China Mesra dengan Arab Saudi, Indonesia Kebagian Apa?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 26 February 2019 17:00
Watyutink.com - Masih belum lekang dalam ingatan betapa hebohnya kita waktu menyambut kedatangan penguasa Arab Saudi Raja Salman bin Abdulaziz al Saud pada 2017 lalu. Sang raja dan rombongannya berkunjung selama 13 hari, termasuk liburan ke Bali. Kunjungan itu membuahkan komitmen investasi Arab Saudi di Indonesia senilai sekitar Rp93 triliun. 

Apa kabar realisasi investasi itu? 

Entah. Yang jelas, penguasa masa depan Arab Saudi, putra mahkota Pangeran Mohammad bin Salman batal mengunjungi Indonesia. Seharusnya ia berkunjung pekan lalu, tapi ditunda tanpa alasan jelas. Namun, MBS, sapaannya, mengunjungi China. Apa ini menandakan sang pangeran memandang China lebih penting daripada Indonesia?

Arab Saudi, sebagai eksportir terbesar BBM China, pekan kemarin menandatangani kesepakatan investasi kilang dan pabrik petrokimia senilai 10 miliar dolar AS. Dalam kunjungan tiga hari ke China tahun 2017, tak lama usai dari Indonesia, Arab Saudi mengikat komitmen investasi senilai hampir Rp900 triliun atau 9 kali lipat lebih besar dari komitmen mereka ke Indonesia.

Yang perlu dicermati sebetulnya bukan hanya nilai investasi Arab Saudi yang lebih besar ke Tiongkok dibanding Indonesia. Untuk itu kita bisa mafhum, China punya potensi ekonomi lebih besar. Pasar China dengan semiliar lebih penduduk tentu lebih menarik. Namun, Indonesia adalah negeri dengan penduduk muslim terbanyak. Saban tahun, kita mengirim ratusan ribu jemaah haji dan umrah ke Arab Saudi. Bukankah secara ekonomi kita juga seharusnya penting buat Arab Saudi? 

Sementara itu, kita tahu, China punya masalah dengan etnis Uighur. Negeri tirai bambu itu dituduh melakukan pelanggaran HAM serta diskriminasi rasial dan agama terhadap suku Uighur yang muslim. Beijing curiga masyarakat Uighur ingin melepaskan diri dari RRC. Dunia mengecam pelanggaran HAM atas etnis Uighur oleh pemerintah China. Namun, Arab Saudi memilih bersikap netral. Tidak pernah terdengar pemerintah Arab menekan Beijing soal Uighur. Bagi Riyadh, problem Uighur adalah masalah dalam negeri China. 

Di lain pihak, Beijing juga sama sekali tak berkomentar soal pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi yang ditengarai diotaki sang pangeran. Keputusan Beijing untuk tak kian memanaskan suasana itu tampaknya amat dihargai Pangeran MBS.              

Indonesia sebetulnya sudah bersikap hati-hati menanggapi perkara Jamal Khashoggi tempo hari. Kita tak terang-terangan mengecam, namun meminta Arab Saudi transparan dalam menginvestigasi kematian Khashoggi. Apa bagi Pangeran MBS komentar Presiden Jokowi tentang Khashoggi itu mengecewakan sang pangeran hingga ia batal ke Jakarta pekan lalu? 

China saat ini berambisi menjadi pemain tunggal percaturan global. China tengah menggalakkan inisiatif jalur sutra modern yang disebut "One Belt, One Road" (OBOR). Di tengah masyarakat internasional (baca: Barat) serempak mengecam Arab Saudi atas kasus Khashoggi, Beijing memilih strategi diam. Arab Saudi akhirnya mendapat konsesi dari sikap diam tersebut: investasi senilai 10 miliar dolar AS dan pengaruh yang kian besar di Timur Tengah. 

Di saat Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menggaungkan isoliasionisme, Beijing dengan jeli melihat peluang itu. Negara-negara Afrika, Asia Selatan, dan kini Timur Tengah mereka dekati. Kita, di Indonesia, tampaknya hanya jadi penonton di pinggir. Apa kita merasa sudah puas dengan posisi itu? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?         

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)

Indonesia jelas tidak menjadi pertimbangan ekonomi yang serius dibandingkan China buat Arab Saudi. Potensi ekonomi China jauh lebih besar, dan China anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Sehingga secara politik dan ekonomi lebih menguntungkan Arab Saudi bila banyak bekerjasama dengan China dibanding Indonesia.  

China diharapkan Arab Saudi dapat menunjang Visi 2030-nya. Kedekatan ini kebetulan juga persis di saat perusahaan-perusahaan multinasional Barat yang sangat diharapkan berinvestasi di Arab Saudi terkendala oleh kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

Oleh karena itu, dalam situasi ketika Arab Saudi berharap datangnya investasi yang cukup besar, tapi terhalang oleh kasus Khashoggi, maka China masuk. China tidak peduli dengan persoalan dalam negeri Arab Saudi. Bagi China, Arab Saudi adalah pemasok minyak terbesarnya. Buat Arab, China jadi alternatif yang sangat menjanjikan selain India.  

Yang unik, biasanya Arab Saudi memainkan peran untuk memajukan negara Islam dan mendesak negara yang melakukan kebijakan yang meragukan umat Islam. Namun, yang mengejutkan, saat kedatangan putra mahkota Pangeran bin Salman kemarin ke China, dia bilang masalah Uighur adalah masalah dalam negeri China. Dan Arab Saudi takkan mencampuri urusan dalam negeri China. 

Pernyataan Pangeran MBS itu sangat disambut oleh China, karena di saat Turki dan negara Arab lain intensif mengecam China dalam masalah Uighur, Arab Saudi--negara berpengaruh di Timur Tengah--memilih sikap lain. 

China juga bekerjasama dengan Iran, selain dengan Arab Saudi. China menjalankan politik netral di Timur Tengah. China tahu, mereka tak boleh bergesekan dengan Amerika Serikat di Timur Tengah. Sekali ada indikasi China menghalangi kepentingan AS di Timur Tengah, AS akan mengajak sekutunya kian memusuhi China. Arab Saudi pasti akan memilih ikut AS pada akhirnya. Jadi, China juga tak mau bertualang di Timur Tengah ini jadi bumerang. 

Arab Saudi lebih bergantung pada AS untuk pembelian senjata dan teknologi canggih. Bagi Arab, AS tetap mitra utama dan negara paling berpengaruh yang tidak serta merta ditinggalkan. 

Namun, Arab Saudi tidak bisa berbuat banyak juga melihat China bekerjasama dengan Iran, musuh tradisionalnya. Karena China punya posisi tawar yang lebih tinggi. Dan Iran, bagi China, juga sangat penting. Waktu Raja Abdullah belum wafat, raja Arab Saudi itu pernah menawarkan ke pemimpin China Xi Jin Ping, untuk ikut mundur dalam kesepakatan nuklir Iran. Tapi China menolak, karena inisiatif politik "One Belt, One Road" (OBOR) China takkan jalan tanpa menggandeng Iran. Tanpa Iran, China tak bisa berbuat apa-apa. Posisi Iran tak bisa digantikan oleh negara manapun juga, termasuk oleh Arab Saudi.  

Infrastruktur China ke Timur Tengah pasti akan melalui Iran. Iran juga negara yang punya sumber energi yang kaya. Minyak Iran diimpor ke China juga, sehingga China tak tergantung teralu besar pada Arab Saudi. Iran juga negara yang independen, baik pada AS maupun Rusia. Sikap Iran ini sangat diinginkan oleh China.  

Lalu di mana posisi Indonesia? Indonesia harus menerapkan politik luar negeri yang selama ini kita anut, yaitu politik bebas aktif. Kita tetap akan mengambil sikap independen. Kita harus tetap bekerjasama dengan China untuk tetap dapat manfaat dari pertumbuhan dan kemajuan teknologi China. Posisi Indonesia yang strategis dan jadi gerbang masuk ke Samudera Hindia, juga penting buat China mewujudkan politik OBOR. China pasti akan menarik Indonesia ke dalam pengaruhnya, atau paling sedikit China ingin Indonesia bersikap netral. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif pajak, daya sistem pajak yang paling rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan