Kala Kali Item 'Bercadar' demi Asian Games 2018 
berita
Humaniora
Sumber Foto : tribunnews.com (gie/watyutink.com) 22 July 2018 15:00
Sungai yang mengalir di belakang Wisma Atlet Kemayoran itu berubah wajah. Sungai berjuluk Kali Item tersebut kini mengenakan "cadar" untuk menutupi wajahnya. Cadarnya berwujud jaring warna hitam berbahan nilon yang biasa disebut kain waring. Mudah menebak alasan Kali Item ditutup waring. Wisma Atlet bakal ditempati atlet-atlet berbagai negara Asia yang siap berlaga di Asian Games 2018 bulan depan. 

Ada dua manfaat penggunaan waring di Kali Item. Pertama, waring dipercaya bakal memperindah pemandangan. Air sungai yang mengeruh hingga hitam tak sedap dipandang. Kedua, waring dipercaya berguna untuk meminimalisir bau tak sedap yang menguar dari kali. Saat penguapan aroma dari sungai terjadi di waktu tertentu, utamanya siang dan sore, baunya tak tercium ke Wisma Atlet. Asal tahu saja, kafetaria Wisma Atlet berada di sisi halaman yang dekat dengan sungai. Bau tak sedap tentu bakal mengganggu selera makan atlet.

Langkah Pemprov DKI menutup Kali Item dengan waring langsung dapat reaksi di dunia maya. Umumnya, netizen mempertanyakan cara penanganan tersebut sambil tak lupa mengoloknya. "Kali item bercadar pula, takut keliatan auratnya sama tamu asian games," cuit seorang netizen berakun ABRochim. Cuitan lain: "Halo pak @aniesbaswedan dan @sandiuno, kalau ada kali kotor dan bau busuk itu dibersihkan, bukan malah disembunyikan ditutupi jaring hitam. Demen banget sih kalian menyembunyikan yang busuk-busuk" tulis yang lain. 

Cuitan netizen ada benarnya. Indonesia telah sejak empat tahun lalu ditunjuk jadi tuan rumah Asian Games. Artinya, ada waktu empat tahun bagi Pemprov DKI untuk membenahi Jakarta untuk terlihat kinclong bagi atlet Asian Games. Kita telah menyaksikan kompleks Senayan dipermak habis. Stadion Gelora Bung Karno direnovasi hingga tak kalah mewah dari Stadion Wembley di London, Inggris. 

Masalahnya, bila sarana dan pra-sarana olahraga dibenahi, kenapa sungai yang bersebelahan dengan bakal tempat menginap para atlet tak digubris? Apa waktu empat tahun tak cukup untuk merevitalisasi sungai yang hitam keruh jadi cantik dan bersih? 

Lagi-lagi kita bertemu persoalan yang Indonesia banget: ketika waktu kian mepet baru sadar sungai yang bau dan tak sedap dipandang itu akan mengganggu kekhusyukan pesta olahraga terbesar Asia. Karena mepet, cara instan yang jadi pilihan: tutup saja sungainya dengan kain jaring. Beres. Saat ini 200 meter waring dipasang di atas permukaan kali yang total panjangnya 689 meter dan lebar 20 meter. Apa penggunaan waring bakal efektif menghilangkan bau? 

Tidak hanya efektivitas waring yang patut dipertanyakan. Penyelesaian instan menandakan sejak lama tak ada kepaduan dan sinkronisasi antar-instansi demi mensukseskan ajang Asian Games bulan depan. Sampai kapan negeri ini akan begini terus? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Tata Kota

Ini solusi instan ketika pemerintah DKI Jakarta tidak bisa menyelesaikan masalah. Yang jadi masalah kan begini, kalau tahu kali yang bau itu dekat wisma atlet, harusnya sudah dibenahi dari enam bulan yang lalu. Tidak instan mendekati hari-hari H seperti ini.

Memang menutup sungai dengan jaring ini seakan menyelesaikan masalah. Padahal kan tidak begitu. Akar masalahnya tidak terselesaikan. Cara instan macam begini hanya pemuas sesaat tapi tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh. Karena yang layak juga dipertanyakan, apa sesudah Asian Games akan tetap dipasang jaring di kali itu?

Meminjam istilah orang Sunda, kebijakan Anies ini disebut "plastik", diulas-ulas saeutik. Dipoles sedikit, yang penting cantik. Tapi cantiknya bukan asli. Kalau cara instan ini terus dipilih, ini sebetulnya bukan solusi. Ini persis pekerjaan seorang pemalas. Harusnya kita punya program Kali Bersih (prokasih). Dulu juga ada pasukan oranye (yang bertugas membersihkan). Ini semua bisa digerakkan lagi.

Menurut saya, meski solusi instan yang sekarang dipakai di Kali Item, selesai Asian Games harus ada program (pembersihan kali) yang lebih bagus lagi. Yang dituntut saat ini adalah kecerdasan kita untuk membuat kali lebih indah.  Bisa bersih, jernih. DKI punya banyak anggaran, punya sumber daya dan teknologi maju. Yang terjadi saat ini, belum berupaya secara menyeluruh dan maksimal. Pola instan ini harus diubah di masa datang.

Ini juga bukti pemerintah pusat, INASOC tak bersinergi dengan pemerintah kota. Seharusnya pemkot bertanya di mana atlet bakal tinggal sejak enam bulan lalu dan pembersihan bisa cukup waktu. Di bulan Januari pembersihan Kali Item bisa dimasukkan dalam RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah). Saya lihat di RKPD tidak tampak pekerjaan yang berkaitan mengenai Asian Games secara maksimal. Yang ada, fokus pembenahan Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)/ Advokat

Menutup kali dengan jaring ini langkah over acting Gubernur Jakarta saat ini. Sebetulnya masih ada sebulan sebelum Asian Games digelar. Harusnya ya kalinya dibersihin saja. Maka saya lihat, gubernur sekarang ingin menjelekkan gubernur yang sebelumnya. Seolah bilang, "Pekerjaan gubernur yang sebelumnya jelek, maka terpaksa saya tutup kalinya."

Ini juga tak lebih langkah pencitraan. Karena menutup dengan jaring takkan mengusir bau. Jadi, gubernur seolah telah berusaha (bekerja) menutupi kegagalan gubernur yang sebelumnya. Padahal ya bersihkan saja dulu kalinya. Bilang ke pengusaha yang biasa buang limbah ke sungai untuk tak mengulangi perbuatannya. Airnya sendiri bisa disiram zat kimia yang bisa mengusir bau dan menjernihkan air.

Bila dihitung, Januari APBD sudah jadi, lelang dan pemberkasan sebulan. Bulan tiga harusnya sudah bisa membersihkan kali. Lha, kok ini bulan tujuh baru mulai?

Tapi itu semua nggak jalan karena dia sibuk mau jadi capres atau cawapres. Sedang wakilnya sibuk jadi jubir pemenangan Gerindra terus. Dia lebih banyak omong soal pemilu dan pilpres. Tidak banyak omong soal benahi Jakarta.

Selama ini viral kan sungai-sungai di Jakarta yang bersih oleh Ahok. Kini Anies ingin menunjukkan ada sungai yang tidak bersih. Jadi, ini semacam pencitraan. Untuk menjelekkan gubernur sebelumnya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas