Go-Jek Segera Kian Menggurita
berita
Humaniora

Sumber Foto: katadata.com                          & 22 February 2018 16:00

Masihkah Anda ingat bagaimana hidup di Jakarta ketika Go-Jek belum mewabah? Masa itu tak sampai tiga tahun lalu. Namun rasanya telah lama sekali. Dulu, naik ojek bukan pengalaman menyenangkan. Konsumen dihadapkan dengan tawar-menawar yang menjengkelkan.

Go-Jek menawarkan solusi: tidak ada tawar-menawar, harga pas dan lebih murah. Penggunaan smartphone yang kian masif dan koneksi internet mamin membaik menjadikan pesan Go-Jek tinggal klak-klik. Praktis. Seiring waktu pula Go-Jek tak hanya mengantar penumpang, tapi merambah ke pengantaran makanan, barang, pemijat, tukang bersih-bersih, taksi, dan macam-macam lagi. Bayar layanan Go-Jek pun kian gampang lewat Go-Pay

Bersama layanan Grab dan Uber, Go-Jek menjadi layanan on demand berbasis aplikasi yang menjadi disrupsi bisnis transportasi. Kehadiran mereka masih mengundang kontroversi. Supir angkot, supir bus, perusahaan taksi, hingga ojek pangkalan rasanya masih belum rela lahan rezekinya di-disrupsi Go-Jek dkk. 

Tapi mau bagaimana lagi. Perkembangan teknologi muskil dicegah. Hari-hari kemarin kita malah menyaksikan Go-Jek dapat kucuran dana masif dari investor-investornya. Google, lewat perusahaan induknya--Alphabet dan Temasek--serta sejumlah perusahaan lain berinvestasi 1,2 miliar dolar AS atau setara Rp16 triliun. Selain dari luar negeri, perusahaan nasional PT Astra International Tbk dan PT Global Digital Niaga (GDN) milik Grup Djarum berinvestasi ke Go-Jek. Astra mengucurkan dana segar setara Rp2 triliun, sedang GDN akan menyuntikkan Rp1,5 triliun. 

Lantas, pertanyaannya, apa arti investasi itu semua bagi kehidupan kita?

Dengan dana segar belasan triliunan yang dimilikinya, Go-Jek bakal kian luwes bergerak. TI yang ada bakal kian canggih. Layanannya mungkin bakal lebih baik. Ujungnya, pelanggan bakal makin dipuaskan. 

Namun, ada sisi lain yang perlu juga kita cermati. Dengan dana masif dan dukungan raksasa dunia maya Google, Go-Jek rasanya bakal kian menggurita, mengisi banyak segi kehidupan kita. Untuk bepergian kita bakal kian bergantung ke Go-Jek, beli barang online lewat Blibli yang dimiliki Djarum bisa diantar pakai Go-Jek dan dibayar dengan Go-Pay. Astra bisa memanfaatkan menjual produk otomotif mereka untuk dipakai driver perusahaan yang CEO-nya Nadiem Makarim ini. 

Bayangkan juga akan seperti apa kolaborasi Google dengan Go-Jek. Keduanya mungkin akan berbagi data berupa kebiasaan kita berselancar, baik di Google atau misalnya, jenis makanan apa yang kita sering order di Go-Food. Google dan Go-Jek jadi lebih tahu konsumennya daripada sang konsumen sendiri. Hm, tidakkah itu berbahaya? Tidakkah kita akan hidup dalam gelembung yang ujungnya hanya akan menguntungkan perusahaan tersebut? 
        
Pada titik ini jadi ingat Jeff Bezos dengan Amazon-nya. Pada 1994, Bezos membangun Amazon dari garasi rumahnya sebagai toko buku online. Amazon lalu berkembang pesat tak hanya jual buku, tapi jadi perusahaan retail terbesar. Amazon punya layanan video on demand (vod) dan perusahaan film, koran Washington Post, hingga pembuat roket ke ruang angkasa. Apa kita sedang menyaksikan Nadiem Makarim menapaki jejak Jeff Bezos? Apa kelak Go-Jek bakal punya layanan vod, wallahu a'lam. Yang jelas Go-Jek segera kian menggurita. Itu baik atau buruk?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Monopoli sebagai suatu  permainan sangat menarik bagi anak juga dewasa. Fakta oligopoli tidak terbantah meski AS sudah mulai  punya Anti Trust Act (UU Anti Monopoli) yang memecah monopoli (perusahaan minyak) Standard Oil milik Rockefeller jadi lima perusahaan. Lalu juga memecah AT&T. Tapi fenomena oligopoli tidak terhindarkan secara global empiris. Maka, kita harus berpikir eklektik dan bukan black and white mudharat-manfaat.

Mengenai tudingan perusahaan teknologi, semacam Go-Jek akan menjadi BAADD (big, anti-competitive, addictive and destructive to democracy), dulu pun orang takut tahun 1984 akan muncul "monster" sebagaimana diramalkan George Orwell (di novelnya, 1984) nyatanya kita selamat. Juga ancaman Y2K virus atau hang-nya sistem komputer nyatanya cuma momok penjual software.

Kalau Nadiem Makariem dan Go-Jek sukses, hal itu justru harus disyukuri sebagai model start-up (usaha rintisan) RI yang melejit ke kelas global, jadi Alibaba-nya Indonesia. Nah, relasi dengan mitra atau subkontraktor, supplier, dan seterusnya itu yang harus jadi landasan competitiveness yang sehat. 

Di Barat, mereka live n let live (dibiarkan tumbuh). Dan di sana juga lebih well regulated (tentang aturan monopoli) ketimbang RI yang salah kaprah (yang hasilnya) jadi macet (untuk berkreasi ataupun mengembangkan usaha). Misalnya, soal UU Tenaga Kerja dan pesangon jadi hambatan atau obstruksi terbesar arus investasi.

Kata kuncinya, manfaat bersaing dan berkinerja optimal dalam kompetisi meritokratis harus dikelola secara eklektik pro-aktif menuju terciptanya kekuatan ekonomi RI kelas global. Yang harus diciptakan adalah pola pikir pro-aktif positif kreatif, jangan reaktif status quo atau paranoid anti kompetisi bermuara oligopoli yang efisien setara global player. Jadi, so what kalau Nadiem dan Go-Jek go global? So be it. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Melihat perkembangan layanan transportasi online yang kian pesat, masyarakat patut bersyukur karena diberikan pilihan beragam. Jika dahulu masyarakat dihadapkan pada pilihan yang terbatas, transportasi online menghadirkan berbagai kemudahan dan keunggulan yang tidak ditawarkan oleh pemain lama. Seperti kemudahan jemput di tempat dan kemudahan pembayaran. Ini bagus untuk menumbuhkan persaingan di bisnis transportasi.

Konsumen kemudian sedikit demi sedikit beralih ke transportasi online. Ditambah penetrasi pengguna internet yang meningkat tajam selama 5 tahun terakhir menambah permintaan akan transportasi online melonjak. Belum lagi persaingan harga antar penyedia layanan transportasi online yang kian menekan transportasi konvensional.

Semakin jayanya transportasi online membuat investor, dalam dan luar negeri melirik bisnis ini sebagai investasi barunya. Hal ini membuat Go-Jek (salah satu perusahaan transportasi online) menjadi Unicorn pertama di Indonesia dengan nilai valuasi lebih dari 1,2 milliar dolar AS yang siap melebarkan sayapnya di kawasan ASEAN. Siap bersaing dengan Grab dan Uber yang sudah terlebih dahulu go international.

Dengan pendanaan yang besar ini membuat Go-Jek lebih leluasa memperkuat bisnisnya. Salah satunya dengan pengembangan teknologi dan informasi yang dimilikinya termasuk pengembangan Go-Pay. Go-Pay akan berkembang sebagai salah satu pemain uang digital yang potensi mengganggu bisnis perbankan. Bahkan Go-Pay sangat potensial dikembangkan jadi bisnis fintech yang nantinya akan ikut berkompetisi dengan layanan fintech yang saat ini juga sedang tumbuh.

Selain itu, pendanaan tersebut digunakan juga untuk "perang harga" dengan pesaing. Hal ini juga dilakukan oleh Uber yang mendapatkan suntikan dana yang juga tidak sedikit. Perilaku "bakar uang" ini yang menimbulkan kekhawatiran adanya praktek predatory pricing untuk menekan pesaingnya dari transportasi online.

Hal ini dapat dilihat dari harga yang ditawarkan ke konsumen sangat rendah. Walau berkilah itu adalah promo, namun promo yang dilakukan terlalu lama sehingga kompetitor lainnya merugi. Predatory pricing yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut akan menimbulkan efek yang bahaya bagi persaingan usaha. Dalam jangka panjang akan mematikan pesaing lainnya. 

Setelah pesaingnya gulung tikar maka dengan mudah akan menguasai pasar dan mudah dalam menetapkan harga. Namun untuk menjadi BAADD (big, anti-competitive, addictive and destructive to democracy), saya kira terlalu jauh untuk mengaitkannya, karena bisnis ini terbukti juga dapat memberikan kompetisi dengan pesaing lama yang cenderung monopolistik.

Layanan transportasi online lebih mengarah kepada two sided market atau yang biasa dikenal dengan multi sided platform. Bentuk bisnis atau pasar ini ada tiga hal: (i) menyediakan layanan yang berbeda kedua sisi pasar, yang dapat dikenai harga berbeda secara eksplisit, (ii) manfaat pengguna dari konsumen atau mitra tergantung pada tingkat pertisipasi konsumen atau mitra yang lain, (iii) platform atau penyedia layanan adalah price setters (monopoli atau oligopolistik) di kedua sisi pasar dan biasanya menetapkan harga yang seragam atau hampir seragam. Dalam hal ini, perusahaan aplikasi penyedia jasa transportasi online mempunyai dua konsumen yaitu penumpang dan mitra dimana kedua-duanya pasti ingin sama-sama untung. Yang pasti untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah hal yang mudah. Sering kali akan dikorbankan salah satu konsumen mereka untuk dapat mencapai neraca keuangan yang ideal.

Pihak yang sering dikorbankan dalam two sided market adalah pihak mitra perusahaan. Pihak mitra yang lebih mudah "diatur" daripada konsumen. Ketergantungan mitra akan layanan perusahaan lebih tinggi daripada konsumen. Mitra (untuk transportasi online) banyak yang sudah mengeluarkan modal seperti kredit kendaraan dsbnya sehingga akan berpikir panjang untuk keluar jadi mitra. Di sisi lain, konsumen masih ada transportasi lain seperti KRL, ataupun MRT atau LRT yang akan segera rampung.

Keberpihakan perusahaan transportasi terhadap mitra harus dibuat tanpa harus membuat mitra menjadi ketergantungan terhadap perusahaan transportasi online. Ini akan membuat pasar semakin kompetitif baik di pasar perusahaan-mitra ataupun perusahaan-konsumen. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Kita punya dua pilihan menghadapi kemajuan teknologi informasi yang sangat menggucang dunia pada saat ini. Memperlakukannya sebagai peluang untuk maju atau justru melihatnya sebagai ancaman. Bagi saya, lebih baik memperlakukannya sebagai peluang untuk menghadapi globalisasi yang makin kencang dan tak terbendung.

Kita memang tak boleh menutup mata pada dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi. Salah satunya adalah makin tersingkirnya ojek konvensional karena tak mampu bersaing melawan yang daring (online). Sementara itu banyak tenaga administrasi yang terpaksa menganggur karena pekerjaan mereka 'dicuri' oleh teknologi informasi.

Selain itu, teknologi informasi juga menyebabkan arus informasi makin sulit dimonitor atau dikontrol. Akibatnya, negara negara maju bisa dengan mudah menyerap secara besar besaran  berbagai informasi dari semua belahan dunia. Informasi tersebut lalu mereka olah untuk kepetingan sendiri. Ada yang untuk bisnis, intelijen, politik, dan sebagainya.

Ketimpangan penguasaan informasi ini menyebabkan kesenjangan kekuatan ekonomi dan militer terus melebar. Akibatnya, dalam peta persaingan dunia, negara- negara sedang berkembang seperti Indonesia tampak terus mengecil di hadapan negara negara maju.

Berbeda dengan zaman dulu ketika pengumpulan informasi sangat mengandalkan operasi intelijen yang mahal dan berbahaya, sekarang tanpa mengirim intel pun mereka bisa menyerap informasi dalam skala jauh lebih besar dengan risiko jauh lebih kecil. Salah satunya, informasi tentang mobilitas dan selera makan penduduk kota kota besar Indonesia bisa dikumpulkan melalui jaringan transportasi daring yang pusat kendalinya ada di negara negara maju.

Sekarang transportasi daring bahkan sudah jauh berkembang ke berbagai bisnis dari pijat panggilan sampai finansial. Dengan kata lain, teknologi informasi dalam transportasi daring terus berkembang menjadi urat nadi perekonomian nasional.

Jadi jangan heran kalau konglomerat berkaliber dunia kini berlomba mengguyur modal ke perusahaan transportasi daring di Indonesia, baik yang lokal seperti Go-Jek maupun asing seperti Grab dan Uber. Namun tak berarti kita harus menolak kehadiran mereka. Bagaimanapun juga kehadiran mereka telah membantu peningkatan kualitas hidup masyarakat dan efisiensi ekonomi.

Dalam hal ini kita perlu mengacu pada RRC yang sangat serius membangun industri teknologi informasi secara mandiri. Hasilnya, secara bertahap tapi pasti, negara ini berubah dari sekadar obyek menjadi subyek globalisasi. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi

Sekarang Go-Jek jadi lokomotif industri digital Indonesia. Karena mereka sudah menemukan bagaimana dapat revenue (penghasilan) dari business model-nya. Maka kemudian banyak yang invest pada mereka. Sekarang kita tak bisa lagi lihat Go-Jek semata sebagai pengganti ojek tradisonal, layanan Go-Food atau "Go-" yang lain. Ke depan, mereka akan menggunakan kemampuan, kapabilitas dan juga dana yang mereka punya untuk explore bidang-bidang lain yang bisa dilayani secara digital juga. Saya rasa bentuknya kan tetap ada hubunagn dengan (layanan) Go-Jeknya, tapi tak tertutup kemungkinan mereka akan bikin produk atau layanan lain yang betul-betul nggak ada hubungannya. 

Analogi yang cocok untuk Go-Jek kalau di Amerika sebetulnya Google. Google awalnya hanya mesin pencari, lalu mereka menemukan bagaimana mendapat revenue, lalu mereka dapat develop apa pun dan membeli perusahaan lain. Mereka beli YouTube, bangun Google Maps, G-mail dll. Awalnya itu semua tak menghasilkan uang, tapi kemudian itu semua bisa jadi sumber revenue

Harapan saya ke Go-Jek, sebenarnya, lewat investasi ini mereka bisa makin banyak berinovasi. Mereka bisa mencari sektor apalagi yang tertinggal untuk bisa di-explore. Di Amerika ada Google. Di Jepang dan Korea ada Line. Mereka sudah menemukan line of revenue hingga bisa menggurita di berbagai hal.  

Mengenai potensi Go-Jek menggurita, monopolistik, serta kekhawatiran pemanfaatan data konsumen, semua itu balik ke tiga aspek: ada konsumen, bisnis dan regulator. Maka, yang tak boleh ditinggalkan dari ini semua adalah dari sisi regulasinya. Google, misalnya, dengan kemampuannya bisa banget tak menghormati hak-hak privasi penggunanya. Makanya, mantranya di internet: Don't do evil. Harapan saya, Go-Jek mengikuti jejak yang sama. Dia mengerti posisinya krusial, orang banyak menggantungkan hidupnya pada Go-Jek. Agar itu tak terjadi, maka harus ada yang mengawasi. Itu terjadi di Amerika dan Eropa. Prinsipnya, semakin besar perusahaan dan tak terpisahkan bagi kehidupan orang, maka regulator semakin kencang mengawasi. 

Sayangnya, sebetulnya, orang Indonesia sepertinya tak terlalu peduli dengan pemanfaatan data di dunia digital. Belum ada yang teriak-teriak soal penggunaan data. Maka, perlu ada LSM atau lembaga perlindungan konsumen yang peduli akan hal ini. Juga masalah keamanan data. Perusahaan macam Go-Jek punya tanggung jawab melindungi data konsumennya dari pencurian data atau saldo. Seperti tagline-nya film Spider-Man: with great power, comes great responsibility

Di dunia digital ada yang namanya analisa data. Itu tak hanya terjadi dengan Google, tapi perushaan e-commerce juga mempraktekkannya. Yang tidak dibenarkan adalah penggunaan data per individu. Yang terjadi sekarang, perusahaan seperti Tokopedia dan Bukalapak mendapatkan jutaan data setiap hari: preferensi, cara bayar, bahkan ada hari sepi dan ramai. Di Go-Jek, lebih krusial, karena bisa melihat pergerakan orang. Jika pertanyaannya apa penggunaan data tersebut akan disalah-gunakan? Maka, pengunaannya harus ada batasannya. 

Pada prakteknya, ada semacam trade-off (pertukaran timbal balik): "Anda menggunakan layanan saya, maka saya menggunakan data Anda." Sepanjang data itu digunakan oleh si perusahaan tak mengapa, tapi jika data itu digunakan atau dijual oleh pihak ketiga, itu yang dianggap mengkomersilkan data yang digali sendiri. Buat saya, selama konsumen masih dapat benefit (dari penggunaan datanya oleh perusahaan); konsumen dilayani dan tak diperlakukan buruk, itu saya masih bisa terima. Itu cukup balance dari (layanan) apa yang sudah kita dapatkan.

Tapi dalam kasus invasion of privacy atau ada data yang dikatakan mereka (perusahaan) bakal simpan tapi ternyata data itu keluar, entah dijual atau karena kesalahan keamanan entah di-hack, mereka harus bertanggung jawab. Kalau konsumen betul-betul khawatir, konsumen bisa membentuk asosiasi yang bisa menyeruakan kepentingan konsumen ke regulator, entah di DPR atau pemerintah. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan