Benyamin Biang Kerok (2018): Diemohi Penonton, Ditolak Orang Betawi
berita
Humaniora

Sumber Foto: Falcon Pictures via BookMyShow  (gie/Watyutink.com)

13 March 2018 19:00
Sebetulnya, di atas kertas Benyamin Biang Kerok versi 2018 ditakdirkan jadi film box office. Film ini lahir dari rumah produksi (PH) Falcon Pictures yang punya reputasi mencetak film box office Indonesia kiwari: dari Comic 8 hingga Warkop DKI Reborn. Filmnya dibesut Hanung Bramantyo yang berpengalaman mencetak film box office pula. Bintangnya juga bukan sembarangan: Reza Rahadian yang dikenal atas totalitas aktingnya.

BACA JUGA: Black Panther, Superhero Kulit Hitam Di Zaman Trump

Namun sebagaimana ungkapan kadang teori tak sama dengan praktik, demikian pula nasib film ini. Hingga pekan kemarin, setelah hampir dua pekan tayang, jumlah penontonnya masih di kisaran 600 ribuan. Angka yang kecil mengingat ongkos produksi dan promosi film ini amat besar. Jumlah layar yang memutarnya juga fantastis: 200 layar. Setara dengan blockbuster Hollywood, pertanda bioskop dan PH-nya kepedean.

BACA JUGA: Hollywood Jadi Pro Perempuan, Sesaat Atau Selamanya?

Bentuk rasa pede yang lain, PH-nya juga konon telah selesaikan syuting untuk dua film sekaligus. Jika yang pertama saja ngos-ngosan untuk capai 1 juta penonton, bagaimana nasib film lanjutannya? Ingat lho, di Indonesia, jarang ada film kedua lebih banyak penontonnya dari film pertama. Falcon tahu betul hal ini. Penonton film Warkop DKI Reborn Part 1 6,8 juta, tapi Part 2 cuma 4 juta penonton. Ada 2 jutaan lebih penonton film pertama yang tak nonton film kedua. Kenapa penonton tak segegap gempita menyambut Biang Kerok versi 2018?

Mungkin terletak di filmnya. Yang sudah nonton tentu paham, film ini banyak maunya, tapi akhirnya jadi tak fokus. Ingin jadi komedi, tanggung. Kisah aksi spion, tak cocok. Kritik sosial, cuma tempelan. Akting Reza lebih terlihat over-acting, alih-alih menjelma jadi Benyamin Sueb. Lalu, apa kata pengamat film tentang film ini?

BACA JUGA: Komentar Hanung Bramantyo Dan `Reza-Lagi Effect`

Belakangan, film ini malah diprotes komunitas Betawi. Kata kelompok yang menamakan Perkumpulan Betawi Kita, di film Biang Kerok versi 2018, Betawi hanya tempelan. Filmnya dianggap hanya memanfaatkan nama besar Benyamin. Mereka menyerukan orang Betawi tak nonton film ini. Film Betawi ditolak orang Betawi, bagaimana ini bisa terjadi?

Well, memang bagus mengenalkan lagi Benyamin pada generasi sekarang, tapi bila pesannya tak sampai untuk apa.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Editor bahasa media online, pegiat di Perkumpulan Betawi Kita

Setelah menonton film Benyamin Biang Kerok besutan sutradara Hanung Bramantyo, Perkumpulan Betawi Kita menyatakan Kecewa, bahkan merasa dihina. Bagaimana tidak, mengingat Benyamin S bukan sekadar tokoh film, pemusik, dan segambreng lagi sebutannya. Benyamin S telah menjadi manifestasi dari kebudayaan dan sejarah orang Betawi.  

Hanung dan para penulis skenario serta para pemodalnya telah dengan sengaja memanfaatkan nama Benyamin sebagai komoditas. Tidak lebih dari itu saja, meskipun film didedikasikan untuk mengenang Benyamin. Izin dari keluarga dengan iming-iming merayakan ulang tahun Benyamin dengan menafsirkannya ulang. Namun, ini hanya kamuflase, trik memalukan yang disebut Sjumandjaja sebagai tukang kelontong perfilman. Mereka ini, kata Sjuman, tidak ada punya kreativitas sebagai unsur utama film. Mereka hanya punya kreativitas melipatgandakan modal. 

Mayoritas narasi, adegan, gaya hidup yang dipertontonkan menjelaskan dengan gamblang tidak hadirnya pikiran di dalamnya. Semua asal comot. Memang benar Benyamin juga asal comot. Tetapi, beda asal comot dengan kreativitas dibanding asal comot yang tanpa pikiran. Hasilnya yang satu pembaruan, sedangkan satu lagi kedunguan. Ya, kedunguan demi kedunguan inilah yang menyertai perjalanan film. 

Di awal adegan, Sutradara Hanung banyak mencomot film James Bond dengan Casino Royale-nya, Mission Imposible, Tomb Rider, dan latar belakang Mafioso yang sarat dengan perjudian, miras dan pornografi. Hanung tidak puas jika hanya menjiplak narasi film aksi yang berkiblat dari Hollywood. Ia tutup film dengan adegan perkelahian yang menjiplak film Kungfu Hustle dari Hongkong. Di antara awal dan akhir demikianlah jiplakan demi jiplakan disambung yang buruk disambung sebagai cerita.  

Ini hanya salah satu bagian dari cerita yang menunjukkan betapa selain penuh jiplakan, juga sesungguhnya cerita film mentah. Alhasil banyak keajaiban-keajaiban yang tidak logis yang berujung pada cerita film yang kacau karena gagal bercerita. Dan juga yang menyedihkan karakter yang lemah. 

Akibatnya sayang sekali pemain-pemain sekaliber Lidya Kandouw, Omas, Meriam Bellina, Komar, bahkan Rano Karno yang sebenarnya punya hubungan khusus dengan Benyamin tak tampak kecemerlangannya. Malah tidak menemukan alur cerita yang menantang dan memompa kejenialan membawakan karakter mereka. Tinggal sebagai dari satu gerak ke gerak yang lain yang akal sehatnya sukar dicari, kecuali pada imitasi adegan demi adegan dari film Hollywood sampai Hongkong. Suram. 

Demikianlah film ini hanya mendompleng judul dan nama besar Benyamin Sueb dari film garapan Nawi Ismail pada 1972. Benyamin Biang Kerok garapan Hanung Bramantyo dihidupkan untuk dipermalukan. Bukan hanya Benyamin, tetapi juga para sahabatnya yang dilibatkan. 

Bahkan memalukan bagi keluarga. Adalah benar dengan film ini nama Benyamin menjadi naik dan dibicarakan lagi. Tetapi, buat apa jika dinaikkan untuk dipermalukan. Buat apa jika dibicarakan untuk jadi bahan dikasihankan nasibnya yang dilecehkan? Bahkan, pesan keluarga kepada Rumah Produksi Falcon Pictures pun diabaikan. Pesan tidak ada pusar, rokok, minuman keras, semua dilanggar. Film bukan hanya banyak pornografi-pornoaksi, rokok, tapi minuman keras dituang juga kekerasan. 

Celakanya Falcon dan Reza Rahadian yang memerankan sebagai Pengki, terus melakukan promo film terbarunya itu. Bahkan, kabarnya film Benyamin Biang Kerok dibagi menjadi dua bagian. Dijadwalkan akan tayang pada bulan Desember mendatang.

Harapan orang banyak zaman "reborn" film ini akan jadi berkah buat Benyamin Biang Kerok, menjadi lebih baik dari sebelumnya di tahun 1972, justru malah merusak. Tinggal jadi musibah. 

Berlatar belakang itu semua Perkumpulan Betawi Kita menghimbau agar:

  1. Warga masyarakat,  khususnya Betawi,  tidak menonton film tersebut. 
  2. Keluarga Benyamin S membatalkan pemakaian nama Benyamin untuk bagian kedua yang sudah dibuat untuk tayang Desember mendatang sebab pihak pembuat film telah mangkir dari pakem moral yang disepakati. 

Sudah saatnya para produser menghentikan film-film yang hanya mempertebal stigma negatif tentang orang Betawi.

CATATAN: Disarikan dari “Pernyataan Sikap Perkumpulan Betawi Kita
tentang Film Benyamin Biang Kerok dari Falcon dan Hanung Bramantyo”
(ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan Film Senior

Film Benyamin Biang Kerok terhitung flop. Dibandingkan film Yowis Ben saja kalah. Sekarang (13/3/2018) penonton Yowis Ben sudah 750 ribu, Benyamin Biang Kerok baru 600 ribu. Dengan bujet pembuatan yang amat jauh dibanding Biang Kerok, Yowis Ben jauh lebih sukses. Benyamin Biang Kerok di puncak pemutarannya dapat 300 layar. Sekarang tinggal 100 layar. 

Pihak bioskop melihat film sukses sebelumnya dari produser. Falcon sukses merilis Comic 8, Warkop DKI Reborn dan Dilan 1990. Maka, mereka diberi layar banyak di hari pertama. Di hari pertama edar, 1 Maret 2018, filmnya ditonton 85 ribu. Tapi kemudian penontonnya menurun terus karena efek dari mulut ke mulut yang bilang filmnya kurang menarik. Sebaliknya, bila dari mulut ke mulut bilang filmnya bagus, akan menarik penonton. Saya rasa untuk mencapai satu juta penonton akan sulit sekali. 

Hal sebaliknya terjadi pada Yowis Ben. Dari mulut ke mulut orang bilang filmnya bikin ketawa, menyenangkan. Di Jawa Timur khususnya Malang dan Surabaya, film itu saya prediksi akan bertahan lebih dari sebulan di bioskop. 

Benyamin Biang Kerok tak membuat penonton tertawa padahal filmnya ingin melucu. Saya waktu nonton juga tak tertawa. Satu bioskop juga tak ada yang tertawa. Kalau penonton tertawa, filmnya akan laku, tapi ternyata selama 100 menit filmnya tak ada adegan yang bikin kami tertawa.  

Menurut saya film ini agak aneh, karena terlalu banyak mencampurkan elemen-elemen. Ada robot, ada nuansa futuristis juga. Dalam bahasa saya begini. Menurut saya mie pangsit itu enak, kan? Es shanghai enak juga, kan? Tapi apa enak bila mie pangsit dan es shanghai dicampur dalam satu mangkuk? Kira-kira perumpamaannya begitu. 

Ini film dari sutradara jempolan, Hanung yang selalu bikin film drama bagus. Yang main Reza Rahadian. Tapi karena film ini terlalu banyak maunya dan terlalu banyak campur tangan ya, jadinya nggak karuan.

Mereka pakai formula yang sama dengan film Comic 8 dan Warkop DKI Reborn untuk Benyamin Biang Kerok. Tapi ternyata Hanung agak gamang menangani itu. Beda dengan Anggy Umbara (sutradara Comic 8 dan Warkop DKi Reborn). Hanung sangat pandai bikin film drama, seperti Ayat-ayat Cinta dll, tapi untuk bikin komedi rupanya dia masih gamang. Apalagi komedi slapstick. Di film Benyamin ini nggak ada komedi slapstick, padahal penonton film Indonesia sangat suka komedi macam begitu. Film Warkop DKI atau komedi Benyamin zaman dulu adalah komedi slapstick macam orang jatuh kecemplung kali dan semacamnya. Tapi sesungguhnya ini bukan hanya kesalahan Hanung. Karena film adalah kerja kolektif.  

Meski film pertama flop dan kurang disukai, film kedua menurut saya sangat mungkin diperbaiki. Falcon bisa memasukkan Benyamin asli dari film-film lama Benyamin yang haknya sudah mereka beli. Tapi sebelumnya juga mereka harus menentukan maunya dulu dengan filmnya, mau bikin film action apa film komedi. Hal ini sebetulnya juga terjadi pada film 5 Cowok Jagoan (2017). Film itu juga flop karena tidak jelas mau film komedi atau action. Harus ditentukan mana yang lebih menonjol, action nya atau komedinya. Saya yakin yang kedua akan lebih bagus, baik dari filmnya maupun promosinya.

Terakhir, yang saya dengar tentang film Benyamin Biang Kerok tak hanya diprotes masyarakat Betawi. Tapi juga penulis skenario dari film aslinya. Kita tahu Benyamin Biang Kerok pernah dibuat tahun 1972. Disutradarai Nawi Ismail. Penulis skenarionya Syamsul Fuad, sudah berumur 81 tahun. Dia menuntut ada kompensasi karena meski cerita filmnya berbeda, ia tetaplah yang menciptakan judul "Benyamin Biang Kerok" dan nama karakternya juga sama "Pengki." Ia menuntut haknya yang diabaikan produser. Kasus ini sudah masuk pengadilan. Sidang perdananya akan berlangsung 22 Maret 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Saya sebetulnya bersedia memediasi kedua belah pihak. Tapi memang belum ada titik temu di antara mereka. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!