. "Biasanya mahasiswa. Alasannya kasihan, karena badan mereka besar, (badan) saya kecil."

BACA JUGA: Memaknai Ulang `The Power Of Emak-Emak`

Alasan lain, para pria mungkin minder dibonceng perempuan naik motor. Di sini persoalannya jadi bias gender. Menganggap perempuan hanya jago urusan domestik. Di ruang publik perempuan mengalami ketidak-adilan. Mereka harus berhadapan dengan lingkungan yang gender blind atau tidak berperspektif gender. 

Padahal perempuan mampu mengerjakan pekerjaan yang didominasi laki-laki di ruang publik. Buktinya, perempuan sanggup menjadi astronot dan menjelajahi luar angkasa, menjadi pilot pesawat terbang komersial hingga pesawat tempur militer. Perempuan menjadi nahkoda kapal laut hingga masinis kereta api. Tengok saja, bus-bus tingkat pariwisata di Jakarta dan juga Transjakarta banyak yang dikemudikan perempuan. Bahkan truk super besar di area pertambangan juga banyak dikemudikan ibu rumah tangga.

BACA JUGA: Kenapa Kita Tak Kagum Konstruksi Kecantikan Lokal?

Dessy tak sendiri. Menurut laman Vice Indonesia, pengemudi ojek online perempuan pernah mengalami pembatalan order 10 kali per hari. Berbagai alasan diungkapkan pelanggan lelaki, antara lain faktor kasihan, tidak terampil membawa motor, tidak nyaman, atau alasan yang berakar pada seksisme dan lainnya. Ketidakadilan berbasis relasi gender ini merugikan perempuan secara materi. Target penghasilan menjadi menurun atau tidak tercapai, karena keraguan dan pembatalan sepihak dari pelanggan lelaki.

Nah, mengapa ketidakadilan gender masih terjadi? Sampai kapan kemampuan perempuan diragukan? Apakah ini disebabkan sistem patriarki yang mengakar kuat? 

BACA JUGA: Bias Gender Di Film Horor Kita

Eksesnya perempuan dirugikan dan relasi gender tidak menjadi cair. Bahkan perempuan pun dianggap tidak pantas melakukan aktivitas di luar ranah domestik. Apa jadinya bila belenggu patriarki ini menimpa perempuan janda atau single parent yang memiliki anak? Bagaimana mereka bertahan hidup tanpa ketrampilan, kecuali menafkahi keluarga dengan motornya?

Bagaimana pendapat Anda? Watyutink?    

(fai/ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis, Aktivis Perempuan & Ketua Divisi Perempuan AJI Jakarta

Akar masalahnya, pengguna ojek online khususnya lelaki terdominasi pikiran maskulinitas, jadi masih menyimpan stereotipe, perempuan belum mampu mengendarai motor dengan baik. Teman dan sepupu cowok saya sering salah sangka, kalau ada pengendara motor yang kacau di jalan-- pasti adalah perempuan atau ibu-ibu. Padahal dugaannya itu salah.

Perempuan di stereotipe-kan sebagai pengendara motor yang buruk dan memiliki kapabilitas yang buruk, lalu dipandang sebelah mata pula. Stereotipe tak becus dilekatkan pada perempuan terus-menerus. Coba gunakan argumen berbasis data yang valid. Lihat saja data kecelakaan di Departemen Perhubungan, semisal, angka kecelakaan tinggi pada Metromini, sopir Metromini itu laki-laki atau perempuan? Semuanya laki-laki kan? Juga data kepolisian, kecelakaan di jalan-jalan Jakarta, lebih banyak mana lelaki dan perempuan?

Kesalahan segelintir perempuan digunakan untuk mengeneralisir dan menciptakan stereotipe perempuan tidak becus mengemudi. Tapi ditepiskan oleh sosok seperti Alexandra Asmasoebrata, Sabrina Sameh, Diandra Guatama, Rally Marina, Indrie Barbie, Qholylla Ardillah, Ade Destiy dan Clio Clarrisa Tjonadi (pembalap perempuan Indonesia) yang memahami dunia otomotif.

Dominasi maskulinitas ini ada di segala aspek kehidupan, belum dicoba menggunakan jasa pengemudi ojek online perempuan sudah underestimate. Kalau penumpang lelaki tubuhnya sangat gemuk, itu persoalan genetika. Alasan ketidak-mampuan perempuan menguasai motor, itu sangat maskulinitas dan tidak adil dalam relasi gender. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Assistant Manager Erasmus Huis/ Kedutaan Besar Belanda, Pengguna Ojek Online

Ketika menjadi female driver (ojek online), itu profesi yang dia pilih dan harus siap dengan konsekuensi mendapat penumpang perempuan atau laki-laki. Saya melihatnya tidak ada masalah, ketika seorang female driver sudah melalui proses rekrutmen atau pembekalan dari perusahaan mitranya: Gojek, Grab atau Uber. Selama proses training itu, dia kan sudah mendapat pengetahuan berkendara yang benar.

Saya beberapa kali mendapatkan female driver baik dari aplikasi Gojek dan Grab. Berangkat dari rumah di Pulomas ke kantor di daerah jalan Rasuna Said. Demikian juga pulangnya dari kantor ke rumah. Tidak ada masalah buat saya female driver.

Nggak ada persoalan tega atau nggak tega, karena itu profesi yang menjadi pilihannya. Saya mengesampingkan itu, tetap gunakan jasa female driver. Banyak profesi yang ditekuni perempuan kok, salah satunya ojek online. Female driver cenderung lebih bersih penampilannya, berseragam lengkap, lebih tertib, selalu memilih jalur kiri dan mentaati lalu lintas.

Saya berpikir positif saja, tidak mau terbawa stereotipe "The Power of Female". Kesalahan sedikit dan digeneralisir pada semua perempuan, itu nggak benar. Justru buat saya lebih cepat ke kantor-- kalau mendapat driver yang seperti itu, pasti mendapat kemudahan di jalan, kendaraan lain menyingkir. Tapi ojek online kan gak kelihatan lelaki atau perempuan, karena gunakan helm dan seragam.

Selama ini female driver baik-baik saja, mungkin karena ada image diluar itu yang berimbas pada mereka. Pramudi Transjakarta juga banyak perempuan tapi tidak ada yang protes. Buat saya, asal mereka berkendara yang baik dan membawa saya dengan selamat sampai tujuan.

Daripada melakukan pembatalan order atau cancel akan buang-buang waktu, bisa-bisa terlambat masuk ke kantor. Seharusnya kita bisa menolong orang lain, bukannya justru menyusahkan orang lain dengan melakukan pembatalan order. Jangan dibuat repot, lihat sisi baiknya saja. Ketika mendapat female driver ya saya tanya, tahu jalan atau nggak, kalau tidak ya saya arahkan. Sebagai penumpang, kita harus menghormati female driver. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengemudi ojek online perempuan

Suami saya sudah almarhum. Anak saya tiga. Yang paling besar sudah kerja, sedang yang paling kecil kelas 5 SD. Saya sudah lebih dari dua tahun jadi pengemudi ojek online. 

Kalau dipersentase, sekitar 10 persen saya mengalami penolakan atau di-cancel penumpang cowok per hari. Biasanya kalau dapat order kan saya telepon untuk konfirmasi. Nah, pas dengar suara perempuan, dia (customer laki-laki--red) malah cancel. Alasannya macam-macam. Entah karena nggak pede, takut, atau apalah kalau driver-nya cewek.  

Tapi, yang banyak terjadi juga, begitu tahu orangnya dan layanannya, justru mereka merasa puas. Soalnya tidak seperti yang mereka bayangkan selama ini kalau yang bawa motor perempuan asal bawa saja. Mereka malah merasa nyaman. Mereka justru bilang, "Malah enakan dibawa cewek. Cowok yang bawa malah sradak-sruduk." 

Sering juga customer yang minta bawa motor sendiri, saya di kursi penumpang. Terutama yang badannya besar. Ada juga yang beralasan malu (dibonceng cewek). Macam-macamlah (alasannya). Tapi saya nggak kasih. Kan saya yang driver Gojek-nya.  

Saya nge-Gojek sambil urus anak. Sambil antar anak sekolah dari rumah di Ragunan, Jakarta Selatan, lalu selama dia sekolah. Jadi saya nggak bisa full narik penumpang seperti driver lain. Kalau driver cowok sudah bisa jalan dari subuh, saya harus urus rumah dulu, siapin makanan dan antar sekolah.    

Saya bawa motor keliling Jabodetabek. Nggak pilih-pilih orderan. Kemana saja saya ambil. Saya juga nggak punya basecamp. Kalau ketemu driver lain palingan say "Hai." Sebulan saya pernah dapat Rp 4-5 juta. Tapi sekarang tak segitu. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan