Gempa Palu: Saatnya Kembali kepada Budaya dan Kearifan Lokal
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 03 October 2018 17:30
Jumat 29 September 2018 gempa bumi dengan skala 7,7 magnitudo melanda Kota Palu dan Donggala. Hingga saat ini tercatat lebih dari 800 jiwa menjadi korban. Gempa besar yang meluluhlantakkan bagian tengah Pulau Sulawesi ini terjadi tak lama setelah bencana serupa melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa dengan skala 6,4 magnitudo ini menelan korban jiwa hampir 600 orang.

Bencana alam memang selalu mengakibatkan korban jiwa. Tapi mengapa korbannya begitu banyak. Tidakah bencana itu bisa diantisipasi? Tidak adakah metode kesiapsiagaan menghadapi bencana untuk meminimalisir jumlah korban jiwa?

Nusantara memiliki  129 gunung berapi aktif dan berada di antara tiga patahan lempeng bumi, lempeng Eurasia, Australia, dan Pasific serta memiliki garis pantainya yang panjang. Kondisi ini menjadikan Nusantara  merupakan kawasan yang seringkali dilanda bencana besar atau katastrofi.

Kondisi rawan bencana tentu bukan temuan baru. Kenyataan seperti itu pastilah sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Gempa besar atau megathrust pertama di Nusantara yang tercatat oleh BNPB (Badang Nasional Penanggulangan Bencana)terjadi pada 1797. Gempa dan tsunami yang melanda kota Padang, Sumatera Barat saat itu bahkan menyebabkan beberapa kapal milik Inggris seberat 200 ton terdorong ke daratan hingga satu kilometer.

Selanjutnya BNPB mencatat gempa bumi besar diikuti gelombang tsunami juga terjadi pada tahun 1833 di Pariaman dan Bengkulu dan 1899 di Kota Ambon yang menyebabkan 3.280 orang meninggal. Sedangkan pulau Banda dan Kai diguncang gempa berskala 8,5 magnitudo pada 1938.

Jauh sebelum itu, Kitab Negarakertagama mencatat gempa bumi yang disebut “pabanyu pindah” melanda wilayah Majapahit bersamaan dengan lahirnya Hayam Wuruk pada tahun 1334. Tidak ada keterangan tentang kerusakan maupun korban jiwa akibat “pabanyu pindah” tersebut.

Catatan sejarah tersebut menunjukkan nusantara sudah “akrab” dengan bencana. Pantaslah jika nenek moyang kita mengajarkan beberapa hal sebagai antisipasi bencana. Beberapa kawasan di tepi laut mempunyai ajaran turun temurun jika air laut surut maka larilah ke tempat tinggi. Belakangan disadari ajaran ini adalah antisipasi bencana tsunami. Beberapa daerah yang berada di kaki gunung meyakini jika banyak hewan turun gunung dan sumur mulai mongering adalah tanda awal bencana gunung meletus.  

Ajaran nenek moyang lainnya yang “akrab” dengan bencana adalah struktur bangunan tradisional Julang Ngapak ala Sunda terbukti tahan gempa. Pembangunan dengan sistem kait mengakit dan tanpa paku ternyata menyebabkan bangunan mampu bergerak elastis saat tanah bergerak.

Sedangkan warga Kepualauan Mentawai, Sumatera Barat mempunyai tradisi seperti yang tertuang dalam lagu “Teteu Amusiast Loga”. Dalam lagu itu diajarkan jika Teteu atau penguasa bumi murka maka bumi akan berguncang. Salah satu tanda Teteu sedang murka adalah jika tupai terlihat gelisah dan ayam berkotek tanpa sebab. 

Beberapa contoh kearifan lokal tersebut tak ubahnya early warning jika terjadi bencana. Namun sayangnya kearifan lokal semacam itu kini sudah mulai ditinggalkan. Bangunan masa kini sudah meninggalkan pasak ikat digantikan paku. Sistem rumah panggung sudah tinggal kenangan berganti dengan pondasi batu.

Saat ini sudah sulit mengamati tingkah lagu hewan-hewan seperti tupai, ayam, dan sebagainya. Hewan-hewan itu tak lagi hidup diperkampungan atau perumahan. Tentu tidak mungkin hanya untuk mengetahui datangnya gempa kita harus mendatangi kebun binatang. Fenomena alam seperti air laut surut justru menjadi tontonan. Bukannya lari ke tempat tinggi  warga justru menggunakan momen tersebut untuk berfotoria dan berselfi. Padahal itu semua adalah awal sebuah bencana besar.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus kembali kemasa lampau yang jauh dari peradaban modern atau kita akan “berdamai” dengan bencana menggunakan budaya lokal? Mampukah budaya lokal hidup di era digital seperti saat ini?

 Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Girang Pangaping Adat Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan Cigugur dan Panglima Jaringan antar Desa GEMPUR

Kami masyarakat adat Sunda Wiwitan mempunyai kosmologi dalam melihat gunung dan laut. Dalam prespektif kami gunung adalah Sang Hyang Sirah yang berarti kepala. Seperti juga kepala manusia, bagi kami gunung juga mempunyai panca indera . Sedangkan laut adalah Sang Hyang Dampal atau kaki. Aliran air dan titik-titik tertentu, seperti lempeng bumi, sesar atau patahan bumi dan sebagainya dalam kosmologi kami adalah organ tubuh seperti jantung dan sebagainya.   

Kami juga mempunyai metode tata ruang yang sudah turun temurun. Konsep hutan larangan dan hutan tutupan menjadi bagian dari tata ruang berdasarkan kearifan lokal. Saya yakin budaya dan tradisi berbagi suku di Indonesia juga mempunyai kearifan lokal semacam ini. Hanya saya model tata ruang yang berdasarkan kearifan lokal semacam ini tidak masuk dalam prespektif tata ruang masa kini.

Kami berpandangan bahwa bumi, air, dan tanah yang kita pijak ini bukan benda mati melainkan makhluk hidup. Jadi kita tidak bisa berbuat semena-mena  dan serta merta memanfaarkan tanah tanpa memperhatikan kontur dan bentuk bumi. Tidak bisa hanya karena mengejar keuntungan kita mendirikan bangunan tapi berakibat tertahannya aliaran air.

Kami percaya setiap gunung pasti mempunyai mitos tentang naga atau ular besar. Setelah berdiskusi dengan para ahli geologi dan geodesi ternyata kepercayaan kami tentang ular besar itu adalah lempeng atau patahan bumi. Dalam prespektif kami semua itu adalah juga makhluk hidup yang perlu diselaraskan kehidupannya. Ada pakem-pakem atau pamali-pamali yang harus dipatuhi.

Budaya dan kearifan lokal semacam ini harus pula kita hargai. Kita bolehlah berpikiran barat yang katanya lebih modern, tapi model-model kearifan lokal harus pula masuk dalam pemikiran kita. Dalam hal perencanaan tata ruang, kearifan lokal selayaknya diperhatikan. Pasalnya budaya dan kearifan lokal itu lahir dari buah pikiran dan pengamatan nenek moyang dalam waktu lama, termasuk tentang bagaimana mengantisipasi datangnya bencana alam.

Struktur bangunan Julang Ngapak yang dikenal masyarakat tradisional Sunda ternyata mempunyai kemiripan dengan bangunan di Jepang. Sistem kait mengait, ikat, dan pasak terbukti tahan gempa. Seperti diketahui Jepang juga berada di wilayah yang rawan gempa.

Sayangnya peninggalan nenek moyang itu sudah ditinggalkan dengan alasan kurang praktis dan tidak sesuai dengan kemajuan jaman. Tapi jika terjadi bencana seperti yang kita saksikan barulah kita menyadari bahwa warisan nenek moyang yang berupa kearifan lokal itu sangat tepat diterapkan di Indonesia.

Masyarakat modern menganggap alam adalah sesuatu yang harus dieksploitasi dan dikuasai. Berbeda dengan masyarakat adat yang mengganggap alam adalah bagian dari kita. Kedua anggapan ini sejatinya bisa diselaraskan. Mengeksploitasi dan menguasai bukan berarti merusak.

Oleh karena itu yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana agar budaya dan kearifan lokal bisa mendapat ruang untuk kembali dipelajari dan diterapkan. Terlebih dalam kenyataan banyak masyarakat perkotaan yang merindukan dekat dengan alam dan kearifan lokal meski dalam prespektif modern. Naluri dasar manusia memang selalu merindukan dekat dengan alam. Sebab memang manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua             Rasisme Terhadap OAP dan Masa Depan Papua dalam Bingkai NKRI             Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan