Kenapa Masih Ada yang Percaya Bumi Datar?
berita
Humaniora

Dok. Wikimedia Commons

25 November 2017 16:00
Sebuah konferensi tak biasa belum lama ini berlangsung di North Carolina, AS. Nama konferensinya Flat Earth International Conference (FEIC, Konferensi Bumi Datar Internasional). Menurut laporan berbagai media, acara yang berlangsung 9-10 November 2017 itu dihadiri 500-an orang yang  harus merogoh uang USD 249 atau setara Rp3,4 juta untuk tiket masuk.

Mengherankan ada sekumpulan orang rela membayar ratusan dolar untuk ikut acara yang menafikan sains dan logika. 

Pendukung Bumi datar tak hanya di Amerika. Di Indonesia pun tak sedikit yang percaya Bumi adalah bidang yang datar. Di media sosial keberadaan mereka mudah terdeteksi. Di Facebook ada group Flat Earth 101 Indonesia dan Indonesia Flat Society yang diikuti ribuan orang. Di Instagram juga ada akun Flat Earth Indonesia yang punya pengikut lebih dari dua ribu orang. Tanya yang langsung terbit: kenapa ada orang yang masih percaya Bumi datar?

BACA JUGA: Bagaimana Sebaiknya Indonesia Memandang Hitler Dan Nazi?

Dahulu kala orang memang percaya Bumi datar. Masyarakat Babilonia atau Yunani pra-klasik (sebelum abad ke-6 SM) yang hidup ribuan tahun lalu meninggalkan artefak dan peta kuno yang memperlihatkan Bumi merupakan bidang yang rata. Namun sekitar 2500 tahun lalu orang mulai mempertanyakan keyakinan itu. Dari amatan yang mereka lakukan, antara lain dengan melihat gerak perahu di laut, mereka mulai meyakini Bumi melengkung dan bulat. 

Hanya saja, orang kuno percaya Bumi pusat semesta (geosentris). Kepercayaan itu dianulir Copernicus dan Galileo di zaman Renaisans. Mereka berhasil membuktikan Bumi berbentuk bundar dan mengitari Matahari (heliosentris). 

Sains modern berkembang terus. Manusia akhirnya sampai ke bulan dan memotret Bumi dari ruang angkasa. Namun bukti-bukti ilmiah tak terbantahkan itu tak menyurutkan kepercayaan sejumlah orang. Mereka yang percaya Bumi datar terus ada dan punya teori "ilmiah" sendiri untuk membentengi apa yang mereka yakini itu. Kenapa keyakinan ini terus tumbuh hingga kini? Sedemikian sulitkah untuk percaya Bumi bulat sempurna?

BACA JUGA: Ada Apa Dengan Jogja?

Tidak sedikit pengikut Bumi datar di Indonesia yang berpendidikan tinggi. Jika pendidikan yang mereka tempuh tak cukup membangun logika berpikir untuk percaya Bumi bulat, adakah yang salah dengan sistem pendidikan saat ini?

Selain itu, mereka juga berpegang pada dalil agama sebagai argumentasi. Memangnya ada dalil agama yang jelas menyebut Bumi datar? Apa keyakinan ini bagian dari konservatisme baru? Atau ini sebentuk reaksi orang yang menolak modernitas dan dalam pencarian mereka bertemu teori Bumi datar?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)

Kepercayaan pada Bumi yang datar menurut saya lebih dipengaruhi oleh media. Media tersebut bagi mereka dianggap meyakinkan.Di Youtube, misalnya, ada video berisi cuplikan-cuplikan yang ditempel yang diberi tambahan informasi untuk mendukung teori Bumi datar. Mereka yang percaya ini umumnya tidak paham fisikanya.

Mereka berargumen misalnya, laut kelihatan datar. Penjelasannya, karena lingkarannya besar sekali. Sebuah lingkaran yang amat besar akan terlihat seperti datar. Bumi kita yang memiliki diameter 6.300 km dilihat dari laut akan kelihatan datar.  Bahkan dilihat dari pesawat komersial paling tinggi pun, sekitar 12 km di atas permukaan laut, itupun masih kelihatan datar. Dengan kasat mata memang sulit melihat lengkung Bumi. Baru dengan menggunakan satelit yang lebih tinggi lagi kelengkungannya terlihat. Dengan satelit yang punya ketinggian 36 ribu km, baru seluruh bulatan Bumi kelihatan. Seperti saat dipotret oleh satelit cuaca, misalnya. 

Bukti bahwa Bumi bulat adalah gravitasi. Keberadaan gravitasi disebabkan oleh Bumi yang bulat. Bumi, demikian juga planet-planet, pada saat pembentukannya mengalami gravitasi diri yang menyebabkan benda-benda langit menjadi bulat. Benda-benda langit sanling menorbit mengitari juga karena gravitasi.   

Tapi bukti-bukti itu tak  cukup membuat pengikut Bumi datar percaya. Di sinilah kekuatan media. Media sangat mempengaruhi. Lalu, mereka diberi informasi yang keliru. Mereka menuduh foto-foto atau citra satelit yang sesungguhnya riil, disebut CGI (computer generated image, hasil olahan komputer). Mereka umumnya percaya pada teori konspirasi. Saya menyebut mereka anti sains. Penjelasan saintifik tidak bisa mereka terima. Penganut Bumi datar tidak percaya adanya satelit. Padahal Bumi bulat dan keberadaan satelit menunjukkan ada gravitasi. 

Kaum Bumi datar juga berpegang pada interpretasi lama di kitab suci. Khususnya yang beragama Islam memang ada beberapa ayat yang menyebutkan Bumi ini "dihamparkan-Nya". Makna "dihamparkan" di sini bukan seperti menghamparkan karpet yang berarti datar. Menghamparkan di sini bisa diartikan dalam konteks ilmiah sebagai lempeng benua, bukan dalam konteks Bumi yang datar. (ade)          

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia

Tema Bumi datar banyak dibahas di sosial media. Banyak juga yang menerbitkan buku tentang tema ini. Kalau saya lihat, ada umat Islam percaya pada teori Bumi datar, karena umat sekarang mulai gersang secara intelektual. Mereka yang percaya bersandar pada kalimat-kalimat ayat dalam Al-Quran bahwa Allah berfirman Bumi "dihamparkan." 

Mereka yang meyakini Bumi datar berdasar Al-Quran berarti mereka melihat kitab suci hanya secara tekstual. Ketika menemukan kata "dihamparkan" langsung diartikan Bumi bentuknya datar. Padahal Al-quran juga harus dibaca secara kontekstual. Ulama-ulama terdahulu saja sudah membaca Al-Quran dengan cara kontekstual. Tidak hanya ditelan teksnya, tapi juga dikaji dan diuji dengan ilmu pengetahuan. 

Orang-orang yang percaya Bumi datar ini tak menggunakan kemajuan teknologi, misalnya internet, untuk mengeskplorasi pengetahuan. Mereka justru memakai internet untuk mencari informasi yang salah tanpa dicerna. Dari laju ilmu pengetahuan ini sifat instan-nya justru yang diambil. Kemudahan untuk mencari dan mengeksplorasi lebih lanjut malah tak dilakukan.  

Bayangkan saja, di abad ke-17, ada seorang penguasa dan pedagang dari Makassar bernama Karaeng Pattingaloang memesan bola dunia atau globe pertama dari Eropa. Bayangkan, dari negeri kita yang dianggap antah-berantah memesan bola dunia pada peradaban yang dulu menganggap Bumi datar. Kalau hari ini di Indonesia muncul kepercayaan sebaliknya, ini kemunduran. Padahal di zaman dulu belum ada internet. 

Semangat orang zaman sekarang mencari informasi tak berdasar semangat menambah wawasan atau ilmu pengetahuan, tapi lebih pada semangat revitalisme, mengagungkan apa yang keluar dari kelompoknya dan itu dianggap kebenaran. Akhirnya pengetahuannya nggak berkembang. Di Al-Quran sendiri Allah selalu bilang "pergunakan akalmu". Berkali-kali Allah bilang "Kamu mikir nggak..." 

Mereka nggak bisa memilah, mana kitab suci sebagai kebenaran agama dan mana kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kalau kita menempatkan Al-Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan, sebagaimana ulama-ulama terdahulu, mungkin bakal berbeda. Sekarang ini benar-benar percaya teks-nya, dengan pemahaman bahasa Arab terbatas yang mereka miliki. 

Dari segi linguistik, bahasa Arab adalah bahasa terumit di dunia, baru setelahnya bahasa Rusia. Jadi ketika ada kata "dihamparkan" atau "seperti karpet" atau "tikar" jangan diartikan sekadar teks. Itu adalah keindahan Tuhan menggunakan metafora-metafora. Jangankan sebagai sumber pengetahuan, metafora saja mereka gagal memahami, itu kan agak repot.           

Faktor lain juga yang turut berperan, menurut saya, teknologi berkembang pesat, namun ilmu pengetahuan tak demikian. Dulu ada Newton dan di awal abad ke-20 ada Einstein. Sekarang masih ada Stephen Hawking yang masih hidup. Namun sekarang kegemaran orang pada ilmu pengetahuan berkurang. Orang kini lebih berfokus pada teknologi, kecanggihan gadget dan lain sebagainya yang bersifat ilmu terapan. Ketika daya serap orang pada teori ilmu pengetahuan berkurang, ini jadi celah yang bagus untuk lahirnya semangat konservatisme dan revitalisme baru. Mereka mengagungkan kejayaan masa lampau, tapi tak tahu menggunakan kejayaan itu untuk apa. (ade)    
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional