Jokowi, Bapak Musik Metal Indonesia, Apa Kabar?
berita
Humaniora

Sumber Foto: twitter.com

09 September 2017 11:19
Saat Joko Widodo terpilih jadi presiden RI, 2014 lalu, ucapan selamat antara lain datang dari Randy Blythe, frontman Lamb of God. Blythe memuji Jokowi presiden pertama di dunia yang mengaku “metalhead". Menarik ditelisik, apa kabar musik metal Indonesia di era Jokowi? 

Sudah bertahun-tahun musik metal tak lagi mengisi ranah mainstream budaya pop kita, terutama di TV. Ada yang menganggap sejak akhir 2000-an musik Indonesia di titik terendah, ketika program musik inBox dan Dahsyat mendominasi.  Lagu sendu bercengkok melayu menguasai pasar. Personel band menyanyi galau. Tidak ada kesan garang. Musik cadas telah mati di ranah mainstream

Musik metal punya ciri khas hingar bingar. Berisik. Namun, untuk menikmatinya ternyata bukan lewat suguhan paling gemerlap: layar kaca. 

Beda dengan dekade 1970-an hingga akhir 1990-an. Pada 1970-an ada AKA, SAS, The Giant Step, The Rollies, hingga God Bless. Bahkan penggemar musik cadas disuguhi konser Deep Purple. Tahun 1980-an metal kian mewabah ke daerah, ditandai Elpamas dan Power Metal dari Jawa Timur. Dekade berikutnya Slank mendominasi. Jakarta kembali jadi kiblat. Konser band metal dunia Sepultura dan Metallica digelar di ibu kota. 

Kita masih ingat konser band metal dunia itu berakhir ricuh. Pun konser Iwan Fals dan Slank, lebih akrab dengan ulah anarki penonton. Inikah sebab kemunduran musik metal di ranah mainstream? Apa musik metal selamanya identik dengan urakan dan perilaku brutal?            

Salah betul menganggap penggemar musik metal melulu bakal terjerumus narkoba atau jadi kriminal. Jokowi, sang metalhead, buktinya jadi presiden. Ia menggemari Metallica, Nazareth, Scorpions, Guns n Roses, Lamb of God, dan band metal lain. Selain itu, Slank dan Burgerkill termasuk dua band cadas anak negeri yang ia suka. 

Slank sesekali tampil di TV, tapi Burgerkill rasanya jarang sekali nongol. Kenapa TV kurang memberi tempat bagi musik metal? Apakah kurang mendatangkan rating, ketimbang dangdut atau pop? Kenapa sisi positif musik metal--sebagai pengobar semangat, misalnya, tak ditengok? Kapan musik metal Indonesia kembali ke ranah (semi) mainstream

Apa kabar Bapak Metal Indonesia? Apa sudah terlalu lelah mengurusi negara hingga tak punya waktu lagi membenahi musik kesukaan Pak Presiden?  Atau, musik metal baru akan dihidupkan lagi jelang Pemilu 2019?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 

Ciri khas musik metal memang bukan mainstream, tapi under-stream. Saya pernah nonton beberapa konser metal di luar negeri, mereka bahkan mainnya cuma di pub. Kalau di panggung ukurannya sudah istimewa. Tapi mereka senangnya tampil di tempat yang lebih kecil, yang lebih intim. Karena band metal biasanya bukan untuk mencari popularitas semata, tapi lebih bertujuan menjalin keakraban antar mereka. 

Pada tahun 1970-an musik metal dari luar itu antara lain diusung Kiss dan Alice Cooper. Kalau Deep Purple disebut metal rasanya agak keliru. Dan sejak dulu mereka lebih fokus pada crowd yang kecil, lebih akrab. Mereka tak peduli dengan industrialisasi maupun dengan aspek marketing. Dan sejak dulu penggemar musik metal terbatas. Pada akhirnya kita bicara angka penggemar. Angka itu yang jadi ukuran. Metal tak pernah punya penggemar yang masif. Pecinta rock saja tak semua senang metal. Nah, rock lebih mainstream. Jadi lebih mudah diterima. Musik metal memang tak punya greget mengundang penggemar dalam jumlah yang masif. 

Yang menarik, penggemar metal nyaman dengan kondisi itu. Sebab, mereka juga tak butuh (exposure) yang lebih luas dari yang sekarang. Jadi, penyebab musik metal tak masuk ke ranah mainstream bukan lantaran kalau konser ada kecenderungan rusuh, atau perilaku penontonnya brutal. Menurut saya bukan itu (penyebabnya). Grup super metal hanya segelintir. Ada Metallica, Anthrax, dan Sepultura. 

Kerusuhan nonton konser lagipula cuma terjadi di sini saja. Di luar negeri damai. Konser rusuh itu khas Indonesia. Tapi saya pernah nonton konser festival musik metal Hammersonic Festival di Jakarta beberapa tahun lalu, berlangsung damai. Nggak rusuh. Penampilan seram, tapi damai. Solidaritasnya tinggi. Saya waktu nonton sehabis turun hujan, lapangan berlumpur, kacau balau, tapi nggak ada keluhan terhadap kondisi sekitar panggung. 

Hanya memang citra musik metal identik dengan kerusuhan, padahal tidak. Di mancanegara selalu damai. Di sana, hubungan antar musisi metal lebih akrab dari musisi rock. Brotherhood mereka terkenal sangat kuat. Kalau musisi rock kan sombong-sombong. Saya masih percaya penggemar musik metal cinta damai. Dan kerusuhan konser, sekali lagi, itu khas Indonesia. Kapanpun bisa terjadi di konser musik mana saja, baik pop maupun dangdut.   

Selera Presiden Jokowi sangat khas. Yang menyukai musik metal agak jarang. Menurut saya boleh saja mengajak Jokowi memprakarsai semacam festival musik. Dia pasti senang-senang saja. Bisa jadi, untuk memuaskan hobi apapun akan dilakukan, meskipun seorang presiden. Jadi, dia akan senang hati bila diangkat sebagai bapak asuh musik metal Indonesia. Itu gagasan bagus untuk menghidupkan musik metal Indonesia.  (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Budaya

Dalam musik masa kini, apa sih yang dimaksud mainstream? Sekarang susah mengukurnya. Kalau dulu bisa diukur dari jumlah pemutaran di radio dan rilisan fisik. Apakah yang dipercakapkan orang bisa jadi ukuran? Belum tentu. Karena orang biasa mempercakapkan gosipnya, sosok keartisannya, pacarannya, bukan karya seninya. Jadi, apa musik mainstream? Saya rasa sudah nggak ada. 

Nah, yang sering jadi patokan ketika muncul di acara TV, misalnya Dahsyat. Masalahnya lalu, apakah musik metal punya sifat natural untuk bisa tampil di panggung seperti Dahsyat? Saya rasa tidak. Dan memang tidak ada panggung di ranah mainstream, misalnya TV, untuk kebanyakan jenis musik. Bukan hanya metal. Jazz juga nggak, rock nggak

Lagipula, pengalaman musikalitas metal lebih hadir bila ada pengalaman (menonton) panggung. Menonton langsung. Itu susah dimunculkan, misalnya, dalam televisi. Metal salah satu fungsinya sarana pelepasan energi. Jadi, tidak serta merta diduplikasi oleh medium televisi mainstream.  

Dulu, sampai tahun 1990-an lagu metal dari grup band luar negeri bisa masuk Top 40 diputar di radio. Itu dimungkinkan karena dulu musik yang diputar ditentukan oleh pilihan music director dan request pendengar. Tahun 1980-an musik prog-rock (progressive rock) juga masuk Top 40. Kalau sekarang terutama sejak 2000-an, musik yang diputar lebih banyak berangkat dari algoritma. Respons yang masuk juga lewat medsos. Sehingga yang populer akan populer begitu saja, tapi yang membawa inovasi baru susah menembus pasar. 

Kalau dulu, misalnya tahun 1970-an, musik metal jadi mainstream karena media. Ingat, dulu media punya sifat otoritatif daripada sekarang. Kini apa artinya majalah Rolling Stone memuji sebuah band atau album? Orang bisa lebih percaya pada blogger. Sekarang sendi-sendi mainsteam itu sudah tak ada. Kalaupun ada, rapuh.

Akhirnya orang menciptakan ruang hidupnya sendiri. Musik macam metal punya ruang hidup sendiri. Setelah 2000-an ranah metal besar sekali tapi di panggung. Penggemarnya lebih mencari pengalaman nonton di panggung. Beberapa berhasil merambah ke mainstream. Misalnya, Voice of Baceprot (band metal cewek berhijab--red) masuk TV juga. Bahkan pernah tampil di Dahsyat. Tapi mereka tak punya album yang terjual jutaan. Jadi sekarang besar bukan dari segi pemasaran. Musik metal besar dan mainstream sekarang, tapi ia minus exposure media. Ia tetap mainstream dalam hal sub-kultur. 

Pengertian mainstream yang kita bayangkan seperti dulu sudah tak ada, tapi sebagai kultur ia tak bisa kita abaikan. Sepeti invisible giant (raksasa yang tak terlihat--red), nggak kelihatan karena minim exposure. Itu terjadi akibat pertama, media kurang menyadari kebesarannya dan kedua, kini orang sibuk sendiri-sendiri. Bisa di satu festival dihadiri banyak orang, tapi lalu bubar sendiri-sendiri. 

Jika memandang musik metal kita arahkan ke situ, ia tampil lebih nyata dari apa yang diungkapkan di media. Mau diukur dalam jumlah produksi musik, lagu yang dihasilkan, jumlah band yang terlibat tetap besar. Lebih dari seratus. Dan skena metal ada di mana-mana. Misalnya, saya pergi ke Lombok, NTB, asyik skena metalnya. Tapi yang mainstream kan wisata syariah. Padahal di wilayah pesantren itu ada panggung (metal) itu. Mereka berisik, bermusik nyaring, tapi orang nggak melihat.

Saya pikir juga musisi metal kini tak memimpikan masuk ke ranah mainstream. Mereka lebih peduli untuk mewakili sebuah generasi yang lebih ekspresif. Metal kini tak lagi membutuhkan Top 40, ia jadi gerakan sosial kultural. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF