Clickbait, Trik Murahan yang (Masih) Laku
berita
Humaniora

Ilustrasi Foto: gie/Watyutink.com

14 March 2018 19:00
Lewat drama Romeo & Juliet, Shakespeare menulis "Apalah arti sebuah nama". Sementara itu dalam kaidah berita ada istilah "name make news", nama bisa jadi berita. Memang demikian adanya. Dalam salah satu pengertiannya, berita adalah kabar tentang nama-nama. Berita selalu terdiri dari dua unsur, ada pokok (persoalan, kejadian, dan lain-lain), ada tokoh (nama). Itu sebabnya, kabar tentang orang-orang ternama (baca: terkenal) jadi berita.    

Lantas bagaimana jadinya bila orang biasa punya nama sama dengan orang terkenal? Di sini muncul perkara pokok dan tokoh yang tak sinkron. Maksudnya begini, kerap kita baca--terutama di media online--ada orang biasa tertimpa musibah jadi berita hanya karena ia punya nama sama dengan orang terkenal. Misalnya ini: "Setya Novanto Tewas Mengambang di Pantai Baron", atau "Menginap di Rumah Teman, Prabowo Ditemukan Tewas di Sungai Yogya".

Apa reaksi Anda ketika pertama membaca dua judul berita di atas? Ingin buru-buru mengklik tautannya? Well, jika demikian, berarti Anda telah termakan umpan dari si pengabar berita (media online) tersebut. Sebab, yang diinginkan media online memang mengabarkan berita yang news value-nya biasa saja (orang biasa meninggal kecelakaan) menjadi tinggi (karena ada orang terkenal yang meninggal). Berita itu hendak dinaikkan nilainya semata karena yang meninggal punya kesamaan nama dengan tokoh publik.

Di media online mainstream, hampir tidak ada lagi ditemukan berita clickbait, kecuali di awal munculnya fenomena itu. Kini clickbait ditemukan di media online KW 16 hingga KW 83--kalau tidak mau disebut abal-abal. Persoalannya, apapun kualifikasi medianya, publik tetap saja melihat suguhan itu sebagai produk jurnalistik. Di sini kita patut bertanya, apa perbuatan media tersebut telah melanggar etika jurnalistik?

Dalam terminologi media online, berita macam begitu masuk kategori berita clickbait, yang dibuat semata untuk mendulang hit. Beritanya bukan hoax, karena ada faktanya. Tapi tetap saja ada unsur penipuan di situ. Malah kesannya berita kemalangan jadi bahan becandaan. Elokkah hal ini?

Persaingan media online saat ini sangat ketat. Setiap hari media online kita dibaca sekitar 6 juta orang. Meski pembacanya banyak, kue iklan media online masih sedikit. Hanya sekitar 17 persen dari keseluruhan kue iklan (riset Big Mobile). Itu pun yang paling banyak makan kuenya Facebook dan Google. Maka, untuk menarik pengiklan, situs berita wajib dapat semakin banyak pengunjung. Nah, pengunjung ditarik dengan berita-berita clickbait macam di atas.     

Jika sudah begini kondisinya, siapa yang paling bersalah melestarikan keberadaan berita-berita clickbait ? Media online yang ingin menarik sebanyak mungkin pengunjung web dengan cara apapun? Atau, justru pembaca yang begitu mudah termakan umpan? Kenapa kedua pihak tak belajar untuk jadi cerdas?

Selama ini kita hanya mengatur media tak jadi penyebar berita hoax. Rasanya belum ada gerakan yang memberantas berita-berita clickbait. Padahal berita yang menjual judul sensasional tapi isinya pepesan kosong, sama tak bermutunya dengan kabar bohong. Berita macam begini merendahkan dan menghina akal budi pembaca. Ironis juga, sudah paham dibohongi, tapi masih saja tautan itu di klik dan tak pernah ada gerakan nasional untuk menolak clickbait.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade/ast)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Indonesian Watch for Democracy

Sinopsis yang dikirimkan memantik problem dis-informasi kita hari-hari ini. Dari problem yang diajukan, saya melihat ada beberapa problem yang harus diurai.

Pertama, revolusi 4.0 berkonsekuensi platform media informasi bersifat egaliter. Katakanlah Twitter menjadi saluran berita secara personal. Tentu, yang disampaikan berbentuk informasi. Namun persoalannya seberapa valid informasinya, itu juga menjadi persoalan.

Berita hoaks dan hate speech sangat terbuka lebar akibat semua orang memiliki peluang untuk melakukan itu. Karena teknologi tergenggam dalam tangan mereka. Solusinya ada pada "moral personal" jika kita bicara soal platform media sosial.

Kedua, terkait duplikasi simbol nama tokoh pada sebuah kejadian yang kebetulan ada kesamaan, hal ini adalah salah satu teknik sebuah media online untuk merebut algoritma dalam SEO. Judul yang sensasional dikaitkan dengan kejadian lain yang memang sedang booming. Misal: rate berita Setnov sedang tinggi, tiba-tiba muncul Setnov yang lain dengan kejadian tragis.

Jika nama itu tidak benar, tentu itu adalah hoaks. Tapi hoaks seperti ini tidak terlalu berbahaya sebagaimana hoaks yang memicu konflik horisontal.

Ketiga, apa solusinya? Solusinya adalah kita harus membangun kesadaran masyarakat untuk melawan logika hoaks. Tentu ini tak mudah. Tapi harus ada sebuah lembaga yang diharapkan menjadi motor melawan berita hoaks dan hate speech.(ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Forum Jurnalis Jakarta

Harus dibedakan antara mana berita yang tidak sesuai dengan prinsip jurnalistik atau hoaks dengan berita yang memenuhi syarat jurnalistik. Kalau yang dimaksud clickbait hanyalah permainan judul untuk instan menaikkan pemberitaaan, itu sah-sah saja. Asal berita itu tetap memenuhi syarat jurnalistik.

Misal berita ‘Menginap di Rumah Teman, Prabowo Tenggelam di Sungai’, yang tenggelam itu kan juga bernama Prabowo. Faktanya memang seperti itu, lokasi kejadian ada, waktu kejadian ada, saksi mata juga ada. Hanya saja nama Prabowo nya sama dengan Prabowo Ketua Umum Gerindra.

Ini kan hanya teknik dan kreativitas dari editor untuk mendulang respons pembaca secara cepat. Hal yang tidak diperbolehkan itu memberitakan hoaks, misalnya mengabarkan sebuah peristiwa penyerangan ulama tapi tidak melengkapi kejadian tersebut di mana lokasinya, kapan, dan saksinya. Juga apakah itu sudah terkonfirmasi kepada penegakan hukum atau belum.

Hal yang juga tidak kalah penting adalah mendefinisikan dulu lebih lanjut apa itu clickbait. Kalo hanya sekadar permainan judul dan masih mengandung 5W 1H, maka itu sah dan tak perlu dipersoalkan. Setiap zaman kan ada dinamikanya. Di era yang lalu, mungkin skema clickbait belum ada, karena belum ada media online. Sekarang menghadapi kompetisi media yang ketat saat ini, di mana setiap media harus survive tapi tetap menjunjung tinggi rasa kebenaran dan keadilan, maka kreativitas wajib diperlukan. Hal yang penting adalah setiap berita yang diterbitkan tidak berbohong.

Jadi berlebihan kalau menyebut permainan judul berita itu merendahkan moral penulis dan pembacanya. Saya tidak setuju jika dikatakan demikian. Yang tidak diperbolehkan dan harga mati itu berita yang tidak memenuhi prinsip jurnalistik. Seperti; tidak ada sumber berita, kejadiannya tidak ada, waktu kejadian meragukan, tidak ada kronologis, dan lain-lain.

Sebagai kritik, boleh saja clickbait, tapi jangan selalu mengedepankan judul. Batang tubuh berita juga harus jadi prioritas. Judul hanya sekian persen dari konten berita. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia

Dewasa ini sejumlah media online menggunakan judul yang bombastis atau mungkin dikenal dengan istilah clickbait. Menggunakan judul yang bombastis mungkin sah-sah saja, dengan tujuan menarik minat dari pembaca untuk meningkatkan hit.

Namun yang menjadi masalah adalah ketika judul dari sebuah berita tidak relevan dengan isi dari berita tersebut. Judulnya bombastis padahal isinya tidak demikian. Ini menjadi persoalan tersendiri dalam dunia media massa saat ini, betapa judul-judul berita yang tidak relevan dengan isinya menjadi perguncingan di tengah pembaca.

Dalam hal ini, peran literasi pembaca sangat penting. Tujuannya untuk menilai mana berita yang patut dibaca dan dijadikan referensi dan mana yang tidak, sehingga pembaca tidak terbodohkan. Namun dalam hal literasi ini masih menjadi persoalanya pembaca kita. Mereka terlebih dahulu terbius oleh pengaruh judul bombastis. Mereka masih suka dan tertarik melihat judul yang bombastis, dan ini bahaya untuk konteks pendidikan dalam kaitan degan informasi.

Judul yang bombastis tidak menjadi persoalan, asalkan relevan dengan isinya. Harus juga diingat, dalam menulis judul berita harus relevan dengan tokoh-tokoh penting yang disebutkan di dalam judul. Judul bukanlah ilusi, tapi fakta.

Sebagai contoh judul berita, antara lain ‘Anak Menkopolhukam Terlibat Kasus Judi’ atau ‘Anak Ketua DPR Diduga Ikut Mengatur Proyek’. Judul-judul seperti berikut tidak masalah dan saya kira cukup bombastis untuk menarik pembaca, yang penting judul tidak boleh melenceng dari substansi ini beritanya.

Untuk meminimalisir judul berita bombastis yang tak relevan dengan isi berita, maka perlu literasi pembaca agar bisa membedakan mana berita dan mana ilusi. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Dulu published and be damned, sekarang clickbait. Dulu untuk mengejar oplah, sekarang menggaet clicker. Inilah perjalanan dunia media, yang seolah mengikuti pepatah 'banyak jalan menuju Roma', dan yang terpenting adalah sampai tujuan. Tak perduli apakah itu berarti harus kebut-kebutan dan mencelakai orang lain.

Di masa lalu, harian The Daily Mirror di Inggris sukses menggaet 4,5 juta pelanggan di tengah banjir kutukan karena dianggap tidak beretika. Salah satu kasus paling menarik perhatian dan membuat penjualan koran ini naik adalah, koran ini memuat komunikasi pribadi antara wartawannya dengan seorang tokoh politik Inggris.

Selain itu memublikasikan dokumen-dokumen hasil curian juga menjadi andalan untuk mengatrol oplah. Salah satunya dilakukan oleh Peter Preston pada 1983 di The Guardian. Dia menurunkan tulisan serial berdasarkan dokumen curian tentang pengerahan missil penjelajah di Inggris. Selain dikecam oleh pemerintah Inggris, serial ini juga menjebloskan Sarah Tisdall ke penjara selama 6 bulan karena membuat salinan dokumen tersebut, dan menyerahkan kepada The Guardian.

Kini, di era internet, aksi pencurian dokumen sudah surut, yang sedang marak adalah clickbait. Yakni menggunakan kalimat sangat mencolok agar orang tertarik untuk meng-click berita yang disajikan. Bila kemudian sang pembaca kecewa dan marah karena merasa dikibuli oleh judul, gak jadi soal, yang penting dia sudah meng-click.

Jumlah click sekarang ini sudah menjadi segalanya bagi banyak media daring. Bagi mereka tujuan menghalalkan cara demi peningkatan jumlah click. Maklum, hal ini merupakan faktor utama di balik pengambilan keputusan para pemasang iklan di media daring, yang sekarang makin sulit bernapas akibat persaingan sangat ketat.

Namun para pembaca bukanlah manusia bodoh sehingga bisa ditipu berulang kali dengan modus yang sama. Oleh karena itu, media daring yang mengandalkan clickbait akan sulit berkembang dalam jangka panjang.

Sekarangpun sudah terlihat sangat jelas bahwa media daring di papan atas terdiri dari yang itu-itu saja. Mereka bekerja habis habisan untuk menjaga akurasi dan updating berita sebagaimana layaknya kantor berita seperti Antara, Reuters dan seterusnya. Biaya yang dihabiskan tentu sangat besar sehingga di belakang mereka selalu ada pemodal kelas paus.

Mereka memiliki kesanggupan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berkembang pesat akibat kemajuan teknologi informasi yang bergerak bagaikan deret ukur. Bukan rahasia pula bahwa kesanggupan mereka sudah terjadi sejak jaman pra-internet.

Di masa mendatang, tampaknya mereka masih akan tetap dominan meski mungkin ada satu atau dua pendatang baru yang sukses. Para 'liliput'  di bawah mereka akan timbul tenggelam, dan sekadar bisa terapung pun sudah sukur. Ya beginilah nasib jadi wong cilik. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF