Di Balik Pelafalan Al-Fatihah Ala Jokowi
berita
Humaniora
Sumber Foto : tribunnews.com (gie/watyutink.com) 13 October 2018 13:00
Karena yang mengucapkan Joko Widodo alias Jokowi, presiden ke-7 Republik Indonesia, yang saat ini mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, maka soal pengucapan "Al-Fatihah" pun jadi masalah. Saat menyampaikan sambutan pada pembukaan MTQ Nasional 2018 di Medan, Minggu (7/10/2018) malam lalu, Jokowi mengajak yang hadir mendoakan korban bencana alam di Lombok dan Palu dengan berucap, “Ala Hadihi niyat, al-fatekah.” 

Seolah api disiram bensin, pembenci Jokowi langsung mencaci, mengolok dan mem-bully sang presiden. Ada pula yang menganalisis, "fa-ta-ka" dalam bahasa Arab berarti membunuh atau menghancurkan. Yang menganilisis alpa Jokowi bilang "al-fatekah" dan bahasa Arab tak mengenal lafal "e". 

Sebetulnya, fenomena salah ucap nama surat Al-Quran bukan hanya dilakukan Jokowi. Hal itu lumrah keluar dari mulut orang bersuku Jawa, darimana Jokowi berasal. Selain "Al-Fatihah" jadi "Al-Fatekah", orang Jawa kerap melafalkan huruf hijaiyah "ain" jadi "ngain". Maka yang terucap jadi: "Alhamdulillahi rabbil ngalamin" atau "Iyya kanakbudu wa iya kanas tangin." Kenapa lidah orang Jawa tak bisa melafalkan sejumlah huruf bahasa Arab dengan benar?

Dalam sebuah studi yang dilakukan Khasanah dan Qasim (2017) disimpulkan, perubahan pelafalan terjadi karena huruf "ain" bukan dari bahasa ibu. Sesungguhnya pula, beda pengucapan huruf bahasa Arab tak hanya fenomena di Indonesia. Orang Mesir misalnya, terbiasa mengucap huruf "jim" dengan "gha". Maka Jamal jadi Gamal. Mesir pernah punya presiden bernama Gamal Abdul Nasser. 

O iya, tak perlu juga kita jauh-jauh ke luar negeri. Orang Sunda biasa mengucap nama Allah dengan "Alloh" alih-alih "Aw-loh" yang lazim dipakai Muslim di mana-mana. Lantas, apa perbedaan pengucapan ini punya konsekuensi syar'i (shalat tidak sah, doa tak diterima Tuhan)?

Ketika salah ucap bahasa Arab, artinya bisa beda 180 derajat dari maksud si pengucap. Itu sebabnya mempelajari bahasa tersebut--apalagi untuk kepentingan mengaji Quran dan shalat--jadi penting. Namun di lain pihak, kebiasaan salah pengucapan yang turun-temurun karena perbedaan budaya dan bahasa juga tak bisa dinafikan sepenuhnya. Bisakah dua hal berbeda ini bertemu? 

Yang miris, fokus mendoakan korban bencana jadi ternodai gara-gara orang ramai membahas kesalahan Jokowi yang dipolitisasi macam-macam. Tidakkah itu terasa menyakitkan bagi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah? Apa empati kita telah hilang?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia

Persoalan pelafalan ini sifatnya bukan perkara syariat. Melainkan soal kultural. Ratusan tahun lalu ketika Wali Songo menyiarkan Islam di tanah Jawa juga dengan berbagai persuasi terhadap kondisi orang-orang Jawa saat itu. Misalnya dakwah lewat wayang. Wayang kan sudah ada sebelum Wali Songo berdakwah.

Karena mereka melihat orang Jawa suka pertunjukan wayang, maka wayang dipakai berdakwah. Disyaratkan sebelum pertunjukan dimulai membaca kalimat syahadat. Kalimat syahadat kan bahasa Arab, syahada yang artinya persaksian. Oleh Sunan Kalijaga dijawakan jadi "jimat kalima sada", kalimat syahadat jadi kalima sada. Dikatakan juga itu sebagai ajimat. Nonton wayang diwajibkan baca kalima sada dahulu. 

Tentu lafal syahadat waktu itu nggak lsngsung sempurna atau fasih seperti orang Arab. Yang terjadi kemudian adalah kenyamanan dalam melafalkan sesuatu. Bukan berarti kata-katanya salah. Ini justru bentuk keakraban pada agama yang diajarkan itu. Kalau shalat Jumat di wilayah Jawa Timur seperti Ponorogo atau Trenggalek yang kuat tradisi abangannya, pelafalan yang seperti itu biasa. Di khutbah biasa terdengar ucapan "Alkamdulillah hi rabbil ngalamin." 

Tapi saat shalat, wajib dipenuhi makhraj-nya. Sebisa mungkin harus dipenuhi. Sedangkan untuk pelafalan lisan, misal saat khutbah,  itu bentuk keakraban. Semua orang tahu maksud kalimatnya walau diucapkan salah. 

Memang ada hadits yang bilang bacalah Quran seperti orang Arab membacanya. Tapi hadits itu tak dipakai dengan saklek. Secara bahasa, memang bahasa Arab itu makhraj-nya bisa diikuti oleh orang seluruh dunia. Itu keistimewaan bahasa Arab yang bagi umat Islam adalah bahasa surga. 

Tapi di masyarakat manapun, ada beberapa huruf yang tak bisa dilafalkan dengan betul. Orang Sunda, misalnya, tak bisa mengucap huruf "fa" tapi "pa". Atau orang Betawi mengucap "Zainuddin" jadi "Jaenuddin". Hanya karena mayoritas kita adalah orang Jawa, seolah problem seperti itu hanya ada di Jawa. 

Buat ulama zaman dulu, masalah ini hanya soal wasilah, bukan soal tauhid, yang menyangkut ketuhanan. Ini sebatas perkara bahasa, wasilah atau medium menuju ketauhidan. Selama esensinya masih tertangkap akan dimaklumi para ulama. 

Justru hal itu yang hilang akhir-akhir ini. Semua berlomba saklek (merasa) paling alim (berilmu), paling saleh kalau bisa melafalkan makhraj yang otentik sesuai orang Arab. 

Dulu tahun 1990-an ada kasus penyanyi Oppie Andaresta memainkan kalimat bismillah. Tapi itu memang pelanggaran.  Kalau Jokowi kita kan tahu ia orang Jawa, asli Solo, bisa dibilang kulturnya abangan, maka nyaman mengucap "Alfatekah" atau "alkamdulillah". Artinya, ini upaya menggoreng sesuatu yang tak perlu. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional