Kenapa Selebritas Relawan Jokowi Belum Gerak?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 26 December 2018 14:00
Watyutink.com - Waktu itu situasinya genting. Popularitas Jokowi menurun akibat serangan masif kampanye hitam, padahal pilpres semakin dekat. Perlu gebrakan menaikkan popularitas. Langkah yang diambil: mendekati selebritas. 

Awal Juli 2014, jelang pilpres, sejumlah seleb lantas ramai-ramai membuat pernyataan dukungan buat Jokowi-JK disertai tagar #akhirnyamilihjokowi. Ringgo Agus Rahman, Joko Anwar, Sherina dan banyak lagi mencuit dukungan buat Jokowi. Tidak sampai di situ. Abdee Negara, salah satu personil Slank, menggagas Konser Salam Dua Jari di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 5 Juli 2014. Konser itu didukung 200 musisi dan seleb serta sukses mendatangkan 100 ribu orang di bulan puasa. 

Hasilnya elektabilitas Jokowi terkerek. Ia kemudian memenangi pilpres menghempaskan Prabowo Subianto. Ketika kini keduanya tanding ulang di Pilpres 2019, apakah solidaritas relawan seleb serta konser akbar bakal terjadi lagi?

Situasinya kini sama gentingnya dengan 2014 lalu. Pilihan Jokowi menjadikan KH Ma'ruf Amin ternyata tak mampu mengerek elektabilitasnya lebih tinggi lagi. Menurut beragam survei, elektabilitasnya masih di atas sang pesaing, Prabowo-Sandiaga Uno. Tapi trennya cenderung menurun. Sedang Prabowo-Sandi trennya merangkak naik. 

Di lain pihak, seperti dilaporkan majalah Tempo pekan kemarin, KH Ma'ruf ternyata tak kuasa memikat pemilih Muhammadiyah maupun merebut simpati di Banten, daerah kelahirannya. Sementara itu Prabowo-Sandi mulai merangsek masuk ke wilayah Jawa Tengah, basis tradisional Jokowi dan partainya, PDI Perjuangan. 

Melihat situasi di atas bukankah kini saat yang tepat bagi Jokowi meminta dukungan selebritas yang dulu berada di belakangnya?

But wait, ke mana seleb yang dulu Jokowi? Kok, belum ada tagar dukungan bersliweran di jagat maya?

Well, situasinya mungkin berbeda dengan lima tahun lalu. Waktu itu Jokowi dianggap underdog. Waktu itu pula ia dianggap membawa harapan. Setelah akhirnya ia menang dan memerintah lantas apa harapan itu sudah sirna?

Situasinya persis kala Barack Obama terpilih untuk kedua kalinya. Antusiasme pemilih turun di periode kedua. Jokowi tampaknya mendapati hal yang sama. Kenyataan menunjukkan harapan di masa kampanye bisa berbeda dengan saat berkuasa. Apa orang-orang, termasuk selebritas, kini bersikap apatis pada politik praktis? 

Jika demikian adanya Jokowi sepatutnya was-was. Tahun 2014 ia menang berkat volunterisme warga yang bangkit untuk melihat perbaikan dan perubahan. Saat volunterisme itu sirna apa lagi yang tersisa? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Hampir lima tahun lalu setelah Konser Salam 2 Jari untuk mendukung Jokowi rasanya sulit terulang kembali. Waktu itu saya melihat di konser itu ada unsur spontanitas dan datang dari inisiatif relawan. Aktivitas seperti itu adalah momentum yang memuncak di konser itu.  

Karakter relawan sendiri cair, tidak disokong dasar ideologi tertentu. Bukan seperti gerakan massa yang basisnya adalah para kader. Dulu, Konser Salam 2 Jari adalah kegiatan relawan. Pasti beda dengan kegiatan kader partai. Karena tak ada penyangga ideologinya, maka susah untuk berulang. 

Setelah 2014 sampai sekarang makin terlihat, bahwa yang memformasi diri adalah mereka yang masih menggunakan basis massa untuk berkumpul adalah kesamaan ideologi, misalnya demo 212. Secara keseluruhan, demo 212 basisnya ideologi dan penggeraknya para kader, jadi mereka lebih bisa bergerak
menggalang massa.

Sedangkan Konser Salam 2 Jari tak punya basis ideologi. Begitu menang, mereka berpisah-pisah. Dan terbukti kan, basis gerakan sipil yang jadi motor penggerak konser itu tidak tetap menyatu. Mereka terpecah-pecah. KIta lihat sekarang gerakan sipil pecah, para relawan pecah, kelas menengah juga pecah,
begitu juga kelas kreatif. Dan sulit sekarang membayangkan konser semacam itu terjadi lagi. 

Apa perpecahan ini merugikan Jokowi? Jangan lupa, waktu sebelum konser itu Jokowi kondisinya sukar menang. Sedangkan saat ini posisinya sebagai petahana. Ia telah membuktikan, sebagai petahana, apa yang ia bisa kerjakan selama berkuasa. Ia punya keberuntungan itu. 

Dari sudut kepentingan Jokowi sekarang, menurut saya, konser akbar semacam Salam 2 Jari tak perlu lagi. Prabowo memang perlu menggalang massa, dan ia punya basis (kader) massa untuk acara semacam itu.  

Untuk para artis sendiri kasus 2014 berbeda dengan 2019. Menurut saya, sekarang kurang menguntungkan bila secara terbuka menyatakan pendapat mendukung Jokowi seperti dulu. Sebab pemilih Jokowi seringkali mendapati serangan gencar di dunia maya. Jurus lawan Jokowi kan ofensif saja. Sekarang suasananya terlalu negatif. 

Dulu masih ada unsur senang-senangnya. Aman juga. Dulu kerelaan (mendukung) lebih besar terbangun karena nggak ada konsekuensi yang terlalu bagaimana (merugikan). Orang masih bisa happy being in the crowd, bergembira bersama-sama.  
 
Kita harus ingat, setelah Jokowi menang, ada fase di mana Ahok kalah (pilgub DKI). Walau ada unsur intrinsik faktor Ahok, ada juga faktor serangan gerombolan cyber kepada pembela dan pendukung Ahok. Serangan mereka sangat keras. Jadinya nggak asyik lagi. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF