Kenapa Kita Tak Kagum Konstruksi Kecantikan Lokal?
berita
Humaniora

Sumber Foto: pinterest.com

22 October 2017 17:00
Penulis
Di sekitar kita, konsep kecantikan digambarkan seragam. Cantik selalu diartikan berkulit putih cerah, badan langsing, dan rambut panjang lurus. Seolah tidak ada tempat buat mendefinisikan kecantikan dari sudut pandang berbeda. Tidak sadarkah bahwa pola pikir kita sudah 'diseragamkan' untuk mendefinisikan kecantikan?

Baru-baru ini media internasional menulis bagaimana rasisnya sebuah iklan sabun batangan. Iklan visual itu mengisahkan seorang perempuan berkulit hitam yang mandi menggunakan sabun batangan, selesai mandi si perempuan itu berubah menjadi perempuan berkulit putih. Tak ayal, para aktivis perempuan dari berbagai negara melayangkan protes keras, sampai memunculkan gerakan boikot produk sabun.

Di Indonesia, para perempuan berambut keriting rela merogoh uang lebih untuk pergi ke salon melakukan teknik pelurusan rambut seperti rebonding, smothing. Juga melakukan sulam alis atau bibir, setrika wajah, tanam benang di wajah, pengelupasan kulit wajah, memutihkan kulit, sedot lemak, dan lainnya. Bahkan paling ekstrem melakukan operasi wajah dan tubuh seperti di Korea Selatan. Negara ini menempati urutan atas terkait operasi plastik. Apa sebab banyak perempuan sanggup menahan sakit demi tampil cantik sesuai konstruksi produsen dan media?

Padahal konstruksi dan konsep cantik di setiap bangsa berbeda-beda. Semisal, budaya suku Dayak, perempuan dikategorikan cantik apabila memiliki telinga sangat panjang. Begitu juga bagi suku Karen di Thailand Utara, perempuan disebut cantik kalau memiliki leher yang panjang. Di Afrika, perempuan cantik digambarkan berbibir sangat lebar. Di Iran, perempuan cantik itu memiliki hidung mancung yang mungil, itu sebabnya Iran menempati urutan teratas di dunia dalam operasi hidung. Nah,mengapa sebagian perempuan  di Indonesia tidak percaya diri dengan kecantikan alami khas suku bangsanya?

Rata-rata perempuan Indonesia memiliki pigmen kulit coklat yang manis, postur tubuh sedang, dan rambut sedikit berombak. Kecantikan alami perempuan Indonesia seperti itu justru dianggap eksotis oleh orang asing atau bule. Pernah lihat tipikal selera bule dalam memilih perempuan Indonesia sebagai pasangannya? Di mata mereka, itulah kecantikan yang eksotik. Dengan ratusan suku bangsa, ada ratusan macam kecantikan khas di negeri ini. Dan itu adalah hal langka yang tidak semua bangsa memilikinya.

Apalagi, kulit perempuan Indonesia terdiri atas tiga lapisan: epidermis, dermis, dan lapisan subkutis. Lapisan yang terlihat, yaitu epidermis, tersusun dari keratinosit, sel-sel yang menyediakan perlindungan alami kulit dari paparan ultraviolet (sinar UV). Berbeda dengan kulit perempuan Kaukasia (kulit putih) yang rentan terhadap ancaman kanker kulit dan penuaan dini karena kurang melanin, kulit sawo matang perempuan kita justu antikanker.

Lantas mengapa perempuan Indonesia justru meniru konsep kecantikan bangsa Barat? Tidak sadar konstruksi kecantikan sendiri, atau ini menunjukkan alam bawah sadar kita tetap inferior atas bangsa Barat dan menganggap apa yang mereka miliki itu keren semata?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dokter, Feminist, Mahasiswa S3

Apakah cantik itu mitos? Humans love beauty, tapi cantik itu social construct. Social construct biasanya memiliki tujuan fungsional. Nah, tujuan fungsional ini yang kadang berbeda dengan across culture. Misalnya, reproduksi itu penting, maka anak lahir-hidup menjadi penting, salah satu tampilan fisik yang dapat digunakan untuk menilai ini adalah besar pinggulnya (sekadar contoh).

Berhubung sejarah panjang globalisasi yang di dalamnya ada kolonialisme, imperialisme dan ekonomi liberal, maka terjadi pertukaran budaya mengenai social construction of beauty. Kecuali yang berada didalam lokasi geografis maupun budaya yang ter-seclusion, maka terjadi difusi persepsi cantik.

Apakah konstrusi cantik itu untuk melemahkan gerakan perempuan? Sepertinya kalau konstruksi itu sendiri awalnya innocent. ya. Tapi konsekuensinya yang multiple dan kadang harmful. Kalau kita mengadopsi barat, salah satu akarnya adalah kolonialisme yang diperparah dengan kapitalisme. Ada rasisme yang tersembunyi. We should be the one defining our self worth. Beauty is just another label.

Perempuan ini merupakan korban kapitalisme, terutama media yang menayangkan iklan-iklan kecantikan. Apakah media mendidik? They tried, but not rigourous enough. Makanya ada perlawanan, banyak muncul komunitas seperti big is beauty. (fai)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Fotografer Senior, Penulis Buku "Telinga Panjang"

Kecantikan berubah seiring tren zaman. Ada figur global yang dijadikan panutan. Dulu yang cantik di zaman saya seperti Lady Diana. Perempuan yang tidak merasa cantik, berusaha mengubahnya sampai bedah plastik. Cantik itu harus berwajah tirus dan lainnya.

Berbeda dengan perempuan suku Dayak, mereka punya persepsi kecantikan lewat budaya, telinga panjang dan rajah (tato). Seperti suku Dayak Bahau, perempuan cantik harus memiliki rajah dan telinga panjang, menggantungkan anting 15-30 yang terbuat dari perak atau tembaga. Perempuan bertelinga panjang dibentuk sejak kecil dan melalui proses yang panjang, bertahun-tahun.

Sedangkan suku Dayak Wehea, bertelinga panjang sebagai sebuah pilihan, tapi merajah di bagian merupakan kewajiban yang diperintahkan adat agar tampil cantik. Perempuan didewasakan oleh rajah, kalau tidak punya rajah, belum boleh menikah. Bayangkan ketika mereka muda cantik dengan rajah yang kaya motif seperti tradisi hena di Timur Tengah.

Rajah atau telinga panjang bagi perempuan Dayak merupakan kecantikan yang menunjukkan identitas dan status sosial (bangsawan atau bukan). Dulu merajah harus barter dengan benda berharga, semakin rumit rajah menunjukkan status sosialnya tinggi atau kaya. Begitu juga banyaknya anting di telinga panjang.

Bagi perempuan Dayak cantik itu keharusan, selain menjadi bagian budaya dan identitas. Kecantikan itu berbayar mahal, mempersulit diri dan sakit. Bohong banget kalau mau tampil cantik tanpa usaha, atau cuma inner beauty. 

Perempuan Dayak melihat dunia luar ya mengikuti tren global pada 1970-1980an, makanya banyak yang memotong telinganya jadi pendek. Anak muda sekarang tidak lagi dirajah tubuhnya atau tidak bertelinga panjang. Mereka mengabaikan perintah adat, sudah dianggap nggak relevan dan tidak sesuai zaman.

Hanya perempuan yang tua saja yang bertahan dengan tradisi rajah dan telinga panjang, karena mereka takut karma dan memiliki keyakinan sangat kuat pada adat. Yang memotong telinga justru merasa sebagai perempuan modern. Hukum adat juga terus bergeser. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Public Health Expert ICRC (International Committee of the Red Cross)

Kalau saya lebih kepada kepuasan pribadi, melakukan hal yang menyakitkan untuk kenyamanan pribadi. Misalnya waxing, itu rasanya sakit tapi bersih semua. Nggak ada orang jualan, bila nggak ada pembelinya. Berartikan dibutuhkan oleh perempuan.

Dari kita sekolah dulu sudah ada tekanan. Coba saja pulang sekolah kepanasan terpapar terik matahari. Ibu kita pasti akan bilang, “Kulit kok hitam kusam”. Saya lebih memilih merawat wajah dengan produk organik, minyak alami, atau bikin sendiri masker dari sisa ampas kopi ditambah olive oil.

Yang bahaya itu bila seseorang maunya cepat berubah cantik dan murah. Di salon-salon kecantikan yang menawarkan perawatan kulit, apakah ada dokter-dokter yang mengontrol? Nyaris tidak ada. Saya ke salon paling untuk potong rambut, facial, dan creambath saja. Tidak berani dengan perawatan yang berisiko.

Meski saya dokter, saya takut jarum suntik. Saya nggak mau injeksi (suntik) vitamin C. Meski bisa membantu mencerahkan kulit. Menurut saya, seseorang itu  cantik kalau nyaman dengan dirinya sendiri, penuh percaya diri, mau pakai baju bergaya apapun dia merasa nyaman.

Tapi soal perempuan berambut keriting yang gemar meluruskan rambutnya. Saya paham alasannya, saya sendiri berambut keriting-- tapi tertutupi hijab. Rata-rata rambut keriting itu cenderung kering dan memang susah diaturnya. Berbeda dengan rambut lurus yang mudah diaturnya. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan