Bagaimana Sebaiknya Indonesia Memandang Hitler dan Nazi?
berita
Humaniora

Foto dok. BBC

14 November 2017 13:00
Sebuah museum di Yogyakarta dikecam dunia. Musababnya, De Arca Statue Museum memajang patung pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler dengan latar belakang kamp konsentrasi Auschwitz. Kecaman datang setelah keberadaan patung yang ada sejak museum itu berdiri 2014 silam diangkat media asing (baca: Barat) antara lain AFP, BBC, Daily Mail, International Business Times, hingga Washington Post.   
 
Kecamannya senada: bagaimana bisa orang paling bertanggung jawab atas kematian jutaan manusia pada Perang Dunia II--enam juta di antaranya berdarah Yahudi--diberi panggung, jadi tempat selfie anak-anak muda? Latarnya juga dipermasalahkan. Auschwitz kamp konsentrasi tempat jutaan warga Yahudi tewas di kamar gas. Setelah dapat kecaman, pihak museum mengalah menurunkan patungnya. 

Musisi Ahmad Dhani juga pernah terpeleset Nazi dan Hitler. Tahun 2014, di tengah hiruk-pikuk kampanye Pilpres Jokowi versus Prabowo, Dhani--yang mendukung Prabowo, membuat video dukungan mengenakan pakaian dan atribut tentara Nazi. Kontan saja video itu mengundang kontroversi dan mendunia. Laman majalah Time menyebutnya, "... cara kampanye politik terburuk yang pernah ada."         

Well, ketika Dhani dikecam dahulu, sebetulnya kita berhak bertanya: terburuk menurut siapa? Cara pandang Barat telah menempatkan Hitler dan Naziisme sebagai tokoh antagonis dalam catatan sejarah mereka. Akan tetapi kekejaman Hitler tak sampai ke Indonesia. Jika negeri kita tak punya kenangan buruk dengan Hitler, apa kita juga harus turut mencapnya sebagai manusia paling laknat? Jika iya, tidakkah itu artinya kita tunduk pada sudut pandang sejarah versi bangsa lain? 

Karena tak punya ikatan emosional dan sejarah dengan kebrutalan Hitler dan Naziisme bikin orang Indonesia terpeleset mengagungkan simbol-simbol yang di Barat sana dikecam. Belum luntur juga dari ingatan sebuah kafe di Bandung bertema Nazi harus tutup setelah dikecam media Barat. Maka, sebetulnya, di sini ada persoalan filosofis yang patut dicari jawabnya: bagaimana sebaiknya orang Indonesia mendudukkan Hitler dan Naziisme? 

Menengok sejarah, seperti diungkap buku Orang dan Partai Nazi di Indonesia (Wilson, 2008), pada 1930-an Naziisme menginspirasi kaum pergerakan Indonesia mendirikan Partai Fascist Indonesia (PFI). Hal ini membongkar anggapan sebelumnya fasisme ditularkan Jepang. Di pengantar buku itu, Hilmar Farid menulis pemimpin fasis Hitler (Jerman) dan Mussolini (Italia) menyebut rezim bentukan mereka Neue Ordnung dan Ordine Nuovo yang jika diindonesiakan berarti Orde Baru, nama yang juga dipilih Soeharto untuk rezimnya. Tidakkah catatan sejarah itu membuktikan ide-ide Naziisme telah mengakar pada bangsa kita?

Sesungguhnya fasisme dan Naziisme memang layak dikecam. Walau kebrutalan Hitler tak sampai sini, gagasan yang menjadi akar ideologinya patut diwaspadai. Ideologi ini memiliki cara pandang nasionalisme sempit, anti keragaman, serta kebebasan berbicara. Tengok negeri kita hari-hari ini, sikap dan tindakan sebagian kita tidak memberi ruang buat perbedaan.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sejarawan, Ahli Sejarah Politik, Wartawan, Kolumnis, Penulis  

Ketika kita bicara kemanusiaan, di dunia ini tidak ada batasannya. Maka, untuk Hitler yang bertanggungjawab terhadap pembantaian atas jutaan orang, dari mulai anak kecil sampai orangtua dibantai, ini seharusnya tidak ada urusan dia orang Barat kita orang Indonesia. Kita harusnya punya empati yang sama. 

Sehingga memamerkan hal-hal yang berbau Hitler dan peristiwa Holocaust (genosida Yahudi oleh Nazi selama Perang Dunia II--red) menandakan tak punya empati yang sama, karena waktu itu menimbulkan banyak korban. Hitler juga punya ajaran chauvinistis. Jadi (kebaikan) apa yang bisa dipetik dari seorang Hitler?      

(Peristiwa) ini juga menyangkut tingkat literasi sejarah orang Indonesia. Di masa Nazi, mereka menganggap orang Jerman di atas segalanya. Menurut Nazi, ras orang Jerman adalah Aria yang paling unggul sedunia. Orang kulit hitam mereka anggap lebih rendah dari mereka. Orang kulit berwarna kayak kita, sawo matang, lebih rendah dari mereka.Lalu, bagaimana bisa kita mencontoh ajaran kayak begitu?

Di masa Orde Baru, cara Soeharto memerintah juga menggunakan fasisme dengan memaksakan sesuatu. Ia melakukan penyeragaman kekuasaan. Dulu Orde Baru Soeharto pendekatannya keamanan, security approachment.Yang dianggap ancaman digebuk. Itu sudah fasis juga.      

Di sini ada persoalan ketidaktahuan. Kalau mau keren-kerenan harus ada pintarnya sedikitlah. Memang apa yang terjadi di Jerman nggak ada urusannya dengan kita. Tapi yang namanya tragedi kemanusiaan tak memandang bangsa. Misalnya kita iba melihat penderitaan suku Rohingya di Myanmar, itu juga kan sama. Lalu ada yang beranggapan, kita iba karena sesama orang Islam. Kita bisa bertanya balik, lalu kalau bukan orang Islam memangnya boleh dibunuh dan lain sebagainya? Kan tidak bisa begitu. Ini namanya kemanusiaan. Ketika bicara kemanusiaan tidak ada lagi batas (geografis, agama, etnis dll). Ketika ada tragedi kemanusiaan (di manapun) kita wajib bersuara dan memberikan rasa solidaritas.  

Kala setiap orang atau kelompok merasa paling unggul, paling murni. Misalnya, "Saya pribumi, paling asli." Itu bibit-bibit fasisme kalau dibiarkan. Jika kita membiarkan etnis atau suku bangsa lebih superior daripada yang lain, kemudian menganggap rendah yang lain, bahkan punya keinginan membinasakan atau menyingkirkan yang lain, itu pertanda bibit-bibit fasisme sudah muncul. Mungkin orang boleh tak percaya, tapi di Jerman dulu juga begitu. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Rasa kagum pada atribut militer Nazi muncul karena kita tidak punya keterikatan dengan pembantaian yang terjadi di Eropa saat Perang Dunia II. Karena ada jeda jarak dan waktu yang cukup panjang, trauma itu tidak kita rasakan di sini. Ditambah lagi ada anggapan di sebagian masyarakat Indonesia, terutama orang Islam, kalau Yahudi itu jahat. Jadi, ketika Nazi melakukan kejahatan pada mereka, hal itu dibenarkan. Padahal kan tidak seperti itu. Kejahatan kemanusiaan, sekecil apapun, tidak bisa dibenarkan. 

Meski kita tidak memiliki keterikatan emosional dengan kejadian itu, kita tidak bisa membenarkannya.

Mungkin, karena (peristiwa Holocaust) dianggap tidak ada kaitannya dengan kita, maka kemunculan patung Hitler di museum di Jogja dianggap lucu-lucuan saja. Semestinya kita bisa lebih berempati pada trauma orang lain.

Patut jadi catatan untuk orang-orang yang bilang, "Yang dibantai Nazi kan orang Yahudi." Andai kita, orang kulit berwarna, tinggal di Jerman masa itu, kita bakal dibantai juga, karena rasisme mereka tidak pandang bulu. Semua kulit berwarna tak ada harganya. 

Memang, kalau dilihat dari kacamata fashion semata, seragam prajurit SS (pasukan elit Nazi) jauh lebih modis dibandingkan pasukan yang terlibat dalam Perang Dunia II, apalagi jika dibandingkan dengan seragam pasukan Inggris. Mungkin juga karena yang buat seragam mereka Hugo Boss. Tampil keren, modis ini diperlukan oleh (rezim) fasis Nazi. Mereka ingin penampilan luar prajurit dipuja, membuat orang yang melihatnya terkesima. Artinya, ini bagian dari proopaganda mereka juga. 

Hal itu mungkin yang mendorong mereka terlihat keren dan dikagumi. Akan tetapi, saya hendak katakan, menganggap seragam mereka keren bukan berarti kita harus menyukai mereka dan meniru gaya mereka. 

Ketertarikan orang pada Nazi mungkin juga karena mereka tertarik pada fasis. Ada orang-orang yang menganggap bahwa negeri ini harus dipimpin oleh militer dan sejenis itu. Menurut saya, pendapat bahwa kita harus dipimpin militer itu sisa-sisa (pandangan) Orde Baru. Harus juga kita menengok sejarah, ketika Nazi muncul pertama kali di Jerman, banyak orang Jerman tak sadar mereka sebetulnya tengah membesarkan anak macan. Setelah krisis ekonomi, Nazi muncul lalu mereka menganggap partai itu yang bisa membangun kejayaan negeri. Akhirnya mereka jatuh ke dalam bencana. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati budaya pop, penulis skenario

Kita lagi-lagi terjebak dalam pilihan ekstrim. Di satu sisi kita cukup ignorant untuk menganggap Nazi keren, yang tentu saja anggapan itu berbahaya. Di sisi lain, kok rasanya seperti ada hegemoni bahwa kita harus mengutuk mereka dengan level yang sama dengan orang Barat. Memangnya kita harus ikut narasinya orang Eropa? Kalau kita sampai tunduk hingga level itu, memangnya siapa mereka memaksakan kebencian mereka terhadap Nazi pada kita? 

Misalnya kita begitu takutnya pada komunisme, lalu apakah kita harus mendikte orang Eropa untuk juga takut pada ideologi itu? Kita harus tentukan sejauh mana baiknya bisa kita terima, dan sejauh mana intervensi pemaksaan atau tekanan dari luar bisa diterima.  

Memang Nazi jelek dan tak sepantasnya juga kita mengaguminya. Soal mengagumi ini balik ke pertanyaan kenapa gaya militer Nazi dikagumi. Dilihat dari sisi gagahnya tak bisa dipungkiri. Hugo Boss telah mendesain seragam mereka sebegitu gagahnya, dan kelihatannya didesain untuk menimbulkan efek tersebut: gagah, powerful. Sementara kita tahu orang Indonesia kerap kangen dengan fasisme. Mereka kagum dengan "power" itu.

Saya tak punya data kemelek-sejarahan mereka pada Naziisme, namun bila mereka tahu tentang atribut militernya seharusnya mereka cukup tahu, dong. Karena kalau nggak tahu, nggak akan kepikiran buat mencari-cari (pernak-pernik militer) itu. Lalu, kenapa kalau sudah tahu malah mengabaikan kejahatan kemanusiaan Hitler dan Nazi? 

Pertama itu tadi, keburu kagum dahulu dengan gagahnya dan power. Orang kita tak bisa bedakan ketegasan dan kegalakan. Mungkin ditambah juga oleh--saya tak terlalu tahu berapa persen pengaruhnya--yakni bahwa mereka (Nazi) membantai orang Yahudi. Bahkan ada yang dengan naifnya berkata, ya memang perlu (dibantai). Sewaktu Israel sedang jahat-jahatnya ada yang menulis status di lini masa medsos, merindukan sosok Hitler untuk membantai kaum Yahudi lagi. Padahal ironinya, orang Israel memakai cara-cara Hitler membantai rakyat Palestina. 

Orang Indonesia sedikit aneh. Kita pernah mengalami rezim militer, tapi masih dikangenin saja sampai sekarang. Kita beda dengan Amerika latin, mungkin di sana rezim militer sebegitu buruknya sehingga orang nggak akan kangen lagi. Kita masih setengah-setengah. Yang mengalami bilang setengah buruk, tapi sisanya juga masih banyak yang kangen.

Walau sekarang ada gejala kemunculan fasisme, kita masih punya, ibaratnya, bantalan pengaman yang cukup banyak, yakni orang-orang arus bawah, terutama di daerah yang tak terekspos media. Masyarakat kita masih terlalu beragam. Indonesia punya keberuntungan dari terlalu banyak penduduk dan beragamnya orang. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior, Pengamat Budaya

Yang namanya simbol lambang swastika Nazi serta Hitler-nya sendiri adalah bagian dari sejarah untuk kepentingan memori. Sejarah itu kan konstruksi dari sejumlah memori. Problemnya, setiap bangsa memiliki memorinya masing-masing yang kemudian dinamakan historiografi dan history (sejarah) dengan sendirinya produknya menjadi berbeda-beda.

Maksud saya, suatu simbol yang di suatu masyarakat dianggap sensitif, sementara di suku bangsa atau nation-state yang lain dianggap tak sensitif. Nah, di Indonesia simbol-simbol Nazi, Hitler di Indonesia dianggap bukan sesuatu yang sensitif. Tidak demikian di Eropa. Orang Eropa tidak mungkin menggunakan simbol swastika.

Saya punya contoh menarik, kira-kira beberapa puluh tahun yang lalu, anak-anak remaja Indonesia justru memakai simbol bintang David (lambang Yahudi--red). Mereka memakai kalung lambang itu. Kenapa itu terjadi? Karena waktu itu orang Indonesia belum cukup memiliki informasi yang mengatakan bintang David lambang semitisme (kepercayaan Yahudi--red). Saya sendiri pernah diberi hadiah kalung bintang David bagus sekali dari emas oleh teman saya. Dulu saya pakai. 

Ada kekhususan yang menarik di Indonesia buat saya. Indonesia tidak pernah menganggap fasisme sebagai ancaman. Di Indonesia, yang dianggap ancaman adalah komunisme. Jadi, yang pertama komunisme, kedua komunisme, ketiga komunisme, musuh keempat, kalau sekarang, terorisme. Korupsi di urutan kesepuluh atau kelima-belas. Tidak dianggap esensial. 

Katakanlah bila kita mengadakan polling dengan pertanyaan terbuka: Apa yang dianggap ancaman di Indonesia? Pasti jawabannya komunisme, fundamentalime, narkoba, baru korupsi. Saya yakin fasisme tidak akan masuk. 

Karena fasisme tidak pernah masuk dalam daftar hal yang paling mengancam diri kita sebagai bangsa, maka warga kita fine-fine saja menggunakan simbol militerisme Nazi, Hitler dan lain sebagainya. Dan penggunaan simbol itu tak ada hubungannya dengan pandangan mereka. Buat mereka main-main saja. 

Sebagian dari mereka tak melek sejarah dunia (tak tahu kekejaman Nazi), sebagian lagi karena kita sudah terlalu lama dijajah militerisme. Kita jadi terbiasa. Bagi kita militer adalah aset. Sedangkan di negara lain, militer adalah liability (kewajiban untuk tunduk) pada masyarakat sipil. Di kita, begitu ada krisis sedikit saja, langsung memanggil militer. Sekarang misalnya ada orang merindukan kepemimpinan militer karena dianggap tegas, memberi kepastian dan lain-lain. 

Yang namanya historiografi maupun history, berikut simbol-simbol dan teksnya, dibuat dengan pamrih memobilisir memori manusia. Dan dalam rangka mobilisasi memori itu, tentu saja ada rekayasa, ada manipulasi dan lain-lain. Sehingga, menurut saya, sikap saya yang harus dikembangkan individu bukan mengecam atau tidak, melainkan mengembangkan kesadaran sendiri mengenai memori tersebut. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Komunikasi/ Dosen FIKOM Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama)

Dalam proses komunikasi ada simbol, di mana simbol itu akan menjadi sesuatu yang bermakna bagi seseorang bila itu sudah diterima oleh pikiran dan perasaannya. Dalam teori interaksi simbolik itu ada tiga hal:  "meaning", "self" dan "society". "Meaning" berarti ketika kita menerima sebuah simbol sebagai informasi yang dianggap negatif, maka "self" kita, diri kita, akan melakukan penilaian terhadap sesuatu itu. 

Keberadaan patung Hitler di museum di Jogja bisa bermakna ganda. Di sekolompok orang, Hitler tak berperi-kemanusiaan, tak menghargai HAM dan melakukan pembantaian ras Yahudi demi menciptakan supremasi Jerman.

Tapi di lain pihak, ada yang menganggap, yang dibunuh itu siapa? Bangsa Yahudi. Bangsa ini dibenci oleh umat lain. Di kitab suci dikatakan mereka adalah bangsa yang tidak tunduk pada Tuhan, sombong dan sebagainya. (Ada yang percaya) jika mereka menguasai dunia, bangsa lain akan dihabiskan. Yang dilakukan Hitler dianggap baik oleh sebagian orang. 

Nah, bagaimana "meaning" orang menangkapnya? Kalau "meaning" orang di kelompok yang menerima Hitler, maka akan semakin menguatkan bila ada yang membuat diorama Hitler membantai Yahudi. Bila dibiarkan ini akan memunculkan partai fasis Indonesia. Namun, saya lagi-lagi tidak yakin munculnya nanti sebagai partai fasis an sich. Bentuknya akan lain.
Isunya bakal tentang Yahudinya.

Di Indonesia, Yahudi dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai "aktivitas non-muslim." Contohnya, perayaan tahun baru dinyalakan kembang api, lonceng hingga terompet. Oleh sebagian masyarakat penggunaan itu semua cara ibadah kaum Majusi dan Yahudi. Oleh masyarakat awam di sini, Majusi diidentikkan dengan Kristen, sehingga potensi konflik SARA jadi menguat.       

Yang dikhawatirkan dari keberadaan patung Hitler di museum itu bukan lantaran patungnya, tapi penguatan konflik SARA terhadap pemaknaan simbol-simbol yang tadi. Simbol yang dengan mudah digeser, yang disampaikan lewat sosok Hitler, yang oleh sebagian kelompok dianggap sebuah kebenaran. Ujungnya adalah konflik horizontal muslim dengan non-muslim. Doktrin yang diterima adalah, ketika masyarakat Yahudi beribadah hampir sama dengan masyarakat Kristen. Contohnya penggunaan kembang api, lonceng, dan terompet.Pemahaman ini yang jangan sekali-kali kemudian dikuatkan oleh (simbol-simbol) makna Hitler. 

Jadi, jangan menyederhanakan simbol untuk kepentingan sesaat. Toh, Hitler juga bukan pahlawan kita. Dia bukan siapa-siapa (bagi kita). Apa untungnya (memajang patungnya)? Itu yang harus dipertanyakan dan dipersalahkan. (ast)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas