Kebohongan Dwi Hartanto dan Negeri yang Butuh Pengakuan Dunia
berita
Humaniora

Ilustrasi Foto : Muid / watyutink.com

13 October 2017 19:00
Kids jaman now ada-ada saja ulahnya. Dwi Hartanto, yang tergolong generasi milenial, mendaku punya sejumlah prestasi internasional. Masalahnya, itu semua kebohongan belaka. 

Ia mengaku turut meneliti keamanan nasional di Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), National Aeronautics and Space Administration (NASA), Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence and Space. Ia juga mengaku memiliki lima hak paten serta berhasil membuat satellite launch vehicle (SLV) dengan didanai oleh Kementerian Pertahanan Belanda dan Laboratorium Antariksa Nasional Belanda. 

Ia mengatakan ditawari jadi warga Belanda, tapi menolak. Kedubes RI di negeri kincir angin lalu memberinya penghargaan. Masalahnya semua pengakuan itu bohong belaka. 

Sebetulnya, Dwi tak perlu berbohong. Kuliah tingkat doktoral di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda, sesungguhnya sebuah hal yang patut dibanggakan. Namun, seakan butuh pengakuan sebagai anak bangsa yang berprestasi internasional, ia merasa perlu mengaku macam-macam. Kenapa Dwi sampai berbohong? Adakah perilaku ini mengindikasikan ada gangguan kejiwaan? Atau, ini perilaku khas generasinya yang butuh pengakuan serta sanjungan?  

Tanpa verifikasi memadai, media menerima begitu saja pengakuan Dwi. Ia bahkan digadang-gadang media sebagai "The Next Habibie." Namun tengoklah media hari-hari ini ketika kebohongan Dwi terbongkar. Media memereteli setiap borok Dwi. Daftar kebohongan "sang ilmuwan" muncul dalam infografis. Apa media begitu butuh anak bangsa yang go international sampai mengabaikan proses kerja jurnalistik yang baku: cek dan ricek? 

Di sini kita bertemu persoalan filosofis akut. Setiap kali ada yang go international, entah di bidang seni, budaya, teknologi atau juara olimpiade fisika, langsung jadi berita. Tengok saja Agnes Monica. Kariernya yang cemerlang di dalam negeri terus dibebani upaya menembus pasar musik Amerika. Bangsa ini demikian inferior sebagai warga dunia dan butuh pengakuannya. Hal itu lantas jadi beban anak-anak bangsa.

Dwi Hartanto mengambil jalan keliru dengan berbohong. Kenapa kita, negeri dengan jumlah penduduk terbesar keempat dunia, merasa kecil di antara bangsa-bangsa lain? Kenapa kita merasa butuh pengakuan internasional? Apa akar inferioritas kita?

Di era informasi global ada di genggaman tangan, saat ini terminologi go international sudah jauh bergeser. Tidak perlu ke negara manca untuk mendapat pengakuan. Buktinya, Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah,  kini dijuluki Kampung Desain Grafis atau Kampung Pengrajin Logo. Puluhan pemuda desa itu kerap memenangkan kompetisi di Eropa maupun Amerika, tanpa perlu ke datang ke negara-negara tersebut.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengajar dan Aktivis Pendidikan

Saya melihat apa yang dilakukan Dwi Hartanto ini belum jadi fenomena budaya. Karena kejadiannya masih dilakukan satu-dua orang. Kalau misalnya da sejuta orang mirip dia, baru itu telah jadi budaya. Yang harus dilihat dahulu adalah latar belakang anak itu. Kita bisa tanya kampusnya atau teman kuliahnya, apa dia punya kebiasaan berbohong atau tidak. 

Mungkin dari kejadian ini menunjukkan kita bangsa yang inferior. Kita begitu mencari-cari apa yang hebat dari bangsa ini. Lalu kebetulan ada anak ini, Dwi Hartanto. Media lalu mengangkatnya tanpa verifikasi. Alasannya telah lama bangsa kita mencari apa yang hebat dari kita. Kalau dulu di zaman Bung Karno, beliau bisa menyelenggarakan Ganefo dan Conefo, mengajak negara-negara kecil bersatu.

Sekarang tampaknya tak bisa lagi. Yang memungkinkan muncul prestasi sekarang ini memang dari bidang keilmuan, seperti contohnya perkembangan teknologi. Hal ini yang lalu mungkin disadari oleh Dwi Hartanto. Ia melihat peluang itu. Lalu ia berbohong, mengaku-ngaku. 

Di sini, sebuah prestasi internasional yang mendunia langsung jadi berita. Beda dengan Amerika. Mereka sudah merasa besar. Jadi tak perlu lagi membangga-banggakan diri. Misalnya di suatu negara, Perancis misalnya, menang sepak bola, rakyatnya bisa serta merta turun ke Jalan. Berpesta. Tapi lihat Amerika, warga di sana tak melakukan itu bila misalnya ada atletnya menang sesuatu. Karena mungkin prestasi kelas dunia itu sudah biasa bagi mereka.   

Apa kita bisa menjadi bangsa superior bila banyak warga kita meraih Nobel? Rasanya cuma mimpi ada warga bangsa kita bisa meraih Nobel. Saya pernah bercanda dengan teman-teman ITB, kapan ya ada orang Indonesia meraih Nobel bidang matematika, fisika, atau kimia? Baru sebatas mimpi. Sebab, prestasi Nobel itu kan dihasilkan dari penelitian bertahun-tahun. Bahkan profesor yang menang pun biasanya baru sudah pensiun dapat Nobelnya.

Di Indonesia hal itu rasanya sulit karena tengok saja penelitian atau riset perguruan tinggi kita. Nobel itu biasanya hasil riset keilmuan murni, bukan yang sifatnya aplikatif. Di sini, telah jadi rahasia umum, anggaran penelitian untuk keilmuan murni kecil. Jadi kurang diminati. Beda dengan penelitian yang sifatnya aplikatif tadi. Selain itu, banyak peneliti kita yang akhirnya bekerja untuk pabrik-pabrik. Riset mereka terserap industri. Jadinya meraih Nobel menurut saya baru sebatas mimpi. Namun impian kan tetap harus digantungkan. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog Klinis Dewasa di Pusat informasi dan Rumah Konsultasi Tiga Generasi Jakarta

Mengenai kasus Dwi Hartanto sendiri, saya tidak dapat memberi penilaian secara pasti, karena tidak mendapatkan data yang lengkap mengenai profil, motif, maupun latar belakangnya. 

Namun, ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab kenapa seseorang melakukan kebohongan pulbik. Secara umum, seseorang yang memiliki self-esteem rendah atau konsep diri negatif/minder/rendah diri, menjadi rentan melakukan cara-cara yang dapat membuat ia merasa diterima, populer, disayang, atau bangga. Bisa juga, seseorang berbohong untuk menutupi kegagalan atau hal lain yang ia nilai kurang membanggakan atau kurang dapat diterima masyarakat. Kadangkala, pelaku juga terjebak dalam suatu kebohongan kecil yang kemudian berkembang menjadi kebohongan-kebohongan lain. Keinginan untuk mendapatkan respons positif masyarakat akan dirinya (dinilai membanggakan, hebat, dan sebagainya) biasanya mendorong seseorang melebih-lebihkan cerita atau bahkan berbohong. 

Saya pikir tidak bisa digeneralisasikan bahwa ini adalah khas dari generasi milenial. Kasus yang mirip dengan kebohongan ini, misalnya plagiarism, terjadi di berbagai generasi, tidak hanya milenial. 

Ada banyak faktor yang berkontribusi kenapa seseorang melakukan kebohongan publik, bukan semata pola asuh dari keluarga. Faktor lingkungan yang juga seringkali memberikan positif untuk hal-hal yang secara superficial bergengsi seperti gelar akademik, almamater universitas di luar negeri, berkenalan atau mendapatkan rekomendasi dari tokoh penting masyarakat, juga berkontribusi terhadap timbulnya dorongan untuk menampilkan hal-hal positif yang mengkonfirmasi harapan masyarakat tersebut. 

Jika kita menyorot secara spesifik pola asuh, orang tua sebaiknya mengajarkan anak untuk tidak semata-mata berfokus pada hasil akhir, tapi pada proses. Jika orang tua sejak kecil misalnya, berfokus pada nilai akademik yang tinggi tanpa mau melihat proses atau usaha anak untuk mendapatkannya, bisa jadi anak lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai tertinggi. Apalagi jika hal ini juga disertai dengan hukuman apabila anak gagal mencapai target yang diharapkan (misal: memarahi, mengatakan anak bodoh, mengatakan, kalau kamu sayang mama, maka kamu nilainya harus 9/10, dll). Anak jadi mengaitkan hasil akhir dengan reaksi positif (pujian, kasih sayang, penerimaan orang tua, dan menilai bahwa masyarakat pun akan memberikan reaksi yang sama). Apabila ia kemudian memiliki pengalaman bahwa dengan berbohong, maka reaksi positif didapatkan, ia dapat terdorong untuk mengulang perilaku yang sama di kesempatan lainnya. 

Apa perilaku berbohong ini pertanda mengidap gejala Mythomania? Tidak semua perilaku berbohong termasuk dalam gejala mythomania. Untuk dapat masuk dalam kategori compulsive liar, ada beberapa ciri yang perlu dilihat, seperti cerita yang ditampilkan tidak sepenuhnya kebohongan, tetapi ada elemen kebenaran di dalamnya. Kecenderungan berbohong tersebut juga harus berlangsung lama (long lasting), dan tidak hanya dipicu oleh situasi sesaat atau tekanan sosial. Motif dalam berbohong juga harus dipastikan motif yang berasal dalam diri (internal) bukan eksternal, serta pelaku cenderung menggambarkan dirinya secara positif dalam kebohongan tersebut. 

Compulsive Lying Disorder tidak dikategorikan sebagai salah satu gangguan mental secara khusus dalam buku DSM V (Diagnostic and Statistic Manual -V) yang menjadi acuan para psikiater dan psikolog dalam mendiagnosa gangguan jiwa. Walaupun fenomena ini kerap terjadi, masih sangat terbatas riset di area ini untuk dapat menyimpulkannya sebagai suatu gangguan patologis secara khusus. 

Bagaimana penyembuhannya? Biasanya sangat tergantung sejauh mana pelaku merasa perilaku berbohong tersebut jadi masalah. Apabila ia tidak merasa hal tersebut masalah dan tidak bersedia mengubahnya, akan sangat sedikit dampak psikoterapi yang dilakukan. Pendekatan psikoterapi biasanya memang dilakukan untuk membantu pelaku menyadari dan mengubah perilakunya. Di sisi lain, keluarga, teman-teman dan reaksi dari lingkungan secara umum juga berpengaruh di sini. Dukungan, reaksi positif dari orang-orang terdekat dan pujian apabila pelaku mengatakan hal-hal yang sebenarnya (tidak berbohong), dapat menguatkan timbulnya perilaku jujur secara lebih konsisten. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!