Hannah Al Rashid dan Budaya Perkosaan Kita
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 29 November 2018 18:30
Sebagian dari Anda mungkin familiar dengan nama Hannah Al Rashid. Ia aktris yang telah membintangi sejumlah film nasional. Paling baru kita disuguhi aktingnya di film Aruna dan Lidahnya. Di situ ia beradu akting dengan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra.

Senin (26/11/2018) kemarin, Hannah membagi pengalaman traumatisnya pernah jadi korban pelecehan seksual. Meski tak menyebut tahun kejadian, ia tak melupakan momen peristiwanya. 

Malam itu, kisahnya, ia tengah jalan kaki ke tempat kosnya sewaktu dua cowok naik motor lewat dan megang dadanya. "Spontan saya langsung teriak sambil kejar mereka. Bapak-bapak di pos deket situ ngelihat aja dan nggak bantuin sama sekali," cerita Hannah. Dua cowok itu berbalik ingin melecehkannya lagi. Kali ini Hannah lebih siap. Ia tak jadi korban kedua kalinya, namun dua cowok itu berhasil lolos.

Cerita di atas dikisahkannya kembali sambil mengajak orang mengisi survei tentang pelecehan seksual di laman Change.org. Pertanyaannya antara lain pernahkah jadi korban serta bagaimana sikap orang melihat orang lain dilecehkan. Tampaknya, selain ingin memberi kesadaran pada orang lain--terutama perempuan--untuk melawan kekerasan/pelecehan seksual, ia ingin mengetahui sejauh mana budaya perkosaan hidup di masyarakat kita.

Dibacanya memang kurang nyaman. Budaya selama ini dikaitkan dengan tradisi luhur yang diwariskan sejak zaman nenek moyang. Budaya biasanya juga berkaitan dengan hal positif. Namun budaya perkosaan yang merupakan terjemahan "rape culture" kurang akrab di telinga orang Indonesia. Maka dari situ kita bertanya, apa perkosaan telah membudaya di masyarakat kita?

Komnas Perempuan punya data. Dalam lima tahun terakhir kasus kekerasan pada perempuan naik turun. Pada 2015 jumlahnya 321.752 kasus, tahun 2016 turun jadi 259.150 kasus dan pada 2017 naik jadi 348.446 kasus. Apa angka-angka itu membuktikan budaya perkosaan telah hadir di sini?

Perlu diketahui, budaya perkosaan bukanlah aksi kejahatan pemerkosaan sebagaimana yang diatur KUHP kita telah jamak terjadi. Budaya perkosaan maknanya lebih luas. Yakni merujuk pada fenomena kekerasan seksual, dari pemerkosaan hingga pelecehan, yang sering terjadi dan dianggap biasa oleh masyarakat, media dan budaya pop. 

Dalam masyarakat yang telah menganggap pelecehan seksual seperti yang dialami Hannah Al Rashid hal biasa, maka tak ada yang membantunya menangkap pelaku. Kenapa sampai masyarakat menganggap itu hal biasa? 

Kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan berbasis gender. Akarnya ada pada ketimpangan relasi kuasa yang terbangun karena konstruksi sosial laki-laki dan perempuan. 

Dalam budaya patriarki, perempuan diidentikan sebagai objek seksual. Penundukkan terhadap perempuan dilakukan melalui kekerasan seksual. Itu sebabnya, laki-laki enteng saja iseng mencoba memegang dada sembarang perempuan di jalanan. 

Perilaku amoral itu tak bisa dibiarkan terus. Kita mungkin tak enak mendengar frasa "budaya perkosaan", tapi perilaku kita (laki-laki) pada mereka (perempuan) melanggengkan budaya itu. Bisakah perilaku buruk itu dikikis?

Di tingkat elite pun proses legislasi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual tak kunjung rampung. Padahal masa tugas anggota DPR sebentar lagi habis. Apa ini lagi-lagi cerminan kita melestarikan budaya perkosaan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penyintas kekerasan seksual, aktivis perempuan

Budaya perkosaan atau rape culture nggak harus diartikan dengan tindak pidana pemerkosaan. Masyarakat kita selama ini merasa pemerkosaan tidak jadi budaya kita. 

Pengertian rape culture tak sesempit itu. Rape culture adalah segala pemikiran, sikap yang membuat orang yang melihat kejadian kekerasan seksual ditolerir. Segala tindakan yang mendukung ataupun membiarkan kekerasan seksual terjadi adalah rape culture. Itu makna sebenarnya.

Misalnya bila ada pelecehan kita merasa itu bukan bagian dari kekerasan seksual. Sehingga bila ada saudara perempuan kita disuit-suitin (cat calling) atau ditatap dengan pandangan yang mengarah pada objektivikasi seksual, kita mungkin diam saja. Padahal itu juga bagian dari kekerasan seksual. 

Nah, mereka atau masyarakat yang menganggap itu bukan kekerasan seksual, menganggap tindakan tersebut dianggap biasa, sudah jadi bagian dari apa yang disebut budaya perkosaan.

Termasuk juga postingan seksis yang sexualizing seorang perempuan di media sosial. Itu bagian dari rape culture juga karena memandang perempuan sebagai objek.

Contoh lain victim blaming (menyalahkan korban). Saat ini banyak perempuan punya kesadaran, berkata telah jadi korban pelecehan seksual. Karena belum ada hukum yang kuat untuk mengatur hal itu, akhirnya yang dipilihnya adalah hukuman sosial. Ia speak up di medsos. Tapi di saat bersamaan juga ia dianggap lebay (berlebihan) oleh orang lain karena keberaniannya itu. Atau korban yang disalahkan karena pakaiannya dan lain-lain.

Orang-orang yang berkata lebay dan menyalahkan korban itu juga bagian dari rape culture

Dalam kasus Baiq Nuril itu juga dampak dari rape culture di masyarakat kita. Aparat hukum kita tak memandang apa yang dialaminya pelecehan seksual. Mereka mungkin menganggap dia berlebihan karena merasa dilecehkan. Padahal apa yang dikatakan atasannya nggak pantas diceritakan pada bawahannya. Menceritakan hal seksual sementara yang diceritakan merasa tak nyaman (itu pelecehan). Apalagi posisi Baiq Nuril di sini sebagai anak buah. 

Nah, aparat hukum kita masih jauh dari memiliki perspektif membela korban. Mereka masih menganggap wajar perempuan diobjektivikasi secara seksual. Padahal pemikiran itu bagian dari budaya perkosaan. Mungkin mereka sendiri tak sadar akan hal itu. Atau mungkin belum tahu. Kadang ada juga yang sudah tahu tapi tetap menganggapnya biasa. 

Baiq Nuril akhirnya menjadi korban dari sistem besar yang masih mengandung budaya perkosaan. Masyarakat kita masih jauh dari memiliki persepektif gender. Kita pernah hendak punya UU Kesetaraan Gender beberapa tahun lalu, tapi gagal. Sekarang yang lebih konkret, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual juga mangkrak. 

Alasannya karena sistem politik dan sosial kita tak menganggap itu sesuatu yang penting. Padahal, perempuan dan kelompok rentan lainnya juga sama pentingnya untuk ada undang-undangnya seperti halnya memerangi kasus korupsi.

Namun RUU itu seolah mangkrak sekarang. Apalagi sekarang jelang pemilu. Perhatian orang maupun anggota DPR tercurah ke sana. Padahal RUU itu sangat penting karena ini menyangkut ketahanan masyarakatnya. Negara ini dibangun dari ketahanan masyarakatnya. Kalau kasus-kasus kekerasan seksual terhadap perempuan akibat rape culture tak ditangani, berapa kerugian yang harus dibebankan pada negara?

Itu kita belum bicara soal trauma psikis korban yang akhirnya menghambat produktivitasnya. Namun itu nggak dianggap kerugian oleh negara, padahal akibatnya tetap sangat merugikan secara keseluruhan.

Terakhir, kata-kata budaya perkosaan buat saya tak perlu diperhalus. Tidak perlu ada eufemisme di sini. Kenapa? Orang tak nyaman dengan istilah itu karena mereka menyangkal hal itu ada. Kenapa menyangkal? Karena mereka masih jadi bagian dari pelaku. 

Istilah itu memang membuat orang tersinggung karena jadi bagian dari budaya perkosaan. Saya yakin 90 persen masyarakat kita masih jadi bagian rape culture. Buktinya kebiasaan menyalahkan korban (victim blaming) kekerasan seksual kerap terjadi. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan             Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang