Film Sexy Killers: Kala Golput Jadi Simplifikasi Persoalan
berita
Humaniora
Sumber Foto : youtube.com/ Film Dokumenter Sexy Killers 16 April 2019 17:00
Watyutink.com - Di film dokumenter Sexy Killers produksi Watchdoc ada potongan klip dari acara debat capres Joko Widodo atau Jokowi, sang petahana dengan Prabowo Subianto, penantangnya. Di sebuah momen, presenter bertanya pada kedua kandidat:

"Sampai tahun 2018 terdapat kurang lebih 8 juta hektar lubang tambang belum direklamasi, yang terdiri dari perusahaan besar, tambang rakyat, dan 500 ribu hektar terindikasi areal tambang tanpa izin. Pertanyaannya: bagaimana langkah konkret bapak-bapak untuk mengatasi masalah lingkungan dan sosial-ekonomi yang ditimbulkan oleh lubang-lubang bekas tambang tersebut?"

Prabowo yang pertama menjawab. Jawabannya terlalu umum. "Siapapun nanti ...e.. kita harus lebih galak lagi untuk mengejar pelanggar-pelanggar e..lingkungan hidup. Yang tidak mentaati ketentuan-ketentuan yang harus dia laksanakan." Jawaban Jokowi masih mending. "Selain penghutanan kembali, di beberapa tambang telah melakukan reklamasi kembali. Ada misalnya, yang jadi pantai wisata. Ada juga lobang bekas galian jadi kolam besar. Saya kira banyak hal (bisa dilakukan). Memang ada satu-dua tiga (bekas tambang) belum dikerjakan (reklamasinya). Tetapi sekali lagi, dengan pengawasan pemerintah daerah, pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup, saya meyakini, satu persatu (persoalan) bisa diselesaikan..." Prabowo tampak manggut-manggut. Ketika diminta menanggapi jawaban Jokowi, ia bilang cukup dan bilang untuk tak bertele-tele lagi membahasnya. 

Masalahnya, persoalan tambang dan bekas galian tambang perlu dibahas bertele-tele untuk mencari solusi terbaik. Jawaban Prabowo menandakan ia tak paham persoalan. Sedang jawaban Jokowi, meskipun mengerti masalahnya, hanya memberi janji surga. Sebab, faktanya, sebagaimana diterangkan film Sexy Killers, galian bekas tambang yang meninggalkan danau-danau di sekitar pemukiman warga telah banyak makan korban, sebagian besar anak-anak. 

Tidak hanya itu, film ini terutama juga menyoroti dampak lingkungan, ekonomi, serta sosial dari tambang batubara. film ini menjabarkan berbagai efek buruk bagi masyarakat serta lingkungan akibat pertambangan batubara di  Kalimantan, Karimunjawa, Sulawesi dan Bali. Misalnya, daerah transmigrasi yang pernah jadi lumbung padi di Kalimantan rusak akibat tambang. Begitu juga daerah wisata Karimunjawa yang terumbu karang dan perairannya rusak oleh tongkang-tongkang pengangkut batubara ke pulau Jawa dari Kalimantan.

Sexy Killers tak hanya menyinggung dampak lingkungan tambang batubara. Bagian paling menarik adalah siapa pemain-pemain di bisnis batubara. Ternyata, bisnis ini digeluti orang-orang di lingkaran kedua kandidat capres, baik Jokowi maupun Prabowo. Nama orang dekat Jokowi, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan disebut. Begitu juga nama Sandiaga Uno, cawapres pendamping Prabowo. Oleh sebab itu, film ini kemudian ditafsirkan: baik dari kedua kandidat ikut berkontribusi pada persoalan seputar masalah dampak buruk tambang batubara. 

Nah, karena filmnya dirilis ke publik lewat Youtube tepat jelang hari pencoblosan, banyak yang mengartikannya sebagai ajakan untuk tidak memilih kedua kandidat alias golput (golongan putih). Namun, benarkah pesan film ini mengajak golput? 

Pemilu adalah instrumen demokrasi yang merupakan ajang pertanggungjawaban bagi penguasa atas apa yang ia lakukan selama periode pemerintahannya. Lewat pemilu rakyat sendiri yang menentukan apakah sang politisi layak dipilih lagi atau tidak. Atau pula saatnya memberi kesempatan pada penantangnya mengelola negara. Demokrasi juga menjamin hak bagi warga negara untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Biasanya, golput lahir sebagai bentuk protes atau apatisme politik warga. Namun pertanyaannya, ketika ditunjukkan lewat film Sexy Killers bahwa baik kandidat 01 dan 02 punya dosa terhadap masalah pertambangan dan oleh karena itu lebih baik jangan memilih 01 dan 02 alias golput, apakah ini cara bijak mengatasi persoalan yang diangkat film tersebut? 

Memilih golput tetap akan menghasilkan sang juara di Pileg dan Pilpres 2019. Sebab, tak mungkin seluruh rakyat Indonesia bakal golput. Berbagai survei mengatakan partisipasi politik di pilpres bakal tinggi. Di Amerika, sineas Michael Moore telah dua kali membuat film jelang pilpres yang isinya terang-terangan mendukung kandidat pilihannya. Pada 2004 ia membuat Fahrenheit 9/11 yang mengupas kebobrokan Bush. Toh Bush terpilih lagi di periode kedua. Jelang Pilpres 2016, ia membuat Michael Moore In Trumpland, yang isinya jangan sampai Trump jadi presiden. Hasilnya,Trump yang menang pilpres. Maka, efektifkah ajakan golput lewat film?   

Yang jadi masalah sebetulnya bukan apakah Sexy Killers punya pesan mengajak golput atau tidak. Namun, jangan-jangan, ajakan golput yang tercetus setelah filmnya rilis malah menjadi simplikasi persoalan. Kita patut bertanya, apakah persoalan tambang bakal usai bila kita memutuskan golput di Pilpres 2019? Lalu, apakah dengan golput kita jadi tak merasa punya tanggung jawab bila oligarki penguasa kian sembrono menghancurkan lingkungan dengan usaha tambangnya? 

Di luar urusan golput, Sexy Killers sebetulnya punya potensi jadi awal sebuah gerakan sosial. Film ini bisa jadi titik awal menyadarkan masyarakat untuk hemat energi, sadar akan bahaya batubara bagi lingkungan, serta mencari alternatif energi terbarukan yang ramah lingkungan. Sayang betul bila hanya dipersempit jadi golput atau tidak golput.

Apa pendapat Anda? Watyutink?      

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Melihat konteks pemutaran Sexy Killers, yakni diputar jelang pilpres dan framing pemutarannya dalah (ajakan) golput. Apakah itu sejak semula sengaja begitu perlu dikonfirmasi, karena pembuat filmnya bisa berkelit kebetulan saja waktunya bersamaan. Tapi saya susah melihat (rilisan dan pemutaran) filmnya sebagai sebuah spontanitas.

Pertanyaannya, bila film ini diniatkan sebagai social movement apakah hanya untuk mengkampanyekan golput atau untuk memperlihatkan betapa buruknya industri tambang, betapa berkuasanya oligarki yang porosnya perusahaan tambang batubara dengan segala kejahatan kemanusiaan yang menyertainya?  

Bila soalnya adalah seperti yang bekerja sekarang (ajakan golput), maka sayang sekali. Karena jadi menyempitkan agenda bersama melawan oligarki pengusaha dan penguasa tambang. Ini sebetulnya agenda bersama di belahan dunia manapun. Bukan agenda golput semata. 

Kalau filmnya dirancang untuk punya pesan (agar) golput, maka pertanyaan lebih jauhnya untuk tujuan gerakan apa? Apakah untuk menguntungkan salah satu calon? Ataukah ini delegitimasi proses elektoral? Karena sebagaimana banyak orang yang jadi aktivis golput, apalagi setelah filmnya diputar, ada retorika yang diulang jangan dikira bila memutuskan memilih sudah menyelamatkan negara yang bisa kita balik: memangnya kalau golput sudah menyelamatkan negara? 

Orang golput alasannya kebanyakan karena nggak mau kotor, terjebak pada pilihan yang buruk, yang 11-12 sama saja antara calon A dengan calon B. Namun buat saya, bila hanya golput pesannya, ini sebuah mis-opportunity. Karena kenapa nggak frame-nya dibuat lebih besar dari itu. Kenapa tidak oligarki yang digugat atau dampak buruk tambang. 

Nah, jarang sekali orang sehabis nonton film dokumenter semisal Sexy Killers orang panas berdiskusi tentang bagaimana mendorong kebijakan energi terbarukan di Indonesia. Yang ada sekarang percakapan tentang jadi golput. Bila frame mengajak golput yang dipilih, efeknya pada gerakan sosialnya apa? Apa kita ingin sebuah negara yang penguasanya tak punya legitimasi? Apa dampaknya bagi solusi persoalan pertambangan? 

Menurut saya, bukankah sebaiknya segala energi kolektif diarahkan untuk membangun kesadaran bersama, "Oh ini jadi masalahnya, lalu kita bisa mendesak apa pada orang-orang yang duduk di parlemen dan pemerintahan."  

Film-film Michael Moore dipercaya banyak orang, termasuk saya, bukan murni dokumenter. Bisa dikatakan filmnya sebuah esai atau sebentuk propaganda. Tapi seberapa efektifkah sebuah film mengajak atau punya pesan elektoral? Pada kasus film-film Michael Moore ternyata gagal.  Saya jarang mendengar ada film yang pesannya spesifik bisa berhasil (mengubah suatu kebijakan). Namun ada film dokumenter yang digarap Errol Morris, The Thin BLue Line (1988) yang mengubah hukuman seseorang. Yang tadinya ia divonis hukuman mati, ternyata dia tak bersalah. Dan film itu menjadi gerakan advokasi mengubah hukuman mati di sebuah negara bagian di AS.    

Buat saya, bila bicara Michael Moore, film-filmnya yang paling berhasil buat saya ketika ia bukan mengangkat isu pilpres di sana yang lima tahunan, tetapi film-filmnya yang bertahan (lasting) adalah film yang membawa sebuah isu.

Saya berharap, film Sexy Killers mengangkat isu oligarki dan bahaya dari masalah pertambangan. Artinya, isu yang diangkat jadi lebih besar, nggak cuma sebatas ajakan golput. Bila kita tengok film Joshua Oppenheimer The Act of Killing dan The Look of Silence, isunya adalah rekonsiliasi dan melihat persoalan dari kacamata korban pembunuhan massal 1965-1966. Itu isu yang lasting, mungkin spesifik tapi masuk ke persoalan yang lebih mendasar. 

Film Sexy Killers-nya Dhandy Dwi Laksono semacam social movement, menggunakan film sebagai alat (advokasi). Tapi tingkat keberhasilannya bergantung pada gerakan kampanye kolektifnya. Sejauh ini cukup luar biasa respon terhadap film itu, sudah ada 400 pemutaran sebelum dilepas di Youtube.

Tapi kita hanya tidak melihatnya sebagai sekadar film. Misalnya, apakah selepas pilpres apakah film ini masih bisa dipakai sebagai alat gerakan? Saya harap masih bisa. Tapi kadung yang keluar dari film ini adalah isu golput. Harusnya film ini bukan tentang golput atau nggak golput, bukan tentang pilpres.

Film ini juga tentang gaya hidup kita. Berapa orang yang memutuskan golput setelah nonton Sexy Killers lalu juga memilih memakai panel surya untuk memenuhi kebutuhan listriknya? Jika frame-nya hanya golput akhirnya buat penontonnya itu jadi (solusi) yang paling tak berisiko karena tidak mengubah gaya hidupnya. (ade)             

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Film


Saya sudah menonton Sexy Killers di YouTube. Sebagai sebuah film dokumenter, model "dokumenter advokasi" semacam ini penting sekali karena banyak hal. Terutama adalah untuk mengembalikan sinema sebagai 'barang publik' dalam budaya film Indonesia karena selama ini titik berat sinema adalah pada 'barang
komersial' di mana penonton dianggap sebagai 'pasar' atau turunannya seperti 'segmen' atau 'ceruk' yang ujung-ujungnya dipandang dalam transaksi finansial. 

Padahal film selalu punya aspek 'publicness' di mana narasi dalam film beredar di public sphere sebagai bagian dari diskusi publik dan bisa juga mengarah pada public deliberation, alias pengambilan keputusan. Dalam hal ini Sexy Killers merangkum apa yang tersebar di media dan dokumen-dokumen publik (seperti
misalnya akta perusahaan dan sebagainya) untuk mengajukan opininya sendiri tentang industri batu bara di Indonesia yang kita tahu merupakan salah satu industri paling bermasalah dari berbagai segi, mulai dari aspek lingkungan, keterlibatan dengan politik (seperti laporan Coalruption dari beberapa NGO)
hingga dugaan transaksi tersembunyi (seperti laporan Global Witness). 

Sudah waktunya sinema berada dalam panggung utama diskusi soal-soal seperti ini, tidak berada di pinggiran, atau menjadi penggembira dan penyumbang bagi 'pertumbuhan GDP' semata.

Menyangkut apakah setelah menonton film ini orang bakal golput atau tidak, kita tidak bisa berasumsi bahwa segala tindakan manusia itu dikendalikan oleh aspek rasional semata. Kita lihat bahwa perilaku pemilih di Indonesia juga banyak didorong oleh sentimen dan hal-hal emosional lainnya. Hal itu tidak terhindarkan karena pola komunikasi publik dalam pemilu presiden memang mengeksploitasi hal itu. 

Maka dalam hal ini, Sexy Killers justru mengajukan argumen yang berupaya untuk keluar dari jebakan kampanye yang sifatnya emosional dan memikirkan konsekuensi lebih jauh dari pilihan-pilihan politik yang sifatnya sementara. Bagi saya, Sexy Killers tidak bisa dilihat semata dalam politik elektoral karena
pesan dan argumennya justru jauh melampaui itu dan mengajak untuk memikirkan ulang industri batu bara yang berbiaya tinggi secara lingkungan, politik dan sebagainya.

Saya kecewa sekali pada pertanyaan yang menarik-narik substansi seperti yang ada pada Sexy Killers ini ke dalam politik elektoral. Kita akan jadi melupakan diskusi sesungguhnya tentang pembangunan yang berkelanjutan, kelindan antara politik dan bisnis dan sebagainya.

Memilih atau tidak itu dipengaruhi banyak faktor. Film ini jelas mengajak orang untuk bersikap kontra terhadap oligarki dan industri batu bara secara lebih luas. Jika implikasinya adalah menjadi golput, bagi saya rasa itu adalah semacam munculnya kesadaran bahwa politik elektoral kita masih bermasalah, termasuk misalnya hanya memungkinkan munculnya 2 calon, ketergantungan kepada korporasi dan bisnis besar dan sebagainya. 

Film semacam Sexy Killers berperan seperti kampanye lain (misalnya laporan Coalruption, upaya untuk mengingat pelanggaran HAM yang tidak ditangani sama sekali dsbnya) tentu menjadi pengingat bagi ketidakmampuan politik elektoral membawa perubahan berarti bagi soal-soal yang menjadi perbincangan di dalam kampanye-kampanye tersebut.

Ada asumsi bahwa film memilki pengaruh sedemikian besar di masyarakat sehingga mampu mengubah sikap politik seseorang secara langsung. Padahal ada aspek sirkulasi atau distribusi dan eksebisi yang punya batasannya sendiri. Juga semua itu tidak berlangsung di ruang vakum karena ada argumen-argumen lain yang juga beredar. 

Bagi saya film bisa dianggap berhasil apabila menimbulkan diskusi tentang substansi (atau estetika) yang lebih panjang daripada masa edarnya dan beranjak ke hal-hal lain di luar aspek naratifnya. Bagi saya, seperti itulah cara melihat film dokumenter keluaran Watchdoc ini.

Di Indonesia banyak film yang turut berpengaruh pada kebijakan publik. Sebagai contoh setidaknya ada dua: 1. Jalanan karya Daniel Ziv yang membuat Pejabat Gubernur DKI Basuki TP memperbaiki sistem penampungan di panti sosial Cipayung sesudah melihat film itu. 2. Jokowi yang berjanji membersihkan Sungai Citarum sesudah satu film dokumenter pendek karya Gary dan Sam Benchegib. 

Pertanyaan apakah isu golput yang tercetus setelah filmnya rilis malah menjadi simplikasi persoalan, berangkat dari anggapan bahwa politik elektoral bisa menyelesaikan semua masalah. 

Tentu saja golput tidak akan mengubah situasi itu, sama saja: memilih pun tidak mengubah itu. Inilah justru persoalan yang ingin diingatkan oleh film seperti Sexy Killers dan banyak kampanye lainnya: banyak persoalan yang tidak bisa selesai dengan politik elektoral dan perlu rangkaian upaya panjang sesudah pemilu
ini untuk terus menekan pemerintahan yang terbentuk. 

Namun yang penting dari argumen semacam ini adalah: mengingatkan bahwa kelindan antara politik dan pebisnis serta oligarki yang terbentuk darinya sudah membawa korban banyak, mulai dari korban lingkungan hidup, ketimpangan ekonomi, pelarian modal ke luar negeri, hingga korban jiwa. 

Yang mempersempit menjadi isu golput justru pertanyaan “Apakah filmnya mengajak golput?” dan orang-orang yang merasa terancam dan insecure apabila golput membesar. Justru Sexy Killers sejak awal adalah gerakan sosial. Ini bisa dilihat dari apa yang sudah dibuat oleh Watchdoc selama sepuluh tahun terakhir yang
cukup konsisten dengan argumen mereka dan konsisten dengan hal-hal seperti ini. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan