Kapan Kita Bangga Pakai Handphone Lokal?
berita
Humaniora
29 August 2017 20:00
Merek lokal Zyrex, Evercross, hingga Himax teronggok sepi di bingkai pamer konter handphone (HP). Sebaliknya  merek tenar Korea (Samsung), Taiwan (Lenovo), atau China (Xiaomi dan Vivo), berulang ditimang calon pembeli. Para pengguna HP itu sibuk menghitung isi kocek untuk disesuaikan dengan harga dan kapasitas merek gawai yang diincar.

Apa kesalahan merek lokal sehingga kurang menarik animo? Padahal Jokowi sudah memberi teladan dengan memakai merek Himax. Ada kendala mutu dan kapasitas kah? HP China juga punya kendala mutu dan kapasitas, tetapi bisa mengimbangi produk Korea dan Taiwan, bahkan Amrik. Jangan-jangan merek China laris berkat prinsip "Alumugada: Apa Lu Mau, Gua Ada". Mau mutu oke, harga pun oke. Mau harga (murah) bisa, mutu disesuaikan.        

Alhasil, 10 tahun terakhir HP China merajai Indonesia. Data teranyar Quarterly Mobile Phone Tracker - International Data Corporation (IDC) menyebut,  kuartal pertama 2017 pengiriman  smartphone ke Indonesia mencapai 7,3 juta unit. Gawai cerdas China meraup 31 persen pangsa pasar. Padahal 2015 mereka baru kuasai 12 persen pasar. Tahun 2016 naik jadi 24 persen. Sebaliknya, per kuartal pertama 2017 gawai lokal tinggal 17 persen. Susut dari 34 persen pada 2015, dan 20 persen pada 2016.

Kesan HP China murahan, sekali pakai, tiruan Apple dan Samsung, rontok dalam hitungan tahun. Kini produk China dipilih berkat kecanggihan fitur sekaligus berharga terjangkau.  The Economist menyebut  bahwa pada 2015 China memproduksi 70 persen gawai dunia. Itu berkat peningkatan anggaran penelitian dan pengembangan iptek China.  Tahun 2006, dana litbang iptek masih 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Tahun 2020, digenjot  jadi 2,5 persen. Bagaimana Indonesia? 

Harga HP lokal, meski lebih terjangkau, tetap kalah pamor.  Terkesan murahan dan hanya laik kelas bawah. Kenapa orang lebih suka Apple, Samsung, Xiaomi, Oppo, Asus, atau Vivo?  Kenapa belum bangga bermerek lokal?

Padahal pasar gawai lokal amat besar. Tahun 2016 ada 63,9 juta pengguna. Tahun 2020 diproyeksikan jadi 91,9 juta pengguna. Ironis. Pasar besar itu malah mendaulat merek asing dan aseng.  Apa Indonesia sebatas bangsa konsumen? Kapan jadi bangsa produsen? Dalam urusan smartphone saja kita belum berdikari, bagaimana hendak mengamalkan ajaran Trisakti Bung Karno?

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat telekomunikasi dari ICT Institute

Handphone China menguasai pasar karena dari segi harga memang bersaing, dengan fitur tidak terlalu rendah. Tapi yang terpenting, kenapa handphone China mendominasi pasar? Jawabnya karena di sana banyak dukungan dari pemerintah mereka. Mereka juga memperhitungkan quantity. Kalau kita produksi 10, sementara mereka produksi 1000, jatuhnya harganya jadi sama. Buat mereka pasar yang disasar internasional, bukan hanya Indonesia. 

Selain itu saya agak curiga, dalam hal research and development-nya ponsel-ponsel premium dari hCina meng-copy handphone premium merek lain. Saya yakin biaya riset mereka besar. Ditambah lagi dengan biaya kerja yang murah, maka harga jualnya juga jadi murah. Dengan fasilitas dan fitur seperti iPhone, tapi harganya miring.     

Sebetulnya juga, yang namanya handphone lokal tak 100 persen dibuat di sini. Banyak komponennya berasal dari luar negeri. Tapi kendalanya lagi-lagi pajak. Pajak komponen lebih mahal dibanding pajak memasukkan barang jadi. Ini sudah disuarakan dari dulu. Artinya, bangsa kita dibangun tidak untuk jadi "bangsa pembuat", melainkan "bangsa pembeli".

Untuk melahirkan kondisi yang ramah bagi industri susah di sini. Yang ada dinaikan pajaknya. Belum lagi high cost economy lainnya. Misalnya, saat bangun pabrik di Bekasi, ada barang masuk truk kena Rp2 juta, menurunkan barang juga kena. Ini 'kan seharusnya jadi perhatian pemerintah kalau ingin memajukan industri lokal. Tapi hal-hal begini kurang diperhatikan. Sedangkan di tingkah bawah tahu (kendalanya).    

Kesadaran memakai produk lokal sebetulnya telah mulai. Di beberapa instansi ada yang sudah bergerak ke sana, tapi memang tak semudah membalikan telapak tangan. Kadang-kadang, konsumen sendiri ingin yang harga murah tapi ada fitur ini dan ini. Misal, dengan harga tertentu handphone China dapat A, B, dan C yang akhirnya jadi pilihan, padahal handphone lokal hanya satu level di bawahnya. Teknologi kita belum sampai ke situ, tapi masyarakat tak mau tahu. Rasa kebanggaan memakai produk lokal belum ada. Itu harus dibangkitkan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Informasi, Teknologi dan Budaya

Persoalan pasar handphone kita dikuasai luar negeri semua karena di Indonesia tak ada pabrik. Pasar handphone besar sekali, setahun mencapai 40 juta unit. Sekarang saja ada 250 juta nomor telepon selular terjual dari semua operator. Bayangkan, berarti asumsinya kan ada 250 juta handphone yang bergerak. Orang Indonesia bisa setahun sekali ganti handphone.   

Ini terjadi karena pemerintah tak bikin peraturan. Semua dibebaskan begitu saja. Tidak ada proteksi terhadap pasar handphone lokal. Seharusnya yang dilakukan adalah relokasi pabrik untuk produsen handphone China dan lain-lain itu. Sekarang sepertinya negara kita nggak ada pagarnya. Setiap orang bebas masuk. Yang saya teriakan selama ini ya begitu, tapi ya nggak digubris. Kalau pabriknya di sini kan kita bisa belajar juga. 

Seharusnya handphone asing itu harus relokasi pabrik dahulu, baru bisa pasarkan di sini. Bikin pabrik, itu saja. Selama ini kita assembling semua. Itu pun tenaga IT-nya dari luar negeri. Akhirnya kita jadi bangsa belanja saja. Sudah dari dulu kami suarakan. Fiber optik saja semua dari luar. Satu pun tak ada pabrik di sini. kalaupun ada cuma kaosnya saja, hanya casing saja.

Mereka juga sering beralasan high cost economy, pungli dan lain-lain. Buat saya itu alasan untuk agar bisa impor saja. Kita jadi terbiasa impor. Apa saja diimpor terus. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF