Dari Lem ke Pembalut, Menyoal Penyalahgunaan Barang Legal
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 24 November 2018 18:30
Narkoba pada dasarnya merupakan obat-obatan terlarang yang dibuat secara ilegal dan dijual kepada mereka yang sudah terbiasa mengkonsumsi atau pun yang baru ingin mencoba. Motif menggunakan obat-obatan semacam itu pun bermacam-macam, ada yang sebagai obat penenang, obat stres, agar bisa lebih percaya sendiri dan sebagainya. Namun narkoba sebenarnya adalah obat-obatan berbahaya yang mematikan.

Obat-obatan terlarang yang kerap digunakan oleh para pecandu narkoba biasanya jenis ganja atau kokain. Peredarannya pun jelas dilarang, karena dianggap berbahaya. Sebab, ganja, heroin, atau kokain dapat menimbulkan candu, kerusakan mental, bahkan hingga merenggut nyawa penggunanya. Lantas, bagaimana dengan obat-obatan legal yang masih diizinkan untuk beredar, namun kerap disalahgunakan penggunanya?

Definisi dari kata 'narkoba' sendiri sebenarnya merupakan obat-obatan dari bentuk tanaman atau bukan tanaman, sintetis atau semi sintetis, yang memiliki efek menurunnya kesadaran dan dapat menghilangkan rasa nyeri. Namun obat-obatan semacam itu hanya digunakan untuk keperluan medis. Akan tetapi, masih banyak saja orang menyalahgunakan obat legal di luar aturan yang berlaku. 

Biasanya, obat-obatan yang kerap disalahgunakan adalah obat antidepresi, obat anti nyeri, dan berbagai jenis stimulan lainnya. Obat-obatan semacam itu dijual di sejumlah apotek, dan siapa pun bisa membelinya. Ada beberapa apotek yang menjualnya dengan syarat adanya resep, namun adapula yang tidak. Pertanyaannya, perlukah pemerintah mengatur penjualan atau distribusi obat-obatan legal yang disalahgunakan?

Tak hanya obat-obatan, barang-barang legal pun kerap kali disalahgunakan. Belum lama ini, anak-anak SMP di Jawa Tengah, kedapatan mengkonsumsi air rebusan pembalut, untuk memunculkan rasa 'nge-fly' atau 'high'. Bagi mereka, pembalut merupakan pengganti sabu, yang tak bisa mereka beli lantaran harga sabu yang mahal. Oleh sebab itu, mereka menggunakan pembalut yang harganya relatif terjangkau. Bahkan, tak sedikit pula yang menggunakan air rebusan dari pembalut bekas.

Kejadian itu bukanlah yang pertama. Banyak anak-anak yang melakukan hal serupa di daerah lainnya untuk sekadar coba-coba atau mencari kesenangan. Padahal berdasarkan penelitian dari YKLI, pembalut mengandung klorin dan senyawa karsinogen yang dapat memicu kanker. Terlebih jika yang digunakan adalah pembalut bekas yang mengandung mikroba dan dapat menyebabkan penyakit. Bukankah seharusnya lembaga pendidikan mengedukasi anak-anak mengenai penyalahgunaan narkoba atau barang-barang semacam itu?

Faktanya, jarang sekali lembaga pendidikan yang peduli dan melakukan penyuluhan terkait hal semacam itu. Karena selain pembalut, masih banyak anak-anak yang menggunakan lem jenis 'fox' atau 'aibon' sebagai pengganti narkoba yang fungsinya untuk memicu adrenalin agar lebih percaya diri. Berdasarkan hasil penelitian, kandungan LSD (Lysergic Acid Diethilamide) yang terdapat dalam lem, termasuk golongan zat adiktif yang berbahaya. 

Banyaknya fenomena dan tren semacam itu, jelas pengawasan terhadap anak harus lebih diperketat. Lalu, apa yang bisa dilakukan lembaga pendidikan untuk mengontrol penyalahgunaan barang-barang legal yang disalahgunakan? Dan, bagaimana cara orangtua untuk melakukan kontrol dan pengawasan agar hal itu tak terjadi kepada anak mereka?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Saya sebagai Pemerhati Anak dan Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI) tentu saja menyampaikan keprihatinan atas fenomena sejumlah anak jalanan yang melakukan eksperimen untuk mendapatkan efek mabuk dengan cara meminum air rebusan pembalut. Kasus ini pertama kali ditemukan di Jawa Tengah, seperti di Demak, Pati, Kudus, Rembang, dan Semarang. Namun belakangan kasus serupa juga ditemui Karawang, Bekasi, Jakarta dan Belitung. Hampir di semua lokasi, kasusnya ditemukan di kalangan anak jalanan saja.

Kegiatan remaja yang mencari alternatif zat yang dapat membuat mereka fly, tenang ataupun gembira, awalnya didapatkan secara coba-coba atau eksperimen. Jadi kalau kita mengenal beberapa golongan psikotropika diluar Narkoba, maka beberapa zat "temuan" para remaja ini termasuk kelompok eksperimen psikotropika. Jumlahnya belum bisa diprediksikan, karena ini berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreatifitas mereka "meramu" bahan-bahan yang mudah di dapat dipasaran. 

Minum air rebusan pembalut juga di dapat dari coba-coba, selain fenomena lain seperti minum pil PCC sekaligus 10-20 butir, minum obat batuk cair langsung sebanyak 10 sachet, ngelem, dll. Semuanya dilakukan demi mendapatkan sensasi “fly” atau mabuk. Kalau ngelem, sejumlah anak jalanan mengaku selain mabuk, mereka juga jadi tidak merasakan lapar seharian sampai efek ngelem berangsur hilang, ini bisa seharian tanpa makan. Padahal, sebagai anak yang masih dalam masa tumbuh kembang, mereka seharunya makan yang cukup dan bergizi seimbang. 

Menurut BNN, dari test di laboratorium mereka, dalam pembalut yang direbus, sama sekali tidak ditemukan obat-obatan yang masuk kategori narkotika maupun psikotropika. Justru kandungan rebusan pembalutmembahayakan pencernaan karena mengandung chlorine dan zat yang memicu kanker. 

Narkotika, menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (“UU 35/2009”),adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.

Faktor ketagihan mabuk tetapi tidak mampu membeli shabu dan sejenisnya, membuat anak-anak jalanan selalu mencari zat lain sebagai pengganti yang memiliki efek mabuk. Faktor lainnya yang menjadi pemicu adalah lingkungan dan minimnya pengawasan keluarga. Di kasus anak-anak jalanan ini, tanggung jawab bukan hanya ada pada orang tua, tetapi juga jadi tanggung jawab Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas PPA, hingga Dinas Kesehatan. Harusnya mereka bisa memberikan perhatian lebih pada kasus ini.

Mestinya duduk bareng, Dinas PPA perdampingan psikologis misalnya, atau Dinas Pendidikan yang memikirkan pendidikan mereka, mereka kan tidak mungkin sekolah di sekolah reguler, bisa di PKBN (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). PKBN banyak yang negeri juga jadi bisa dibiayai oleh pemerintah, kemudian Dinsos yang ngurusin rumah singgah dan kesehatan ya Dinas Kesehatan.

Selain itu, khusus anak jalalan sejatinya pemerintah bisa membedakan sistem sekolah untuk anak-anak jalanan agar mereka betah menjalankan pendidikannya. Seperti durasi belajar di sekolah, anak jalanan sebaiknya tak lebih dari 3 jam, karena mereka cenderung cepat bosan. 

Selebihnya mereka bisa gunakan untuk belajar di luar mata pelajaran seperti bernyanyi, belajar alat musik, atau belajar apa yang mereka senangi. Mereka juga sebaiknya tetap diizinkan bekerja.

Beberapa tahun silam, di Jakarta saya mengenal suatu komunitas bernama SANGGAR ANAK AKAR yang menangani anak jalanan di sekitar Jatinegara, Prumpung dan Cawang yang patut dijadikan contoh. Di mana sistem pendidikan yang diterapkan oleh Sanggar Anak Akar di Jakarta Timur terhadap anak-anak jalanan yang dibinanya, tidak diberi pelajaran seperti sekolah pada umumnya. Mereka lebih banyak diajarkan olah vokal untuk bekal mengamen, juga kemampuan memainkan beberapa alat music, sehingga tidak asal nyanyi dan tidak asal ngamen.

Guru mengajak untuk belajar nyanyi agar pas ngamen suara bagus dan dapat uang, diajarkan alat musik, akhirnya jumlah mereka banyak, dan seiring dengan itu lalu diajarkan baca tulis, berhitung, bahasa Inggris, hasilnya bahkan ada yang akhirnya lulus SMA dan melanjuttkan pendidikan di perguruan tinggi dengan mendapat beasiswa karena kemampuan musiknya. 

Berdasarkan program pemerintah “Bebas Anbak Jalanan 2017”, namun faktanya sampai 2018 jumlah anak jalanan masih cukup tinggi angkanya. Untuk itu, diperlukan upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk melayani anak jalanan dengan baik bisa mencegah kasus serupa tak terulang. Tak hanya itu, dengan pola didik yang benar, anak-anak jalanan bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Penggunaan pembalut perempuan yang direbus lalu meminum air rebusannya, yang diyakini dapat memunculkan efek nge-fly, memang harus diwaspadai semua pihak, terutama para orang tua dan pendidik. Apalagi dari kasus-kasus yang terungkap selama ini kerap kali yang menyalahgunakannya merupakan kalangan usia remaja, baik itu anak jalanan maupun para pelajar.

Kasus kelompok remaja teler memakai air rebusan pembalut, yang terungkap beberapa waktu lalu di beberapa daerah di Jawa Tengah, yakni di Kota Semarang bagian Timur, Kudus, Pati, Rembang, dan Gerobokan, sebenarnya bukan kejadian pertama. Kabarnya aksi serupa juga telah ada di Jawa Barat, Jakarta dan beberapa daerah lainnya.

Sebelumnya, aksi teler dengan meminum air rebusan pembalut berhasil terungkap media pada awal Agustus 2016 di daerah Belitung Timur yang melibatkan kalangan pelajar belasan tahun. Salah seorang dari pelajar itu mengaku mengenal cara teler seperti itu sejak pertengahan tahun 2015. Entah sejak kapan, di mana dan siapa persisnya penemuan cara teler dengan air rebusan pembalut itu bermula.

Meski pihak berwenang menyimpulkan tidak ada kandungan zat narkotika di dalam pembalut, namun bukan berarti zat-zat kimia di dalamnya bersahabat bagi kesehatan tubuh. Justru malah amat berbahaya jika dikonsumsi.

Zat klorin, atau zat pemutih, yang terdapat pada pembalut, bersifat korosif jika dikonsumsi bisa menyebabkan iritasi pada kulit, usus, dan saluran pernafasan, penyempitan pembuluh darah, dan bersifat karsinogenik yang memicu kanker.

Sodium polyacrylate pada pembalut merupakan senyawa kimia yang berfungsi penyerap air sekitar 200 sampai 300 massa air. Sehingga usai dikonsumsi mengakibatkan tenggorokan kering, yang memicu dehidrasi.

Selain itu pembalut pun mengandung pulp kertas, polimer, dan zat perekat yang bisa menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Terlebih jika menggunakan pembalut bekas pakai yang notabene mengandung gumpalan darah kotor berisi berbagai bakteri dan bibit penyakit berbahaya.

Sebenarnya efek nge-fly yang digembar-gemborkan pengguna air rebusan pembalut lebih bersifat sugestif semata. Artinya, lantaran secara psikologis sejak awal para pengguna atau calon pengguna tersugesti atau disugesti bahwa air rendaman pembalut itu akan membuat nge-fly, maka setelah meminumnya ia pun nge-fly, namun bukan nge-fly layaknya saat mengonsumsi narkoba.

Boleh jadi para peminun air rebusan pembalut akan benar-benar teler ketika mengoplosnya dengan aneka bahan yang sebelumnya pun marak dilakukan kelompok pemabuk berdompet cekak, yang menimbulkan banyak korban tewas. Yakni mengoplosnya dengan alkohol murni, atau spirtus, bensin, ditambah krim anti-nyamuk, obat generik tertentu yang melebihi dosis, plus minuman berenergi.

Ketika seorang anak remaja terlibat pengonsumsi air rebusan pembalut ataupun narkoba,  maka itu menandai hal-hal berikut:

Pertama, anak itu sejak dini minim, bahkan tidak terpapar dan terinstal dengan nilai, perilaku dan keteladanan tentang apa saja yang baik dan buruk bagi dirinya, yang diperolehnya dari orangtua, keluarga dan para pendidiknya, melalui metode pendidikan dan pengasuhan yang benar, tepat dan berkelanjutan.

Kedua, anak itu mengalami defisit cinta dan kasih sayang yang akut dari orangtua, keluarga dan para pendidiknya. Sehingga ia lari ke dalam pergaulan sesat, yang seakan kelompok pergaulannya itu mampu menambal defisit cintanya, padahal yang berlangsung kerap kali justru perilaku kebersamaan dan solidaritas yang  keliru bahkan menjerumuskan diantara mereka.

Ketiga, anak tidak dididik untuk memiliki keterampilan bersikap kritis atas ide-ide atau perilaku yang bisa jadi melenceng dengan norma yang berlaku, bahkan bisa berdampak buruk bagi dirinya. Sehingga ia mudah terpengaruh pada ide atau perilaku buruk yang merugikan dirinya.

Untuk itu sebagai orangtua dan para pendidik, marilah kita bersama menjaga anak-anak kita dengan kasih sayang  paripurna. Menerapkan metode pendidikan yang tepat kepada anak berbasis nilai-nilai agama dan ilmiah. Menanamkan pemahaman nilai-nilai terpuji lewat cara-cara asyik dan menyenangkan. Serta memberikan keterampilan bersikap kritis pada anak atas hal-hal tertentu yang boleh jadi bisa merugikan dirinya. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas