Cewek Heboh Usai Jojo Buka Baju, Apa Maknanya?
berita
Humaniora
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 02 September 2018 14:30
Pebulutangkis Jonatan Christie alias Jojo harus bertanggung jawab! Gara-gara buka baju setelah memenangkan pertandingan di Asian Games 2018, ia mengakibatkan banyak perempuan "hamil online massal". Ah, ada-ada saja. 

Namun, faktanya dunia maya dihebohkan dengan komentar kaum hawa mengenai selebrasi yang dilakukan Jojo memperlihatkan tubuh atletisnya. Komentar-komentar itu antara lain begini, "Jojo ini hebat, bikin para rahim wanita anget". Bahkan banyak juga yang komentar, "Celananya nggak sekalian dibuka?".

Meski niatan komentar-komentar nyeleneh itu sekadar candaan, tetap menarik mengulik bahwa kini perempuan Indonesia tak sungkan mengekspresikan pernyataan ketertarikan seksual pada lawan jenis di muka umum (baca: media sosial). Anggapan perempuan Indonesia masih memegang adat ketimuran rupanya telah terkikis. Benarkah demikian adanya?

Kemudian pro dan kontra terhadap fenomena tersebut langsung bermunculan. Sejumlah pihak, umumnya pria, mengatakan bahwa komentar-komentar itu tergolong menjadikan pria sebagai objektivikasi seksual. Selama ini, perempuan yang kerap dijadikan objek seksual, maka ketika perannya berganti apakah bisa dikategorikan pelecehan seksual terhadap pria oleh perempuan?

Meski demikian, sebagian besar perempuan tetap merasa ekspresi ketertarikan seksual itu wajar. Hasil studi di Jurnal Royal Society Proceedings menyatakan 70 persen perempuan menganggap pria yang menarik adalah pria yang kuat atau berotot. Maka, wajar jika banyak wanita yang mengagumi tubuh kekar dan atletis yang dimiliki Jojo. Namun yang menjadi masalah adalah cara mereka mengapresiasikan kekagumannya dengan menggunakan frasa seperti "Rahim anget". Apakah ekspresi seksual itu dapat dikatakan wajar?

Menarik pula soal Jojo buka baju ini berkembang jadi perdebatan kelompok feminis dan penentangnya. Kelompok feminis tegas mengatakan ekspresi kaum hawa pada Jojo bukan bentuk objektivikasi seksual sebagaimana yang dilakukan pria pada wanita, mulai dari catcalling di jalanan hingga seleb bilang artis Korea "bac*l". Apa ini artinya kaum feminis berat sebelah? Atau kita, kaum awam, tak memahami sepenuhnya makna objektivikasi seksual antara kaum pria dan wanita yang berbeda?

Tak sedikit pihak yang mengatakan hal tersebut termasuk ke dalam pelecehan atau sexual harassment. Namun, dalam sebuah wawancara, Jojo sendiri mengaku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan Jojo menganggapnya sebagai bentuk kekaguman belaka. Jika demikian, apakah komentar-komentar nyeleneh seperti itu masih dianggap sebagai bentuk dari sexual harassment?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sejarawan, pemerhati isu perempuan, kordinator dan peneliti di Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Indonesia  

Reaksi warganet terutama perempuan, bersorak-sorai ketika ia membuka kaos dan memamerkan tubuhnya yang dihiasi otot dan peluh, membuat perempuan dan laki-laki ikut terpesona. Komentar-komentar seperti “rahim anget” atau “duh, becek nih, bang” bertebaran di media sosial. Ekspresi-ekspresi seksual dari para warganet perempuan ini kemudian jadi pembicaraan.

Dalam teori-teori feminisme, ada banyak perspektif dari yang menyatakan bahwa objektifikasi yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki tidak sama. 

Perspektif pertama yang paling sederhana adalah perspektif budaya pemerkosaan. Budaya pemerkosaan memosisikan perempuan selalu sebagai objek seksual yang agensinya tiba-tiba berubah ketika ia menjadi korban. Perempuan selalu dilihat sebagai tubuh dan wajahnya saja, tidak peduli apa pun profesinya, apakah seorang jurnalis, hakim, akuntan, atau dokter, sehingga selalu ada embel-embel kondisi fisik seperti “politikus cantik”, “dokter cantik”, dll. 

Tetapi ketika perempuan menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan, perempuan disalahkan karena dianggap memancing tindakan-tindakan tersebut. Objektifikasi perempuan terjadi karena masyarakat kita mempunyai budaya pemerkosaan yang menyerang feminitas. Perempuan yang memiliki keperempuanan dianggap inferior dan wajar apabila dikuasai melalui pemerkosaan. 

Objektifikasi perempuan adalah bagian dari penguasaan kelelakian terhadap keperempuanan dan dalam bentuk-bentuk lebih lanjut menjadi pelecehan atau pemerkosaan.

Pendekatan kedua adalah soal pengalaman perempuan. Laki-laki dan perempuan dibesarkan dengan cara yang berbeda dan sudah tentu pengalaman akan keduanya pun berbeda. Carol Gilligan, seorang feminis dan psikolog asal Amerika Serikat, dalam bukunya Ethics of Care menjelaskan bahwa apa yang perempuan maksud dengan berperilaku adil berbeda dengan konsep laki-laki tentang keadilan.

Singkatnya, Gilligan menyatakan bahwa apa yang disebut adil bagi perempuan adalah sebuah tindakan yang paling sedikit merugikan orang lain, dan ini sangat berbeda dengan konsep adil ala laki-laki. Perbedaan dalam berekspresi juga terjadi antara perempuan dan laki-laki. Mengutip penulis/akademisi L. Ayu Saraswati dalam bukunya Putih, perempuan dan lelaki berbeda dalam mengekspresikan rasa malu khususnya di Indonesia, perempuan akan menarik diri apabila merasa malu sedangkan lelaki akan menimbulkan perilaku penolakan yang agresif. 

Objektifikasi seksual yang dilakukan oleh perempuan kepada Jojo, pemain bulu tangkis berprestasi yang melepas bajunya, atau kepada artis-artis Korea Selatan, berbeda dengan ketika rapper Indonesia Younglex menyebut artis Korea Lisa Blackpink sebagai bahan masturbasi. Hanya ada kesenangan ketika berkata “rahim hangat” dan tidak ada tatapan penguasaan dan kebolehan dalam melampiaskan hasrat seksual sebagaimana yang terjadi pada laki-laki ketika bilang, “seksi sekali sih, mbak” ketika melakukan catcalling pada perempuan di jalan.

Ketiga, male gaze atau tatapan laki-laki seperti dikemukakan Mulvey (1975). Dalam male gaze, perempuan adalah objek yang sifatnya pasif dan laki-laki adalah subjek yang aktif. 

Male gaze sering disamakan dengan scopophilia, tatapan hasrat seksual, seperti misalnya yang dilakukan Younglex. Melalui gambar, representasi perempuan diposisikan sebagai pasif, sedangkan laki-laki adalah aktif, subjek yang melakukan. Hal ini tidak bisa terjadi sebaliknya karena objek yang pasif tidak dibenarkan untuk menunjukkan seksualitas. Untuk itu, perempuan yang terbuka akan seksualitasnya dianggap bukan perempuan baik-baik dan punya banyak label buruk terhadapnya.

Argumen yang terakhir didasarkan pada sejarah panjang kekerasan terhadap perempuan. Perempuan dibebani tugas reproduksi yang berujung pada naturalisasi terhadap kondisi biologis perempuan. Kepemilikan atas rahim, payudara, dan vagina membuat perempuan mendapatkan banyak kekerasan selama hidupnya, mulai dari dilarang berkarier, aturan pakaian, aturan jam malam, sampai upah yang rendah. Belum lagi kekerasan bersifat seksual seperti pelecehan dan pemerkosaan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
dosen Ilmu kom UMY, Anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital

Sudah saatnya sexual expression dibedakan dengan sexual harassment. Sexual expression, bukan hanya menyoal aktivitas seksual namun, juga cara-cara mengkomunikasikan diri kepada lingkungan atau masyarakat mengenai orientasi seksual kita sebagai individu. Tentu saja, ekspresi seksual adalah hal alamiah, karena termasuk ekspresi pikiran, perasaan, keinginan, ketakutan, dan harapan.

Hal penting yang juga harus dipahami bersama, dalam setiap komunitas dan budaya, memiliki konstruksi gender yang berbeda-beda. Inilah yang membuat ekspresi seksual yang dihasilkan pun berlainan. Dalam masyarakat yang patriarkis misalnya, ekspresi seksual seorang perempuan cenderung dihambat, dan ditekan.

Akibatnya dianggap tabu bagi perempuan untuk menampakkan bagian tubuh tertentu mereka. Tekanan atau represi ini juga terkait tafsir agama yang misoginis yang biasanya menjadi rujukan bagaimana perempuan selalu diharapkan menjadi garda terdepan penjaga kesalehan, moral, dan budaya masyarakat setempat. Nah, inilah yang sebenarnya sedang terjadi di Indonesia mengenai fenomena pengguna media sosial yang mengomentari tubuh Jojo.

Namun sebelum membahas lebih jauh hal tersebut, kita harus sepakat dalam aktivitas bermedia internet sesungguhnya pengguna media sosial adalah warga masyarakat yang hidup dalam sebuah norma dan nilai seperti halnya di dunia nyata. Keadaan ini mengubah bentuk-bentuk interaksi sehingga disebut terjadinya peristiwa “socially mediated publicness”.

Dalam cyber space kemudahan dalam berkomentar dan mengunggah konten biasanya tidak dibarengi kesadaran akan adanya perbedaan peradaban dan kebudayaan. Jadi, seringkali mengabaikan keberadaan warganet (netizen) lainnya yang juga dapat melihat, menilai unggahan dan komentar kita dengan perspektif yang berbeda pula. Seperti ekspresi buka kaos oleh Jojo, maka komentar-komentar kebanyakan perempuan yang “histeris” melihatnya, dinilai terlalu vulgar, tidak menjaga kehormatan perempuan dan bahkan sampai pada tuduhan tidak beretika.

Padahal sesuatu yang tidak lazim dilakukan bukan berarti salah. Belum lagi harapan-harapan masyarakat mengenai perempuan sering berlebihan. Perempuan yang ekspresif terhadap tubuhnya atau tubuh lawan jenis sering dianggap bukan perempuan baik-baik, sebaliknya apabila ada perempuan yang diolok-olok atau dikomentari fisiknya, baik oleh perempuan dan laki-laki adalah sesuatu yang taken for granted atau alamiah.

Lalu apakah yang dimaksud sexual harassment atau kekerasan seksual? Adalah bentuk-bentuk persekusi, dapat berupa penghinaan, pelecehan, tindakan-tindakan menyakiti atau hal-hal yang dianggap membuat individu terganggu baik secara fisik maupun mental. Artinya kekerasan seksual harus memiliki unsur paksaan, ketidakrelaan, dan ketidaksukaan. Kita bisa melihat ini dalam kasus Via Vallen yang dilecehkan oleh pemain sepakbola melalui direct message Instagram. Via Vallen merasa tidak ada konteks yang pas bahkan yang merujuk pada aktivitas seksual dirinya, namun pihak laki-laki justru memberi tanggapan yang sebaliknya.

Lalu apabila kita sandingkan dengan aksi buka baju Jojo. Timbul pertanyaan apakah perilaku buka baju Jojo adalah sesuatu paksaan? Apakah aksi tersebut melahirkan rasa sakit atau perasaan dilecehkan? Menurut hemat saya, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah tidak. Aksi Jojo hanyalah sebuah spontanitas karena ia berhasil mengalahkan lawan, selebrasi yang tidak juga bermaksud menarik perhatian lawan jenis secara seksual.

Inilah yang semestinya dipahami bahwa komentar-komentar tersebut merupakan bagian dari ekspresi kegembiraan melihat aksi heroisme Jojo dalam final permainan bulutangkis. Lebih penting lagi tidak terjadi ketimpangan posisi antara yang menindas dan ditindas, justru para perempuan yang histeris tersebut sedang menyanjung, memuji dan menyukai perilaku Jojo.

Kita dapat belajar dari aksi Jojo dan kehebohan komentar warganet bahwa melalui media sosial ruang-ruang ekspresi perempuan dapat lebih terbuka dan cair, termasuk mengenai ekspresi dan fantasi seksual mereka. Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada etika “ketimuran” yang dilanggar oleh para warganet perempuan. Bahkan “timur” dan “bukan timur” itu merupakan fantasi dan imajinasi dari inferioritas sebuah bangsa atas bangsa lain. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF