Bahasa Gado-gado Indonesia - Inggris, Pertanda Apa?
berita
Humaniora

Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

14 September 2018 18:00

Pekan lalu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dikutip media bilang begini ketika mengomentari masalah properti di wilayahnya: "Kita punya penduduk 10 juta, dan 30 persen earning less than 1 million per month. Dan bapak ibu semua menyadari what does it mean having 1 million in the city like Jakarta. What can you do dengan angka itu? This is a problem."   

Ucapan itu kontan segera dikomentari netizen. Anies disebut "Gubernur Jaksel." Jaksel, tentu saja, mengacu ke wilayah Jakarta Selatan. Konon, anak gaul Jakarta Selatan biasa bicara gado-gado mencampur bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan sehari-hari. Seorang netizen lain, misalnya, berkelakar bila seorang petani menjelaskan proses pengolahan padi dengan bahasa anak Jaksel: "From what i gathered, padinya ditumbuk which is bijinya lepas gitu nah moreafter dikumpulin deh itu hence masi ada kulitnya its fine baru abis itu ditumbuk-tumbuk like biar jadi beras literally."  

Yang sering muncul di percakapan anak gaul Jaksel memang bahasa campuran Inggris dan bahasa gaul seperti  'which is', ‘literally’, 'even', 'hence' dengan ‘kek’ (kayak), ‘yauda’ (ya sudah), dan sebagainya. Yang menjadi tanya segera adalah, penggunaan bahasa gado-gado ini menandakan apa? 
       
Bila merunut ke belakang, sebelum bahasa gado-gado Indonesia campur Inggris mewabah di kalangan pejabat hingga anak gaul, sebagian masyarakat kita dahulu terbiasa mencampur bahasa Indonesia dengan Belanda. 

Sejak awal 1920-an, bahasa campuran itu jadi bahasa sehari-hari golongan elite yang mengenyam pendidikan dengan pengantar bahasa Belanda. Ketika Indonesia merdeka, golongan ini banyak menjabat lembaga pemerintahan, maka bahasa Indonesia campur Belanda pun mengisi hari-hari mereka. Berbahasa Belanda dianggap sebuah prestise lantaran Waktu itu tak semua orang bisa sekolah tinggi-tinggi. Lantas, apa berbahasa Indonesia campur Inggris ini juga menjadi tanda prestise golongan elite zaman now

Kita tahu bahasa Inggris adalah bahasa global, bahasa yang paling banyak dipakai saat ini di dunia untuk urusan bisnis hingga budaya antar-bangsa. Menguasai bahasa Inggris mutlak bila sebuah bangsa ingin diperhitungkan di kancah global. Lalu, apa penggunaan bahasa gado-gado Indonesia campur Inggris jadi pertanda kita telah cakap menguasai bahasa global itu? 

Di sini letak masalahnya. Sebuah studi yang dirilis lembaga pendidikan bahasa Inggris Education First (EF) Desember lalu menunjukkan, pada 2017 indeks kecakapan bahasa Inggris negeri kita turun dari peringkat 32 (tingkat Kemahiran Menengah) jadi ke-39 (tingkat Kemahiran Rendah). Berdasarkan studi tersebut, nilai kecakapan bahasa Inggris rata-rata negara Asia adalah 53,60. Sedangkan nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris di Indonesia adalah 52,15. Kita berada jauh di bawah Singapura (peringkat 5; nilai 66,03), Malaysia (peringkat 13; nilai 61,07) dan Filipina (peringkat 15; nilai 60,59).    
 
Artinya, mencampur aduk bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia tak menunjukkan kecakapan berbahasa Inggris dalam bentuk menyusun kalimat, tulisan atau argumen utuh dalam bahasa Inggris. Padahal, bukankah itu yang literally more important than gengsi or prestise? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?   

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar sosiolinguistik, peneliti di Institute of Culture, Discourse, and Communication & dosen di School of Language and Culture, Auckland University of Technology, Selandia Baru.

Sebagai seorang sosiolinguist saya tidak memandang persoalan bahasa secara hitam-putih. Sebab, terdapat banyak layer dan nuansa dalam praktek berbahasa. Dalam konteks berbahasa gado-gado, salah satunya tergantung pada definisi bilingualisme. Range-nya panjang, berada dalam sebuah kontinum, di mana ada yang hanya sedikit mampu berbicara bahasa kedua, sampai yang sangat lancar.

Dalam dunia linguistik, percampuran bahasa ini biasanya disebut sebagai code-switching. Saat ini teori soal code-switching telah sangat berkembang. Kemampuan berbahasa kini dipandang sebagai sebuah resources (atau sumber daya kekuatan).

Sebetulnya juga, fenomena bahasa gado-gado tidak hanya terbatas pada Bahasa Indonesia yang dicampur Bahasa Inggris. Berbicara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa juga bisa dianggap sebagai Bahasa gado-gado. Namun, Bahasa Inggris, untuk kebanyakan masyarakat Indonesia, posisinya tertandai (marked), karena kedudukannya sebagai bahasa asing.

Berbeda dengan beberapa bangsa lain, kita mendapatkan pengaruh Bahasa Inggris melalui popular culture (budaya pop) sejak tahun 1950-an dari Amerika Serikat. Saat itu lagu-lagu Barat dan film Hollywood banyak beredar. Artinya, kita tidak mendapat pengaruh bahasa Inggris lewat kolonialisme.

Selain itu, beberapa orang Indonesia yang dikirim ke Amerika untuk belajar, saat pulang, mereka biasanya dan kebanyakan menjadi pejabat atau menempati posisi strategis di pemerintahan. Dari sana, kemudian muncul anggapan bahwa orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap sangat dekat dengan kekuasaan dan kesuksesan. Kemahiran berbahasa Inggris dipandang bisa menaikan status sosial dan ekonomi seseorang.

Pada gilirannya, ketika kemampuan berbahasa Inggris dekat dengan kekuasaan dan melambangkan status sosial dan ekonomi yang (lebih) tinggi, akhirnya menciptakan gap di kalangan masyarakat. Dari sanalah muncul anggapan mereka yang berbahasa Inggris saat menggunakannya di waktu dan kesempatan yang kurang tepat dianggap ingin pamer. Padahal pamer atau tidak adalah sebuah hal yang harus kita kaji lebih jauh. Kita harus meriset hal ini. 

Selain itu, hal lain yang yang menciptakan gap antara mereka yang bisa berbahasa Inggris dengan yang tidak, bisa kita lihat juga pada iklan lowongan kerja yang banyak mengutamakan kemampuan berbahasa Inggris. Sebenarnya hal itu adalah sebuah bentuk diskriminasi, karena memarjinalkan orang yang tdak punya kemampuan berbahasa Inggris.

Sementara itu, dilihat dari lensa politik, banyak orang melakukan politik identitas terhadapa penggunaan bahasa. Artinya, saat orang Indonesia menggunakan Bahasa Inggris di dalam kehidupan sehari-hari misalnya,  KeIndonesiannya dianggap berkurang. Ini terjadi karena Bahasa Indonesia memang dibangun atau dikonstruksi pada awalnya sebagai bahasa pemersatu sejak masa kolonialisme.

Menyangkut kebiasaan berbahasa gado-gado antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang tak berbanding dengan kecakapan berbahasa Inggris, hal ini terkait dengan banyak hal. Ada banyak variabel yang bisa menjadi penyebab. Kita tidak bisa membandingkan langsung dengan negara lain, seperti Malaysia atau Singapura. Mereka mendapat pengaruh Bahasa Inggris melalui kolonialisme di mana Singapura dan Malaysia sama-sama pernah dijajah oleh negara Inggris. Dalam ilmu World-Englishes oleh Kachru, mereka termasuk ke dalam Outer Circle, sedangkan Indonesia berada di dalam Expanding Circle di mana seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kita tidak mendapatkan pengaruh Bahasa Inggris melalui penjajahan, sehingga dari segi sejarah, hal ini tidak sebanding atau tidak apple to apple.

Selain itu, tentu saja, persoalan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah umum kita bisa menjadi faktor yang mempengaruhi kurangnya kemampuan banyak siswa kita berbahasa Inggris. Misalnya, kondisi di banyak sekolah saat ini, jumlah siswa per kelas yang bisa mencapai 40-50 orang. Ini besar sekali dan tidak memungkinkan guru untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berlatih percakapan, misalnya. Juga, fokus pengajaran yang banyak menekankan unsur Tata Bahasa atau grammar daripada kemampuan berbicara dan produksi siswa. Jika jumlah siswa terlalu banyak, sulit mengajar Bahasa Inggris dengan komunikatif, padahal dalam pengajaran bahasa apapun, siswa seharusnya diberi kesempatan untuk praktik dan memproduksi, misalnya berbicara dan menulis.

Akhirnya, sebagai seorang sosiolinguist, saya memandang bahasa sebagai sebuah hak asasi. Saya percaya setiap individu mempunyai hak berbahasa dan memilih Bahasa yang ia inginkan. Dalam konteks bangsa Indonesia memang menjadi kompleks, karena pilihan kita memang dibatasi oleh wacana bernegara. Negara kita mengikat kebangsaan dengan berbahasa di mana ada anggapan “Jika kamu orang Indonesia, maka wajib menggunakan Bahasa Indonesia.” Akibatnya, jika seseorang melibatkan Bahasa Inggris dalam tuturan sehari-harinya, keIndonesiaannya dianggap kurang. Padahal bisa saja berbahasa gado-gado merupakan resources atau sumber daya dan tidak melulu sebagai sebuah penghambat. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Budaya

Dasarnya dahulu, saya termasuk penganut mazhab yang ingin memuliakan bahasa Indonesia. Jadi, saya tidak mengidealisasi bahasa campur-campur Indonesia-Inggris seperti yang sekarang viral. Walaupun, karena kita ini bangsa yang punya banyak sekali bahasa, bahasa campur-campur Indonesia dengan bahasa daerah terasa hangat. Tapi dengan bahasa Inggris, mungkin bagi pelakunya sama saja. Tidak ada kesadaran ideologis atau kelas di baliknya.

Kita merasa bermasalah dengan bahasa campur-campur bahasa Indonesia dan Inggris karena dua hal. Pertama, bahasa Inggris mewakili sebuah ide dari bangsa asing yang dominan. Ada imaji kolonialisme di situ. Jadi seperti penjajahan budaya. Imaji ini tidak kita temukan, misalnya, saat orang Jawa Timur berbahasa Indonesia campur-campur dengan bahasa Jawa Timuran.

Kedua, di sisi lain, banyak yang terganggu dengan ideologi life style-nya dari bahasa campur-campur itu. Bahasa Inggris seharusnya jangan dirusak dengan campur-campur bahasa Indonesia. Mereka ini ingin kemurnian bahasa Inggris. Kelompok ini berasal atau berwatak elite.

Sebetulnya, yang saya risaukan dari fenomena ini adalah kian tumbuhnya jarak antara bahasa lisan dan tulisan. Praktis saja, misal saya mengedit naskah komik atau skenario film, saya yang sehari-hari biasa bernahasa Indonesia seperti di tulisan. Saya tumbuh di masa yang lisan dan tulisan tak terlalu jauh jaraknya. Sekarang jaraknya jadi terasa jauh. Misal ketika saya ngedit (ada komentar) "Lho, kok ini kaku banget, sih (dialognya)?" Saya timpali, "Ini bahasa Indonesia biasa."

Kini kita telah tidak terbiasa lagi dengan bahasa Indonesia yang tulisan. Kalau jaraknya jauh--ketika bahasa berarti cara manusia membentuk realitas--maka saya merisaukan realitas macam apa kini yang makin menjauhkan orang dari peradaban teks (tulisan). Bisa jadi, realitas yang dibangun adalah realitas budaya lisan yang memiliki karakter sangat cair. 

Kini akhirnya bahasa lisan kian mendominasi. Jadi, kalau sekarang nulis novel, misalnya, dianggap tak hidup bila tak pakai bahasa campur-campur. Karena apa? Karena yang dianggap mewakili realitas adalah yang bahasa lisan.

Maka akan hilang tradisi berpikir bahasa tulisan yang sebetulnya masih dibutuhkan untuk mengorganisasi realitas di sekeliling kita dengan lebih rasional.

Penggunaan bahasa campur Indonesia dan Inggris ini tak beranjak ke mana-mana. Bahasa Inggris si penutur pun tidak makin kaya dengan hanya menambah "literally" saja di setiap ucapannya. Sementara itu bahasa Indonesia-nya makin miskin.

Ketika bahasa kita makin miskin, bukan bahasanya yang rugi, tapi kita. Sebab, bahasa membangun realitas. Artinya, jika bahasa kita miskin, pemahaman kita akan realitas di sekitar kita pun jadi semakin terbatas. Makin sedikit peluang kita untuk menyusun kenyataan lebih akurat dan tepat.

Bahasa sebagai peralatan atau perkakas simbolis manusia yang kuat ini jadi tidak (berkembang) ke mana-mana. Selain itu ada masalah juga kita semakin visual. Bahasa visual itu bahasa tersendiri. Kondisinya kini orang melompat ke bahasa visual dengan hanya bahasa verbal yang berwatak lisan, sehingga kemudian ada tradisi berpikir tertentu dihilangkan kegunaan dan relevansinya--sengaja atau tidak. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita             Perlindungan Anak Harus Libatkan Pengurus RT dan RW