Kala Guru di Kelas Digantikan Aplikasi di Handphone
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 06 December 2018 14:30
Saat menghadiri acara Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-73 PGRI, di Stadion Pakan Sari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/12/2018) lalu, Presiden Joko Widodo mengatakan, peran guru diyakini tak bakal tergantikan oleh mesin secanggih apapun. Pernyataan itu benar adanya. Namun, di balik pernyataan itu juga tersirat pesan kebalikannya: peran guru tengah terdisrupsi teknologi. Benarkah demikian? 

Dunia berubah amat cepat. Disrupsi tak hanya melanda sektor transportasi, media cetak, atau bisnis retail. Dunia pendidikan pun tak luput dari disrupsi. Digitalisasi pendidikan membawa perubahan besar. Kini, ruang kelas bukan satu-satunya tempat belajar. Siswa bisa belajar dari telepon genggam atau handphone. 

Telah sejak lama Internet memberi dampak besar bagi pendidikan. Mesin pencari Google telah sejak lama menjadi andalan untuk bertanya setiap persoalan. Google memberi jawaban lebih cepat ketimbang harus menanti bertanya pada guru di kelas. Selain itu, Youtube menyediakan beragam video tutorial yang juga berguna bagi siswa.  

Sekarang, tambahan lagi, peran guru di kelas kian diredusir oleh bimbingan belajar (bimbel) online. Sebelumnya, bimbel diikuti siswa yang merasa tak cukup dengan pelajaran di kelas. Untuk persiapan mengikuti ujian nasional (UN), siswa biasanya mengikuti bimbel. Wujud bimbel tak beda dengan kelas di sekolah, hanya materi belajarnya lebih fokus menyelesaikan soal-soal yang kira-kira bakal diujikan. 

Bimbel fisik kini digantikan bimbel online. Pemainnya antara lain Quipper, Zenius Education, Ruang Guru, Prime Mobile, dan banyak lagi. Aplikasi ini menyediakan video tutorial materi-materi pelajaran dari SD hingga SMA. Untuk mengaksesnya, siswa diminta berlangganan, entah sebulan hingga setahun. Ruang kelas fisik terdisrupsi ruang kelas maya. Apa dampak dari perubahan wujud ruang kelas ini? 

Siswa zaman now memang kian dimudahkan menyelesaikan persoalan materi pelajaran. Bila ada soal yang tak dimengerti, tinggal akses video tutorial dari handphone. Namun, efeknya, sekolah kemudian kehilangan peran sebagai tempat mendidik siswa. Sebab, ruang maya tak menyediakan interaksi emosional antara guru dan murid. Di jagat virtual, peran pendidikan seolah hanya tempat menyelesaikan soal matematika atau fisika yang sulit. Apa hanya sebatas itu peran guru zaman now?

Di sini kita kembali ke pesan Presiden Jokowi pada peringatan Hari Guru kemarin. Katanya, guru diperlukan untuk membentuk karakter anak bangsa dengan budi pekerti, nilai-nilai toleransi dan kebaikan. Bisakah guru-guru virtual di aplikasi Android atau iPhone menyediakan itu? 
     
Jadi guru sekarang memang lebih berat. Jika tak adaptif dengan perubahan zaman, guru akan tergilas oleh disrupsi teknologi. Guru kini dituntut lebih kreatif agar mata pelajaran yang diajarkannya menarik siswa. Namun, di saat bersamaan, guru juga dihadapkan pada persoalan kesejahteraan. Kita masih ingat, Oktober lalu puluhan guru honorer berdemo di depan Istana Negara menuntut bertemu Presiden Jokowi, mempertanyakan nasib mereka yang tak kunjung diangkat jadi PNS. Jika nasib guru masih terkatung-katung, bagaimana mereka diharapkan bisa bersaing dengan kecepatan perkembangan teknologi?   

Lalu, utamanya, saat guru digital merajalela di aplikasi handphone, produk pendidikan macam apa yang akan dihasilkannya? Siswa yang hanya mampu menyelesaikan soal matematika di UN atau siswa yang punya karakter dan empati sosial?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?    

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penulis, Pemerhati dan Konsultan Pendidikan, pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting

Peranan guru di kelas takkan tergantikan bimbingan belajar (bimbel) online. Meskipun di bimbel itu ada perjumpaan antara siswa dan murid, tapi bimbingan online itu berbayar. Artinya, di sana murid berinteraksi dengan orang lain, bukan dengan gurunya sendiri. 

Bimbel online akan bagus kalau dilakukan gurunya sendiri. Di situ, teknologi dimanfaatkan untuk melayani peserta didiknya. Itu malah saya anjurkan. Karena itu untuk menambah kedekatan antara guru dan siswa. Misalnya, setelah guru mengajar di kelas, begitu di rumah ada soal yang tak dimengerti muridnya, kemudian murid melakukan video call dengan gurunya. Itu bagus. 

Sedangkan bimbel online yang berbayar itu malah cenderung membuat anak-anak malas. Yang terjadi sekarang, ada PR yang tak dimengerti, tanya bimbel online. Ada tugas sekolah, si murid main-main dulu, lalu dia tanya bimbel online. 

Akhirnya, saya lihat bimbel-bimbel online yang berbayar itu sangat tidak mendidik. Mereka tidak membantu pertumbuhan belajar anak dan menumbuhkan semangat belajar. Bimbel online memang sebuah keniscayaan, tapi dalam konteks pendidikan menurut UNESCO, teknologi informasi (TI) harus digunakan oleh guru untuk membantu siswa. Bukan siswa yang menentukan gurunya. Jadi jangan disamakan dengan Gojek atau semacamnya. 

Guru harus mengenal siapa peserta didiknya. Oleh karena itu guru takkan pernah tergantikan, karena ia yang paling memahami karakter muridnya. Guru-guru di bimbel online itu tak paham siapa murid mereka. Guru di sana hanya menjawab kalau ada (murid) yang tanya. Itu saja. 

Dengar berbayar juga, bimbel-bimbel online itu produk yang mengkapitalisasi pendidikan. Menurut saya arah pendidikan dari UNESCO tak seperti itu (kapitalisasi pendidikan).   

Penggunaan TI dalam pendidikan adalah pembelajaran berbasis online dan siswa menggunakannya dalam berkomunikasi dengan guru yang ada di sekolahnya. Artinya, TI itu bagian dari layanan sekolah.

Selain itu, tidak bisa dipukul rata bahwa keberadaan bimbel ini membantu siswa. Ada siswa yang belajar dengan memanfaatkan teknologi, ada yang tidak. Namun, harus kita akui, sekolah-sekolah kita belum memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran. Yang bisa menyediakan itu kebanyakan sekolah swasta. Sebetulnya, sekolah kita seharusnya segera mengarah untuk memanfaatkan teknologi.              

Lalu, apa pembelajaran sekarang harus dilakukan lewat bimbel-bimbel online? Tidak menurut saya. Karena proses belajar-mengajar harus ada komunikasi dan interaksi antara guru dan murid. Jadi keduanya akan saling mengenal. Bukan murid dengan guru bimbel online yang muridnya tak kenal, hanya sebatas jawab pertanyaan-pertanyaan jika ada kesulitan.  

Bimbel online yang berbayar tentu hanya menguntungkan pemilik modalnya. Lalu, apa mereka akan berbagi (ilmu) untuk anak-anak di pedalaman? Saya rasa tidak. Karena di sana juga tak ada sarana dan pra-sarananya. Maka, ini jadi tantangan pemerintah untuk melakukan pembelajaran online yang tidak
berbayar, dan disediakan pemerintah. Agar kita bisa mewujudkan pendidikan yang baik. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Di era digital berbasis teknologi internet saat ini, ketika mayoritas manusia penghuni planet bumi berisi para generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha dan para digital immigrant, peran guru, tak terkecuali di negeri kita, memang sedang dan terus menghadapi tantangan serius nan teramat hebat. Hal itu lantaran mesin teknologi berbasis internet dengan segala produk, platform, dan aplikasi turunannya, telah memudahkan banyak aspek kehidupan, tak terkecuali yang terkait dengan sektor pendidikan.

Teknologi berbasis internet dan pelbagai aplikasi yang menjadi turunannya telah berperan, diantaranya, sebagai sentra pengetahuan dan informasi nan kaya, baik berbentuk teks, gambar, audio visual maupun campuran semua itu, yang mudah diakses, enak dilihat, dan menyenangkan bagi penggunanya. Tentu saja hal itu setidaknya dalam derajat tertentu telah menggoyahkan keberadaan, bahkan kewibawaan, otoritas-otoritas pengetahuan klasik, diantaranya guru dan para pendidik secara umum.

Pernyataan bahwa peran guru tidak bakal tergantikan oleh mesin secanggih apapun, di satu sisi memang benar. Sebab ketika pendidikan dimaknai sebagai  proses membekali peserta didik menuju ke arah kemandirian,  kemampuan memaknai hidup dan menjalani hidup yang bermakna, serta kemampuan memuliakan hidup dan menjalani hidup mulia, maka hal itu hanya bisa dilakukan oleh para guru yang sungguh-sungguh sadar atas panggilan jiwanya mewujudkan tujuan itu, bukan oleh para guru di luar itu, apalagi oleh mesin meski secanggih apapun.

Mereka itulah para guru yang memiliki cinta, kehangatan, empati, sentuhan hati, tanpa lelah dan selalu panjang akal dalam memotivasi para peserta didiknya. Seraya senantiasa mengupdate pengetahuan dan mengisi ruh pelbagai pengetahuan yang ditransformasikan kepada para peserta didiknya dengan nilai-nilai luhur yang mampu memuliakan jiwa peserta didiknya.

Itulah para guru sejati yang tidak bakal terdisrupsi oleh teknologi secanggih apapun. Sementara guru yang tidak memiliki perspektif dan karakter seperti di atas, itulah para guru yang akan terdisrupsi kemajuan teknologi.

Meski mbah google dan engkong YouTube terus saja menjadi mesin raksasa yang mendominasi pencarian jawab atas pelbagai hal yang ingin diketahui, namun tetap saja itu adalah mesin tak berjiwa, tanpa hati, empati, cinta dan sisi kemanusian yang otentik. Ketika hubungan seorang pelajar dengan mesin semakin dalam dan intens. Maka keterampilan sosialnya pun akan terus tergerus bahkan lenyap, dan keterampilan berempati dan mengapresiasi orang-orang sekitarnya pun menjadi rendah. jadilah ia manusia yang tidak peduli apapun di luar dirinya kecuali mesin canggih kesayangannya.

Begitu juga dengan pelbagai aplikasi bimbel online yang marak menyasar para pelajar,  yang kemunculannya mengisi ruang-ruang kosong kebutuhan praktis yang diharapkan sebagian peserta didik, yang penyelenggaraannya menekankan pada aspek komersial. Pelayanannya tertuju pada yang membayar. Lebih terfokus pada cara penyelesaian soal-soal pelajaran yang dianggap sulit dan diperkirakan bakal keluar saat ulangan atau ujian. Menurut saya, guru-guru virtual dalam aplikasi android sangat jauh untuk bisa diharapkan berperan dalam merangsang dan melatih pembentukan karakter mulia para peserta didik. 

Para guru sejati, baik itu guru negeri maupun swasta, yang telah teruji menjalani perspektif tujuan pendidikan sebagaimana di singgung di awal, sekaligus mereka senantiasa memancarkan karakter-karakter mulianya kepada peserta didiknya, maka negara wajib memberikan apresiasi dan kesejahteraan yang memadai terhadapnya.

Namun kepada guru yang masih lemah dalam mempraktikkan perspektif tujuan pendidikan yang meluhurkan peserta didiknya, maka pemerintah punya tanggung jawab mengasah dan menggenjot pemahaman dan keterampilannya lewat serangkaian pendidikan dan pelatihan yang terarah. Sehingga mereka pun, diantaranya, bisa memiliki dan mahir menggunakan seperangkat metode pembelajaran yang  kreatif dan menarik yang mampu diterapkan kepada peserta didik kalangan pribumi digital.

Serta kewajiban dan tanggungjawab pemerintah pula untuk selalu memastikan tidak ada satu orang guru pun  di negeri kita yang nasibnya terkatung-katung. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti PUSPOL Indonesia, Alumni S-2 Ketahanan Nasional UI, Wakil Sekretaris Jenderal Forun Serikat Guru Indonesia (FSGI)

Tidak bisa dipungkiri, sekolah saat ini bukan lagi tempat pembelajaran yang bermakna. Kurikulum kita sangat padat. Di lain pihak, ukuran keberhasilan di sekolah dilihat dari angka-angka. Misalnya, untuk lulus ukurannya nilai/angka ujian nasional (UN). Begitu juga untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Pertanyaannya, apa sekolah tak bisa memberi pelayanan hingga siswa harus mencari ilmu tambahan di bimbingan belajar (bimbel) baik online maupun yang tidak online? Seharusnya sekolah menyediakan layanan pembelajaran tersebut.

Namun, pendidikan kita sudah mengalami reduksi nilai. Dari sisi nilai, belajar berorientasi pada skor atau angka. Bukan pada value. Sekolah bukan lagi tempat untuk mentransfer nilai (value) hidup. Tetapi nilai skor. Itu nilai juga tetapi maknanya jauh beda. 

Maka, ketika lembaga bimbel muncul kita tak bisa menolak. Itu sudah keniscayaan. Dikatakan keniscayaan karena sistem pendidikan kita membentuk orientasi pemerintah, orangtua dam siswa kepada nilai skor/angka di saat yang sama sekolah tak mampu memberi kedua nilai itu, baik nilai yang sifatnya value maupun yang bentuknya skor.  

Terkait nilai skor yang belum bisa dipenuhi sekolah karena misalnya, rasionalitas jumlah murid di kelas yang tak memadai antara guru dan siswa; bagaimana bisa mengajar efektif bila jumlah siswa 30-35 per kelas?

Akhirnya pembelajaran di sekolah jadi tak bermakna, meaningless learning. Karena orientasinya nilai, yang dilakukan sekolah akhirnya drilling (pelatihan) memecahkan soal terus. Terutama bila jelang UN. 

Di situ kita kemudian bermasalah ketika dihadapkan pada persoalan problem solving atau berpikir kritis. Di sekolah, murid hanya dibiasakan menjawab soal. Bukan menjawab persoalan hidup. Targetnya hanya UN dan masuk PTN. 

Di saat bersamaan masyarakat tak puas dengan sekolah. Sementara negara "memaksa" orangtua dan murid mengejar nilai skor. Karena sekolah tak bisa menyediakan itu, lalu dijawab pasar. Ada celah untuk bimbel-bimbel lahir. Sekarang ada bimbel yang online karena kini sudah industri berbasis elektronik. 

Bimbel-bimbel ini ada tanpa pengawasan. Baik itu bimbel yang non-online maupun online. Kita pernah dengar ada kasus kebocoran soal UN di bimbel non-online. Itu terjadi karena pemerintah tak mengawasi mereka. Kita tak tahu mana bimbel yang nakal atau tidak. Apalagi sekarang ada bimbel online. Seharusnya pemerintah bergerak mengawasi. Misalnya dengan memberi akreditasi atau sejenis itu. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang