Hubungan Sandiaga Uno dengan Post-Islamisme
berita
Humaniora

Sumber Foto : kabar24.bisnis.com (gie/watyutink.com)

10 August 2018 18:00

Ketika Prabowo Subianto mengumumkan Sandiaga Uno sebagai pendamping untuk maju di Pilpres 2019, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman--partai koalisi Prabowo selain Gerindra dan PAN--menyebut Sandi sebagai santri di era post-Islamisme. 

"Saya kira, beliau hidup dialam modern, tapi beliau mengalami proses spiritualisasi dan Islamisasi. Saya bisa mengatakan, saudara Sandi merupakan sosok santri di era post- Islamisme," begitu persisnya kata Sohibul, Kamis (9/8/2018) malam. Kontan istilah post-Islamisme langsung jadi perbincangan di jagat maya. 

Sebelum bicara post-Islamisme kita harus defenisikan dulu Islamisme. Sebagai sebuah istilah, Islamisme berarti upaya mewujudkan agenda Islam. Islamisme berkaitan dengan komitmen terhadap, dan isi dari agenda Islam (Emmerson, 2009). Oleh sebab itu istilah ini kerap disebut juga Islam politik. Pada gilirannya Islamisme dan pelakunya, mereka disebut Islamis, diasosiasikan negatif karena dikaitkan dengan terorisme, kekerasan, fanatisme, dan sebagainya. Pada satu titik pula gerakan Islamisme tersebut mengalami fase kelelahannya (Bayat, 1996). 

Dari situ muncul istilah anyar untuk mendekonstruksinya, persis modernisme diruntuhkan oleh post-modernisme. Namun, post-Islamisme tak hendak menolak Islamisme. Post-Islamisme bukan sekularisme. Bukan pula menolak teokrasi dan penerapan ideologi keagamaan. Post-Islamisme hanya tak kaku pada kenyataan hidup sehari-hari. Cirinya, kompromi dengan kenyataan politik, pragmatisme dalam menjalankan program pemerintah, dan sikap toleran terhadap kelompok-kelompok yang berbeda (Abdalla, 2011). Wujudnya di berbagai belahan dunia adalah lahirnya partai Islam modern di Turki, Tunisia, Mesir hingga Indonesia (Partai Keadilan, lalu ganti nama PKS).   

Dari serangkaian teori di atas, masukkah Sandiaga Uno berada dalam kategori "santri era post-Islamisme"?

Meski tak berasal dari latar belakang partai Islam, Sandi mewakili kelas menengah Muslim negeri ini. Mereka ini, para young urban professionals (yuppies) Muslim, menerapkan gaya hidup islami. Mereka kemudian melahirkan pasar produk syariah, mulai dari fashion, perbankan, kosmetik, hotel, reksadana, makanan halal, lembaga amal zakat, umroh hingga travel religi. Sebagian dari mereka juga turut berdemo 212 kemarin, tapi di barisan belakang sambil ber-selfie ria. 

Sejak Pileg 2014 Jokowi versus Prabowo, berlanjut ke Pilkada DKI 2017, kelas menengah Muslim terseret ke pusaran politik praktis. Pertanyaannya lalu, apa Sandi bakal jadi pilihan umat di era post-Islamisme?    

Kita tahu, partai-partai Islam modern hari ini kian konservatif dan bergerak ke kanan. Bandul bergoyang ke Islamisme lagi alih-alih post-Islamisme. Di lain pihak, kubu seberang (baca: Jokowi) juga mengusung ulama (KH Ma'ruf Amin, Ketua MUI) dengan spektrum pasar Islam lebih luas: dari tradisional, modern hingga konservatif alumni 212.  

Siapa yang kira-kira bakal dapat suara pemilih Muslim lebih banyak di pilpres nanti? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia

Dari yang dikatakan Presiden PKS Sohibul Iman ada dua hal untuk dibedah defenisinya. Pertama, santri. Yang kedua soal post-Islamisme. Istilah santri biasanya langsung merujuk ke Clifford Geertz yang di tahun 1960-an mengkategorikan orang Islam Indonesia sebagai santri, priyayi, dan abangan. Yang dimaksud santri di situ adalah orang yang belajar Islam secara formal dan informal di dunia pesantren. Bila pakai defenisi itu Sandi tak masuk kategori. Namun, di tahun 1990-an ketika di Indonesia berkembang ICMI (Ikatan Cendekiawan MUslim Indonesia) defenisi "santri" ala Geertz telah melebar. Jadi, santri tak hanya dialamatkan pada orang-orang yang lulusan pesantren, tapi orang yang dalam kehidupannya memegang erat nilai-nilai Islam. Makna santri lebih pada perilaku beragama dan kebudayaan. Dari defenisi yang telah melebar itu Sandi masuklah. 

Dia memiliki kepribadian religius. Dalam pergaulannya sebagai pengusaha dan didikan modern untuk menekuni bisnis, saya melihatnya sangat religius. Bahkan dari pihak istrinya, Nur Asia lebih hebat lagi kesantriannya. Dia berlatar santri Betawi. Di Pilkada DKI Jakarta kemarin Sandi kuat di situ, Islam-Betawi. Artinya, meski Sandiaga Uno lebih kental pengusaha, dia masih bisa dikatakan santri menurut defenisi tahun 1990-an.      

Mengenai istilah post-Islamisme sendiri, di kalangan intelektual, PKS dikategorikan sebagai partai post-Islamisme. Karena partai itu beradaptasi, berkompromi dengan sistem politik modern. ICMI di tahun 1990-an yang diwakili Habibie juga layak disebut post-Islamisme. Sedangkan Cak Nur (Nurcholis Madjid) tidak masuk kategori post-Islamisme karena hingga akhir hayatnya, ia berjuang memisahkan agama Islam dengan negara/politik, sesuai slogannya "Islam, Yes. Partai Islam, No." PKS beda. Wadahnya PKS dinamakan Islam. Dan dengan wadah yang Islami ini PKS bersosialisasi dan berkompetisi secara terbuka dengan kelompok-kelompok lain, ikut sistem yang berlaku.

Meski mereka mengaku inklusif dan terbuka pada kelompok lain, itu hanya omongan. Di dalam tak ada yang berbeda dengan kelompok mereka. Poat-Islamisme PKS lebih cenderung pada pragmatismenya. Soal ideologinya tetap sama (Islamisme), keras sekali (ideoligi). 

Tapi kemunculan Sandi sebagai cawapres Prabowo juga tak terpisahkan dari proses politik. PKS kini tak punya posisi tawar yang kuat dengan Gerindra. Andai mereka sekuat dua periode yang lalu, akan lain (ceritanya). Bahkan (kini tak sekuat atau seindependen) Partai Keadilan dulu yang berani mengusung capres sendiri, KH Didin Hafidhuddin. Saat ini posisi PKS lemah. Partainya terpecah, sejak kasus (korupsi) sapi orang menurun kepercayaannya. Ya, komprominya akhirnya seperti ini.

Sedangkan KH Ma'ruf Amin ini di NU, masuk kategori NU-kanan, agak konservatif. Fatwa penistaan agama untuk Ahok dia juga yang motori lewat tangannya sebagai Ketua MUI. Dan Jokowi dengan sengaja mengambil irisan itu. Yakni bagian NU yang masih bisa mengobrol dengan Islam garis keras dan konservatif. Sejak dulu, KH Ma'ruf ini bagian NU politik. Beliau bergaul juga dengan Gus Dur ketika NU menarik diri dari politik kembali ke khittah. Keduanya juga bekerjasama ketika mendirikan PKB. Salah satu ketua majelis syura-nya PKB Ma'ruf Amin. 

Dengan dipilihnya Ma'ruf Amin, Jokowi sangat menghitung keuntungan di pihaknya. Di periode kedua ini dia ambil aman. Tapi memang tak bisa membuat semua orang puas atas pilihannya. Misalnya, di medsos isu golput menguat. Nggak tahu riil-nya di publik. Figur RI-1 Jokowi lebih kuat dari cawapresnya. Prabowo juga demikian, lebih kuat dari cawapresnya. Jadi, pertarungannya bukan di RI-2. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-1)             Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-2)             Rupiah Terpuruk di Atas Struktur Ekonomi Tak Sehat (1)             Selesaikan PR Rantai Ekspor, Ekonomi Biaya Tinggi (2)             Kuncinya Pada Penyediaan Infrastruktur Dasar             Maksimalkan Desentralisasi, Tak Perlu Asimetris             Otsus, Antara Bencana Atau Solusi             Otonomi Daerah Jangan Setengah-Setengah             Bereskan Dulu Masalah Penggunaan Dana Desa, Baru Bicara Dana Kelurahan             Oknum ASN Harus Berhenti Memposisikan Diri Seolah Pemilik Instansi