Kematian Overwork dan Lahirnya Kesadaran Baru
berita
Humaniora

Sumber Foto: cinencuentro.com

12 October 2017 16:50
Penulis
Masih ingat sosok Mita Diran? Gadis cantik berkacamata asal Jakarta. Namanya melambung jadi sorotan media nasional dan internasional. Mita adalah anak muda kreatif yang bekerja sebagai copy writer  di Agency Y&R (Young & Rubicam) Asia. Dia tewas di usia 27 tahun setelah mengalami overwork selama tiga hari. Sehari sebelum nafasnya terhenti, Mita curhat melalui akun Twitternya. “30 hours of working and still going stroooong,”  tweet Mita.

Pekerja magang Joey Tocnang (27) asal Filipina mengalami hal sama, overwork hingga 122,5 jam. Joey dipulangkan dari Prefektur Gifu, Jepang, ke negerinya dalam kondisi sudah tak bernyawa. Pekerja yang tewas disebabkan overwork di Jepang memiliki istilah Karoshi. Tapi yang paling menyentak saat animator karakter Naruto, Kazunori Mizuno, tewas. Juga karena overwork. NHK sampai harus meminta maaf atas kematian reporternya, Miwa Sado (31), yang mengalami gangguan kesehatan setelah menjalani overwork selama 159 jam.

Pekerja di sektor kreatif sangat rentan terhadap kelebihan jam kerja, seperti pekerja lepas (freelancer), paruh waktu (part timer), kontrak, alih daya (outsourcing), dan lainnya. Aksi May Day (1 Mei) di seluruh dunia sudah mengingatkan rentannya persoalan dan kesejahteraan para pekerja. Generasi baru belum juga beranjak.

Tapi sejak tewasnya Mita Diran dan kasus-kasus overwork lainnya, lahir gerakan kesadaran baru dan solidaritas generasi muda di industri kreatif untuk mendirikan Serikat Pekerja bernama Sindikasi. Bahkan Hari Kerja Layak Sedunia digagas pertama kalinya oleh Internasional Trade Union Confederation (ITUC) di tengah kondisi krisis ekonomi global yang menyebabkan banyak kelas pekerja kehilangan pekerjaannya pada 2008. Sejak 10 tahun terakhir, jutaan pekerja telah ambil bagian memperingati ITUC dengan mendorong terwujudnya kerja layak di semua negara.

Bagaimana dengan di Indonesia? Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) hanya membagi subsektor di industri kreatif: Mereka belum menyentuh langsung dengan persoalan overwork dan masalah lainnya di luar teknis kreatif.

Padahal di sekitar kita kasus overwork banyak terjadi, tidak hanya di sektor kreatif. Tengok para driver online banyak yang tertidur kelelahan di pinggir jalan. Di bagasi mobil mereka sudah disiapkan pakaian ganti untuk beberapa hari. Itu dilakukan karena mereka harus berjibaku memenuhi kebutuhan dan juga cicilan kendaraan.

Dengan potensi kasus serupa bakal meningkat di Indonesia, pihak mana yang harus care terhadap hal ini? Bagaimana suara serikat pekerja? Mengapa pelanggaran terkait overwork terus terjadi di industri kreatif? Apakah tewasnya pekerja muda tidak memberi efek jera kepada pengusaha? Bagaimana kesadaran anak-anak muda generasi pop dalam berserikat? Padahal mereka adalah kelas menengah dengan lifestyle kekinian yang berslogan work hard play hard.

Bagaimana menurut Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Freelancer, Sound Engineer, Videografer

Pengalaman saya overwork kalau deadline mepet. Wah, tiga hari saya nggak tidur tuh, paling mata sekadar merem-merem aja. Nggak bisa benar-benar tidur. Biasanya saya mengerjakan komposisi musik untuk iklan TV berdurasi 5-10 menit sampai film pendek atau film panjang.

Kultur di industri TV, tidak cukup membuat komposisi/musik yang bagus, tapi dibutuhkan kecepatan. Ya, jangan harap kualitasnya bagus-- kalau waktunya mepet. Saya belum pernah mengisi musik untuk sinetron.

Semua pekerjaan saya kerjakan di studio sendiri, di rumah. Dengan perangkat piano, gitar, mic, dan komputer. Bila klien memberi waktu yang cukup dan bujet lebih, hasilnya akan bagus.

Kebanyakan pekerjaan kalau waktunya mepet, tidak ada surat kontrak. Yang paling parah mereka bilang, "Ya udah, sambil jalan aja". Biasanya teman atau kenalan itu tidak pakai surat kontrak. Tapi waktu diminta Riyanni Djangkaru untuk mengisi musik, pakai kontrak yang terkait isi konten dan tenggat waktu pembayaran.

Pernah juga saya sebagai freelancer dibayar molor dan cuma terima 40 persen honor. Saat itu kerjasama buat musik untuk 5 game mobile. Tapi bermasalah ketika project ke 6, game yang berbasis komputer. Dibayar telat waktu itu, karena ada persoalan yang tak terduga file-nya hilang, klien menuntut saya membuat 5 track, tapi sanggupnya 3 track.

Project lainnya aman kok, dan dibayar. Selain komposer musik, saya juga mengerjakan fotografi dan videografi. Tapi kalau mendengar ada klien (perusahaan) yang bermasalah, saya akan minta surat kontrak. Biasanya tahu dari mulut ke mulut, info dari teman.

Saya tidak bisa bekerja yang terikat dengan jam kerja ketat di kantoran. Entah kenapa belum tertarik sampai saat ini. Saya bergabung dengan serikat pekerja kreatif karena kesadaran saya sendiri, pendekatan sih gaya pop khas anak-anak muda. Susah mengajak teman-teman di dunia musik dan kreatif bergabung, sebab mereka merasa sebagai kelas menengah. Tapi buat saya itu justru tantangannya.

Sekarang saya mengerjakan komposisi untuk film pendek dan merapikan portfolio dan website, saya pernah bekerja sebagai motion graphic. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sekjen Serikat Pekerja Media & Industri Kreatif Untuk Demokrasi

Kalau Indonesia sudah di level Jepang, itu akan lebih mudah. Disana isu overwork bisa menjadi isu nasional. Bahkan Perdana Menteri Jepang ikut menyuarakan persoalan itu. Di dalam UU Ketenagakerjaan memang sudah mengatur jam kerja 40 jam per pekan dan seterusnya-- dengan tambahan kompensasi uang. Tetapi pengawasan masih lemah. 

Sebaliknya, kesadaran di industri kreatif (juga media) terkait overwork belum menjadi isu yang penting. Di Indonesia ini, sering terjadi mis-konsepsi. Misalnya di perguruan tinggi, dosen di kelas jurnalistik akan bilang, "Kalau jadi wartawan harus siap lembur." Nah mis-konsepsi ini yang terus dibicarakan. Industri dan institusi pendidikan terus melanggengkan itu.

Padahal menjadi profesional juga bisa tanpa kerja lembur. Meski bekerja selama 24 jam--tetap harus ada waktu jeda untuk istirahat. Nah, anak-anak muda sekarang di kelas menengah juga galau dan suka curhat di medsos. Bahkan ada yang posting foto saat dirinya kerja overwork dalam keadaan hidung mimisan.

Ada juga anak-anak muda yang diminta kerja saat libur. Sedangkan bosnya sedang asyik bervakansi. Nah, anak muda itu malah nge-hack foto bosnya yang bervakansi. Tindakan konyol seperti ini kan tidak bisa dibiarkan, harus diberikan pemahaman yang baik.

Pendekatan terhadap anak-anak muda agar memahami soal pentingnya berserikat itu tidak mudah. Kita ajak ngumpul-ngumpul dulu, bermain musik bersama. Mereka biasa bekerja di co-working space atau di rumah. Mengajak mereka untuk memahami masalah, tapi dengan penyampaian yang ringan.

Sepertinya perlu mengadopsi konsep Freelancer Union yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Freelancer Union ini memperjuangkan soal pembayaran senilai 800 dolar AS ke atas itu dan perusahaan/lembaga wajib memberikan kontrak tertulis, pembayaran satu bulan setelah project diselesaikan. Kalau pembayaran mangkir dapat dilaporkan kepada pihak yang berwenang dan lain-lainnya. (fai)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis Buku, Jurnalis Senior

Saya kerja di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta. Boleh dibilang kerjanya kayak romusha. Saya tidak mendapat apresiasi berupa materi saat overwork. Padahal orang lain di kantor mendapat apresiasi meski jumlahnya berbeda-beda.

Sebagai pegawai bidang public relation di perusahaan Jepang, saya menandatangani surat kontrak kerja dalam bahasa Inggris. Di awal sih saya gak pernah overwork. Alasan perusahaan karena nggak bisa reimburse invoice ke perusahaan induk. Kata mereka, saya bukan supporting staff. 

Faktanya saat ini saya kerja dari jam 7 sampai jam 11 malam. Pekerjaan sebelumnya ya standar 8 jam per hari. Dalam sebulan 2x saya overwork. Tapi kenyataannya ritme kerja overload terus, lebih dari 8 jam. Ternyata gaji saya itu sudah all in one. Baru sekarang saya sadari dan perusahaan tidak pernah menjelaskan secara detail. Saya menjabat public relation dan diklasifikasikan sebagai profesional B (engineer) dengan tugas pokok mensupervisi sekitar 8 kontraktor. (fai)

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF