Ketika Modernitas Menembus Jantung Rimba
berita
Humaniora

Sumber Foto: plus.google.com

21 January 2018 16:00
Penulis
Cagar biosfer Bukit Duabelas merupakan hutan tempat Orang Rimba hidup. Kawasan itu hutan yang dilindungi negara, biasa dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Suku Anak Dalam atau Orang Rimba sangat bergantung pada hutan untuk kehidupannya, meramu hasil hutan dan berburu binatang.

Orang Rimba tidak saja berdampingan dengan alam dan lingkungan di luar hutan, seperti desa-desa tetangga. Mereka juga mulai mengenal teknologi telpon genggam. Bahkan di kedalaman hutan, suara merdu pedangdut Via Vallen terdengar jernih.

Sejak berhadapan dengan kemajuan teknologi, pemuda Rimba gemar telepon berjam-jam, menghabiskan uangnya dalam sehari untuk membeli pulsa dan handphone baru. Pola hidup pun berubah, Orang Rimba banyak terpapar penyakit Tuberkulosis (TB), bahkan telah menewaskan sejumlah orang.

Anak-anak dan pemuda Rimba mulai menganut agama resmi negara (Islam)—tanpa kesadaran yang tumbuh dalam dirinya. Cuma karena ingin mendapatkan uang Rp1 juta dan dua helai kain sarung. Meski baru mendapat Rp150 ribu dan dua kain sarung, mereka mengeluh sakitnya disunat. Beberapa anak-anak lari ke dalam hutan saat sunat massal terjadi, karena takut merasakan sakit.

Pada 11 Desember 2017 lalu di desa SPI dan Bukit Suban, kecamatan Air Hitam, kabupaten Sarolangun, Jambi, anak-anak dan remaja disunat massal. Dengan dijaga tentara dan polisi, juga dihadiri Camat dan Kepala Desa. Tanpa mereka sadari, anak-anak dan remaja Rimba kehilangan Wali, terputus dari tradisi dan budaya Rimba-nya.

Mayoritas Orang Rimba tidak sanggup berkompetisi dengan kerasnya hidup di luar hutan belantara. Adaptasi mereka dengan desa-desa dan pendidikan formal seringkali gagal. Orang Rimba banyak yang kembali menganut kepercayaan leluhurnya dan masuk ke pedalaman hutan lagi. 

Belum lagi, persoalan tersingkirnya hak hidup Orang Rimba dan hutan semakin sempit karena ekspansi perkebunan sawit yang masif—sehingga Orang Rimba tercerabut dari akar tradisi dan budayanya. Orang Rimba yang tidak memiliki hutan terpaksa memungut buah sawit yang jatuh di lahan-lahan warga desa atau perusahaan. Tak sedikit, konflik terjadi dan Orang Rimba terbunuh.

Nah, mengapa pemerintah tidak tanggap dengan persoalan ini? Bukankah masyarakat adat seperti Orang Rimba merupakan penghuni tua di negeri ini, lalu di mana peran negara dalam melindungi mereka? Bagaimana nasib Orang Rimba yang kehilangan tanah-tanah adat mereka? Ruang hidup (hutan belantara) semakin sempit oleh ekspansi sawit, suku pedalaman di Jambi ini terancam musnah.

Bagaimana pendapat Anda Watyutink? (fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penyiar Radio Komunitas & Pemuda Rimba

Kalau saya masuk Islam dan bersunat, sebenarnya masuk sendiri. Tahu agama dari teman-teman di desa yang masuk ke pesantren. Saya pernah sekolah SD tapi tidak selesai. Bisa sedikit-sedikit baca, tapi tidak lancar. Setelah ini rencana saya akan ke pesantren diajak Pak Ustad.

Pak Ustad yang bilang, masuk Islam harus dengan kemauannya sendiri. Ketika ikut sunat massal, saya mendapat dua sarung, kopyah dan uang Rp150 ribu. Janjinya sih akan diberikan Rp1 juta per orang.

Bapak saya nasehati, kalau niatnya masuk Islam ya harus mengikuti aturan agama, yang baik-baik dijalankan dan jangan makan dihutan. Karena orangtua kan tinggal di dalam hutan, makannya binatang buruan yang di larang dalam agama Islam.

Saya jadi penyiar radio komunitas Benor FM dengan honor Rp7 ribu perjam, sebulan bisa dapat Rp700 ribu, itu penghasilan bersih. Saya siaran dengan bahasa Rimba dan bahasa Indonesia sehari tiga jam. Uangnya untuk beli pulsa biar bisa telpon pacar orang desa.

Dulu bisa baca tulis diajari oleh guru-guru yang masuk hutan, dari lembaga WARSI selama 1 tahun. Tidak tahu nanti, bagaimana baca bahasa Arabnya. Belum bisa sholat juga. Ingin menjadi orang yang maju seperti orang-orang di desa itu. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Adat Suku Orang Rimba

Tengganai itu kan penasehat adat, jabatan paling tinggi dalam struktur adat Orang Rimba, jadi bila ada masalah yang tidak bisa disepakati bersama dalam musyawarah adat, Tengganai yang menyelesaikan.

Punya hak untuk memecat jabatan lain seperti Tumenggung, Depati dan Mangku, kalau menjalankan hukum Rimba yang tidak adil. Saya keluar hutan dan datang ke desa untuk melihat anak-anak yang disunat massal. Saya masih bingung dengan anak-anak yang sekolah di desa dan bersunat.

Persoalannya, hampir semua yang sekolah disunat massal, ketika tidak bisa bersaing dengan orang luar—akhirnya balik lagi ke Rimba. Kalau cuma bersunat tidak apa-apa untuk kesehatan. Tapi kalau masuk agama Islam itu jadi persoalan.

Anak bujang kalau memilih Islam yang betul, belajar mengaji dan sholat tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang masih kecil dan perempuan Rimba masuk Islam. Adat Rimba dilepaskan, mereka akan terputus dari orangtuanya sebagai wali.

Sedangkan orangtuanya tidak memilih menjadi Islam. Siapa yang bertanggungjawab pada anak-anak Rimba? Mereka tidak bisa makan dan hidup dengan orangtua yang seharusnya bertanggungjawab. Kalau anak bujang sudah besar. Tapi anak-anak ini, bagaimana tanggungjawab negara? Kenapa tidak ada orangtua asuh? Jelas sudah terputus oleh adat Rimba dan bukan jadi tanggungjawab Orang Rimba.

Walinya terputus, bisa disebut melanggar adat. Anak-anak itu akhirnya seperti sampah yang dibuang begitu saja. Anak-anak kecil (lelaki/perempuan) dan perempuan itu dalam adat Rimba sangat dilindungi. Perempuan adalah harta bagi Orang Rimba dan harus dilindungi. Sekarang siapa yang melindungi mereka? Siapa yang menjamin keselamatan anak gadis Rimba?

Banyak yang tidak sanggup hidup diluar, kembali lagi masuk hutan, kalau sudah begitu ya harus mengikuti adat Rimba dan melepaskan agamanya. Harus melupakan Islam-nya, karena gak bisa makan binatang ternak di dalam hutan. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jambi

Inilah salahnya pemerintah, tidak memikirkan sumber penghidupan Orang Rimba, tapi malah meng-Islamkan Orang Rimba. Bagaimana nasib para gadis dan anak-anak kecil yang masih menyusui induknya (ibu), masih manja dan menempel induknya, terus dipisahkan dari orangtuanya. Nggak benar ini, mereka kehilangan Walinya, orangtua yang melindunginya. Harusnya pemerintah dan tokoh agama bertanggungjawab.

Mengapa tidak memikirkan, bagaimana hutan tetap terjaga kelestariannya, hutan tidak rusak dan Orang Rimba tetap mendapatkan hak-hak hidupnya. Kondisi hutan juga semakin sempit—Orang Rimba semakin terdesak. Tetapi Orang Rimba juga harus belajar menghasilkan sumber pangan dengan menanam atau pertanian. Saya sudah menawarkan anak-anak Rimba, lima anak, kalau ada yang mau sekolah sampai jenjang Perguruan Tinggi akan saya biayai sampai selesai.

Anak-anak saya tidak ada yang mau sekolah, anak-anak Rimba juga begitu semua. Maksud saya, biar Orang Rimba punya harga diri dan nasibnya tidak terpuruk terus oleh perubahan. Mau tidak mau perubahan akan berlangsung. Dulu saya memilih agama Islam dengan kesadaran sendiri. Saya membuktikan benar-benar menjalani agama, tidak setengah-setengah atau terpengaruh orang lain.

Saya keluar dari hutan dan memilih hidup di desa dengan mengembangkan pertanian. Bulan ini, saya panen kacang tanah 1 hektar dapat Rp5 juta, masih ada lagi dua hektar yang belum dipanen dan kebun pete. Juga saya sedang membangun toko bangunan yang menjual kayu, semen, batu dan lain-lainnya.

Saya akan terus membela Orang Rimba dan hutan dilindungi—agar Orang Rimba memiliki masa depan dan kehidupan yang baik. Sampai sekarang saya masih menjadi pengurus AMAN di Jambi, bahkan saya dulu ikut mendirikan AMAN Nasional, agar suara Orang Rimba didengar dan diperhatikan pemerintah. (fai)

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik