Bahasa Daerah, Merana Nasibmu
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 14 June 2019 14:00
Watyutink.com - Sebagai negara majemuk, Indonesia memiliki 600 lebih bahasa daerah antara lain Jawa, Sunda, Betawi, Minang, dan Bugis. Bahasa daerah sebagai kekayaan budaya tak berwujud menunjukkan ciri khas masing-masing daerah tanpa melunturkan spirit Bhinneka Tunggal Ika. Adalah pemandangan lazim ketika kita berkunjung ke daerah-daerah dan mendapati penduduknya, baik tua atau muda, berbicara dalam bahasa ibunya.

Sebaliknya, hal serupa tampaknya jarang ditemui di Jakarta. Generasi muda, khususnya, lebih sering berbicara bahasa Indonesia dengan teman sebayanya maupun keluarganya. Hal ini sekiranya dapat dimaklumi mengingat Ibu kota merupakan tempat bertemunya banyak orang dari berbagai suku bangsa yang menuturkan bahasa ibu yang beraneka pula, sehingga komunikasi dalam bahasa Indonesia lebih banyak dipraktikkan dengan alasan kemudahan.

Namun, apa jadinya jika generasi milenial Jakarta lebih memilih untuk mempelajari bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan Perancis alih-alih bahasa daerah demi prestise?

Dalam pernyataannya pada 2017 silam di Solo, Jawa Tengah, profesor berkebangsaan Australia George Quinn, yang telah menekuni budaya Jawa selama lebih dari 25 tahun, menyayangkan fakta bahwa semakin banyak anak muda Indonesia yang cenderung lebih mempelajari bahasa Inggris daripada bahasa daerah. 

Menurutnya, tak bisa dipungkiri bahwa bahasa Inggris memang penting di era globalisasi. Namun hal ini jadi berimbas ke bahasa daerah yang semakin sepi peminat terutama di kalangan penutur muda.

Pendapat Quinn ini didukung dengan ironi bahwa angkatan “kekinian” merasa lebih keren dan bergengsi jika mampu berbahasa asing atau Indonesia dibandingkan berbahasa daerah. 

Di Jakarta terutama, seolah telah menjadi tren bagi anak mudanya untuk mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari supaya terdengar modern dan intelek, baik di lingkungan sekolah atau kerja. Jarang terdengar mereka berbicara dalam bahasa daerah dengan rekan sebayanya. Kalaupun mereka berbahasa daerah, itu biasanya hanya di lingkungan rumah yang keluarganya memang berbicara dalam bahasa ibu.

Khususnya bagi pendatang baru yang merantau ke Jakarta untuk kuliah atau bekerja, ada sebagian dari mereka yang memilih untuk bercakap dalam bahasa Indonesia lantaran takut dicap kampungan kalau bercengkerama dalam bahasa daerah. Tak sedikit pula yang menertawakan atau mencemooh mereka jika berlogat medok walau sudah berbicara bahasa Indonesia maupun bahasa campuran antara Indonesia dengan Inggris sekalipun.

Selain itu, sampai Februari 2019, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat ada 11 bahasa daerah yang sudah punah (terutama di Maluku Utara dan Papua), empat bahasa berstatus kritis, 22 bahasa terancam punah, dua bahasa mengalami kemunduran, dan 16 bahasa rentan punah. Hanya ada 19 bahasa yang berstatus aman dari total 668 bahasa daerah yang telah terdata oleh pemerintah.

Mengapa bahasa daerah jarang dituturkan oleh anak muda Jakarta? Apa yang membuat mereka lebih senang berbahasa campuran? Mengapa bahasa daerah mendapat stigma buruk di ibu kota? Apa yang sebaiknya dilakukan untuk melestarikan bahasa daerah?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu  Budaya Universitas Indonesia

Bahasa daerah itu sebetulnya bahasa yang dipakai hanya di “habitat tertentu”, bahasa tertentu yang dipakai oleh mereka yang  berasal dari etnis tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat majemuk seperti di Jakarta, kalau mau berbicara bahasa daerah, tentu harus dengan lawan bicara yang mengetahui bahasa daerah yang dimaksud. Kalau orang Jawa datang ke Jakarta dan mau berbicara dengan orang yang tidak dikenal, mereka harus “mengalah” dan memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Kalau dia mau berbahasa Jawa tapi lawan bicaranya tidak bisa bahasa Jawa, dia akan malu sendiri.

Terkadang ada pula yang merasa malu, ragu, atau takut salah untuk berbahasa daerah. Ini mungkin ada kaitannya dengan status kedudukan bahasa daerah yang seakan-akan dipandang sebelah mata; dalam konteksi ini jadul atau kuno. Jadi generasi muda atau milenial merasa gengsi, malu, terhadap kebudayaan itu sendiri—dalam hal ini bahasa daerah. Tergilas oleh budaya global.

Menurut sekilas kacamata saya, bahasa daerah itu seolah kedudukannya di bawah bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia, dan bahasa Indonesia seolah di bawah bahasa internasional terutama bahasa Inggris. Karena kita sudah agak terpengaruh oleh bahasa internasional, khususnya bahasa Inggris, ditambah kebudayaan global yang semakin merambah ke semua sendi kehidupan, akhirnya generasi muda ini lambat-laun berusaha untuk meninggalkan bahasa daerah.

Beberapa orang kehilangan kosakata seiring dengan sejarah perubahan kebudayaan. Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan dan dari masa ke masa terus berubah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan bahasa itu mengalami intervensi, saling pengaruh antara bahasa yang satu dengan yang lain—antara bahasa Inggris, Indonesia, Jawa, Sunda, maupun bahasa daerah lain. Jadi, intervensi dua bahasa paling berpengaruh dalam konteks berbahasa pasti terjadi karena memang otak atau memori kita menyerap segala sesuatu di lingkungan kita termasuk bahasa.

Apalagi sekarang banyak yang ogah berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, bukan cuma bahasa daerah. Berbicara bahkan dicampur-campur dengan bahasa Inggris. Bahasa Inggris seperti menjadi ukuran paling top, yang tertinggi dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain dalam kedudukannya di masyarakat. Itu gengsinya, seakan orang yang bisa berbahasa Inggris merupakan orang yang berintelektualitas tinggi. Bahkan ada juga pejabat yang berbicara seperti itu.

Pertanyaannya, apakah boleh menggunakan bahasa campuran dalam percakapan sehari-hari? Itu sebetulnya sah-sah saja asalkan saling mengerti. Walau begitu, kita tidak boleh melupakan ungkapan yang menganjurkan agar kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar, yang berarti tidak diselingi oleh bahasa lain dan hanya menggunakan bahasa Indonesia semata.

Terkait pelestarian bahasa daerah, pemerintah daerah Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, misalnya, sebetulnya sudah mewajibkan kurikulum yang merupakan muatan lokal atau kearifan lokal di tingkat pendidikan dasar sampai menengah. Kearifan lokal harus ditanamkan sejak dini.

Peran keluarga pun amat penting dalam upaya pelestarian bahasa ibu sebab keluarga merupakan agen pertama yang mewariskan kebudayan nenek moyang. Orangtua hendaknya mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya sejak kecil. Generasi muda pun tidak perlu canggung atau ragu untuk memakai bahasa daerah yang diwariskan orangtua kepada mereka.

Pelestarian bahasa daerah pun bisa dilakukan lewat kesenian atau kebudayaan. Di sini, peran sanggar atau paguyuban kesenian daerah terbilang penting untuk turut melestarikan bahasa daerah. Ditambah generasi muda sekarang yang umumnya tertarik dengan hal-hal instan yang bersifat dinamis dan tidak bertele-tele, seolah “siap disantap”.

Kalau kita ingin mereka menyukai bahasa daerah, maka lakukanlah melalui kesenian dan adat istiadat. Kemaslah bahasa daerah menjadi tontonan yang menarik bagi generasi muda—yang sederhana, tidak berbelit, dan mudah dimengerti. (sfc)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sastrawan, budayawan.

Bahasa berawal dari bahasa ibu kita, maka dengan bahasa itulah kita bertutur kata. Kalau di Jakarta, bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. Makanya susah untuk mengharapkan anak Jakarta berbicara dalam bahasa daerah yakni Betawi. Kalau ada anak muda Jakarta yang orangtuanya misalnya berasal dari Jawa tapi si anak lahir dan besar di Jakarta, maka dia akan bertutur dalam bahasa Jakarta.

Dan, kalaupun ada keluarga di Jakarta yang terbiasa memakai bahasa daerah dalam sehari-hari, hal itu tetap tidak akan menjadi kebiasaan di level pergaulan umum karena anak akan berbahasa Jakarta di luar lingkup keluarga.

Selain itu, jika disorot dari sisi kosmopolitanismenya, Jakarta jauh lebih kosmopolit dan complicated dibandingkan kota-kota besar lain dan bukan merupakan wilayah yang kedaerahannya kuat. Jakarta berbeda dari kota besar seperti Surabaya misalnya yang basis bahasa daerahnya, yaitu masyarakat penutur asli bahasa Jawa, tidak tergusur—tidak seperti masyarakat Betawi yang semakin lama semakin terpinggirkan. Akibatnya, aspek kedaerahan dalam cara bertutur di ibukota hampir tidak bisa dipertahankan.

Kalau di ruang kosmopolitan Jakarta, posisi bahasa daerah itu memang berada di wilayah yang non-bahasa ibu bagi anak muda sekarang. Namun tidak demikian halnya dengan generasi baby boomer yang merantau dari Sumatera maupun daerah lain yang pasti berbicara dalam bahasa daerah, atau paling tidak berdialek daerah masing-masing.

Namun kita tidak bisa menyalahkan generasi muda Jakarta karena mereka terlahir di ruang kosmpolitan yang sangat kuat dan semua ragam budaya melebur. Lagipula, menurut saya, sepanjang generasi muda berbahasa Indonesia dan memakai ungkapan yang ada dialek Betawi atau Sunda, itu sudah merupakan wujud penerapan bahasa daerah.

Menyoal mengapa banyak anak muda Jakarta yang gemar berbahasa campuran, itu bukan persoalan bahasa melainkan isu gaya hidup, yakni mengenai bagaimana mereka mencari identitas baru dan mereka tampaknya lebih nyaman menggunakan istilah berbahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia. Menurut saya, itu karena gaya hidup Jakarta yang kebaratan di mana amerikanisme atau eropanisme dinilai modern dan menjadi simbol gengsi sehingga orang akan dianggap kampungan jika tidak mengerti.

Bagi mereka, memakai istilah campuran bahasa Indonesia dan Inggris terbilang hebat sebab mereka diajarkan untuk memandang bahwa yang datang dalam bahasa Inggris itu baik dan tidak kuno. Ini merupakan penghambaan terhadap hal-hal yang diungkapkan dalam bahasa Inggris dan simbol yang datang dari Barat. Ini terjadi tidak hanya di Jakarta namun di hampir semua kota besar Indonesia.

Meski demikian, ini merupakan fenomena biasa karena di mana-mana orang merasa terhormat dengan bahasa Inggris, bukan cuma anak muda. Ini bukan salah mereka karena kita tidak membuat suatu lingkungan bertutur yang membuat mereka merasa nyaman berbicara bahasa Indonesia.

Sayangnya generasi muda seolah menganggap status sosialnya lebih tinggi dibandingkan orang daerah yang memang berdomisili di daerah asalnya maupun yang datang merantau ke Jakarta. Perantau yang logat kedaerahannya masih medok dianggap orang baru dan cara bicaranya harus berubah menjadi seperti mereka kalau mau dianggap maju. Akibatnya, tindak tutur orang banyak berubah.

Hal ini juga berujung pada terbentuknya mentalitas pada banyak orang yang menganggap bahwa bahasa anak Jakarta adalah bahasa hebat dan maju. Sekarang banyak yang berbicara sok bergaya Jakarta dengan menggunakan istilah gue dan lo di Surabaya dan kota besar lainnya, tapi logatnya medok.

Walau begitu, kita tidak bisa mengatakan bahwa fenomena ini merupakan suatu kemunduran sebab ini merupakan kuasa yang tidak sengaja diciptakan di kota-kota besar. Oleh sebab itu, wacana pindah ibu kota dirasa penting supaya dari aspek bahasa, Jakarta tidak terlalu berkuasa karena hampir semuanya dikuasai Jakarta bahkan termasuk bahasa.

Namun, jika ini masih dianggap sebagai suatu kemunduran, maka satu-satunya cara untuk merawat bahasa daerah ialah dengan menjadikannya bahasa ibu. Dalam hal ini, bahasa ibu Jakarta adalah bahasa Betawi. Dengan kata lain, bahasa Betawi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Konservasi bahasa daerah pun bisa dilakukan untuk menjaga eksistensinya. Misalnya di masing-masing keluarga yang aslinya non-Betawi atau memang tidak berasal dari Jakarta, para orangtua harus membiasakan diri untuk memperkenalkan bahasa ibunya kepada anak-anaknya. (sfc)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional