Ketika Media Sosial Jadi Ajang Kampanye LGBT
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 10 October 2018 17:30
Di Indonesia, negara yang berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi sangat sensitif. Meski tidak ada legalitas terhadap kelompok LGBT, namun mereka semakin terang-terangan mempublikasikan eksistensi mereka.

Mirisnya, saat ini banyak anak-anak di bawah umur ikut bergabung dengan komunitas LGBT. Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini di daerah Garut, dimana warga dihebohkan dengan kemunculan grup kelompok gay di Facebook yang anggotanya merupakan anak SMP dan SMA dengan jumlah anggota mencapai 2000 lebih. Lantas, adakah cara untuk mencegah agar anak-anak yang pada dasarnya sedang mencari jati diri tidak terpengaruh dengan akun gay tersebut?

Jumlah grup gay Facebook di Garut pun rupanya tak hanya satu, dan mereka masih tetap aktif menggelar obrolan meski beberapa anggotanya mengetahui bahwa grup mereka telah viral dan menjadi sorotan publik. Hal itu tentu meresahkan banyak orangtua dan pihak sekolah, lantaran mereka takut jika anak atau siswanya tergabung dalam grup gay tersebut atau terpengaruh untuk bergabung. Terlebih, anggota grup gay itu juga banyak yang berasal dari luar Jawa Barat. 

Menurut sejumlah pihak yang ahli dalam masalah psikologis dan saraf, perilaku LGBT sebenarnya tak hanya dari faktor genetik atau bawaan sejak lahir, tetapi juga bisa disebabkan oleh faktor lingkungan. Artinya, pergaulan anak-anak dapat menimbulkan kecenderungan semacam itu. Lalu, bisakah orangtua dan pihak sekolah melakukan kontrol serta memberikan pendidikan agama dan moral lebih terhadap anak-anak?

Walaupun LGBT dianggap sebagai perilaku yang menyimpang, mereka yang mengaku sebagai anggota dari komunitas LBGT tetap berharap agar perilakunya dilegalisasi. Namun Komnas HAM menganggap perilaku mereka bertentangan dengan Pancasila, Undang-Undang Perkawinan, dan moralitas bangsa. 

Selain itu, larangan terhadap perilaku LGBT juga sempat ditulis dalam RKUHP, tetapi banyak pihak yang menolak dan menjadi perdebatan yang berlarut-larut. Akan tetapi jika LGBT tidak dilarang oleh peraturan perundang-undangan, maka seperti apa hukum bagi pelaku LGBT yang melanggar aturan dengan membuat grup dan menyasar anak-anak?

Fenomena grup gay Garut yang beranggotakan anak-anak SMP dan SMA pada dasarnya bukan satu-satunya kasus yang terjadi di Indonesia. Melihat maraknya perilaku LGBT di Indonesia, apakah itu menunjukkan lemahnya pengawasan semua pihak atas gejala sosial yang terjadi di masyarakat? Lalu, siapa yang harus bertanggungjawab?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan keprihatinan mendalam terkait kasus adanya komunitas gay yang menggunakan aplikasi Facebook (FB) di Garut untuk menarik anggota dengan menyasar anak-anak usia SMP dan SMA/SMK. Pembuat atau pengelola FB telah begitu berani membuat grup terbuka di aplikasi FB. 

Grup FB di Garut ini memiliki potensi strategis untuk mengkampanyekan gay di kalangan anak-anak atau remaja laki-laki. Anggota grup ini juga cukup mencengangkan, yaitu mencapai 2.6 ribu anggota. Hal ini tentu sangat membahayakan karena kampanye lelaki penyuka sejenis bisa dengan cepat menyebar di kalangan anak lainnya di grup maupun di luar anggota grup. 

Padahal anak-anak di bawah umur ini belum memiliki orientasi seksual, sehingga grup FB ini berpotensi membangun kekeliruan cara pandang anak terkait orientasi seksualnya. Fakta ini tidak bisa dianggap remeh apalagi dibiarkan, karena grup FB Gay ini sangat meresahkan para orangtua. Masyarakat khawatir bahwa FB Gay ini akan menganggu tumbuh kembang anak, karena anak berpotensi memiliki orientasi seksual sebagai gay. Kalau kampanye seperti ini meluas, maka berdampak secara signifikan pada pembentukan orientasi seksual anak yang menyimpang. 

Jika hal tersebut terjadi maka sangat diperlukan terapi psikologis untuk merehabilitasinya. Pelaksanaan rehabilitasi psikologis dan medis membutuhkan pelibatan masif dari P2TP2A Garut, dinas sosial, dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan dinas pendidikan setempat sesuai jenjang pendidikan korban. 

Pemerintah provinsi Jawa Barat sejatinya juga segera berkoordinasi untuk penanganan kasus ini dan mencegah meluas, mengingat kejadian yang hamper sama ditemukan tidak hanya di Garut, tetapi juga di Cikarang Selatan dengan skala yang lebih kecil dan lebih tertutup. 

Selain itu, sangat diperlukan kepekaan dan kesadaran para guru dan orangtua untuk berpartisipasi aktif dalam mendampingi anak-anaknya. Kontrol orangtua terhadap penggunaan handphone (HP) anak-anaknya sangat penting sebagai upaya pencegahan. Apalagi waktu anak paling banyak adalah di rumah. Ketika orangtua sudah memberikan HP ke anaknya maka orangtua wajib mengontrolnya demi melindungi anak-anak dari berbagai konten kekerasan maupun pornografi. 

Untuk pihak sekolah atau para guru, harus memiliki kepekaan ketika para siswanya menunjukan indikasi berperilaku seksual menyimpang. Sosialisasi pendidikan kesehatan reproduksi harus digiatkan secara terus menerus di berbagai sekolah dan juga di masyarakat sebagai strategi pencegahan berbasis kepekaan masyarakat di lingkungan sekitar. 

Selain itu, harus ada sistem Pencegahan dan penanganan yg strategis demi melindungi anak-anak dari kampanye LGBT sejenis sebagaimana terungkap dalam kasus ini. KPAI sedang mendalami kasus ini. Pada Senin (8/10), KPAI sudah berkoordinasi dengan pihak Polres Garut dan menurut kepolisian sampai sore itu belum ada laporan kasus FB gay ini, baik dari orangtua korban maupun anggota masyarakat lainnya.

Selain itu, polisi harus mengusut tuntas meski kasus ini tidak dilaporkan, karena hal ini meresahkan banyak orangtua, mengingat mayoritas anak jaman sekarang sangat familiar dengan media social dan gadget. Aktor intelektualnya juga harus diungkap dan diproses hukum. KPAI mendukung kepolisian untuk mengungkap dalangnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkoninfo RI) juga harus segera berkoordinasi dengan Facebook untuk menutup akun FB tersebut. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Grup facebook gay tersebut pada dasarnya hanya salah satu dari banyaknya grup di pelbagai platform medsos yang tetap eksis hingga saat ini, baik itu grup tertutup maupun terbuka, yang menjadi wadah komunikasi dan berbagi info antar para pengamal dan penghayat orientasi seks menyimpang (LGBT), mencari sasaran kencan, sekaligus perluasan jaringan, promosi dan propaganda terselubung mereka. 

Banyak pihak heran, kok bisa sih perilaku dan orientasi seks menyimpang LGBT itu semakin banyak saja penganutnya pada saat ini, bahkan telah merambah pada banyak anak di bawah umur, termasuk yang tinggal di pelbagai pelosok daerah yang sebelumnya relatif nihil dari perilaku seks menyimpang?

Dalam konteks itu, ada beberapa realitas yang menopang semakin banyaknya jumlah pengamal dan penghayat orientasi seks menyimpang LGBT. Pertama, pesatnya penggunaan medsos dan gawai berbasis internet dalam satu dekade terakhir ini yang telah turut memperbanyak dan memperluas cakupan rekruitmen dan proses kloning perilaku dan orientasi seks menyimpang di tengah masyarakat, tak terkecuali di kalangan anak-anak. 

Lewat internet dan medsos yang dinikmati secara personal, apalagi oleh anak yang belum diberikan pemahaman yang utuh tentang seks dan orientasi seks yang sehat dan kodrati, maka lambat laun sebuah ide sesat dan visualisasi tentang orientasi seks menyimpang tersebut akhirnya akan terbenam di sistim memori anak. Lalu dalam perkembangannya berpotensi mengaktual menjadi perilaku yang akan turut dilakoninya jika tak segera ada koreksi atas pemahaman sesat yang telah membenam itu. 

Kedua, ada banyak kasus dan korban aksi tindak pidana sodomi terhadap anak dalam rentang beberapa dekade terakhir ini di pelbagai daerah dalam cakupan wilayah yang tersebar luas, baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap polisi dan media. Terlebih para korban tidak mendapat bimbingan konseling dan terapi secara tuntas, sehingga hal itu berpotensi mengkloning para korban menjadi pengamal dan penghayat seks menyimpang. Contoh atas kasus seperti ini amat banyak terjadi. Salah satu yang terkenal adalah Emon, penyodomi serial dari Sukabumi yang sebelumnya adalah korban sodomi. 

Ketiga, LGBT sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1970-an dan telah tumbuh sebagai gerakan internasional yang solid. Dengan pendanaan kuat, pengikut dan simpatisannya yang terus meluas, tak terkecuali dari kalangan selebritis, politisi dan ilmuwan, secara agresif mempromosikan orientasi seks menyimpang secara luas ke pelbagai negara. Baik secara terang-terangan, maupun semi terang-terangan dan sembunyi-sembunyi.

Keempat, adanya keberlangsungan upaya-upaya pembenaran perilaku dan orientasi seks menyimpang lewat jubah sains. Sehingga kebenaran yang dikatakan banyak orang terkait orientasi seks menyimpang seperti LGBT itu justru menurut mereka merupakan perilaku dan orientasi seks yang amat kodrati, bukanlah penyakit atau sejenis gangguan kejiwaan.

Kini persoalannya, apakah kita sebagai bangsa tergerak untuk kompak bersama merumuskan dan menjalankan agenda-agenda kebangsaan secara sungguh-sungguh yang menjadi antitesis atas keempat realitas menonjol yang berlangsung terkait perilaku dan orientasi seks menyimpang tersebut? Karena sesungguhnya perilaku dan orientasi seks menyimpang pada diri seseorang, sangatlah bisa untuk dikembalikan pada fitrahnya yang sejati. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang