Kasihan Betul Nasib Penulis Kita...
berita
Humaniora

Sumber Foto: twitter.com

08 September 2017 00:00
Penulis
Novelis Tere Liye ngambek. Di Facebook, ia mengumumkan takkan lagi menjual buku-bukunya di toko buku. Dia beralasan pemotongan pajak bagi penulis tak adil. Penulis buku membayar pajak 24 kali lipat dibanding pengusaha UMKM, dan 2 kali lebih dibanding profesi pekerjaan bebas. 

Kontan jagat perbukuan gempar. Musababnya, Tere Liye menulis novel-novel laris bak kacang goreng antara lain Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, dan banyak lagi. Ia sedikit banyak membuka mata tentang profesi penulis. Bayangkan, penulis best seller saja ngambek, bagaimana penulis yang tak laris?

Selain urusan pajak yang ruwet, penulis harus menerima kenyataan mendapat bagian paling kecil. Tidak peduli berapa lama riset atau melanglang hingga ujung dunia, yang ia hasilkan tetaplah 10 persen dari royalti. Sementara penerbit dapat 38 persen, distributor 17 persen, dan toko buku 35 persen.

Artinya, bila harga buku Rp50 ribu, dari setiap buku yang terjual penulis dapat Rp5 ribu. Jika bukunya hanya laku 1000 eksemplar, ia hanya dapat Rp5 juta. Jumlah itu pun baru didapat berbulan-bulan setelah terbit. Penulis buku tak laris menunggu royalti setetes demi setetes yang tak seberapa. Kenapa penulis dapat bagian paling kecil? Lantaran ia hanya sumbang pikiran, sedang pihak lain sumbang materi (kertas, pemasaran, distribusi, dan lain-lain)? Bukankah tanpa penulis takkan lahir buku?   

Di belakang Tere Liye, Andrea Hirata (Laskar Pelangi) atau Ahmad Fuadi (Negeri Lima Menara), ada begitu banyak penulis yang buku-bukunya nongol sebentar. Mereka tak merasakan nikmat dari buku, boro-boro meributkan pajaknya. 

Tak mengherankan produksi buku kita rendah. IKAPI menyebut, tahun 2014, jumlah buku terbit hanya 30 ribu. Mengingat Indonesia dihuni 260 juta jiwa, itu terbilang kecil. Rata-rata orang hanya membeli 2 buku per tahun. Ini bikin profesi penulis tak menjanjikan. Penulis buku biasanya juga motivator, dosen, atau wartawan. Sampai kapan kondisi begini dibiarkan

Pajak yang tak adil dan mencekik bikin penulis laris menjerit. Royalti kecil bikin penulis tak laris pasrah. Jika sudah begini, apa perlu mengambil langkah radikal seperti Tere Liye? Haruskah penulis menjual sendiri di akun medsosnya, memangkas jalur distribusi, dan tak perlu bayar pajak seperti online shop amatir? Bijakkah itu?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penulis Buku

Dari dulu saya tak pernah menjadikan penghasilan royalti dari menulis sebagai concern utama. Penting sih penting, sebab itu wujud apresiasi pada penulis. Tapi saya memang tak pernah berharap uang dari menulis buku. Kalau dapat royalti ya kebetulan itu hak saya. Suami saya pun (Noorca AN Massardi--red) begitu. Kami senang menulis saja. Kami tak pernah meributkan soal royalti, atau menuntut penulis harus bagaimana. Bagi saya, menulis lalu ada (pihak) yang mau bukukan, itu saja saya sudah senang. Artinya ada yang menganggap tulisan saya bagus, layak diterbitkan jadi buku. 

Saya menulis bukan karena dibayar. Malah mungkin penerbit yang rugi kalau bukunya tak laku. Selama ini penjualan buku saya biasa-biasa saja. Kemarin novel saya naik cetak kedua. Bagi saya, menjadikan penulis sebagai profesi di Indonesia belum bisa. Itu bagi saya. Namun, saya akan tetap menulis walau penghasilan dari situ biasa-biasa saja. Saya bakal menulis apa saja, baik itu fiksi cerpen, novel, kumpulan esai, atau lainnya. Bagi saya menulis juga bukan perkara iseng, karena menulis itu berat banget terkait energi dan waktu. Menulis bagian dari terapi diri. Syukur-syukur isinya ada manfaat untuk orang lain.

Saya pun tak menulis yang canggih-canggih, atau sastra yang bagaimana, tapi selama ini penerbit mau menerima (naskah saya). Sekali lagi, diterbitkan saja saya senang. Saya kan tak punya uang untuk menerbitkan buku sendiri. Lagipula, kalau buku saya ada yang terbitkan berarti tulisan saya nggak jelek-jelek amat, masih ada pasarnya. 

Saya tak pernah menerbitkan buku sendiri, dan menerbitkan sendiri itu berat. Tapi penerbit itu berat. Untuk masuk ke toko buku susah. Anda tahulah, kalau bukan dari penerbit anu yang punya toko anu, susah. Jadi kami sabar saja, ya memang begitu adanya. Tapi saya tak pernah komplain ke penerbit. Sebab mereka juga sudah berjuang. Tapi sekarang kan banyak cara menjual buku. Selain toko buku A, ada toko buku lain. Lalu penerbit biasanya minta penulisnya berbusa-busa mempromosikan di medsos. Penerbit-penerbit kita itu hebat masih bisa survive

Saya kadang bingung melihat buku ada cetakan kelima belas, keduapuluh. Saya lihat nama penerbitnya, bukan penerbit besar. Berarti kan ada pasarnya. Buku laris memang nggak ada resepnya. Coba lihat deh ke toko buku, banyak buku laris yang penerbitnya tak dikenal. Terutama buku remaja. Kalau saya tak bisa meremaja (menulis dengan gaya remaja--red). Jadi, kalau nggak ada yang beli (buku saya) ya, sudah. Yang jelas, saya akan tetap menulis. Karena saya hanya bisa itu, nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Saya tak bisa jadi pengusaha. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis buku

Saya sudah menulis 29 buku, baik fiksi dan non-fiksi. Terakhir terbit 2012. Buku-buku saya rata-rata hanya cetak sekali. Sebagai penulis tak laris, bisa dikatakan saya pasrah dengan skema (pembagian pendapatan--red) yang ada selama ini. Tentu saja, tetap berharap ada perubahan signifikan ke depan.

Tentang pajak, menurut saya, besarannya memang "kejam". Walaupun untuk kasus saya bisa diperhitungkan lebih bayar dan minta restitusi, tetap saja prosesnya ribet. Jadi saya berharap besaran pajak royalti bisa dipertimbangkan ulang. Masalahnya, lewat jalur mana sih penulis-penulis ini bisa memperjuangkannya? Tak semua punya basis massa seperti Tere Liye sehingga suaranya bisa didengar pemerintah. Konon sih, tengah ada upaya revisi undang-undang, tapi tampaknya tak jadi prioritas di parlemen.

Soal jalur lain, ya oke-oke saja. Tapi toh mesti realistis. Nggak semua penulis punya dana, waktu, tenaga, komunitas, dan jaringan untuk menempuh jalur alternatif ini (menjual buku sendiri lewat online--red). 

Soal kelarisan buku, saya rasa masih banyak faktor luck. Buku laris belum tentu buku bagus. Sudah minat baca rendah, buku yang laris tidak jarang malah yang kualitasnya diragukan.

Mungkin proyek Inpres era Orba dulu dapat dihidupkan lagi. Tentu dengan kurasi yang ketat. Buku-buku bagus yang terpilih lalu disebarluaskan ke sekolah-sekolah dan taman bacaan masyarakat di seluruh pelosok negeri. Kualitas minat baca terangkat, penulis buku bagus pun tersubsidi. Mungkin begitu. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)