Industrialisasi Jadikan Seni Budaya Hanya Sebagai Simbol
berita
Humaniora
Sumber Foto : pinterset.com (gie/watyutink.com) 24 July 2018 18:00
Pada akhir Juni 2018, saat memberikan kuliah umum di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Presiden Jokowi menekankan peran seni dan budaya dalam memajukan bangsa dan negara. Jokowi meminta agar pembangunan tidak dimaknai hanya membangun fisik dan infrastruktur tapi juga mental dan karakter sumber daya. Di sinilah peran budaya dalam membangun karakter bangsa.

Permintaan Jokowi ini juga diamini oleh Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. Dalam prespektif nasional, Indonesia tidak hanya membutuhkan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan riset tapi juga perlu menumbuhkembangkan seni dan budaya.

Nasir berharap di masa depan seni dan budaya dapat menjadi industri yang mempunyai nilai tambah bagi masyarakat. Namun perlu disadari hal ini tidak mudah diwujudkan. Untuk itu perlu dilakukan kolaborasi agar cita-cita ini bisa tercapai.

Namun apakah hal itu mungkin, mengingat saat ini peran budaya seolah semakin terpinggirkan. Belum lagi jika sudah masuk dalam ranah industrialisasi maka seni dan budaya itu menjadi kehilangan makna selain dari hanya sebuah produk.

Berbicara tentang sebuah produk maka akan berbicara selera pasar. Produk yang laku di pasar itulah yang akan banyak di produksi. Jika hal ini diterapkan pada seni dan budaya, maka hanya produk seni dan budaya yang banyak diminati pasarlah yang akan dihasilkan.

Jika hal ini terjadi, seni dan budaya akan kehilangan roh. Niatan agar seni dan budaya dijadikan sarana membentuk karakter bangsa tidak akan tercapai. Harapan tersebut akan tereduksi menjadi industrialisasi budaya yang pragmatis untuk kepentingan pasar semata.

Contohnya, karya seni tulis seperti novel garapan Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari ternyata di pasar tidak selaris novel “Harry Potter”. Padahal di mata sastrawan novel karya Pram atau Tohari jauh lebih “berseni”. Mengapa hal ini terjadi, karena selera pasar lebih memilih Harry Potter yang dianggap sesuai dengan mode atau tren.

Kain batik yang menjadi kebanggan Indonesia lahir dari hasil olah seni dan budaya. Batik akan mempunyai ruh jika dibuat sesuai dengan tuntunan seni dan budaya. Tapi apa yang sekarang terjadi? Batik diproduksi secara masal dengan metode printing hanya untuk memenuhi permintaan pasar sama seperti produk tekstil pada umumnya. Jangan heran kalau saat ini batik jawa seperti sidomukti, parang kusumo, parang rusak atau batik sunda seperti adumanis, rereng peteuy, parang kujang dibuat secara printing.  

Untuk itu agar seni dan budaya bisa kembali pada fungsinya dibutuhkan kerjasama berbagai pihak. Salah satunya adalah perguruan tinggi yang diharapkan dapat mengembangkan seni dan budaya secara ilmiah, melahirkan standar mutu yang diperlukan serta menjaga kualitas nilai-nilai muatan suatu produk budaya.

Kemenristek berharap kalangan kampus dapat memanfaatkan teknologi untuk mendorong dan mendukung kreatifitas seni dan mempertahankan budaya. Kolaborasi kedua hal ini diyakini mampu menghasilkan nilai ekonomi yang inovatif.

Namun hal itu apakah dimungkinkan jika melihat minat para pelajar pada jurusan seni dan budaya di perguruan tinggi yang tidak besar jika dibandingkan jurusan lain, seperti teknik, teknologi informasi, atau ekonomi. Apalah gunanya perguruan tinggi merancang jurusan seni dan budaya sebaik mungkin jika jumlah mahasiswa yang mengikutinya hanya sedikit.  

Namun membiarkan seni dan budaya tenggelam dalam arus industrialisasi juga bukan tindakan bijak. Tentu kita tidak rela seni budaya bangsa yang bernilai luruh hanya menjadi simbol semata. Terlebih hanya menjadi produk yang diperdagangkan sesuai pesanan pasar.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Mantan Jurnalis, Dosen

Saat ini dunia termasuk Indonesia sedang menghadapi isu revolusi industri 4.0. Di tengah isu tersebut pemerintah berharap seni dan budaya dapat berperan dan memberikan kontribusi lebih besar. Untuk itu seni dan budaya harus mempu beradaptasi dengan teknologi. Di sinilah peran perguruan tinggi, khususnya bidang seni dan budaya.

Presiden Jokowi sudah menekankan pentingnya peran seni dan budaya bagi bangsa. Terlebih Indonesia mempunyai keragaman seni dan budaya yang sangat banyak. Kekayaan Indonesia  bukan saja hanya kekayaan alam, tapi juga seni budaya. DNA kita adalah seni dan budaya.

Namun pelaku seni budaya harus mempu mengikuti kemajuan jaman. Para seniman harus mampu beradaptasi agar karya seninya bisa dinikmati bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Inilah masalah yang saat ini kita hadapi. 

Kemajuan jaman tentu tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi. Jika para seniman ingin karyanya “laku dijual” maka harus mengikuti teknolgi atau hanya jadi masterpiece di dalam kalbu. Tapi kalau seni musik kita tidak usah khawatir, para musisi Indonesia sudah pada jago teknologi.

Adaptasi dengan teknologi akan membuat seni budaya diterima pasar sebagai bagian dari konsekuensi iklim industrialisasi. Muncul kekhawatiran seni hanya akan menjadi produk yang harus menyesuaikan kehendak pasar. Padahal sejatinya seni budaya berperan sebagai pembentuk karakter bangsa.

Kedua hal ini seolah bertabrakan jika dilihat dari sisi yang berbeda. Namun akan ditemukan titik temu jika dilakukan sinergi diantara seni budaya dan industrialisasi. Di sini pula peran perguruan tinggi seni budaya kembali dibutuhkan.

Itulah sebabnya Menristekdikti Mohamad Nasir berharap agar Perguruan Tinggi Seni di Indonesia dapat dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Teknologi dimanfaatkan untuk mendukung kreativitas seni, sehingga seni bukan hanya digunakan untuk mempertahankan budaya tapi juga dapat menghasilkan nilai ekonomi dan inovatif.

Terlebih saat ini minat lulusan SMA masuk ke jurusan seni budaya cenderung meningkat. Meski pada awalnya para lulusan SMA masuk jurusan seni budaya hanya sekedar mengejar perguruan tinggi negeri namun secara kuantitas dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Girang Pangaping Adat Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan Cigugur dan Panglima Jaringan antar Desa GEMPUR

Seni adalah salah satu produk budaya yang mempunyai nilai dan filosofi. Ada banyak produk budaya seperti sistem tanam, sistem penataan lingkungan, dan kearifan tradisi lainnya yang sudah teruji selama ratusan bahkan ribuan tahun. Contohnya, arsitektur rumah Julang Ngapak dalam tradisi Sunda ternyata sama dengan sistem rumah kait mengkait yang dikembangkan di Jepang untuk mengantisipas gempa bumi.

Kalau seni dalam kaitannya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dilihat pada pertanian, perikanan, peternakan. Masyarakat adat pun mempunyai konsep seperti itu. Masyarakat adat punya plasma nutfah, punya benih-benih padi yang belum dipatenkan. Kalau kita lihat benih padi rojolele dan pandanwangi saat ini sudah dipatenkan oleh perusahaan dari Amerika, padahal belum tentu mereka makan nasi sebulan sekali. Kami mempunyai varietas-varietas lokal lainnya yang dikembangkan di masyarakat adat melalui upacara-upacara tradisional.

Nah, jika konteksnya adalah agar masyarakat budaya bisa bertahan dan berkembang serta melakukan peningkatan kesejahteraan, baik pelaku budaya maupun masyarakat budaya maka pertanyaan kami adalah prespektif masyarakat perkotaan terhadap organisasi budaya itu seperti apa?

Ada dua organisasi budaya yang kita kenal, paguyuban dan patembayan. Sementara organisasi yang saat ini diakomodir hanyalah organisasi dalam pengertian modern, seperti ormas, asosiasi, dewan, lembaga, dan sebagainya. Padahal masyarakat adat sudah mempunyai struktur organisasi kemasyarakatan yang sudah ada dan dilestarikan sejak ratusan tahun yang lalu.

Maka jika kami diminta agar bisa berkontribusi pada era globalisasi, misalnya pasar bebas asia, maka hargai dulu sistem, struktur dan organisasi tradisional. Seniman-seniman tradisional hidup hanya untuk budaya, setiap hari mereka bertani. Bagi mereka berbudaya adalah jalan hidup dan bukan untuk uang.

Jika seni hanya sebagai produk dan tontonan maka seni akan kehilangan ruh. Seni hanya akan menjadi sebuah pertunjukan. Tapi jika seni dan budaya yang menjadi jalan hidup, dihargai dan diambil inti sarinya maka akan menjadi sebuah warisan dunia.

Keinginan agar seni dan budaya lebih memberikan nilai tambah adalah keinginan yang luar biasa. Tapi bentuk organisasi dan tata relasi sosial dan ekonomi masyarakat budaya harus pula dihargai agar ruh seni dan budaya tidak hilang.

Anggapan bahwa seni dan budaya adalah sesuatu yang ketinggalan jaman adalah salah. Dalam budaya sunda ada istilah ‘ngindung ka waktu mibapa ka jaman’ yang bermakna mengikuti perkembangan jaman tanpa mengesampingkan budaya tradisional . Sedangkan dalam budaya Baduy ada istilah ‘lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung’ artinya panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.

Pasalnya seni dan budaya selalu membuka ruang untuk menerima kemajuan jaman. Meskipun ada hal-hal yang tidak bisa di otak-atik. Sesuatu yang sudah menjadi pakem tidak boleh diubah. Sehingga sebenarnya dalam budaya tradisional selalu ada ruang untuk menerima kemajuan dan teknologi. (ysf) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!