Film Jagat Superhero Indonesia, Akankah Berhasil?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 August 2019 10:00
Watyutink.com - Sebentar lagi kita akan menyaksikan film superhero lokal Gundala garapan Joko Anwar di bioskop. Ramai disebut film itu awal dari sebuah universe alias jagat superhero asli Indonesia. Setelah Gundala, bakal hadir film jagoan-jagoan super lain yang di cerita filmnya berada di semesta yang sama. Rencananya akan dibuat pula film superhero lokal Maza, Godam, Sri Asih, Aquanus dan Tira.

Selain jagat superhero, bakal juga rilis film dunia pewayangan yang dimulai dengan Gatotkaca tahun depan. Setelahnya, akan rilis film-film tokoh wayang lain hingga 2027. Pendek kata, kita bakal punya Marvel Cinematic Universe (MCU) ala Nusantara.

Pertanyaan utamanya tentu, akankah MCU van Indonesia ini akan berhasil, baik dari segi komersil (ditonton banyak orang) maupun kualitas (disukai kritikus)? Serta mampukah film superhero kita menyaingi bikinan Hollywood?

Hal di atas patut ditanyakan. Sebab, di Hollywood sendiri hanya Marvel Studios yang nyata-nyata berhasil mewujudkan apa yang di dunia komik disebut cross-over ke dunia sinema. Upaya studio Warner Bros lewat bendera DCEU (DC Extended Universe), dengan superhero macam Superman, Batman, Wonder Woman dkk tersendat-sendat. 

Sedangkan Universal yang semula berencana membuat jagat sinema bagi monster-monster klasiknya macam vampir Dracula, monster Frankenstein, mumi dkk membatalkannya usai The Mummy (2017) yang dibintangi Tom Cruise gagal total. Kenapa Marvel bisa berhasil dan studio yang lain gagal?

Marvel Studios membangun jagat superhero-nya sejak 2008 lewat Iron Man. Soal itu hanya muncul secuplik di adegan tambahan pasca-credit title. Pada tahun itu Warner Bros sedang menguasai lanskap film superhero lewat The Dark Knight bikinan Christopher Nolan. Marvel memanfaatkan kegandrungan pada film superhero sambil memulai tradisi sinema baru: film jagoan super yang saling berkaitan dan bersambung. Warner baru memulainya saat film-film Marvel telah digdaya. Jika sesama studio Hollywood saja luput melihat peluang itu, bukankah sudah sangat telat bagi kita membangun film semesta superhero lokal?

Perlu dicatat di sini, Marvel membangun jagat sinemanya tidak dalam sehari. Selama 11 tahun, mereka membikin 23 film superhero. Film-film superhero Marvel dibikin dengan telaten serta melibatkan pecinta komik aslinya. Hasilnya adalah film yang disukai penggemar komiknya maupun penonton awam. Studio Hollywood lain yang gagal bikin universe, utamanya karena tak punya kesabaran dan ketelatenan macam orang-orang di belakang Marvel Studios. Apa produser kita punya daya yang sama seperti Marvel Studios?

Memang keberhasilan Marvel Studios membangun MCU bakal bikin ngiler siapapun. Hingga kini, Marvel telah mengumpulkan 22,5 miliar dolar AS (Rp313 triliun). Film Marvel, Avengers: Endgame jadi yang terlaris sepanjang masa. Namun, bikin film superhero kualitas Hollywood tak murah. Ongkos produksi rata-rata film Marvel sekitar 195 juta dolar AS (Rp2,7 triliun). Di sini, film dengan bujet Rp10-20 miliar sudah disebut fantastis. 

Dan uang menentukan segalanya. Dengan bujet 1-2 triliunan rupiah efek visual superhero Hollywood sangat memanjakan mata. Penonton tentu pula akan membandingkannya. Sebab acuan film superhero ya cuma Hollywood. Bila hasilnya di bawah kualitas Hollywood, mungkin sekali bakal diemohi penonton. Sebelum Gundala sudah rilis film superhero lokal maupun film-film yang niatnya menjual efek visual sejak 2010-an. Semuanya dibanding-bandingkan dengan Hollywood. Tentu saja tak sebanding, bagai bumi dan langit. 

Kita harus terima kenyataan Hollywood telah jadi penentu selera dan standar film superhero. Bersaing di ranah yang sama dengan mereka sebuah langkah berani namun berisiko. Hingga hari ini hanya The Raid (2012) yang mampu menembus Hollywood dari sisi komersil dan kualitas. Mampukah sineas kita menaklukkan penonton awam yang sudah terkontaminasi selera Hollywood?

Dari sini kita beranjak ke persoalan lebih besar. Selama ini selera kita dibentuk Hollywood lantaran kita terlalu membuka pintu lebar-lebar buat mereka. Sineas kita dibiarkan bersaing dalam pasar yang tidak adil dengan Hollywood. Kita tak punya regulasi pembatasan impor film seperti di China atau kuota layar bagi film lokal. Semua diserahkan pada mekanisme pasar. Dalam sistem kapitalis murni, hanya pemilik modal besar yang menang. Yakni Hollywood. Apa kondisi ini akan dibiarkan terus?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Staf pengajar jurusan Film Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Yogyakarta, pendiri komunitas film Montase

Saya masih ingat betul ketika masih seusia SD mengoleksi banyak komik lokal, termasuk superhero lokal, Ramayana, hingga Gareng dan Petruk. Entah, saat ini sudah raib ke mana komik-komik tersebut. Sosok Gundala, Godam, Maza, serta Aquanus memang tak asing bagi saya walaupun tak ada satu pun kisah komiknya yang saya ingat. Satu hal yang saya ingat hanyalah sosoknya dan semasa itu pun saya sudah menyadari banyak kesamaan dengan jagoan super luar. Gundala kok mirip Flash, Godam mirip Thor, dan Aquanus mirip Aquaman, serta lainnya. Entah, apa ada unsur plagiat di sini saya juga tidak tahu menahu. Toh, ini juga mirip rivalitas DC dan Marvel yang juga banyak kemiripan tokohnya. Mengapa sekarang menjadi ramai adalah karena satu sosok super kita, Gundala, sebentar lagi akan tayang di bioskop dan kabarnya ini adalah awal bermulanya semesta sinematik yang mereka istilahkan Jagat Sinematik Bumi Langit.  

Seperti sudah dijelaskan di artikel pokok, membuat cinematic universe jelas bukan perkara mudah. Sejauh ini hanya Marvel Cinematic Universe (MCU) dan di level di bawahnya, The Conjuring Universe yang terhitung berhasil. Keberhasilan MCU walau hanya menggunakan karakter-karakter super yang tersisa (tidak dibeli hak ciptanya oleh studio lain) adalah kesabaran dan passion pada komiknya dari para pembuat filmnya. Satu sosok jenius di belakang semuanya adalah sang produser Kevin Feige. 

Adalah dia yang menjaga kontinuitas dan keseimbangan semua film MCU dan hingga 23 film adalah pekerjaan yang nyaris mustahil. Namun, ia terbukti mampu mengontrol visi artistik belasan sineas serta puluhan pemain bintangnya. Faktor keberhasilan utama adalah sosok produser ini, dan apakah kita memilikinya?

Keberhasilan Marvel juga didukung fanbase komiknya yang fanatik dan jumlahnya tidak kecil. DC juga punya fanbase besar, namun mereka tidak memiliki sosok macam Feige. Dua produsen komik raksasa ini sudah ada sejak lebih dari setengah abad lalu dan tradisi ini masih membudaya hingga kini. Sejarah panjang komik superhero, khususnya di AS menjadi satu sebab mengapa transisi ke medium film sedemikian cepat menjadi hit. Genre superhero memiliki masa keemasan di era 1970-an dengan sosok Superman sebagai pelopornya. Teknologi efek visual (CGI) yang semakin berkembang menjadikan genre ini semakin populer. Hingga kini, varian genre superhero sudah tak terhitung, dan dua dekade terakhir, genre ini mendominasi pasaran. Terlepas film itu bagus atau buruk, nyaris sebagian besar sukses komersial. Semua ini adalah karena mereka memiliki fanbase yang kuat. 

Sementara komik superhero kita, kini tak lagi populer dan sebelum rumor tentang film Gundala, generasi milineal bisa jadi tak mengenal sosok ini. Bisa dipastikan kita tak punya fanbase dari penggemar komiknya, dan ini bisa menjadi masalah besar bagi Jagat Sinema Bumi Langit. Potensi penonton tentu saja dari penggemar genrenya yang memang tidak kecil tapi apakah mereka tergoda untuk menontonnya? Ini tentu urusan lain. 

Penonton kita jelas sudah terbiasa dengan film superhero Hollywood. Mau apa lagi, mereka memiliki segalanya (baca: duit). Ibarat mau efek visual seperti apa, dengan pemain bintang siapa pun mereka mampu memproduksinya. Butuh waktu lama bagi industri film di Eropa dan Asia untuk bersaing dengan mereka, mungkin Korea Selatan dalam waktu dekat bisa bersaing secara kualitas (jika mereka membuat genre superhero). Lalu bagaimana dengan superhero kita? 

Jelas tidak adil jika membandingkan dengan mereka (Hollywood). Sejarah panjang juga yang mampu membuat mereka menjadi besar seperti sekarang. Kita mesti belajar banyak dari mereka. Untuk membuat film superhero dengan teknis memadai jelas butuh waktu, terlebih dalam wadah besar seperti cinematic universe. Hampir mustahil untuk bisa bersaing. Jika kelak kita mampu bersaing dengan standar mereka kini pun, entahlah film superhero mereka besok sudah seperti apa?

Dari gambaran di atas, telah jelas untuk memproduksi film superhero bukan perkara mudah bagi kita. Aspek teknis jelas menjadi catatan penting karena penonton kita sudah terlalu akrab dengan film superhero luar. Untuk membangun fanbase-nya, bisa melalui komiknya yang dicetak kembali (bisa jadi ini sudah dilakukan) walau ini masih bukan jaminan pula. Sensasi baru superhero lokal bisa jadi akan menjadi modal untuk Gundala bisa sukses komersial. Jika sukses pun, jangan lantas besar kepala. Belajar dari MCU, kunci utama membangun kesuksesan mereka adalah kesabaran, passion, serta punya sosok jenius seperti Kevin Feige, dan sisanya adalah aspek teknis yang memadai serta bujet. Tidak ada yang mustahil. Hanya saja, kita mungkin butuh sosok super untuk bisa melawan film superhero luar. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dermatologist, Kritikus film, kolektor film dan memorabilia, wartawan film dan kesehatan harian Waspada 

Tidak bisa dipungkiri, biarpun dari sebelumnya ada cross-overs di sebagian film, yang mempopulerkan term universe sinematik adalah Marvel dengan MCU-nya. Mengapa hanya Marvel yang benar-benar berhasil sementara selebihnya tidak, paling tidak sampai saat ini, adalah karena cara mereka membangun keseluruhan semestanya. 

Selagi yang lain mungkin berpikir pendek, Kevin Feige merancang MCU dengan kecermatan tinggi sejak awal -- tidak hanya lewat pemilihan sutradara dengan style masing-masing, cast dan yang terpenting, konsep lintas genre dari satu instalmen ke instalmen lainnya. Saya kira ini yang membuat penggabungannya lebih mudah menyatu saat karakter-karakter tadi saling dipertemukan, tidak seperti DCEU - misalnya, yang berdiri di atas pendekatan senada di instalmen-instalmen awalnya.

Kala tren itu dipindahkan ke sini, lewat Bumi Langit Cinematic Universe dan Jagat Satria Dewa (kebetulan saya juga duduk sebagai creative producer dalam produksinya), tentu yang diharapkan terutama adalah desain yang kuat dalam keseluruhan universe-nya, juga secara khas perlu ada signature jelas di kemasan jualan utamanya. Di saat kita punya harapan genre superhero Indonesia yang sudah berkali-kali gagal kini dapat bangkit kembali, kecermatan dalam membangun konsepnya adalah tantangan terbesar. 

Kita jelas tak bisa menghindari pembandingan oleh audiens terhadap blockbuster-blockbuster Hollywood, juga menyamai aspek teknis terutama CGI/VFX karena perbedaan standar bujet yang cukup jauh ataupun sarana lebih terbatas, tapi tentu bukan berarti kita tidak punya aspek-aspek lain untuk didorong lebih, misalnya unsur-unsur kedekatan kultur yang kita miliki, ataupun pendekatan aksi, drama atau komedi, misalnya. Jadi bukan aspek teknologi film superhero Hollywood, yang memang dalam skup internasional tetap paling maju, yang kita coba tandingi.

Namun tak ada juga yang sebenarnya  salah dengan keadaan ini, termasuk menyalahkan impor film Hollywood atau negara luar manapun, karena kita memang masih berhadapan dengan kurangnya layar dibanding banyaknya produksi lokal yang saling berebut tanggal rilis selain impor film luar, juga kurs mata uang yang membuat standar bujet produksi lokal ada dalam rentang sangat jauh, belum lagi kecenderungan penonton yang rata-rata hanya nonton di bioskop 3-4 dalam sebulan. 

Cara menyiasatinya dengan terus belajar dan mengamati film-film lokal yang bisa bersaing dengan blockbuster impor untuk menempati slot rata-rata itu, untuk bisa pelan-pelan membaca pergerakan dan perkembangan selera pasar. 

Terakhir, kalau ditanya akankah semesta superhero lokal yang dibuka dengan Gundala akhir bulan ini akan berhasil secara komersil dan kualitas, jawaban paling tepat saya rasa adalah kita mesti terus berharap, mencoba dan tidak menyerah demi dobrakan terhadap stagnansi genre film Indonesia yang sekarang makin membaik. Satu lagi, jangan pernah lupa dengan strategi marketing dan memilih tanggal rilis untuk mendukung konten yang kita rasa sudah memenuhi standarnya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi